
Nadine tidak pernah menyangka, bahkan tidak pernah ada dalam bayangannya bahwa ia akan kembali menikah untuk kedua kalinya dengan orang yang berbeda.
Tak hanya itu, pernikahannya kali ini meski tidak semeriah dan semegah saat dia menikah dengan Lucky--dulu--tapi, Nadine merasa jauh lebih lega dan bahagia.
Bukan ingin membandingkan, akan tetapi perbedaan itu tak luput dari hal yang dia rasakan.
Salah satunya mengenai wajah-wajah bahagia yang menyaksikan detik-detik pengucapan ikrar pernikahannya. Nadine dapat melihat jika disini semua orang tidak ada yang mematut senyum kepura-puraan. Seperti mantan mertua dan mantan kakak iparnya--dulu.
"Nad?"
Nadine tersadar akan panggilan pria disisinya, ia mengadah pada wajah yang belakangan hari selalu hadir dalam mimpi. Ya, pria itu sudah menjadi suaminya. Suaminya.
"Kamu kenapa bengong?"
"Ah, gak apa-apa, Mas. Aku terharu, aku bahagia." Nadine mengulas senyum tipis yang menularkan hal itu pada Anton sebab jawaban yang turut Nadine ucapkan.
"Aku juga bahagia, Nad."
Entah berapa lama mereka menjamu dan menyambut jabatan-jabatan tangan serta mengucap terima kasih kepada semua doa selamat yang diutarakan untuk keduanya. Yang jelas, Nadine tidak bisa tetap tenang sebab bersamaan dengan itu dia juga mengkhawatirkan Elara.
Syukurlah, Ayara dan Sky bisa menangani bocah 13 bulan itu. Tampaknya Elara senang bermain-main bersama Ocean dan Aurora. Ya, momen itu menjadi momen pertama kumpul bocah dalam sebuah pesta dan dapat membuat Elara tidak terlalu rewel.
Seorang tamu yang khusus datang untuk melihat hari bahagia Nadine dan Anton juga telah tiba. Dia adalah Lucky yang hadir untuk mengucapkan selamat.
"Selamat untuk kalian." Dan Lucky benar-benar tulus saat mengatakannya.
Pemandangan itu turut disaksikan oleh banyak orang, keluarga Nadine yang juga ada disana, tentu saja.
Sky dan Yara juga harap-harap cemas akan hal ini, mereka takut Lucky berlaku seperti Juna yang hadir dalam pernikahan mereka waktu itu dan sengaja mempermalukan.
Syukurlah, Lucky adalah pria gentle yang tidak kekanak-kanakan, dia datang dengan niat yang tulus, dan dia juga mendoakan kebahagiaan Nadine.
"Meski kalian gak akan percaya ini, aku berharap silaturahmi kita tetap terjaga. Hal apapun yang kalian butuhkan, jangan sungkan memberitahunya padaku. Mudah-mudahan aku dapat membantu. Anggaplah kita adalah saudara, aku turut bahagia untuk kalian."
Lucky menjabat tangan Anton dan mereka saling melempar senyuman yang tulus.
"Terima kasih, Pak Lucky." Anton bahkan memeluk Lucky dengan akrab, layaknya bro-man yang sudah lama tidak berjumpa.
Jujur saja, pemandangan ini cukup membuat Nadine tersentuh. Dia tau Lucky adalah pria dewasa yang dapat menerima kekalahan dengan sportif. Dan keberadaan Lucky dalam pesta pernikahan mereka hari ini adalah bukti bahwa pria itu telah ikhlas melepas belenggu masa lalu mereka dan mau menjadikan hubungan keduanya tidak seperti musuh, melainkan saudara yang mau saling mengulurkan tangan saat membutuhkan bantuan.
"Terima kasih, Mas." Nadine akhirnya bersuara. "Terima kasih kamu udah datang jauh-jauh kesini," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. Nadine tak memiliki rasa pada Lucky lagi. Semua telah kosong seiring dengan kisah mereka yang harus lenyap tiba-tiba.
Lucky mengendikkan bahu, "Aku gak akan melewatkan momen kebahagiaan kalian. Aku mau menyaksikan ini dengan mata kepalaku sendiri secara langsung. So, i'm happy for you, Sis," tukasnya.
Mulai sekarang Lucky akan menganggap Nadine sebagai adik perempuannya, meski tak bisa dipungkiri jika rasa cintanya masih ada untuk wanita itu tapi kebahagiaan Nadine adalah yang utama.
__ADS_1
Lucky tak mau menjerat Nadine dalam belenggu pernikahan dengan dia, apalagi Nadine menginginkan keturunan dan dirinyalah yang tidak dapat mewujudkan itu?
Berulang kali Lucky menyadarkan diri. Jika dulu Nadine bisa ikhlas merelakannya untuk wanita lain sebab berharap memiliki keturunan. Kenapa sekarang Lucky harus marah jika Nadine berharap hal serupa pada pernikahannya dengan pria lain?
Dan Lucky berhasil sadar bahwa bukan dia yang berhak untuk membahagiakan Nadine lagi, melainkan Anton. Pria itu cukup dapat dipercaya dan Lucky mempercayakan Nadine dalam pelukan Anton.
"Sekali lagi, semoga kalian selalu bahagia. Keluarga kalian diberkahi dan diberi banyak momongan yang lucu."
"Terima kasih banyak, Pak," sahut Anton lagi.
