
Nadine tidak siap dengan segala pemikiran Anton mengenai dirinya. Entah kenapa dia harus merasa takut jika Anton sampai salah menilainya. Entah kenapa pula ia merasa bersalah akan kejadian yang tak sengaja terjadi dan semua yang telah Anton dengar melalui sambungan telepon.
Nadine memutuskan untuk pergi saat itu juga. Dia ingin memberikan Anton sebuah penjelasan. Dia tak mau ini menjadi berlarut-larut-- sebab jika dia tidak langsung pergi menemui pria itu, maka nantinya Anton akan semakin menganggap semua yang didengarnya tadi adalah kebenaran. Anton akan berpikir jika dia tengah menghabiskan waktu bersama Lucky saat ini.
Tapi, setelah berada di depan pekarangan rumah Anton, Nadine merasa ada kejanggalan pada dirinya sendiri. Kenapa ia harus seheboh ini? Memangnya kenapa jika Anton berpikiran seperti itu mengenai dirinya? Kenapa pula dia harus repot-repot menjelaskan pada pria itu?
Ya, tadi pun Anton sudah mengatakan bahwa dia bukan siapa-siapa yang harus mendengar penjelasan dari seorang Nadine.
Entahlah, yang jelas Nadine benar-benar pergi dan sekarang dia sudah mengetuk pintu rumah pria itu.
"Mas?"
Anton menatap Nadine dengan datar, meski sebelumnya ada raut kaget saat mendapati sang wanita berdiri didepan rumahnya.
"Kamu kesini?" tanya Anton masih dengan nada biasa.
"Mas, aku minta maaf, semua yang kamu denger tadi itu gak seperti yang kamu pikirkan."
Anton mematut senyum tipis. "Gak ada yang perlu meminta maaf ataupun dimaafkan. Lagipula, memangnya apa yang aku pikirkan, Nad?" tanyanya.
"Aku tetap mau minta maaf. Kamu pasti berpikir jelek tentang aku, Mas."
"Berpikiran jelek? Nad... kalaupun kamu masih berhubungan dengan suami kamu, ya itu sah-sah aja. Kenapa aku harus berpikiran jelek tentang kamu?" ujar Anton setenang mungkin.
Nadine terdiam, dia sendiri tidak mengerti dengan tindakannya yang justru mendatangi Anton demi sebuah penjelasan. Yang jelas, mungkin sekarang Anton tampak sangat tenang menjawab dirinya, namun saat di telepon tadi Nadine yakin jika nada suara Anton terdengar kecewa dan marah.
"Tapi, Mas..."
"Udahlah, Nad. Mendingan sekarang kamu pulang. Suami kamu pasti marah kalau tau kamu kesini."
"Mas?"
"Pulang, Nad. Mumpung Elara juga udah nyenyak dan belum denger suara kamu, ntar kamu jadi susah pulang kalau dia udah sadar kamu ada disini. Elara pasti bakal nangis terus kalau kamu tinggal."
Anton memalingkan wajah, dia tampak seperti pria yang tega. Tapi dia bisa apa? Nadine memang tak perlu bersusah payah menjelaskan pada dirinya.
"Aku cuma mau ngasih kamu penjelasan, Mas. Aku tau kamu marah."
"Apa hak aku buat marah, Nad? Terserah, kalau kamu masih mau disini."
Anton berbalik ingin meninggalkan Nadine diambang pintu depan namun sentuhan tangan wanita itu terasa sangat refleks memegang lengannya demi mencegah kepergiannya.
"Aku ... cuma gak mau kamu berpikir yang enggak-enggak, Mas. Aku sama Mas Lucky udah berakhir meskipun status kami belum resmi bercerai."
"Kamu jelasin ini sama aku, buat apa, Nad?"
Nadine menundukkan wajah. Namun, pegangannya di lengan Anton terasa semakin mengerat.
"Aku rasa ... aku jatuh cinta sama kamu, Mas," akuinya sambil tetap menunduk dan memejamkan mata rapat-rapat.
