
Di sisi lain, Michele ingin sekali mengunjungi pemakaman Sky yang dia ketahui sudah meninggal. Dia pun menghubungi Jenifer untuk menanyakan kapan mereka berangkat ke rumah duka agar dia bisa sekalian ikut bersama mereka. Bukan dia tak bisa datang sendirian, tapi dia akan merasa canggung apabila hadir disana tanpa seorang teman.
"Hallo, Jen. Jen, jam berapa kalian ke rumah duka? Aku ikut ya."
Alih-alih mengiyakan perkataan Michele, Jenifer sendiri bingung karena Beno tiba-tiba mengajaknya pulang dari Rumah Sakit dan mengatakan bahwa Jenazah Sky akan dimakamkan diluar kota.
Ya, Beno tidak mengatakan pada Jenifer terkait Sky yang mengalami mati suri. Pria itu menutup mulut rapat-rapat sesuai janjinya pada sang sahabat. Meski Jenifer adalah istrinya, tapi ini menyangkut privasi Sky sehingga dia tidak berani berkata banyak dan hanya bisa menepati ucapannya sendiri untuk tidak memberitahu siapapun.
"Ehm, kami tidak ke rumah duka, Michi."
"Lho, lho, kenapa?" Michele diseberang panggilan merasa amat keheranan.
"Jadi kata Beno, Sky bukan asli orang sini, jenazahnya akan diurus untuk dipulangkan langsung ke kota kelahirannya."
"Hah? Serius? Emang mau dimakamkan dimana?"
"Nah, kalau soal itu aku enggak tau. Karena Beno sendiri enggak kesana."
"Kok gitu?"
"Ya mau gimana, pekerjaan dia juga gak bisa ditinggal. Kemarin udah cuti karena Abel sakit dan sekarang dia harus nge-handle kerjaan yang udah terlanjur diurus Sky waktu di Surabaya."
"Ah, iya juga, ya. Jadi gak ada yang ke rumah Sky yang ada disini?"
"Buat apa, Michi? Semua orang dirumahnya juga pasti pergi ke pemakaman Sky yang dilakukan di luar kota," terang Jenifer kemudian.
Setelah berbasa-basi sekilas dengan hal yang tak terlalu penting, akhirnya panggilan itupun berakhir. Michele dalam posisinya sekarang merasa semakin gusar.
"Darimana aku bisa tau dimana Sky dimakamkan, ya? Apa aku tanya langsung sama Beno?"
Michi membuka siaran televisi, disana juga sedang menayangkan berita terkait kematian Diandra yang masih digembar-gemborkan. Isu soal hubungan sang model dengan Arsitek yang tak lain adalah Sky turut terbantahkan akibat isi blackbox yang sudah dirilis ke media.
"Sial, kalau begini, Yara pasti udah mendengar rekaman itu. Astaga, padahal sedikit banyak dia pasti udah terpengaruh sama hasutan aku," gerutu Michele akhirnya.
Michele merasa usahanya sia-sia. Sepertinya provokasinya tidak perlu dilanjutkan, buat apa? Toh, Sky juga telah tiada, begitu pikirnya. Hanya saja Michele merasa ada yang kurang jika dia tidak melihat dan datang ke prosesi pemakaman pria yang sempat menjadi obsesinya. Setidaknya, Michele mau melihat wajah itu untuk terakhir kali.
"Ah, sudahlah, mulai sekarang aku harus melupakan Sky," bisik hati wanita itu.
...***...
Yara merawat Sky dengan sepenuh hati, dia takut pria itu akan meninggalkannya lagi. Dan untuk kesalahan yang telah dia perbuat, dia menjadikan itu sebuah pelajaran berharga dan tidak mau terjebak dalam kesalahan yang sama.
"Papa, Mama ..."
__ADS_1
Kedatangan Aura dan Cean ke ruang perawatan Sky, cukup mengejutkan mereka. Yara pun memeluk kedua anak-anaknya lalu disusul dengan kecupan bertubi-tubi yang diberikan Sky kepada kedua putra-putrinya tersebut.
Anton menyusul masuk ke dalam ruangan itu dengan satu sudut bibir yang tertarik. Dia terpaksa membawa kedua bocah itu ke Rumah Sakit karena kemarin Yara dan Sky melakukan panggilan video dengan mereka--menyebabkan keduanya terisak-isak dikediaman Anton karena merasa sangat merindukan kedua orangtuanya yang luput dari pandangan mereka selama delapan hari. Untuk Sky sendiri, dia lebih lama tak bertemu anaknya, terhitung sejak dia pergi ke Surabaya waktu itu.
"Papa lagi sakit, Sayang. Jangan ditarik-tarik begitu, ya." Yara memperingati Aura yang sangat antusias, dia menarik lengan Sky dan mengajak pria itu memangkunya. Sayangnya, Sky belum bisa melakukan hal itu kendati dia sangat ingin.
"Belum bisa, nanti kalau keadaan Papa udah membaik, kita main lagi. Oke?" Sky mengelus wajah Aura yang cemberut.
"Papa, cepat sembuh, Papa," celetuk Cean menimpali.
"Cean doain Papa cepat sembuh, ya."
"Oke, Papa," sahut Cean dengan wajah murung. Tampak sekali jika dia ikut bersimpati dan prihatin dengan keadaan sang Ayah.
"Mas? Gimana?" Kali ini pandangan Sky jatuh pada Anton yang sejak tadi mematut senyuman penuh arti.
"Hmm, menurut kamu?" Anton malah balik bertanya.
