EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
21. Undangan


__ADS_3

Setelah kepulangan dari Bali, Sky terus terlihat uring-uringan. Ia kurang fokus berkerja, bahkan beberapa kali ia membuat kesalahan dalam dunia pekerjaannya.


Tidak dipungkiri, pertemuan kembali antara ia dan Yara cukup membuat pikiran dan hatinya jadi semrawut. Apalagi mengingat semua yang sempat terjadi diantara mereka ketika di Bali.


Ciuman, serta pelukan itu, sungguh tidak bisa untuk ia lupakan begitu saja. Ia juga tidak bisa menampik jika ia semakin merindukan sosok Yara setelah semua hal itu.


Seminggu sudah terlewati, tapi pikirannya seakan masih tertinggal di Bali.


Kadang terpikir dibenaknya untuk mendatangi kediaman Yara, tapi ia sudah berjanji untuk tidak mengganggu wanita itu lagi.


"Sky, mama perhatiin kamu banyak melamun akhir-akhir ini."


Indri menatap putranya sembari terus mengolesi roti dengan selai blueberry kesukaan Sky. Saat ini keduanya memang sedang sarapan pagi di ruang makan kediaman mereka.


"Enggak, Ma. Itu perasaan Mama aja," kilah Sky. Pria itu pun meraih roti dari uluran sang Mama, kemudian menggigitnya.


"Yang bener? Kamu gak lagi mikirin hal-hal aneh, kan?"


"Hal aneh apaan sih, Ma?"


"Kebelet kawin, gitu," cetus sang Mama tanpa tedeng aling-aling.


Sky hampir saja tersedak roti akibat ucapan Mamanya yang terkesan menuduh itu.


"Mama ada-ada aja, sih." Akhirnya Sky bisa juga menyahut-- setelah sebelumnya ia lebih dulu meneguk segelas air putih yang terletak tak jauh dari jangkauannya.


Indri hanya menyunggingkan senyum tipis karena berhasil menggoda sang putra.


"Oh iya, Mama baru ingat. Kemarin mau nanya kamu tapi Mama lupa."


"Nanya apa, Ma?"


"Oleh-oleh yang dari kamu kan udah mama buka, kenapa ada yang beda, ya?"


"Beda?"


"Iya, mama nemuin dress yang kayaknya udah di pake, seperti gak baru lagi. Label tag nya juga udah gak ada. Apa kamu kasi mama pakaian bekas, Sky? Terus, model bajunya itu .... gimana ya, gak cocok lah dipake sama mama yang udah berumur ini."


Sky langsung menepuk jidatnya sendiri, pasti paperbag yang seharusnya milik Yara itu telah tercampur dengan paperbag lain yang Sky hadiahkan untuk sang Mama. Hingga akhirnya sang Mama bisa menemukan benda tersebut.


"Sekarang paperbag-nya dimana, Ma?"


"Ada tuh di kamar Mama."


Sky langsung berdiri saat itu juga.


"Loh, udah mau berangkat?"


"Bukan, izin ke kamar mama ya, aku mau ngambil paperbag nya lagi."


Indri mengangguk santai, tapi kemudian barulah ia terpikir akan sesuatu.


"Berarti itu memang bukan buat aku, ya? Jadi, itu buat siapa dan punya siapa sebenarnya?" batin wanita baya itu.


Tak ingin penasaran, indri memutuskan untuk menyusul putranya ke kamar.


"Sky? Itu punya siapa sih?"

__ADS_1


"Punya pacar aku, Ma...." Sky menjawab sembari ditangannya sudah memegang benda yang ingin diambilnya itu.


Mata Indri langsung membulat sempurna. "Pa..car? Kamu udah punya pacar, Sky?" tanyanya terdengar antusias.


Sky memasang senyum yang tampak dipaksakan.


"Aku berangkat kerja dulu ya, Ma." Bukannya menjawab, pria itu malah langsung berpamitan pada sang Mama.


"Tapi kamu belum jawab Mama, Sky. Pacar kamu siapa? Kenapa enggak pernah dikenalin ke Mama?"


Sky mencium pipi Indri singkat namun penuh kasih sayang. "Bye, Mam. Aku pergi. See you..." ujarnya seraya berlalu, tentu Sky ingin menghindar dari pertanyaan sang Mama.


Lagipula, mana mungkin Sky jujur pada Indri mengenai Yara. Bisa-bisa Mamanya menjadikan dia rujak ulek, jika tahu ia sudah bercita-cita ingin merebut seorang Ayara dari suami sah wanita itu.


*****


Sementara disana, Yara kehabisan kata-kata melihat Juna yang semakin sibuk saja. Setelah kepulangan dari Bali, pria itu bahkan sangat jarang berada di rumah.


Sepulang bekerja, Juna selalu tidak langsung pulang, ia beralasan tengah sibuk mengurus usaha konveksinya yang sebentar lagi akan di buka.


"Mas, hari ini kamu mau pergi lagi?"


