EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
89. Mengurus Cuti


__ADS_3

Sampai di kantornya, Sky bukan sibuk bekerja, tetapi malah melihat schedule pekerjaannya untuk beberapa waktu ke depan, dia juga meminta bantuan seseorang untuk mengatur ulang jadwal tersebut, dikarenakan dia ingin segera mengambil cuti tahunan di bulan ini juga.


"Sekai?"


"Oy, Ben." Sky menoleh sekilas pada Beno yang memasuki ruangannya. Mereka memang terbiasa seperti itu satu sama lain jika di kantor.


"Aku dengar dari Trisna, kau mau cuti panjang?"


"Hmmm ..." Sky berdehem tanpa melihat pada Beno, sebab sekarang ia kembali fokus pada layar laptopnya lagi.


"Terus, proyek untuk perum Jati Mas, gimana?"


"Udah beres, nanti kau bantu aku buat tinjau ulang lokasinya, oke?"


Beno mengangguk-anggukkan kepalanya dan memperhatikan tingkah Sky yang hari ini tampak berbeda.


"Kau kenapa tiba-tiba mau cuti?"


"Emang gak boleh?"


"Gak biasanya kau mau cuti mendadak. Sampai atur ulang schedule yang udah padat. Auramu juga beda hari ini."


Kali ini barulah Sky menatap pada sahabatnya itu. "Ada hal penting, Ben. Makanya aku mau cuti," tuturnya.


"Hal penting apa? Kucingmu mau melahirkan?"


Sky berdecak lidah, sementara Beno mengulumm senyum. Bagaimana tidak, seroang Sky mengajukan cuti dadakan-- itu sebuah kejadian langka, biasanya tidak ada hal penting bagi pria itu selain pekerjaan. Dan sekarang, Sky mengatakan ingin cuti karena ada hal penting? Bagi Beno itu lebih seperti lelucon mengingat Sky yang workaholic.


"Gini ya Ben, pertama, aku cuti karena memang gak ada yang ngelarang. Kedua, aku cuti bukan menelantarkan kerjaan. Ketiga, aku gak pernah pelihara kucing," tandasnya.


Melihat wajah Sky yang serius justru membuat Beno tersenyum masam.


"Terus? Hal penting apa yang buat kau mau cuti dadakan, Sekai?"


"Aku mau pergi bulan madu."


"Whatttt?" Beno melongo, kaget. Nikah saja belum, Sky malah mau bulan madu, pikirnya.


"Mukanya jangan gitu banget, udah pas-pasan soalnya," cibir Sky pada wajah Beno yang terperangah konyol.


"Sial," kata Beno mengumpat.


Sky terkekeh, kemudian kembali fokus pada layar laptop. Tapi hal itu justru membuat rasa penasaran Beno semakin meningkat.


"Kau ini kebelet nikah atau karena gak kawin-kawin jadi bicaramu agak ngelantur?"


Sky tersenyum tipis mendengar pertanyaan Beno. Tapi, ia tak mau menjelaskan, biar saja, pikirnya.


"Ngomong-ngomong soal kawin ya, Ben.... aku jadi pengen cepat pulang," kata Sky serius. Dia pun bangkit setelah menekan tombol terakhir di laptopnya. "Nah, kelar. Aku balik duluan ya, hari ini aku cuma masuk setengah hari buat ngurus cuti," lanjutnya.


Sekali lagi Beno ternganga melihat tingkah Sky. Ia ikut berdiri dari posisinya yang sebelumnya memang terduduk di depan meja kerja Sky.


Sky menutup berkas dan jurnalnya, menyusun didalam rak, kemudian beranjak.


Sebelum benar-benar meninggalkan ruangannya, Sky menyempatkan diri untuk menepuk pelan pundak Beno-- seolah tengah menyadarkan kawannya yang masih saja melongo.


"Kerja yang giat, jangan banyak bengong," kata Sky sambil lalu.


