EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
24. Games


__ADS_3

Karena kesal dengan ucapan Sky, Diandra langsung merengut dan beranjak meninggalkan pria itu seorang diri. Tak ada gunanya membujuk Sky, karena memaksa sekalipun--pria itu akan tetap pada ke-keras-kepala-an-nya.


Sky hanya menipiskan bibir melihat kepergian Diandra yang ia yakini pasti sangat merutuk dirinya. Tapi, Sky tetap tidak peduli apapun pendapat Diandra, ia bukan hidup untuk menyenangkan wanita itu atau orang lain. Ia hidup untuk mencari kesenangan dan kebahagiaannya sendiri.


Terkesan egois, tapi itulah dirinya. Dan kebahagiannya itu adalah Yara. Why not? Tidak ada yang bisa mencegah sesuatu yang sudah ia yakini.


Tapi, apa ia akan kembali pada keputusan awal? Bukankah ia sudah berjanji untuk tidak memaksa dan mengganggu Ayara lagi?


Sampai tibalah waktu dimana pesta memasuki acara puncak. Semua undangan diminta untuk berkumpul ditengah-tengah taman--tempat diadakannya pesta tersebut.


Rina terlihat menghadap kue ulang tahunnya dan bersiap untuk meniup lilin yang ada diatasnya. Setelah itu, Rina mulai memotong kue dengan desain cantik tersebut.


"Kue pertama ini, bakal aku kasi ke Papaku yang terhebat..." Rina tersenyum cerah, kemudian mulai menyuapi sang Papa, diiringi tepuk tangan yang lainnya.


Tak lama, Rina kembali memotong kue dan potongan kedua itu ia berikan pada kekasihnya, Dion.


"Setelah ini, aku bakal adain games seru buat kalian semua yang hadir disini," ucap Rina merujuk pada semua teman-temannya yang hadir di acara tersebut.


Setelah selesai dengan acara potong kue, Rina benar-benar merealisasikan ucapannya. Ia berdiri sambil memegang mikrofon untuk mengumumkan games yang akan diadakan di acaranya tersebut.


"Tes... selamat malam semuanya," Rina menyapa, suaranya menggema disana.


"Malam," sorak semua nyaris serempak.


"Pertama-tama, aku mau ucapin terima kasih buat kalian yang udah datang ke sini. Ke acara aku."


".... Kebetulan, di hari yang sama dengan hari ulang tahunku ini, Dion, pacar aku juga ngelamar aku buat jadi istrinya."


Semuanya pun bersorak senang mendengar pengumuman bahagia yang Rina beritakan.


"Jadi, aku mau berbagi rasa bahagiaku sama kalian dengan cara bagi-bagi rezeki," kata Rina melanjutkan.


"Wuhuu...." Semua kesenangan mendengar ucapan Rina.


"Tapi, bagi-bagi rezekinya itu, kalian harus ikutin games yang bakal aku adain, ya."


"Siapp...."


"Ada tiga games yang bakal kalian ikuti. Yang pertama adalah games tangkap bunga. Siapa yang berhasil dapatin buket bunga yang aku lempar, aku bakal kasi uang tunai sebesar lima ratus ribu."


"Asyik...."


"Seru tuh, hayukk!!!"


Semuanya semakin semangat mendengar penjelasan Rina mengenai games yang bertabur hadiah uang tersebut.


"Games bakal dimulai dari sekarang ya," kata Rina sembari meraih buket bunga dari atas meja.


Rina menaiki meja bundar yang ada disana. Hal itu semakin menambah kehebohan di taman tempat berlangsungnya pesta.


Yara sendiri sangat antusias dengan games di pesta ini. Jika ia dapat menangkap buket bunga yang Rina lempar maka ia akan mendapat uang untuk tambahan kebutuhannya.


Yara jadi bertekad untuk mendapatkan buket itu.


"Semuanya, siap?"


"Siap."


Rina mulai memutar-mutar buket bunga ditangannya, tak lama, ia melambungkan buket itu-- membuat bunga tersebut terlempar ke depan.


Hampir semua tamu bersiap menangkap buket, tapi ada juga yang hanya memandangi keseruan acara itu dari jarak yang tak terlalu jauh, salah satunya adalah Sky. Pria itu hanya mengulumm senyum melihat keriuhan teman-temannya yang tiba-tiba berebut buket karena games yang dibuat Rina.


"Ngapain Yara ikutan," gumam Sky menyadari sesuatu, ia hampir terkekeh melihat gelagat Yara yang tampak bersiap untuk menangkap buket bunga.