Saat itulah Lucky memutuskan untuk berderap pergi dengan senyum kepedihan. Disatu sisi ia bahagia namun sisi hatinya yang masih mencintai Nadine tetap merasa bersedih, tapi tak ada dendam. Dia sudah ikhlas dan rela sebab inilah balasan untuk dia.
Bukankah ini impas? Dulu Nadine menyaksikannya menikah dengan Firda dan sekarang dia harus menyaksikan mantan istrinya menikah dengan pria lain? Dunia juga bisa seimbang dalam memberi pengalaman hidup.
"Kamu ... gak apa-apa, kan?"
Nadine terkekeh pelan atas pertanyaan Anton.
"Kenapa, sih, Mas? Setiap aku abis ketemu sama Mas Lucky kamu selalu nanyain 'kamu gak apa-apa'?"
Anton ikut tersenyum. "Aku cuma gak mau saat kamu ngelihat mantan suami kamu dan kamu jadi ingat masa-masa sedih kamu lagi," akuinya.
Nadine menggenggam tangan Anton. "Gak, mas. Semuanya udah aku lupain. Sekarang saatnya kita memulai semuanya dengan alur yang baru."
Melihat senyuman yang terbit dari pengantin ber-siger Sunda itu, Anton tidak kuasa untuk menepis keinginannya, ia pun membawa tangan Nadine yang bertautan dengan tangannya kedepan wajahnya sendiri--lalu mengecup punggung tangan sehalus beludru itu.
"Kamu gak lupa kalau kita udah menikah, kan?" tanya Anton yang melihat Nadine melototinya. Dia pikir Nadine mau protes akan kelakuannya, padahal wanita itu hanya refleks dan terkejut akibat respon tubuhnya sendiri.
"Mm... Mas, aku---"
Anton mengerlingkan matanya pada Nadine, seolah memberi kode lewat gelagat itu, kode yang mengisyaratkan sebuah kalimat, 'tunggulah setelah ini. Aku akan memperlihatkan bahwa kita benar-benar sudah menikah.'
"Mbak?"
Yara menaiki pelaminan dan menghampiri kedua pengantin itu dengan tampak dan gestur yang tergopoh-gopoh.
"Kenapa, Ra?" Anton yang menyahut.
"Itu ... tadi mantan suaminya mbak Nadine datang gak macem-macem, kan?"
Rupanya Yara masih trauma, ia takut Lucky melakukan tindakan seperti Juna.
"Enggak kok, Ra. Kamu tenang aja."
"Hhh... syukurlah," kata Yara mengembuskan nafas lega.
__ADS_1
Tak lama, Sky juga datang menghampiri ketiganya.
"Mas, ini hadiah dari kita. Selamat pengantin baru, ya."
Anton terkekeh malu akibat ujaran adik iparnya. Dia menerima amplop yang Sky berikan.
"Aku buka sekarang?" tanya Anton seakan menantang Sky.
Sky mengendikkan bahu acuh tak acuh. Dengan arti 'silahkan aja'.
Dan mereka menyaksikan Anton membuka amplopnya. Nadine dan Anton memang yakin isinya bukan berupa uang ataupun cek.
"Sky?"
"Dan selamat bulan madu, Mas." Yara yang menimpali, seolah mau melengkapi kalimat Sky sebelumnya.
Isi amplop dari mereka adalah tiket bulan madu ke Thailand.
"Makasih banyak, ya, Ra, Sky..." Nadine ikut terharu sekaligus bahagia akan hadiah itu.
"Tapi, gimana sama Elara?"
"Gak masalah, Elara bakal ada sama pengasuhan kita." Sky berujar bijak dan penuh pengertian.
"Tapi, Sky... kalian udah repot sama baby twins."
"Tenang, Mas. Ada mama aku juga yang bersedia jagain Elara. Dirumah juga ada Bu Sri. Aman pokoknya," kata Sky.
"Lagian, ini cuma Thailand. Gak jauh masih Asia juga. Jadi gak usah khawatir soal Elara. Ya? Sekali ini aja. Please..."
Jika Yara sudah merengek, maka Anton tidak bisa menolaknya. Tapi, dia masih tetap tak bisa mengabaikan Elara. Sisi terdalam dihati Anton mengatakan tidak rela berjauhan dengan bayinya.
Anton melirik Nadine sekilas. Wanita itu sepertinya punya pemikiran sama dengannya.
"Kita gak mungkin ninggalin Elara, kan, Mas?"
Anton tidak bisa egois, dia juga harus memikirkan istrinya sekarang. Bagaimanapun ini momen pertama mereka.
"Elara bakal aman sama Yara dan Sky. Kita pergi aja, lagian cuma tiga hari. Gak apa-apa, kan?"
"Kalau menurut kamu begitu, aku nurut aja, Mas. Tapi aku mau video call Elara setiap saat."
Mendengar itu, Sky, Yara dan Anton tentu terkekeh. Ternyata bukan hanya Anton yang terlalu overprotect terhadap bayinya, tapi Nadine juga.
"Makasih banyak ya adik-adiknya mbak..." Nadine memeluk Yara, jauh sebelum pernikahannya dengan Anton hari ini dia telah menganggap wanita itu sebagai adiknya dan hari ini Yara benar-benar resmi menjadi adik baginya.
__ADS_1
Bersambung ...
Vote Senin yang masih ada kirim kesini dong🙏❤️❤️❤️