EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
94. Mengasuh Bayi


__ADS_3

Keesokan harinya, Yara kembali ke kediaman Anton bersama dengan Sky yang turut mengantarkannya sebab Sky memang cuti bekerja.


Baru juga Yara ingin mengeruk pintu, rupanya suara tangisan bayi cukup terdengar kencang sampai ke depan rumah.


Yara langsung menekan handle pintu sambil memanggil-manggil Anton.


"Mas...." teriaknya dan syukurnya pintu itu tak terkunci.


Yara berjalan menuju letak kamar Anton diikuti oleh Sky dibelakangnya.


"Mas?"


"Dek?" Anton melihat Yara diambang pintu kamarnya. "Kok pagi-pagi banget udah kesini?" tanyanya diiringi suara tangis baby Elara.


"Yara mau bantuin Mas ngurus Elara, Mas."


Yara langsung masuk dan melihat keadaan Baby Elara disana. Rupanya Anton sedang membuka bedong bayi itu, berniat untuk memandikannya.


"Mas mau mandiin bayi, tapi gak berani. Harusnya sih masih dari pihak rumah sakit yang bantuin. Tapi mereka belum sampai, sementara Elara udah basah, mas mau gantiin popoknya."


Yara paham dan langsung mengambil alih posisi Anton, dia mengambil popok bayi dengan cekatan dan tak lupa membersihkan dulu menggunakan tisu basah. Untungnya semua kebutuhan itu didapatkan dari pihak rumah Sakit, kalau tidak, pasti Anton kebingungan sebab tidak tau apa saja yang harusnya di beli untuk bayinya.


Setelah Yara menggantikan popok untuk Baby Elara, dia segera memakaikan kain bedong lagi pada sang bayi agar Baby Elara tidak merasa kedinginan.


"Mas, kalau butuh bantuan segera aja hubungi Yara."


Anton melirik Sky yang turut menyaksikan kejadian itu, sebenarnya Anton merasa tak enak hati pada adik iparnya itu, bagaimanapun mereka baru saja menikah, kenapa Yara jadi sibuk mengurusi bayinya harusnya Yara mengurusi suaminya, begitulah pemikiran Anton.


Sky seakan memahami arti tatapan Anton, dia pun angkat suara.


"Ya, Mas. Kalau ada apa-apa hubungi kita aja, jangan sungkan kita pasti bakal bantuin Mas," kata Sky tulus.


Bagaimanapun, Sky juga seorang pria selayaknya Anton. Ia bisa memahami bagaimana repotnya Anton mengurusi bayi seorang diri. Jika itu terjadi pada Sky, diapun pasti kelimpungan untuk menghandle-nya. Lebih baik dia menggambar desain seharian ketimbang mengurus bayi seorang diri, begitu pikirnya.


"Maaf karena Mas jadi ngerepotin kalian." Anton tersenyum hambar.


"Mas, jangan ngomong gitu. Kita ini keluarga," sahut Sky.


Yara sangat bangga dengan jawaban suaminya. Ia menatap Sky dengan binar bahagia yang tampak jelas dan Sky membalas senyuman istrinya pula.


Yara membuatkan Baby Elara susu, kemudian lanjut menidurkannya. Syukurnya hari ini sang bayi cukup tenang dan tidak serewel kemarin--saat pemakaman Shanum berlangsung.


"Mas Juna gak ada kesini, Mas?"


Yara keluar dari kamar setelah memastikan Baby Elara tidur dengan nyenyak dan aman.


Mendengar pertanyaan Yara, sontak membuat Anton dan Sky mengangkat wajah mereka nyaris secara bersamaan.


Anton menggeleng. "Belum ada," katanya. Anton memang tidak pernah tau jika Juna datang menyambangi makam Shanum kemarin.


"Oh," respon Yara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sementara Sky, dia punya pemikiran lain. Kenapa pula Yara menanyakan Juna? Batinnya merasa sedikit cemburu.


Bersamaan dengan itu, ponsel Yara berdering dan rupanya itu panggilan dari Nadine.


"Hallo, Mbak?"


Yara menerima panggilan itu sambil menyempatkan diri untuk duduk disebelah suaminya.

