
Tak sampai lima menit, Yara sudah menyajikan telur goreng buatannya ke hadapan Sky yang telah duduk di ruang makan.
"Pengen dimasakin kamu terus," kata Sky sembari tersenyum menatap Yara. Wanita itu hanya menipiskan bibir menanggapinya.
Yara ikut duduk tak jauh dari Sky, ia menyendokkan nasi ke dalam piring lalu menyerahkannya pada sang pria.
"Sky?"
"Hmm," sahut Sky seraya mulai melahap makanannya.
"Jangan begini terus, ya."
"Begini terus, maksudnya?"
"Gak usah menaruh rasa lagi sama aku."
"Ra---"
"Kita bisa berteman seperti teman-teman yang lain," lanjut Yara.
"Teman?" Sky langsung meletakkan sendoknya. "Sedari awal, aku gak pernah anggap kamu sebagai, teman, Ayara," tukas pria itu.
"Tapi kamu kan tau kalau aku udah menikah."
"Kamu juga tau aku gak peduli sama hal itu."
"Sky?"
"Makan, Ra. Aku gak mau bahas hal ini lagi. Oke?"
Seketika itu juga Yara terdiam.
Mereka pun kembali melanjutkan sesi makan malam sederhana itu dalam keheningan yang seakan sengaja mereka ciptakan.
Sampai akhirnya Yara berdiri dari duduknya. Ia membereskan piring lalu menuju kitchen sink untuk mencuci piring bekas makannya.
"Makasih makan malamnya... aku mau pulang," ujar wanita itu.
Sky memejamkan mata rapat-rapat. Ia mengejar langkah Yara yang telah keluar dari area ruang makan.
"Ayara," panggilnya.
Namun Yara tidak menghentikan langkah. Ia seakan berperang dengan dirinya sendiri saat ini. Kakinya mungkin bisa bergerak demi menghindari Sky, tetapi hatinya tidak.
"Ayara!" Sekali lagi Sky memanggil nama wanita itu, tapi kali ini dibarengi dengan tindakan menahan pergelangan tangan Yara.
"Apa Sky? Apa?" tanya Yara menantang manik hitam pekat yang saat ini menghujamnya dengan tatapan lekat.
"Tetap disini, Ra," lirih pria itu mengunci pandangan mata Yara.
Tatapan mereka bersirobok. Sky langsung menangkup sisi wajah Yara dengan kedua tangannya, seolah tak mengizinkan sang wanita mengalihkan pandangan ke arah lainnya dan hanya boleh menatap kepadanya saja.
__ADS_1
"Jangan dustai hati kamu, Ra. Aku tau kamu udah berusaha keras. Udah, Ra. Udah, cukup!" mohon Sky dengan mata yang berkaca-kaca.
Sky mengikis jarak diantara mereka tetapi Yara kembali menghindar.
"Aku harus pulang."
"Ra?"
"Sekarang!" tandas Yara sambil berbalik, tetapi Sky justru langsung mengambil sikap. Ia mendekap tubuh Yara dari belakang.
Yara terkesiap, kendati demikian, tak ada kata lagi yang keluar dari bibir keduanya, seolah mereka sedang meresapi dalam-dalam tentang apa yang tengah terjadi di detik yang sama.
Yara tahu keadaan ini tidak baik untuk jantung dan hatinya. Tembok pertahanan yang mati-matian ia pertahankan pun bisa roboh jika Sky terus bersikap seperti ini kepadanya.
Sementara Sky sendiri, ia menyadari jika Yara tengah menahan kuat rasa kerinduan terhadap dirinya. Ia bisa membaca hal itu dari sorot mata Yara.
Mungkin mulut Yara bisa berdusta, tetapi jendela hati yang terpancar lewat pancaran indera matanya--- tidak pernah bisa membohongi seorang Sky Lazuardi.
"Sky...." Yara tercekat saat merasakan bibir Sky yang mulai menciumi tengkuknya dari belakang. G e l e n y a r aneh langsung melingkupi diri Yara saat itu juga.
Entah bagaimana, sekarang mereka sudah dalam posisi berhadapan dengan bibir yang ber-taut-an.
Yara terkejut dengan mata yang membola, nyatanya ia sudah melihat tatapan sayu penuh g e l o r a di manik hitam pemuda itu.
Sky seakan tak bisa dihentikan. Feromon seakan menguar dari tubuh Yara dan itu memancingnya untuk terus melakukan lagi dan lagi, mengeksplor lebih dalam, sampai mengajak lidah Yara berdansa dengan lihainya.
"Kamu ingat ciuman pertama kita?" tanya Sky disela-sela kegiatan itu, membuat pikiran Yara seketika melambung pada masa-masa dulu-- disaat ia dan Sky pernah melakukan kenakalan remaja-- termasuk coba-coba dalam hal berciuman.
Akibat ulah Sky yang selalu saja memulai, Yara telah kehilangan pertahanannya, bahkan kini kendali dirinya sudah lenyap entah kemana.