Akhirnya, Sky hanya melipat tangan dan menyaksikan hal itu dari tempatnya. Tentu pandangannya hanya tertuju pada tingkah satu orang wanita saja, ia tidak peduli pada yang lainnya.

__ADS_1


Beberapa kali Sky terkekeh melihat tingkah Yara yang lucu dan terlihat merengut kekanak-kanakan karena pada akhirnya, buket itu didapatkan oleh orang lain.


"Yeah, buketnya di dapetin sama Mbak Nisa. Selamat ya, mbak. Entar uang tunainya bakal aku kasi setelah games berakhir."


Nisa langsung mengacungkan jempol ke arah Rina pertanda setuju.


Tak lama, Rina kembali bersuara. "Gimana? Kita lanjut games yang kedua, ya?" ujarnya.


"Siap."


"Games yang kedua adalah, tebak-tebakan. Yang berhasil nebak, hadiahnya besar banget dong, aku kasih 1 juta. Setuju?"


"Setuju..." Kembali terdengar suara keriuhan akibat hadiah yang semakin bertambah banyak.


"Nah, games tebak-tebakan kita kali ini ada cara mainnya, ya."


Rina mulai membacakan aturan mainnya.


"Pertama, lampu disini bakal di matikan seluruhnya. Nah, kalian harus cari seseorang didalam kegelapan. Kalau kira-kira udah tau itu siapa, boleh teriak dan sebutkan nama orang yang berada didepan kalian sambil nyalain lampu hp. Disaat yang sama, nanti aku bakal cek tebakannya bener atau enggak ya."


".... Tapi, kalau kira-kira gak tau itu siapa, ya kalian cari lagi orang lain, sampe ketemu sama seseorang yang bisa kalian kenali dan bisa menebak namanya."


"Setuju....." sorak semua tamu yang sepakat dengan games kedua yang sudah diusung Rina.


"Oke, kita mulai ya." Rina menjentikkan jari sebagai kode, disaat yang sama semua lampu pun langsung dipadamkan.


Keadaan taman langsung gelap gulita, hanya ada suara riuh tamu-tamu yang saling memanggil dan mencari orang lain yang nantinya ingin ditebak namanya.


"Fera?" Yara berusaha mencari Fera, sementara orang yang dicarinya itu juga sudah bergerak mencari-cari orang lain.


Yara terkesiap saat seseorang sudah menangkap tubuhnya. Yara membeku ditempat saat menyadari siapa yang sudah berada didepannya saat ini. Meski keadaan gelap, Yara tau pasti pemilik aroma parfum yang sangat familiar di indera penciumannya ini.


Jika boleh jujur, Yara sangat ingin meneriakkan nama seseorang ini sambil menyalakan lampu hp nya. Tebakannya pasti tak akan salah dan sudah pasti ia yang akan mendapatkan uang tunai sebagai hadiah.


Tetapi, Yara juga memikirkan resikonya, apa tanggapan teman-temannya jika sekarang ia menebak yang ada didepannya adalah Sky?


"Sky," bisik Yara, tetapi orang didepannya hanya diam tak menyahut.


"Lepasin aku." Tak akan ada yang mendengar suara Yara itu, sebab keadaan semakin riuh dengan proses saling cari mencari orang untuk ditebak namanya. Kendati demikian, Yara yakin sosok Sky didepannya pastilah mendengar apa yang ia katakan.


"Aku udah bisa nebak kamu. Aku teriakin nama kamu sekarang," putus Yara akhirnya. Dia tidak benar-benar ingin berteriak, hanya mengancam Sky dengan kalimatnya saja.


Tapi, baru saja Yara ingin menghela nafasnya, tiba-tiba tubuhnya terasa seperti melayang di udara. Keadaannya seketika berubah menjadi posisi dalam gendongan seseorang. Siapa lagi yang akan senekat ini jika bukan Sky?


Bahkan, lampu pun belum menyala ketika Sky sudah membopong Yara dengan kedua tangannya dan beranjak meninggalkan area taman.


Membuat tak ada sepasang mata pun yang dapat melihat atau menyadari hilangnya dua orang itu dari berlangsungnya acara pesta.


Yara ingin berteriak akan aksi Sky yang keterlaluan sampai menggendongnya seperti ini, tetapi ia juga akan sangat malu jika sampai melakukan hal itu. Pasti teman-temannya akan dapat melihat posisinya yang berada didalam gendongan Sky, kan?