Untuk beberapa saat, keadaan itu berubah hening. Anton tercenung akibat pengakuan wanita ini, sementara Nadine merasa bingung kenapa perkataan itu tercetus begitu saja dari bibirnya.
Pada akhirnya, Nadine mengadahkan wajah berusaha untuk berani menatap pada pemilik wajah dingin yang sulit digapai itu. Nyatanya, Anton juga tengah termangu karena kaget akibat kejujuran Nadine.
__ADS_1
"Maaf kalau kamu marah, Mas. Aku gak berharap kamu membalas perasaan aku dengan rasa yang sama. Aku cuma gak bisa kalau kamu sampai salah menilai aku. Semua ini diluar kendali, terjadi begitu saja tanpa bisa aku atasi. Maaf kalau ini membuat kamu kecewa. Aku memang murahan karena mengakui ini sama kamu sedangkan status aku masih istri dari orang lain."
Anton meneguk salivanya beberapa kali dalam sepersekian detik. Ia merasa blank, ia pikir ia salah mendengar ucapan Nadine nyatanya wanita itu tampak sungguh-sungguh.
Melihat respon Anton yang tidak menggubris pernyataannya, Nadine merasa sangat malu. Paling tidak, ia ingin mendengar Anton bicara sekalipun itu adalah sebuah penolakan. Nadine benar-benar merasa terperangkap dengan keadaan ini.
"Sekali lagi maaf, Mas. Maaf aku udah lancang mencintai kamu. Tapi seperti yang tadi aku bilang kalau ini diluar kendali aku. Kebersamaan kita buat aku terbiasa. Selain bukan istri yang sempurna, aku juga bukan istri yang baik karena jatuh cinta sama kamu disaat aku masih berstatus istri orang lain."
Sekali lagi Nadine melirik pada Anton, pria itu masih terdiam tanpa mau membalas tatapannya.
"Meskipun kamu udah tau perasaan aku sekarang, aku harap kamu tetap ngizinin aku untuk jaga Elara. Jangan halangi aku ketemu dia, Mas."
"... terlepas dari perasaan aku ke kamu, aku udah terlanjur menyayangi Elara lebih dulu."
Nadine kembali menundukkan wajah, ia tak menyesal karena sudah mengutarakan perasaannya pada Anton, tapi ia cukup merutuk diri sebab kelepasan tentang hal ini, seharusnya ini masih ia pendam, paling tidak sampai urusannya dengan Lucky benar-benar telah selesai.
"Aku pulang ya, Mas."
Nadine masih berharap Anton mau meresponnya, nyatanya pria itu hanya diam dan tidak menyahuti salamnya.
Nadine memasuki mobilnya dengan perasaan entah. Melajukan mobil sambil sesekali melirik spion demi melihat pria itu lagi.
Tak ada, Anton tetap diam meski dia terlihat memandangi kepergian mobil Nadine sampai kejauhan.
...___...
Di awal bulan ketiga Yara mengandung, dia dan Sky kembali mengunjungi Dokter Metha di Rumah Sakit.
"Sayang, aku mau makan cilok disitu..." Yara menunjuk seorang pedagang cilok yang mangkal didekat Rumah Sakit.
Sky sendiri hanya menghela nafas sepenuh dada. Bisa-bisanya Yara memperhatikan para pedagang yang ada disana, padahal tujuan mereka hari ini adalah periksa kandungan.
"Ya udah, aku parkir mobil dulu. Nanti kita kesana."
"Gak mau. Maunya sekarang."
"Tapi ini jalan satu arah, gak bisa sembarangan parkir. Kita masuk dulu ke parkiran ya, Sayang..." sahut Sky sesabar mungkin.
"Udah dibilang enggak mau juga!" Yara nge-gas.
Hhh ... Sky mendengkus pelan. "Terus gimana? Kamu mau mobilnya ditilang karena parkir sembarangan?"
