
Semakin hari, Nadine merasa semakin dekat dengan Anton. Pria itu sosok pria yang dewasa dan penuh pengertian. Anton tidak pernah bersikap kurang ajar kepadanya, bahkan pria itu selalu bersikap mengayomi, dan kekaguman Nadine pada sang pria justru makin bertambah berkali-kali lipat setiap harinya.
Nadine sudah lupa bagaimana rasanya diperhatikan, dia juga sudah terbiasa hidup mandiri tanpa sesosok orang yang melengkapinya, tetapi berada dekat dengan Anton membuatnya serba salah karena dia begitu senang jika Anton memperhatikannya meski dalam hal-hal kecil saja.
Mengingat tentang Anton, Nadine jadi terngiang tentang apa yang sempat Anton katakan waktu itu.
Apa yang dimaksud Anton dengan rasa gugup dan deg-degan jika dekat dengannya--sama--seperti yang kini juga dia rasakan terhadap pria itu? Entahlah.
Jika harus membandingkan antara Anton dengan Lucky--mereka bagai dua kutub yang bertolak belakang.
Lucky itu termasuk pria yang menomorsatukan penampilan. Dia selalu tampak rapi, klimis, dan ingin tampak good looking di setiap kesempatan. Sedangkan Anton, sebaliknya. Anton adalah pria yang cuek dengan penampilannya, tapi entah kenapa justru ada sebuah daya tarik tersendiri dalam diri pria itu.
Anton terbilang asal dan acak-acakan, tetapi lagi-lagi entah kenapa apapun yang dipakai pria itu selalu tampak pas dan sesuai.
Berbanding terbalik dengan Lucky yang harus menyesuaikan dulu sesuatu-- dengan yang ingin dia kenakan-- sebab tak semua yang ia pakai akan tampak bagus dan cocok.
Ah, kenapa Nadine jadi membandingkan kedua pria itu?
Bicara soal Lucky, sekarang Nadine baru menyadari jika dia belum juga menerima surat dari pengadilan mengenai perceraiannya. Akibat kesibukannya dengan Baby Elara, ia sampai melupakan hal yang sangat penting itu.
Berhubung Nadine sudah memberi tenggang waktu dan sepertinya Lucky tetap pada pendiriannya yang tak mau berpisah dari Nadine-- maka wanita itu tak mau terus begini.
Jangan pikir jika Nadine akan tetap diam tanpa mengambil tindakan. Hubungan yang tak jelas ini harus segera dihentikan. Dia harus tegas pada sang pria mulai saat ini.
Sudah cukup waktu yang diberikan Nadine untuk Lucky, dia tak mau membuang-buang waktu lagi.
Hubungan yang gantung akan terasa janggal dan menyesakkan. Sebenarnya, Lucky masih suaminya atau bukan? Dan Nadine merasa tidak lagi dibutuhkan sebagai seorang Istri--sudah sejak lama.
Maka dari itu, Nadine pun menghubungi pengacaranya, berkonsultasi singkat dan dia meminta untuk mengurus perceraian ini secepatnya.
"Ternyata waktu yang aku kasih ke kamu gak juga buat kamu sadar kalau ngelepasin aku itu jauh lebih baik, ketimbang tetap bersama tapi tidak pernah saling memperhatikan. Kita udah selayaknya orang asing, Mas." Nadine bertekad dalam dirinya bahwa dia dan Lucky harus bercerai.
Nadine tak pernah menghubungi Lucky, begitupun ia tak pernah mendapat panggilan dari pria itu, padahal Nadine tak memblokir akses bagi Lucky untuk tetap bisa menghubunginya. Entahlah, mungkin Lucky sangat sibuk dengan Firda hingga sampai saat ini Lucky tak mencari keberadaannya.
Duh, Nad... kenapa masih berharap dicari?
Ini tak boleh diteruskan. Kendati ia masih belum bisa melupakan Lucky seutuhnya-- tapi kesehariannya sekarang--membuat Nadine lebih bahagia sebab ada Baby Elara dan juga ... karena Anton. Benarkah?
Lagi-lagi jika mengingat Anton perasaan Nadine terasa gugup. Ya, sama seperti yang pernah Anton katakan padanya mengenai rasa pria itu yang juga merasakan hal serupa.
Ponsel yang masih berada di tangan Nadine berdering, ia melihat sekilas pada nama yang tertera di layar.
__ADS_1
Oh my ... ini telepon dari Anton. Kenapa rasanya berdebar begini?
"Ha-hallo, Mas."
"Kamu dimana, Nad?"
"Dirumah, Mas."
"Maaf ya, ganggu kamu. Tapi, apa kamu gak kesini buat ketemu Elara?"
Nadine bingung bagaimana perasaannya sekarang akibat Anton mencari-cari keberadaannya. Haruskah sekarang ia melambung jauh dan terbang tinggi seperti lagunya Anggun?