"Sky!" pekik Yara ketika Sky sudah memasukkannya kedalam mobil saat itu juga.


Sky tak menggubris, ia langsung menutup pintu mobilnya setelah memastikan Yara terduduk aman didalam sana.


Dari dalam mobil, Yara mulai menggedor kaca jendela, tetapi pria berbadan tinggi itu-- tidak mengindahkan tingkah Yara. Sky malah mengitari mobil lalu masuk ke sisi pengemudi.


"Pake seatbelt," kata Sky pada Yara.


"Gak mau. Aku mau turun, buka pintunya." Yara menekan-nekan handle pintu mobil, nyatanya usahanya sia-sia sebab Sky sudah lebih dulu menguncinya.


"Gak!" tukas Sky, pria itu langsung memasangkan seatbelt pada Yara, kendati sang wanita tampak bersikap melawannya.


"Acaranya belum selesai, Sky!"


"Terus, apa aku harus peduli?" pongahnya.

__ADS_1


"Uhs! Aku belum pamit sama Rina," alasan Yara.


"Kamu bisa kirim WA nanti."


"Sky, kamu udah janji gak akan ganggu aku lagi."


"Ya, tapi janjinya aku langgar," ujar pria itu dengan entengnya.


Sky menyalakan mesin mobilnya, dan berlalu dari kediaman Rina saat itu juga.


Yara mendengkus keras. Ingin rasanya ia memaki Sky yang terlihat menyunggingkan senyum tipis dari tempatnya. Wajah bak malaikat itu, tampak tak merasa berdosa sama sekali akan kelakuannya.


"Harusnya tadi aku langsung teriak nama kamu. Biar lampunya langsung dinyalain. Biar kamu gak nekat begini dan aku juga bisa dapetin uang satu jutanya."


Sky malah terkekeh mendengar kalimat terakhir Yara.


"Aku bakal kasi kamu lima atau sepuluh kali lipat kalau perlu."


"Uhssss! Sombongnya!" Yara langsung mencubit lengan Sky sekuat yang ia bisa-- membuat pria itu mengaduh kesakitan sembari menginjak rem secara mendadak.


"Masih aja kamu!" omel Sky menatap wajah Yara bergantian dengan tindakan mengelus lengannya sendiri yang sakit akibat ulah wanita itu.


"Turunin aku, Sky!"


"Gak."


"Please!"


"Enggak, Ra!"


"Terus, kamu mau bawa aku kemana?" tanya Yara putus asa. Selalu berdebat dengan Sky justru menghasilkan kekalahan bagi diri Yara sendiri. Yara pun menyerah.


"Terserah aku lah!" tukas Sky tenang.


Mendengar itu, tubuh Yara ibarat menciut dengan sendirinya. Ia pun membuang pandangan ke luar jendela, bersamaan dengan Sky yang kembali melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Aku benci kamu, Sky!" lirih Yara akhirnya.


Sky diam, anggaplah ia sedang menikmati kebencian Yara saat ini.


"Seharusnya kamu gak nekat. Kamu gak perlu seperti ini, kamu ngelakuin hal yang sia-sia," ujar Yara lagi.


"Oke...." Sky menghela nafas panjang. "Kamu boleh cubit aku sepuas kamu. Kamu juga boleh benci aku, Ra! Silahkan kamu berbuat sesuka hati kamu. Tapi, kamu juga harus tau, aku pun akan ngelakuin hal yang sama. Berbuat sesuka hati aku. Gimana? Itu gak sia-sia lagi, kan?"


"Maksud aku, sia-sia itu adalah kamu yang terus maksain keadaan Sky. Kayak sekarang ini, buat apa kamu nyulik aku, hah?"


Dahi Sky berkerut dalam, "Nyulik?" ulangnya.


"Iyalah, ini namanya kamu nyulik aku."


"Oke, kalau aku penculik berarti kamu pencuri, dong!" canda Sky.


"Pencuri? Aku gak mencuri apapun dari kamu," tutur Yara polos.


Sky menyodorkan sebelah tangannya ke arah Yara. "Kalau emang gak ngerasa mencuri, ya udah, sini balikin!" titahnya.


"Balikin apa?"


Sky pun tersenyum tipis.


"Hati aku! Kan, kamu yang udah nyuri," kelakarnya.


Pria itu pun terkekeh akan kalimatnya sendiri, sementara Yara kembali membuang pandangan ke arah luar jendela sambil memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut.


Bersambung ....

__ADS_1


*****


__ADS_2