"Kamu aja masuk ke parkiran sendiri, aku turun duluan terus samperin kang cilok. Ya?"
"Gak, gak, mana mungkin aku turunin kamu di pinggir jalan kayak gini."
"Lebay sih kamu, ini gak nyebrang juga. Kamu parkirin mobilnya didalam. Aku turun disini."
Jika ada sifat diatas bandel, ngeyel dan menjengkelkan, maka semua sifat itu sudah diborong oleh Yara dalam satu kesatuan. Sky kesal sekali, tapi dia tak bisa mendebat Yara lagi. Dia kalah dan harus mengalah.
"Ya udah, aku parkirin disini aja mobilnya. Kita turun sama-sama." Sky pasrah jika nanti mobilnya akan ditilang.
Yara dan Sky turun dari mobil, lalu menghampiri tukang cilok yang sudah dimata-mata oleh Yara sejak tadi.
__ADS_1
"Kang, ciloknya dua puluh lima ribu, ya."
"Oke, Neng..."
Sky hanya memperhatikan dalam diam interaksi Yara dan tukang Cilok itu sembari memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana yang ia kenakan.
"Yara?"
Sky dan Yara tentu saja refleks melihat ke arah seseorang yang menyapa mereka disana.
"Mas Juna?"
Sebenarnya jika bertemu Juna seperti saat ini, Yara masih saja kesal apalagi jika mengingat ulah mantan suaminya itu saat di pesta pernikahannya tempo hari.
Sky juga emosi, tapi dia hanya merespon Juna dengan tatapan dingin saja.
"Kamu ngapain disini, Ra? Soal waktu itu, di pesta pernikahan kalian... aku minta maaf ya."
"Minta maafnya ikhlas atau modus?" sahut Sky pada akhirnya.
Juna menatap Sky, dia mengulurkan jemari pada pria itu.
"Saya minta maaf, waktu itu saya memang iri pada kalian. Tapi saya tidak bermaksud mempermalukan."
Sky tersenyum meremehkan. Mana percaya dia pada omong kosong Juna.
Juna harus pasrah saat uluran tangan itu tak bersambut. Dia menurunkan lagi tangannya dengan wajah malu.
"Kamu ngapain kesini, Mas?" tanya Yara berbasa-basi.
Juna tersenyum tipis, ternyata Yara masih saja mau meresponnya. Yah, meskipun Yara terkadang jutek, tapi wanita itu memang amat baik untuk hadir dalam kehidupan Juna, sayang semua telah lewat dan dia sia-siakan.
"Aku lagi nganterin Mama berobat," jawab Juna.
"Oh, salam sama mama ya, mas."
Juna menganggukkan kepalanya singkat. "Kamu beli cilok, Ra? Biasanya kamu gak suka...." ujarnya.
Sekali lagi Sky mendengkus mendengar Juna yang sok tau kesukaan istrinya, namun dia tak mau berkomentar lagi, dia hanya akan ikut campur jika Juna tampak mengganggu Yara.
"Suka kok, Mas."
"Tapi dulu kamu gak pernah jajan beginian."
"Ya, gimana mau jajan, Mas... dulu kan aku mikirin kecukupan untuk sebulan," ujar Yara terus terang.
Wajah Juna langsung pias, sementara Sky menaikkan alisnya--sebab dia memang tak tau jika dulu Yara hidup kekurangan uang saat bersama Juna. Yara tak pernah mengungkit atau menceritakan perihal itu pada suaminya.
bersambung ...
Makasih yang udah vote kemarin ya🙏🙏🙏 Jangan lupa dukung terus ya biar othor semangat up-nya❤️❤️
Ah iya, kemarin othor pernah bilang mau buat novel tentang anaknya Sky-Yara. Gak jadi di bulan ini gaes😭 sibuk banget😭 tapi ttp bakal buat kok, mungkin di bulan depan. 🙏 baca kelanjutannya terus yaa😍😍😍
__ADS_1