
Dengan melenggang santai, Nadine melanjutkan aktivitasnya berbelanja segala kebutuhan bayi. Dia membeli banyak dress lucu, piyama bayi, bahkan aksesoris pelengkap seperti bando, sepatu dan kaus kaki. Benda-benda mungil itu membuatnya gemas dan kalap seakan ingin memborong semuanya.
Lucky sudah tak berani mengomentari perbuatan yang tengah Nadine lakukan, hanya saja, dia ikut memperhatikan apa yang Nadine beli.
Dari penglihatan Lucky, yang dibeli Nadine itu kebanyakan adalah perlengkapan untuk bayi perempuan.
"Kamu mau beliin buat baby siapa, sih?"
Tak kuat menahan rasa ingin tahunya, akhirnya Lucky kembali bertanya.
"Buat baby Elara," jawab Nadine jujur.
"Nama bayinya Elara?"
"Iya, ada yang salah?" Nadine menatap Lucky dengan seringaian tipis.
Lucky memasang wajah terkejut, tentu saja, nama bayi itu adalah sama dengan nama belakang milik istrinya, sampai akhirnya mata Lucky membola seolah baru saja menyadari sesuatu.
"Nad, jangan bilang kalau di Indonesia kamu udah adopsi seorang bayi tanpa persetujuan aku."
Nadine tersenyum getir. "Kalau iya, kenapa? Jangan melarang hal positif yang aku lakukan kecuali aku melanggar norma-norma sebagai seorang istri, Mas."
Lucky pun menghela nafas panjang. "Jadi, bener kamu udah adopsi seorang anak?" tanyanya.
"Niatnya sih gitu, tapi itu belum aku realisasikan kok."
"Kenapa kamu gak bilang sama aku dulu, Nad?"
"Emang semuanya harus aku bilang dulu sama kamu, Mas? Kamu mindahin kamar aku aja-- gak seizin aku, kan? Buang barang-barang aku juga seenaknya."
Ingin rasanya Lucky menjawab bahwa semua itu perbuatan Firda dan bukan dia, tapi akhirnya Lucky memilih untuk tak menyahut, karena tak mau terjadi keributan antara ia dan Nadine disana.
Sampai akhirnya, Nadine keluar dari babyshop dan Lucky turut mengekorinya dengan sikap tenang dalam senyap.
"Kita makan siang bareng, ya. Di Resto kesukaan kamu."
"Gak usah, Mas. Makasih." Nadine berjalan lebih dulu, kembali meninggalkan Lucky di belakangnya.
Lucky mengejar langkah Nadine, mencoba menyamai posisi mereka agar ia dapat berjalan berdampingan dengan wanita itu. Tapi, Nadine terus bergerak menghindar, seolah tak sudi jika Lucky berada tepat disampingnya.
"Nad, jangan begini lah. Kayak anak kecil, tau gak!" Lucky habis kesabaran, sejak tadi dia sudah mencoba bersabar dan membujuk Nadine agar mau menganggapnya ada, nyatanya perempuan itu malah bersikap semakin dingin saja.
"Udah aku bilang kan, kamu gak usah nemenin aku kesini. Dan ya, aku memang kekanak-kanakan, aku gak bisa mengimbangi kedewasaan kamu," sinisnya.
Lucky ingin kembali membujuk Nadine, saat mereka berada di area yang cukup sepi, Lucky dengan tenaganya yang lebih kuat, justru sengaja membuat tubuh Nadine berbalik agar menghadap kepadanya, kemudian dia pun memegang kedua pundak sang istri-- demi bisa bertatapan dengan wanita itu.
"Nad, I love you so much.... please don't be like this!" tukas pria itu tajam.
Nadine menatap sorot kesungguhan dimata Lucky. Sepertinya dia kalah dan mau tak mau harus kembali mengalah. Cintanya memang terlalu besar untuk pria itu. Tapi, baru saja Nadine ingin menjawab ucapan Lucky dengan tindakan yang mau menggenggam jemari pria itu, rupanya ponsel milik sang suami lebih dulu berdering keras.
Lucky menatap Nadine dengan sorot mata sungkan dan disanalah rasa jengah Nadine seakan muncul kembali.
"Firda?" tanya wanita itu yang sudah dapat menebak situasinya.
Lucky hanya menjawab dengan anggukan lesu.
"Ya udah, angkat teleponnya."
Lucky menggeleng, kemudian me-reject panggilan dari istri mudanya itu.
"Seharian ini, aku mau sama kamu." Lucky berujar yakin.
__ADS_1
Sebenarnya Nadine ingin bersorak senang sekarang, akhirnya Lucky bisa menentukan sikap dan mau memilihnya--meski sesekali. Tapi, tentu ia tak mau menunjukkan reaksi demikian dihadapan sang suami.
"Ayo, kita makan siang bareng di Resto kesukaan kamu, atau kamu punya refrensi lain untuk kita?"