Beno tersadar lalu menggaruk pelipisnya yang tak gatal.


"Fix, pasti dia kerasukan jin jomblo," gumamnya mengarah pada tingkah Sky.


...~~~...


Sky tiba di rumah setelah jam makan siang. Ia memasuki rumah dan melihat Indri yang duduk menonton televisi di ruang tengah.


"Kok cepat pulang? Takut istrinya hilang?"


"Ah, mama...." Sky ikut duduk disamping sang Mama, ia mengembuskan nafas perlahan, kemudian matanya menyusuri seluruh penjuru ruangan seolah tengah mencari-cari sesuatu. Ya, siapa lagi yang Sky cari sekarang jika bukan Yara.

__ADS_1


"Istrimu lagi di dapur," kata Indri seolah tau apa yang tengah Sky pikirkan.


"Kok di dapur terus sih?" gumam Sky tak habis pikir.


Indri terkekeh, tapi yang dikatakan Sky itu benar adanya.


"Tadi disini sama mama, kita nonton bareng tapi emang barusan ke dapur, ambil cemilan. Coba lihat sana, takutnya kabur lewat pintu belakang."


"Mama!" Sky menatap pada sang Mama dengan tatapan protes. Bagaimana tidak, Indri terus saja mengeluarkan kalimat yang sama.


"Idih, bercanda, boy!" Indri semakin tergelak. Namun membiarkan Sky yang kini beranjak menuju dapur untuk melihat kegiatan istrinya.


Saat Sky tiba di dapur, Yara baru saja selesai menuangkan jus dari blender ke dalam gelas.


"Sayang?"


Yara tersenyum manis. Kemudian meninggalkan jus jeruknya dan menghampiri posisi Sky. "Kok udah pulang?" tanyanya polos.


"Kangen sama kamu."


"Dih, ada aja kamu."


"Serius...."


"Hmm, ya udah kamu ganti baju dulu, aku bikinin jus sama cemilan ya. Tadi udah makan siang belum?"


Bukannya menjawab, Sky malah tersenyum-senyum tak jelas.


"Kenapa, sih?"


"Gak apa-apa, seneng aja diperhatiin kamu."


Yara geleng-geleng kepala mendengarnya.


"Kalau belum makan, aku siapin makannya, Sky."


"Mau makan kamu, boleh?" Sky malah balik bertanya sembari menaik-naikkan alisnya menggoda Yara.


"Kamu dipakein bumbu apa aja tetap enak, Sayang," gombalnya.


Yara menahan gelak. "Udah sana, kalau meladeni omongan kamu emang gak ada habisnya. Ada aja...."


Cup.


Sky mencuri satu kecupan singkat di pipi Yara, barulah ia berderap untuk kembali ke arah tangga menuju letak kamarnya.


"Sky? Jadi udah makan apa belum?" tanya Yara yang kini agak berteriak sebab Sky hampir meninggalkan dapur.


"Makan nasi udah, makan kamu yang belum," jawab Sky yang juga sedikit memekik.


Hal itu membuat Bi Sri dan Indri di ruang tengah ikut mendengar dan mereka hanya bisa geleng-geleng kepala sambil mengulumm senyum.


Yara sampai malu sendiri atas jawaban Sky, bisa-bisanya dia menjawab seperti itu.


"Seneng bibi lihat Den Sky bahagia," celetuk Bi Sri yang berada di dapur.


"Emang biasanya Sky enggak bahagia, Bi?" tanya Yara yang kini kembali sibuk membuat jus lagi untuk Sky.


"Biasanya cuek-cuek aja sih, Non. Gak pernah juga pulang jam segini. Kalau hari Minggu Den Sky juga jarang dirumah."


"Kemana?" tanya Yara.


"Minggu pagi biasanya Den Sky udah olahraga gitu, pulangnya sore malah."


"Ada ya, orang olahraga hampir seharian," gumam Yara.


Bi Sri senyum-senyum saja dan Yara melanjutkan sesi membuat jusnya.


