
Anton membawa Baby Elara ke klinik terdekat. Sebenarnya dia hanya panik, tidak tahu harus berbuat apa ketika merasa jika bayinya demam. Dokter menyarankan agar Anton menyimpan obat penurun panas serta menyediakan termometer suhu di rumahnya.
Karena ketidaktahuannya, juga keamatirannya dalam menjaga bayi, Anton sampai tidak berpikir mengenai hal itu.
Ah, seharusnya ia menanyakan perihal ini kepada Nadine?
Tapi, kenapa tiba-tiba ia mengingat Nadine? Haruskah ia mengabari Nadine jika saat ini Baby Elara sedang demam?
Setelah menyelesaikan administrasi di klinik tersebut, Anton membawa bayinya untuk kembali pulang. Syukurnya setelah diobati, perlahan-lahan suhu tubuh Baby Elara pun mulai menurun.
Tak berselang lama, Anton harus dikejutkan oleh kedatangan seseorang yang tak lain adalah Nadine.
Cukup terkejut, sebab mengira jika wanita itu tidak akan datang ke rumahnya hari ini--akibat tegurannya kemarin.
"Kenapa kamu gak bilang kalau Elara sakit, Mas?"
Di wajah Nadine Anton dapat melihat gurat kekecewaan. Entah kecewa karena tidak diberitahukan mengenai kondisi Elara, atau mungkin karena hal lain? Entahlah, Anton tidak mengetahuinya.
"Kamu kok tau Elara sakit?" tanya Anton dengan nada datar, dia menyembunyikan raut terkejut atas kedatangan serta pertanyaan Nadine barusan.
"Aku lihat kamu ke klinik tadi," jawab Nadine.
Padahal, Nadine bukan hanya melihat kejadian Anton yang membawa Baby Elara ke klinik, dia juga sudah mengikuti sejak kepergian Anton dari rumah--bahkan melihat kejadian sebelum Anton benar-benar meninggalkan kediamannya dan sempat mengobrol akrab dengan wanita lain. Semua itu tak luput dari pandangan mata Nadine.
"Oh, iya, sekarang syukurnya Elara udah membaik, kok."
Entah kenapa Anton merasa diantara dia dan Nadine kembali pada suasana canggung. Tepatnya, menjadi kaku satu sama lain. Ini pasti imbas dari tegurannya pada wanita itu semalam.
"Aku mau lihat Elara, Mas. Aku kangen sama dia."
Anton tak dapat lagi mencegah wanita itu saat menerobos masuk ke rumahnya. Dia tau, sejak awal dia yang memberikan akses untuk seorang Nadine memasuki kehidupannya, dan untuk hal ini Anton hanya bisa menghela nafas panjang.
Nadine tampak sangat khawatir, melihat Baby Elara sakit membuatnya ikut turut merasakan kesakitan itu. Terserah orang mau mengatakan apa tentang sikapnya yang berlebihan terhadap sang bayi yang baru dikenalnya tapi kenyataannya dia merasa jika bayi itu sudah selayaknya anak yang dia lahirkan sendiri.
Nadine menggendong Baby Elara saat bayi itu menangis--seolah menyadari kehadirannya.
"Elara rindu sama Tante, ya? Maaf ya, sayang, Tante gak datang tepat waktu tadi? Tante janji gak bakal ninggalin Elara lagi," tutur wanita itu sambil memeluk dan menciumi sang bayi.
Sungguh terenyuh hati Anton melihat pemandangan itu. Andai saja dia bisa menyatukan Nadine dan Elara tanpa halangan yang berarti-- pasti dia mau melakukannya, tapi mengingat status wanita itu, lagi-lagi Anton berpikir berulang kali untuk melanjutkan rasa yang tak punya nama dihatinya.
Akhirnya, Anton pasrah ketika akhirnya Baby Elara harus takluk dalam gendongan wanita itu, hingga membiarkan beberapa jam berlalu dengan keadaan Nadine yang bersikeras untuk tetap mengasuh Elara.
"Mas?"
__ADS_1
Anton menoleh saat Nadine baru saja keluar dari kamar miliknya. Wanita itu seakan tinggal disana tetapi nyatanya tidak demikian.
"Ya?"
"Aku minta maaf karena tetap datang kesini lagi. Aku udah memutuskan sesuatu, Mas."
"Memutuskan apa?" tanya Anton.
"Aku udah memutuskan, meskipun kamu mengusir dan melarang aku berulang kali untuk mengasuh Elara setiap hari, aku tetap bakal datang lagi dan lagi. Aku gak peduli apa pandangan kamu atau orang lain tentang keputusan aku ini. Aku gak bisa lihat Elara sakit dan tidur gak tenang, aku gak bisa, Mas."
Anton sudah menduga. Dan lagi, melihat mata sang wanita yang lagi-lagi menyiratkan kesedihan membuat Anton tidak tega.
"Aku juga sempat berdebat sama diri aku sendiri, Mas. Satu sisi aku malu jika harus tetap datang melihat Elara setelah teguran kamu kemarin, tapi disisi lain perasaan aku mengatakan ada sesuatu hal yang terjadi. Perasaanku gak enak, dan benar ternyata Elara malah demam."
"Tapi, Nad?"