"Ah, Eh, iya, Mas. Ini aku udah mau kesana. Tadi ada urusan sebentar." Nadine telat datang ke kediaman Anton hari ini, karena sebelumnya dia sibuk dengan urusannya sendiri yang harus menjelaskan pada pengacara terkait problem rumah tangganya.
"Oh iya, gak apa-apa, aku pikir kamu gak datang. Elara udah aku mandiin tadi."
"Iya, Mas. Makasih ya udah sama-sama jaga Elara."
Nadine memejamkan mata rapat-rapat mendengar suara tawa renyah Anton dari seberang sana.
"Elara juga anak aku, kan, Nad."
"Ng--iya, Mas. Dia anak kamu juga."
...____...
"Nadine ..."
Wanita itu menoleh dan mendapati Anton yang berdiri di ambang pintu kamar.
"Ya, Mas?"
"Kalau Elara udah nyenyak, kita bisa bicara sebentar, gak?"
Nadine mengangguk. Tak lama setelah itu Anton pun berbalik arah menuju ruang tengah.
Nadine meletakkan Elara ke dalam box bayi yang baru dibelinya kemarin. Meski Anton menolak, ia tetap bersikeras membelikan Elara tempat tidur sendiri sebab kemarin Anton hampir saja meninddih tubuh mungil sang bayi dalam posisi tidur dan tidak sadar.
"Ada apa, Mas?"
Dengan perasaan canggung dan jantung yang berdebar keras, Nadine pun duduk di hadapan pria yang menatapnya dengan sorot teduh itu.
__ADS_1
"Nad, maaf kalau aku lancang menanyakan hal ini sama kamu."
"Hal apa, Mas?"
"Sekali lagi aku ingin tau, Nad. Apa suami kamu gak marah kamu terus disini hampir 2 bulan ini? Jujur Nad, aku merasa serba salah sekarang."
"Mas, semuanya baik-baik aja, gak ada yang ngelarang atau marah kalau aku tetap ngerawat Elara. Aku juga senang ngelakuinnya dan kamu tau itu, kan, Mas?"
"Apa suami kamu tau kalau kamu terus disini, Nad? Aku mau bertemu dengan dia biar semuanya gak salah paham."
"Berapa kali aku bilang, Mas. Ini gak perlu. Aku tau apa yang aku lakuin. Gak ada yang salah dengan aku ngerawat Elara seperti anak aku sendiri."
Anton memijat pelipisnya yang mendadak nyeri. "Oke, sekarang aku tanya ke intinya aja, gimana hubungan kamu sama suamimu, Nad? Kenapa bisa dia gak marah--padahal kamu disini terus? Jawab aku sejujur-jujurnya. Aku gak mau disalahkan nantinya."
"Aku dan Mas Lucky dalam proses perceraian, Mas." Nadine menundukkan kepala, tak mau menatap pada wajah pria dihadapannya.
"Kenapa?" Sekali bertanya, justru menimbulkan hal lain yang memicu keingintahuan lebih dalam, begitulah yang Anton rasakan sekarang.
"Siapa sih Mas yang mau bertahan sama wanita yang tidak bisa memberi keturunan? Adapun pria yang seperti itu sangat langka dan jarang ada. Aku gak seberuntung itu menemukan pria yang mau menerima kekuranganku. Mas Lucky udah menemukan wanita yang lebih cocok, dan itu berkat campur tangan aku juga sih sebenarnya."
"Maksud kamu?"
"Pasti kamu udah denger kan, aku gak bisa punya anak, makanya aku sering bilang kalau aku beruntung bisa jaga Elara dan merasakan jadi seorang ibu."
"Ya, lalu?"
"Mas Lucky sudah menikah lagi, Mas. Awalnya aku setuju dia menikahi Firda sahabatku-- demi mendapat keturunan. Tapi, ternyata dia sudah mengkhianati aku jauh sebelum pernikahan mereka terjadi. Pasti kamu juga tau gimana sakitnya ditipu dan dikhianati. Untuk itu, aku gak mau meneruskan lagi rumah tangga toxic diantara kami," papar Nadine panjang lebar.
Nadine sendiri tercenung lama, ia tak menyangka bisa seterbuka ini pada sosok pria didepannya. Dan tanggapan Anton justru hanya diam mendengarkan. Padahal Nadine pikir Anton akan memberikan komentar terkait hal ini. Tapi Anton justru menanyakan hal lain, bukan tentang fakta yang baru saja Nadine ungkapkan mengenai pengkhianatan Lucky dan Firda melainkan ...
"Udah sejauh mana pengurusan perceraian itu, Nad?
Bersambung ....
Jangan lupa tinggalkan jejak ya gaes❤️ Nanti othor up 1 bab lagi oke🙏
Nih, othor kasi visual Mas Anton lagi deh. sekalian visual mbak Nadine juga.
__ADS_1