Beberapa menit kemudian Sky kembali turun dan duduk di ruang tengah bersama Indri dan Yara. Mereka menikmati jus dan cemilan yang tadi Yara buat.

__ADS_1


"Aku udah urus cuti, Ma. Kapan mama mau ke Singapore?"


"Berapa lama kamu cuti?"


"Dua Minggu."


"Lama bener," kata Indri dengan nada mengejek, biasanya Sky paling malas libur bekerja, kalau bisa hari Minggu pun dia kerja, pikir Indri. Tapi sekarang lagaknya ambil cuti sampai 2 Minggu.


"Aku kan mau nemenin mama ke Singapore, ya sekalian bulan madu lah, Ma. Hehehe...." Sky melirik Yara yang menatap televisi dan seolah malu dengan kalimat yang dilontarkan pria itu.


"Ya udah, kalau kamu mau bulan madu, pergi aja, gak usah ikut mama ke Singapore."


"Terus, pertemuan sama Pak Aditama?"


"Jangan dipikirkan, Sky. Kan kamu sendiri yang bilang mama pasti bisa nge-handle itu semua. Itu kerjaan mama. Mama gak benar-benar serius mau melibatkan kamu."


"Yah.... karena waktu itu niat mama bukan melibatkan aku dalam pekerjaan, kan? Tapi hal lain," sindir Sky.


"Ya udah lah, apa mau di bahas lagi sekarang?" Indri menatap Sky dengan tatapan memperingatkan.


"Gak, ma. Gak usah dibahas lagi untuk selama-lamanya," jawab sang putra.


Sky menggenggam jemari Yara yang duduk disisinya sambil menikmati cemilan dan menonton televisi bersama-sama.


"Ke kamar, ayo!" bisik Sky pada istrinya.


"Aku masih mau nonton, Sky."


"Di kamar aja nontonnya sama aku."


"Ini kan sama kamu juga."


"Tapi disini ada mama."


"Emang kenapa?"


Indri berdehem-dehem mendengar Sky dan Yara yang berbisik-bisik di seberangnya.


"Udah, kalian pindah ke kamar sana. Ngapain disini nempel sama mama," kata Indri yang membuat Sky terkekeh.


"Mamaku emang pengertian banget, sih."


Yara saja sampai memerah wajahnya. Terkadang ada rasa sungkan terhadap sang mertua, tapi Sky selalu saja bersikap cuek dan syukurnya Indri memang memahami hal itu. Wanita paruh baya yang masih cantik diusianya itu, malah lebih sering berbicara santai dan bersahabat seolah mengerti keadaan. Yara bersyukur mertuanya tidak kaku dan justru punya jiwa muda yang bersahabat.


Sky langsung menarik tangan Yara saat itu juga, membawa wanitanya menyusuri tangga hingga mereka tiba di kamar utama.


"Sky, aku malu deh sama mama."


Sky mengendikkan bahu acuh tak acuh.


"Kok respon kamu gitu sih?" protes Yara.


"Sayang, mama itu pengertian. Dia tau kita pasangan baru yang lagi kasmaran. Buktinya dia ngusir kita kan tadi? Dia tau kita udah butuh ke kamar."


"Dih, kamu. Masih siang juga," kata Yara memanyunkan bibir.


"Mau siang, malam, subuh, namanya juga pengantin baru, Ra."


Sky mendekat dan memangkas jarak diantara mereka, membuat jantung Yara langsung berdetak kencang seketika.


"Aku kan udah bilang tadi kalau aku kangen. Buat apa coba aku pulang lebih cepat dari biasanya kalo gak karena kamu."


Sky mengurung Yara dalam kung-kungannya, kemudian mengusap lembut wajah istrinya yang langsung merona saat itu juga.


"Akh, Sky ...."


Bersambung ....


Nanti 2 bab lagi ya.

__ADS_1


Jangan lupa komen dan berikan like❤️


__ADS_2