EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
50. Luluh


__ADS_3

Mendebat Sky selalu berujung kekalahan bagi Yara. Jadi, ketika Yara memintanya untuk menjauh dan menjaga jarak lalu pria itu enggan untuk mengabulkannya, Yara hanya bisa menghela nafas panjang sambil mengurut dada.


Setelah sesi makan malam di rumah Rina, hingga berujung perdebatan alot mengenai mereka berdua, Yara langsung mengutarakan keinginannya untuk tidur. Tentu sebenarnya itu hanya sebagai alasan supaya Sky segera pergi. Yara memang mengusirnya secara tak langsung.


"Aku udah mau tidur, kamu gak pulang?"


Sky langsung melihat arloji di tangannya dan berujar santai.


"Baru jam 9, emang udah ngantuk?"


"Udah," kata Yara yang kini teralihkan pandangannya karena baru menyadari soal jam tangan yang dikenakan oleh pria itu.


"Bentar lagi, ya, aku masih mau disini nemenin kamu."


"Ehm, Sky ... jam kamu ..."


"Jam aku?" Sky memegang arloji yang Yara maksud. "Kenapa?" tanyanya kemudian.


"Kok kayaknya satu tipe sama jam yang kemarin kamu kasi ke aku?" tanya Yara polos.


Sky nyengir. "Hehe, kan, jam nya emang couple, punya kamu yang versi cewek..."


"Niat banget ya kamu belinya?"


"Ya iya lah, kalo gak niat ya gak aku beli," ujarnya enteng.


Yara kembali menghela nafas, pria ini sering membuatnya jengkel tapi disaat bersamaan juga selalu membuatnya ingin tertawa.


"Ya udah, kamu pulang ya sekarang... aku ngantuk banget," kata Yara langsung menguap dan menutup mulutnya.


"Ya udah, tapi..."


"Tapi apa?" Yara melihat kilatan tengil itu lagi dimata sang pria.


"Asupannya mana?"


Hhh... Yara langsung berdiri dan berderap menuju letak kamar yang ia tempati di kediaman Rina itu.


"Susah bener sih minta asupan doang." Sky menggerutu sambil mengikuti langkah Yara.


Yara menoleh sekilas pada pria itu. "Eh, mau kemana?" tanyanya.


"Ikut lah, kan katanya mau tidur."


"Sky...." Yara melipat tangannya di dada sembari memandang pada Sky dengan tatapan penuh peringatan.


Pria itu langsung salah tingkah, menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. "Bercanda, Ra!" ujarnya.


Saat Sky ingin beranjak pulang, disaat yang sama ponsel Yara pun terdengar berdering kencang.


Yara melihat nama Juna disana. Tapi ia tidak tertarik untuk menjawabnya. Pasti sekarang Juna tengah heran kenapa ia belum juga pulang ke rumah kontrakan mereka, atau mungkin pria itu tengah menunggunya disana?


"Juna?" tebak Sky yang tak jadi berbalik arah.

__ADS_1


Yara mengangguk. "Dia pasti berpikiran yang enggak-enggak sekarang, karena aku belum juga pulang."


"Terus?"


"Biarin."


Sky mendekat, tangannya terulur dan mengusap pipi Yara pelan. Sementara wanita itu memejamkan matanya rapat, merasakan aliran darah yang selalu terpompa deras dan membuncah-- saat pria yang sama berhasil menyentuh kulitnya.


"Kamu gak akan berubah pikiran, kan?" tanya Sky tepat didepan wajah Yara. Jujur saja, ia was-was Yara akan merubah keputusannya yang ingin berpisah dari Juna.


Yara membuka matanya, menatap lekat netra hitam dihadapannya yang juga tengah menghujamnya dengan pandangan yang sama. Deru nafas Sky terasa hangat menerpa kulit wajahnya.


"Aku gak akan merubah keputusanku, Sky... sekalipun gak ada kamu, aku tetap pada pendirianku untuk pisah sama Mas Juna."


"Aku nunggu saat itu tiba, Ra."


"Tapi..." Yara terlihat meragu.


"Kenapa?"


"Aku gak tau apa yang akan terjadi kedepannya. Kalau ternyata aku masih berjodoh sama Mas Juna--"


Jadi telunjuk Sky langsung berhenti didepan bibir Yara agar wanita itu menghentikan kalimatnya.


"Aku gak mau denger hal itu, Ra. Kita harus sama-sama setelah ini," lirih pemuda itu.


"Mudah-mudahan, kalau emang kita berjodoh."


"Kenapa kamu jadi pesimis gini, Ra?"


"Mas Juna bakal terus telepon aku, kalau aku gak angkat telponnya."


"Matiin aja hp kamu."


"Dia bakal semakin anggap aku yang salah nanti dan gak akan menyadari kalau dia lebih dulu salah."


"Jadi, kamu mau angkat teleponnya?"


Yara tak menyahut, jarinya justru menggeser icon hijau yang mengartikan bahwa ia sudah menjawab telepon dari Juna.


Yara menyahuti panggilan Juna dalam posisi dimana Sky tepat berada dihadapannya sambil menatapinya dengan tatapan tajam khas pria itu.


"Kamu dimana?" tanya Juna dari seberang panggilan.


"Aku lagi di rumah temenku." Yara menjawab datar, matanya justru menatap pada Sky yang menguping pembicaraan itu.