__ADS_1


"Ra? Kamu gak punya kenalan buat kerja di rumah Mbak? Mbak diminta Mas Lucky pulang ke Singapore, rumah gak mungkin ditinggal gitu aja. Paling enggak, ada yang bersihin sampai nanti mbak kembali ke Indonesia, gitu."


"Mbak mau balik ke Singapore?" Yara sedikit terkejut dengan keputusan Nadine.


"Hmm, mau gimana lagi, Ra. Mbak masih istrinya," kata Nadine lesu dari seberang panggilannya.


"Aku gak punya kenalan buat kerja sih mbak, aku juga lagi repot ngurusin bayi sekarang."


"Apa? Bayi? Bayi kamu? Kan, kamu baru menikah sama Sky tiga hari yang lalu, Ra," kata Nadine syok.


Yara tertawa pelan. "Bukan, bayiku lah Mbak. Ini anaknya Mas-ku."


Yara pun menceritakan jika bayi itu sudah ditinggalkan ibunya untuk selamanya. Mendengar itu, Nadine jadi merasa bersalah karena telah menghubungi Yara.


"Maafin mbak ya, Ra. Mbak gak tau kalau kamu lagi suasana duka," ujarnya tak enak hati.


"Gak apa-apa, kok, mbak. Mbak kapan balik ke Singapore?"


"Mungkin besok atau lusa. Mbak gak semangat, belum pesan tiket juga."


Yara tau Nadine menghubunginya juga karena mau bercerita banyak, sebab Nadine sudah menganggap Yara sebagai teman dekat selama dia bekerja dirumah wanita itu.


Yara sebenarnya prihatin dengan Nadine, apalagi dia tau wanita cantik itu tidak punya teman yang cukup akrab di Indonesia. Yang Yara tau, satu-satunya teman akrab Nadine--ada di Singapore dan itu adalah Firda, yang sekarang justru menjadi madunya.


"Sebelum Mbak ke Singapore, mbak mau lihat Baby itu, boleh, Ra?"


Nadine merasa kasihan dengan nasib bayi yang dibilang Yara sudah ditinggal selamanya oleh sang ibu. Dia mau berkunjung sekaligus mengucapkan turut berduka cita pada Yara dan kakaknya.


"Boleh banget, dong, mbak."


"Nama baby nya siapa, Ra?"


"Elara, Mbak."


"Iya, emang kenapa, Mbak?"


"Namaku Nadine Olivia Elara. Kok bisa, ya?"


"Wah kebetulan banget ya, Mbak." Yara terkekeh, disusul suara tawa Nadine pula dari seberang panggilan itu.


Akhirnya Yara menutup panggilan itu setelah berbincang hangat dengan Nadine.


"Siapa, Ra?" Anton yang bertanya, sebab tak biasanya Yara mengobrol akrab dan lama melalui ponsel.


"Oh, itu majikan aku ditempat kerjaku dulu, Mas."


Anton mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Lucu deh, mas. Masa nama Elara sama dengan nama belakang majikan aku itu," kata Yara.


"Oh ya?"


"Iya, emang mas dapat nama Elara dari mana? Cari refrensi di Gugel, yah?"


Anton menggeleng. "Enggak sih."


"Lah, terus?"


Anton menggaruk pelipisnya sekilas, mau jujur pada Yara, tapi sedikit malu. Mana mungkin ia mengatakan nama itu terinspirasi dari seseorang yang sempat ditemuinya sepintas.

__ADS_1


"Gak dek. Mas cuma buat-buat aja kok."


Yara akhirnya mengangguki saja ucapan sang kakak.


"Mas, nanti buatin Elara susu setiap dua jam sekali. Kalau susunya gak abis, dibuang saja. Jadi, diganti kalau sudah lewat dua jam. Jangan dikasi ulang yang itu, buat yang baru."


"Oh, gitu ya, dek."


"Hmm, terus, popoknya di kontrol, kalau penuh diganti juga. Kasian ntar dia risih, Mas."


Anton mengangguk mengiyakan. Ia tidak boleh mengeluh meski yang dikatakan Yara sangatlah janggal dilakukan untuk dia yang biasa memperbaiki motor dan mesin mobil-- karena keahliannya ada di bidang montir/mekanik, bukan di dunia per-ibu-an.