"Iya, Ra. Aku mau urus barang-barang yang bakal masuk untuk di produksi di tempat usaha aku."


"Tapi, ini kan, hari minggu," kata Yara melirih.


"Ya emang masuk barang awal hari ini, mau gimana, coba?"


"Aku boleh ikut kesana, gak, Mas?"


"Hah? Ngapain?" Juna terlihat gelagapan, titik-titik keringat dingin mulai tampak muncul di pelipisnya.


"Gak usah lebay, deh, Ra. Gak semua urusan aku harus kamu ketahui."


Yara terdiam dengan ucapan Juna yang terdengar sangat pedas di telinganya.


"Tapi, Mas?"


"Udah deh, aku mau pergi sekarang. Kamu buat aku telat, nanti aku gak enak sama Rudi dan rekan kita yang lain."


Juna langsung berlalu. Selalu begitu, membuat Yara sampai kesal sendiri.


"Kalau kamu sampai bohongin aku, awas aja kamu, Mas," geram Yara membatin. Bagaimanapun, terkadang firasatnya sebagai seorang istri merasakan jika ada sesuatu yang tidak beres, tapi ia selalu menepis hal itu sebab ia tak mau terlalu negatif thinking pada suaminya hingga menyebabkannya jadi berlarut-larut akan pikiran jeleknya sendiri.


Yara pun kembali masuk ke dalam kamarnya. Ia meraih benda pipih miliknya yang tergeletak di dekat nakas.


Ingin berselancar di dunia maya agar tidak terus memikirkan sikap Juna yang belakangan selalu menyebalkan. Akan tetapi, Yara tersadar bahwa ada begitu banyak pesan yang tertimbun di aplikasi hijau miliknya.


Rupanya Yara baru saja ditambahkan menjadi salah satu anggota dalam grup alumni SMA mereka.


Didalam grup itu sudah banyak sekali percakapan yang dilakukan oleh teman-temannya.


Yara menebak jika Rina atau Diandra yang telah memasukkannya ke dalam grup tersebut, sebab hanya kedua gadis itu yang mempunyai contact nya.


[Teman-teman, gue mau ngadain acara ulang tahun di rumah baru gue. Kalian pada datang ya, guys....]


Rupanya ada sebuah undangan yang terselip diantara banyaknya pesan-pesan disana. Itu adalah undangan dari Rina.

__ADS_1


[Kalau party, kita pasti datang dong!] Balasan dari Rico.


[Yoi, ajak cewek lo sekalian!] Rina.


[Gue diundang gak, nih?] Rozi.


[Diundang kalo gak resek.] Rina.


[Kalau gue diundang gak, Rin?] Fera.


[Pokoknya semua yang gue masukin ke grup ini gue undang supaya datang semuanya. Let's party, guys!] Rina.


[Party, Party Mulu lo pada. Ingat umur Woi!] Ilyas.


[Pak Tua gak usah ikut kalo gitu] Yakub.


[Enak aja lu, gua masih 28 tahun. Masih bocil.]


[Hahahha.... nyumbang ketawa aja gue.] Diandra.


[Rumah baru lo dimana, Rin?] Rozi.


Yara hanya membaca semua pesan-pesan itu. Ingin rasanya ia ikut nimbrung disana, namun niat itu segera ia urungkan.


Rina sudah mengirim balasan lagi berupa alamat rumah barunya. Disaat yang sama, mata Yara membola ketika ada satu pesan balasan yang baru saja masuk ke dalam grup wa.


[Kalau gak ada halangan, gue bakal dateng.] Sky.


Entah kenapa Yara jadi kembali teringat pada pemuda itu. Membaca namanya di deretan nama teman-teman yang lain saja sudah membuat hati Yara bergetar hingga jantungnya ikut tersinkron dengan getaran yang sama.


Apa kabar Sky sekarang?


Kenapa mendadak Yara ingin mengetahui kabar pria itu? Bukankah Sky menjauh juga karena pilihan Yara sendiri?


[Yara, kamu datang, kan? Aku tahu kamu juga lagi baca pesan dari kita-kita.] Rina.


Yara langsung terkejut saat melihat namanya turut di sebut oleh Rina disana. Hingga akhirnya, mau tak mau ia pun mengetik sebuah pesan balasan di kolom grup tersebut.


[Semoga aku bisa dateng, ya.] Ayara.


Yara tidak mau menjanjikan, ia takut Juna tidak memberikan izin.


Selain itu, Yara juga menghindari pertemuan kembali dengan Sky. Kendati pemikirannya yang menjunjung tinggi logika itu---sangat bertolak belakang--- dengan perasaannya yang justru sangat menginginkan sebuah momen pertemuan dengan pria penuh pesona yang nyaris meruntuhkan pertahanannya.


Bersambung ....


*****


...⭐⭐⭐⭐⭐...


...❤️❤️❤️❤️❤️...


...🌹🌹🌹🌹🌹...


...👍👍👍👍👍...


...☕☕☕☕☕...

__ADS_1


...💭💭💭💭💭...


__ADS_2