"Aku minta maaf soal kata-kataku tadi. Aku udah berpikir, Ra. Aku---aku salah, kamu juga salah, kan? Kamu udah balas aku, kan? Semuanya udah impas sekarang. Aku udah maafin kamu, Sayang. Jadi, kedepannya kita lupain semua itu dan memulai lembaran baru. Kamu pulang ya, Sayang?"


Bujuk rayu Juna di sebrang sana cukup terdengar jelas di indera pendengaran Sky yang memang berdiri hanya beberapa senti didepan wajah Yara. Hal itu membuat Sky mendengkus keras saat mencerna kalimat yang Juna utarakan pada Yara.


"Mas, aku---"


Yara tak mampu menyahut, sebab Sky malah membungkam bibirnya dengan ciumannya yang begitu emosional. Secara refleks, tangan Yara langsung menjauhkan ponselnya yang masih dalam keadaan menyala bahkan masih tersambung pada telepon dari Juna.

__ADS_1


Sky malah mengambil ponsel di tangan Yara, membuangnya ke sofa dan melanjutkan ciuman pan as nya yang telah ia mulai.


Yara mendorong pelan dada bidang pria itu agar Sky menghentikan ciumannya. Yara menatap Sky dengan nafasnya yang sudah ngos-ngosan. Sementara Sky membalas tatapan Yara dengan pandangan yang sudah berkabut amarah.


Yara berjalan mengambil ponselnya. Rupanya panggilan Juna telah terputus.


"Kamu apa-apaan sih, Sky? Kalau Mas Juna denger gimana?" serobot Yara.


Sky mengendikkan bahu, tatapannya menjadi dingin. "Aku pulang, Ra!" katanya datar.


Yara tertegun. Apa Sky marah padanya? Bukankah seharusnya ia yang marah sebab pria itu menciumnya tiba-tiba disaat panggilan dengan Juna masih berlangsung?


"Sky?" Yara mengejar langkah sang pria. "Kamu kenapa?" tanyanya. Sedikit banyak, ia bisa membaca gelagat Sky yang mendadak berbeda.


"Gak apa-apa. Kalau kamu mau jaga jarak sama aku untuk sementara waktu... it's oke," katanya tenang.


Yara mengernyit dengan ucapan Sky barusan. "Kamu serius?" tanya Yara.


"Itu lebih baik daripada aku harus denger laki-laki lain manggil kamu dengan mesra pas kamu lagi sama aku!" tukas Sky.


Yara tersadar seketika, rupanya pria ini tengah mencemburuinya.


"Sky, wajar mas Juna seperti itu, dia masih suami aku, kan?"


"Terus? Kamu seneng sekarang karena dia udah membujuk kamu? Kamu mau kembali sama dia? Kamu berubah pikiran dan kamu mau membuka lembaran baru lagi sama dia seperti yang tadi dia katakan?"


Yara tidak menjawab, ia menggeleng namun Sky mendengkus saat itu juga. Secara naluriah, Yara justru ingin menghentikan kepergian Sky yang diliputi api cemburu itu. Yara menyandarkan kepala di dada bidang Sky, sembari membelit kedua tangannya di pinggang sang pria.


"Aku sayang kamu, Sky... jangan tambahin pikiran aku dengan kemarahan kamu. Kamu harus percaya sama aku. Soal Mas Juna yang mau membujuk dan merayu aku gimanapun, biar aku yang mengatasinya."


Haruskah sekarang Sky mengatakan bahwa Yara adalah salah satu kelemahannya? Sebab dengan sikap Yara yang begini langsung membuatnya luluh seketika. Hatinya yang sempat menger-as, perlahan mencair dan meleleh karena tindakan yang Yara lakukan.


"Kamu marah sama aku?" tanya Yara kemudian.


"Hmm," sahut Sky berdehem. Ia bukan marah pada Yara tapi ia marah pada dirinya sendiri. Harusnya ia tak menguping percakapan Juna dengan Yara, tapi sisi dalam dirinya begitu penasaran hingga akhirnya ia tak mampu menahan rasa cemburu itu.


"Maaf kalau kamu sakit hati," lirih Yara.


"Aku yang salah, kamu gak perlu minta maaf. Maaf, aku yang terlalu khawatir, aku takut... aku sangat takut kamu berubah pikiran karena Juna yang udah membujuk kamu." Akhirnya Sky angkat bicara.


Yara menggeleng didada Sky, tentu sambil mencuri-curi agar bisa menghidu aroma maskulin khas pria itu. "Jangan takut lagi, aku punya komitmen soal ini," katanya.


"Kalau soal kita? Kamu punya komitmen juga, kan?"


Yara hanya tersenyum dalam posisinya sebab Sky mulai membalas dengan ikut memeluknya lekat.


"Seandainya aku boleh meminta sama Tuhan, aku mau waktu berhenti untuk sesaat, dimana kita terus bersama dan saling memeluk seperti saat ini. Sesaat, yang menjadi sangat berarti untuk aku. Serta, jika Tuhan masih mengizinkan, aku ingin kamu seutuhnya, tanpa peduli siapa dan apa status kamu nantinya."


"... aku berharap, jangan sampai ada pihak manapun yang jadi pengganggu diantara kita. Aku cinta kamu, Ra. Cuma kamu."


Sky membatin sambil mendekap Yara di pelukannya.


Bersambung ....

__ADS_1


****


Jangan lupa like, vote, dan berikan hadiah gaes❤️🙏


__ADS_2