Termasuk ucapan Sky yang sengaja mengingatkannya pada momen ciuman pertama mereka, itu berhasil membangkitkan g a i r a h pada wanita itu.
Kini, Yara telah berada diambang batas kesadaran dan mempersetankan logika.
Sky mengangkat tubuh Yara ke atas meja bufet yang ada disudut ruangan. Membuat wanita itu terduduk dihadapannya.
Tangan Sky terulur, membuka satu persatu kancing blus yang Yara kenakan. Tetapi Yara segera menahan aksi pemuda itu sambil menggelengkan kepala sebagai isyarat agar Sky tidak melanjutkan kegilaan ini.
Melihat sikap Yara, Sky balik menggeleng, ia tidak bersedia menghentikan. Melanjutkan aksi lebih berani dan mulai membuka blus Yara dengan sikap yang tidak sabaran, hingga beberapa kancing tampak terlepas dari tempatnya.
"Sky!" Yara terkesiap saat menyadari hal itu.
"Susah, lain kali jangan pake baju yang begini lagi," pinta pria itu dengan suaranya yang lembut dan serak.
Sky tampak semakin berani, ia melanjutkan aksinya dengan melepas pengait bra yang Yara kenakan.
Sementara Yara, terlihat mulai pasrah menikmati hal itu, pertahanannya telah hancur lebur menjadi kepingan yang sulit untuk disusun layaknya puzzle, hingga tidak ada lagi keinginan untuk menolak.
"Engh...." Yara mele nguh nikmat saat Sky sudah menggenggam kedua miliknya yang telah terpampang nyata dihadapan pria itu.
Tangan Sky terasa sangat pas disana. Memijatnya lembut dan melambungkan Yara disaat yang bersamaan.
__ADS_1
Sky tidak bisa menahan lagi, ia menggi git leher Yara lembut, hingga meninggalkan beberapa jejak cintanya disana.
"Sky.... Emhhh..." Ucapan Yara terputus, karena Sky kembali mencium bibirnya.
Yara hanya bisa bergumam dalam has rat, lalu kembali meladeni ciuman Sky yang tergesa, nikmat namun itu terasa sangat manis.
"Ayara ...." Sky menyebut nama wanitanya yang selama ini ada didalam angannya. Sekarang, Yara sudah benar-benar berada nyata didepan mata kepalanya sendiri.
Dan Yara menyahuti pria itu dengan suara d e s a h a n yang terdengar s ek si di indera pendengaran Sky.
Sky menatap Yara dengan tampilannya yang sudah acak-acakan karena ulahnya. Tapi justru hal itu sangat disukainya. Ia bertekad akan selalu membuat penampilan Yara seperti ini jika didepannya nanti.
Wajah Yara sudah merah padam di tatapi Sky seperti itu. Ia membuang pandangan, tapi Sky menahan wajah Yara agar tetap menatap lurus ke arahnya saja.
"Aku cinta kamu, Ra."
Yara tidak bisa berkata-kata lagi karena setelah mengucapkan itu, Sky sedikit merunduk dan mengulumm puncak dadanya.
Yara mende sah lirih. Meski begitu ia juga sangat menikmatinya.
Puas dengan hal itu. Sky ingin melanjutkan ke tahap inti, tetapi disaat yang sama Yara justru menghentikannya.
"Sky. Udah ya, kita gak boleh lebih dari ini."
"Apa?" ujar Sky tak habis pikir dengan ucapan Yara. Masalahnya, ia sudah on fire sekarang tapi Yara malah menghentikannya.
"Aku bilang udah, jangan dilanjutin," lanjut Yara dengan nafas memburu. Ia menyilangkan tangan didepan dadanya demi menutupi bekas perbuatan Sky pada dirinya.
Sky menghela nafas frustrasi. "Ayara, aku---"
"Aku tau," potong Yara cepat.
"Jadi?"
"Kita udah kelewatan, Sky."
"Astaga, Ayara.... kenapa gak hentiin dari tadi," gerutu Sky. Pria itu kesal tapi ia juga tidak bisa marah pada Yara.
Yara menundukkan wajah. Merasa malu dengan kelakuannya sendiri dihadapan Sky akan tetapi entah kenapa ia tidak menyesali yang sudah terlanjur terjadi.
"Oke, aku gak akan maksa kamu," ujarnya sambil mengelus rambut Yara yang sudah berantakan.
Lalu Sky membuka kemejanya dihadapan Yara. Yara mau protes, tetapi pria itu hanya berniat menutupi tubuh Yara yang terbuka karena ulahnya.
"Baju kamu gak bisa dikancing lagi, kan? Pake ini dulu. Aku ke kamar mandi, bentar."
Sky pun berlalu dari hadapan Yara sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Bersambung ....
*****
__ADS_1
Terkhusus part ini, gak tau deh bisa cepat lulus review atau enggak. Tapi eh tapi, jangan ada yang ngetawain Sky, oke? 🤣🤣🤣🤣🤣🙏🙏🙏🙏