Tak lama, barulah pihak dari rumah Sakit datang untuk memandikan Baby Elara.


"Selamat pagi, Saya Suster Dyah. Dari Rumah Sakit mau memandikan bayi," kata suster itu.


"Oh iya, silahkan Sust."


Setelah melihat baby Elara dimandikan dan memastikan kembali tidur dengan nyaman karena sudah segar, Yara dan Sky undur diri dari kediaman Anton.


"Mas, kita pulang ya."


Kalau boleh jujur, Anton masih berat hati melepaskan Yara pulang. Bagaimanapun, dia masih membutuhkan Yara untuk membantunya, tapi Yara tetaplah sudah menjadi seorang istri jadi tak mungkin Anton menahannya. Lagipula, kedatangan Yara pagi ini saja sudah sangat membantunya dan membuat Anton bersyukur.


"Makasih banyak, ya dek. Makasih juga Sky."


"Iya, Mas...."


"Oh iya, mas denger kalian mau pergi bulan madu." Kali ini ada seulas senyum yang terbit disudut bibir Anton.


Anton memang sempat mendengar hal ini sesaat setelah Yara dan Sky menikah tempo hari, karena pada saat itu Indri yang menyarankan pada keduanya untuk berbulan madu ke Singapore dan mengucapkannya tepat di hadapan Anton pula. Jadi, sedikit banyak Anton memang mengetahuinya.


"Oh, soal itu...." Yara bingung mau mengatakannya pada Anton, apalagi bulan madu mereka dibatalkan karena keadaan Anton yang tak bisa ditinggalkan Yara begitu saja.


"Kami masih menundanya, Mas." Sky yang menjawab akhirnya.


"Kenapa? Bukannya kamu juga udah cuti. Hari ini kamu juga udah gak kerja buktinya," kata Anton dengan kesimpulannya sendiri.


Yara tau kakaknya tidak bo doh dan bisa membaca situasi, jadi dia memilih diam tak menyahut.


"Ra, Sky... jangan karena Mas dan Elara kalian jadi menunda rencana kalian sendiri. Kalau mau pergi dan udah terlanjur mengambil cuti, silahkan kalian nikmati yang memang seharusnya kalian lakukan."


Anton berujar serius, tenang dan bijaksana.


"Tapi, Mas..."


"Mas gak papa. Hanya perlu menyesuaikan diri aja dengan keadaan ini."


"Mas gak bisa ngapa-ngapain dong kalau jaga Elara sambil buka bengkel?" tanya Yara. "Kalau ada aku, seenggaknya Mas bisa kerja dengan tenang dan Elara jadi asuhan aku," tambahnya.


"Elara itu tanggung jawab Mas, bukan kamu, dek. Tapi Sky lah yang tanggung jawab kamu karena dia suamimu."


Ucapan Anton berhasil membungkam Yara hingga membuatnya terdiam sebab yang dikatakan sang kakak benar adanya.


"Lagian Mas punya usaha sendiri, mungkin untuk sekarang Mas gak bisa nge-handle lagi kerjaan Mas--karena ada Elara, tapi mas udah berpikir untuk tetap membuka bengkel, jadi nanti Mas tinggal gaji orang aja buat ngerjain semuanya, meski keuntungannya harus dibagi untuk menggaji orang lain, tapi itu lebih baik daripada usahanya tutup dan Mas sama sekali gak punya penghasilan."


Yara menatap haru pada sang kakak. "Mas, terima kasih karena pengertian Mas, ya. Aku doakan semoga usaha Mas lancar, dan setiap yang Mas lakukan ada rezeki Elara disana dan semakin berkah."


"Aamiin...." Sky turut mengaminkan doa istrinya untuk sang kakak.

__ADS_1


Bersambung ....


Yuk tinggalkan jejak yuk. Kira-kira Kenapa ya Anton bisa ngasih nama bayinya jadi Elara dan ternyata itu nama belakangnya Nadine. Ayo ayo, tebak-tebak gak berhadiah nih😭🤣🤭🤭🤭🤭❤️❤️❤️


__ADS_2