Yara sendiri, tidak memahami apa yang kini tengah menjadi pembahasan Sky dan Anton sebab pembicaraan mereka terkesan tidak jelas mengarah kemana.
"Aku yakin Mas bisa menangani ini dengan cepat."
Anton tertawa singkat. "Aku gak punya jaringan yang luas untuk mencari tau siapa orang itu," paparnya.
Disanalah Yara memahami semuanya. Ternyata Sky menanyakan pada Anton terkait siapa dalang yang menjadi pengedit foto waktu itu.
Yara angkat tangan terkait hal ini, dia lebih memilih mengurusi anak-anaknya yang mulai berlarian didalam kamar rawat itu. Biarlah para pria yang membahas dan menemukan siapa orangnya. Jika nanti sudah ditemukan, barulah Yara turut campur untuk mengetahui identitasnya. Setelah itu? Yara sendiri belum tau mau melakukan apa pada orang yang telah memprovokasi hubungannya dengan Sky. Apa hukuman yang tepat? Pikirnya, dia sendiri bingung.
Melihat Yara sudah sibuk dengan anak-anak, Anton berjalan mendekat pada Sky yang terbaring disana.
"Wanita dalam foto itu gak jelas, sih. Wajahnya gak begitu kelihatan," terang Anton.
"Lalu?"
"Tapi, foto lelaki yang diedit dengan wajah kamu, aku udah tau identitasnya."
Sky tersenyum smirk dalam posisinya. "Jadi, lelaki itu sengaja mengedit fotonya dan mengganti wajahnya dengan wajah aku demi membuat Yara terpengaruh."
Anton mengendikkan bahu. "Dari awal aku kasih lihat foto itu ke Yara, Yara kayaknya gak kenal sama lelaki itu. Bisa jadi bukan lelaki itu yang mengedit fotonya. Bisa jadi ini ulah si perempuan, ataupun ada pihak ketiga yang memanfaatkan foto itu dengan mengeditnya."
"Siapa?"
"Kalau ini aku belum tau. Aku lagi cari info dari nomor asing yang sempat menghubungi Yara. Siapa tau dia daftar nomor itu pake identitas asli ataupun ada orang yang menyimpan nomornya dengan nama asli si pemilik nomor."
__ADS_1
"Menurut Mas, ini siapa?"
"Hmm, biasanya yang begini bukan sekedar orang iseng. Dia sengaja buat hubungan kalian berantakan dan akan memanfaatkan situasi itu untuk masuk ditengah-tengah keributan kalian."
Sky tampak memikirkan ujaran Anton. Rasa-rasanya tidak ada yang mencurigakan. Mantan kekasihnya hanya Yara, itupun sudah menjadi istrinya sekarang. Saat kuliah di Australia, Sky memang dekat dengan beberapa gadis tapi semuanya berakhir baik-baik atas kesepakatan bersama.
Sementara dari sisi Yara, istrinya memang memiliki mantan suami. Tapi menurut Sky, Juna tak mungkin melakukan tindakan semacam ini karena diapun sedang berjuang dengan penyakit yang dideritanya beberapa tahun belakangan.
"Mas menebak ini adalah orang-orang dari masa lalu kamu ataupun Yara."
Sky memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba berpikir, tapi yang ada kepalanya justru terasa nyeri.
"Jangan dipaksakan untuk memikirkannya. Mas akan menemukan orangnya secepatnya, karena Mas akan menemui laki-laki yang ada dalam foto itu untuk menanyakannya lebih lanjut."
"Kalau dia juga gak tau. Bagaimana, Mas?"
"Kita tunggu info pelacakan nomor itu."
Sky terkekeh dari posisinya. "Mas udah kayak detektif aja," kelakarnya.
Anton ikut tertawa. "Karena Mas melakukan ini bukan cuma demi kalian, tapi Mas juga jadi penasaran," ujarnya sungguh-sungguh. Anton tidak suka ada orang yang meneror serta memprovokasi adiknya. Dia tidak suka kehidupan Yara diganggu.
"Ngomong-ngomong, Mas punya akses buat melacak nomor itu?" tanya Sky kemudian.
"Ya, enggak. Aku ini bukan siapa-siapa," kata Anton sambil mengulumm senyumnya.
"Ya deh ... tapi aku percaya Mas bisa ngelakuin apa aja."
Sky tau Anton memiliki jangkauan relasi yang cukup luas karena circle pertemanan Anton bukan hanya sekedar orang kantoran, dia juga berteman dengan orang pasaran. Banyak teman-teman Anton yang terkesan biasa, tetapi justru memiliki keahlian luar biasa seperti hakers yang bisa melacak nomor itu dengan gampangnya.
"Yakin banget kamu," cibir Anton.
"Ya, buktinya aja Mas udah bantu kita sampe sejauh ini. Aku tau Mas selalu bisa diandalkan, makanya Mbak Nadine bisa luluh sama Mas. Hehehe." Sky memasang cengiran di ujung kalimatnya.
"Gak usah muji-muji. Perasaanku selalu gak enak kalau udah gini. Biasanya kalo udah dipuji-puji gini, ujung-ujungnya gak enak," kata Anton menebak.
"Gak kok, Mas. Cuma ..."
Anton langsung memicing mendengar ujaran Sky, sudah diduga pasti ada maksud lain dari pujian Sky kepadanya.
"Cuma apa?"
"Cuma kalau nanti aku udah sembuh, aku sama Yara titip anak-anak dulu ya. Dua hari aja."
__ADS_1
Anton mendengkus pelan. "Sudah ku duga," katanya kemudian.
Bersambung ...