Tanpa diduga oleh Anton, wanita itu berlutut disamping kakinya yang terduduk. Anton sangat terkejut dan terperangah melihat aksi Nadine kali ini.
"Aku mohon sama kamu, Mas. Mungkin kamu ngerasa aku lebay dan berlebihan. Tapi, aku beneran sayang dan khawatir sama Elara sama seperti yang kamu rasain terhadap putri kamu, Mas. Aku baru aja merasakan bagaimana rasanya mengasuh bayi, aku baru aja bahagia karena sekarang ada Elara dalam hidup aku. Jangan pisahkan aku sama Elara, Mas. Aku mohon."
Entahlah Anton harus berkata apa demi menjawab permohonan Nadine kali ini. Dia juga turut ingin menangis sama seperti yang Nadine lakukan.
"Kamu gak perlu sampai seperti ini, Nad." Anton memegang pundak Nadine yang berguncang. Dia ingin membuat wanita itu kembali berdiri seperti semula dan tidak duduk berlutut dihadapannya, ini terasa tidak pantas, Anton bukan pria yang layak untuk Nadine mintai permohonan.
Anton tahu, bahkan sejak awal dia sering melihat kesedihan dimata hazel milik wanita itu, tapi yang kali ini nampak bercampur dengan harapan yang begitu besar.
"Baiklah, Nad. Kamu boleh mengasuh Elara lagi." Anton bicara sembari menatap ke dalam netra milik sang wanita.
Mendengar itu, Nadine langsung berbinar senang. Sungguh dia sangat bahagia sekarang. Sebahagia saat pertama kali melihat mata Elara yang sama beningnya dengan pemilik mata yang saat ini bersitatap dengan netranya.
"Te--terima kasih ya, Mas." Nadine refleks menggenggam tangan Anton yang berada disisi tubuh pria itu.
"Hmm, ya..." kata Anton yang langsung beranjak pergi dari hadapan Nadine, dia juga melepas tangan wanita itu yang sebelumnya sempat menyentuh jemarinya.
"Nad, aku gak tega sama kamu tapi sebagai gantinya aku harus menyiksa diriku sendiri karena keberadaan kamu disini." Anton bergumam setelah dia memasuki kamar yang dulu menjadi kamar Yara saat tinggal dikediamannya.
Menjelang sore, Nadine sudah sangat senang karena sepertinya Baby Elara sudah terlihat baik-baik saja. Bayi itu sudah tertidur pulas tanpa ada rengekan seperti sebelumnya.
Ia kembali melihat keadaan ruang tengah, sepertinya Anton belum ada memunculkan batang hidungnya sejak percakapan mereka tadi.
Apa Anton masih berada di kamar depan?" pikir Nadine.
Nadine memutuskan untuk mengetuk pintu kamar itu. Bukan niat mengganggu, hanya saja dia yakin Anton belum menyentuh makanan sama sekali.
__ADS_1
Tok Tok Tok
"Mas Anton?"
"Mas, kamu gak makan? Ini udah sore...."
Tak ada sahutan, akhirnya Nadine memutuskan untuk beranjak, dia melihat keadaan dapur dan melihat pada masakannya yang sempat dia bawa dari rumah pagi tadi--dan memang makanan itu belum disentuh sama sekali, menandakan Anton memang belum makan siang.
"Apa mas Anton marah ya, karena permintaan aku tadi?" gumam Nadine.
"Aku gak marah, Nad."
Tersentak, Nadine langsung menoleh ke belakang dan mendapati pria itu yang tengah memasang wajah bangun tidurnya.
"Ka-kamu baru bangun tidur, Mas?" Entah kenapa Nadine jadi merasa gugup. Apalagi melihat wajah bantal milik pria itu yang terlihat .... grrrrrr!
Ah, duren ... Sisi kewanitaan Nadine seolah berbisik pada dirinya sendiri. Jujur saja, pesona pria yang baru bangun tidur itu mengalihkan perhatiannya sejenak.
"Nad?"
"Ya-ya, Mas?" Astaga, tadi Nadine kerasukan jin mana? Sejak kapan dia melihat Anton dengan cara yang berbeda seperti ini?
"Kamu udah makan?"
"Udah tadi, Mas."
"Maaf ya, tadi aku ketiduran di kamar depan. Maklum aja, ya. Malam begadang jaga Elara, jadi gitu lah." Pria itu tersenyum simpul, senyum yang tidak lagi Nadine lihat sejak kemarin.
Seulas senyuman yang tersungging dari bibir tipis kemerahan milik Anton. Ya ampun, apa-apaan kau Nadine! Nadine pun merutuk diri atas pemikirannya sendiri.
Sepertinya Anton sudah mulai membiasakan diri lagi--agar sikap mereka berdua tak lagi canggung seperti yang sempat tercipta pada hari ini.
Tapi sekarang, masalahnya adalah kenapa malah Nadine yang berubah jadi gugup?
Ah, harusnya Nadine juga mulai belajar untuk mengembalikan sikapnya yang biasa. Tapi kenapa yang dia rasakan malah berbeda sekarang?
Bersambung ....
****
Vote, komen, bunga, kopi, apa aja boleh. Biar othor semangat up terusss💚💚
maaf ya, kesiangan up nya. kurang semangat nih🥲🥲
__ADS_1