Kali ini Nadine menjawab dengan semangat. "Oke, kalau ini yang kamu mau," ujarnya.
Lucky melengkungkan bibir, dia senang akhirnya Nadine mau mengiyakan ajakannya. Namun, baru saja tangan mereka tertaut satu sama lain-- dalam hitungan detik, kembali ponsel Lucky meraung-raung pertanda meminta untuk segera dijawab panggilannya.
"Angkat aja, siapa tau penting."
Mau tak mau Lucky menerima panggilan itu karena ia juga takut sesuatu terjadi dengan kandungan Firda.
"Ha--"
"Mas, kamu dimana? Kenapa yang jemput aku malah Pak Didi? Kamu kan udah bilang mau jemput aku tadi. Kenapa jadi nyuruh sopir?"
Firda mengomel dari seberang sana, membuat Lucky sedikit terkejut dan refleks menjauhkan ponsel dari telinganya.
"Sorry, aku lagi ada diluar dan sibuk."
"Jangan bilang kalo sekarang kamu lagi sibuk sama Nadine, Mas!"
"Sorry, Firda."
Nadine dapat mendengar percakapan seluler itu dengan cukup jelas, tapi dia tidak mau menimpali obrolan Lucky dengan Firda--yang sepertinya tengah kesal disana.
Lucky langsung memutus panggilannya saat itu juga, bahkan menonaktifkan ponselnya.
"Mas?" Nadine menatap Lucky seolah tak percaya dengan tindakan sang suami. Haruskah sekarang ia bahagia karena Lucky melakukan hal ini?
"Udah, jangan kamu pikirin, sekarang kita pergi makan siang."
...~~~...
"Kamu sebenarnya masih cinta sama aku gak, Nad?"
Pertanyaan Lucky setelah makan siang mereka berakhir-- justru membuat Nadine bingung untuk menjawab. Bukan karena dia tak punya jawaban untuk pertanyaan itu, melainkan ia merasa bahwa pertanyaan semacam itu tidak terlalu penting untuk dipertanyakan lagi disaat hubungan mereka sudah seperti ini.
Lucky mengusap kasar wajahnya sendiri, tampak frustrasi karena Nadine tak kunjung menyahuti dirinya.
"Nad, apa susahnya kamu untuk jawab? Aku cuma mau tau, kalau kamu masih mencintai aku, kenapa kamu sampai hati meminta perceraian dari aku, Sayang?"
"Mas, sekalipun aku masih sangat mencintai kamu. Tapi aku akan melepaskan sesuatu yang sudah tidak menginginkan aku. its hurt, you know!"
Lucky mengembuskan nafas berat. "Aku tau, aku udah menyakiti kamu. Tapi, sekarang semuanya udah terjadi. Aku juga udah menikahi Firda atas keinginan kamu juga, kan?"
Nadine memejamkan matanya sejenak. Kemudian dia berujar dengan teratur.
"Aku memang menyetujui pernikahan kalian, Mas. Tapi aku gak menyangka jika Firda justru menjadikan aku musuh seperti saat ini."
"No! Firda tidak menganggap kamu musuh, kamu salah menilai dia, Nad."
"I think you're not blind. Kamu gak buta kan, Mas?" tanya Nadine menekankan. "Kamu juga gak tuli. Kamu pintar, kamu bisa menilai semua yang terjadi sampai hari ini. Apa kamu tidak bisa berpikir? Aku yang salah menilai Firda atau justru kamu yang dibutakan sama keadaan?" tuding Nadine dengan sangat menohok.
Lucky memijat pelipisnya. Ia dan Nadine selalu berakhir dengan perdebatan bahkan pertengkaran yang cukup sengit bila membahas mengenai hal ini.
"Dan satu lagi, Mas. Perlu kamu tau, karena aku gak mau menutupi ini lagi.... aku udah tau bahwa kalian menjalin hubungan dibelakang ku-- jauh sebelum aku memberi restu untuk kalian menikah."
Mendengar itu, wajah Lucky langsung pias. Bahkan ia semakin merasa frustrasi karena Nadine menyunggingkan senyum miring kepadanya.
"Nad, kamu menuduh aku---"
__ADS_1
"Bukan menuduh, Mas!" potong Nadine. "Tapi aku mengatakan fakta yang sebenarnya. Udahlah, jangan mengelak lagi. Aku udah tau penghianatan kalian, Mas."
"Tapi, Nad...."
"Maka dari itu, jangan tanyakan kenapa aku menuntut cerai sekarang. Karena seberapa besarpun cinta aku buat kamu, semua itu gak berarti saat aku udah merasa muak hidup dengan para pengkhianat."
Ucapan Nadine bagai belati yang menusuk tepat ke jantung Lucky. Menyakitkan, tapi perasaan Nadine saat tau segalanya-- pasti jauh lebih sakit daripada ini, pikir Lucky.
"Jadi, apa mau kamu sekarang, Nad?" tanya Lucky pasrah.
"Aku tetap pada keputusanku, Mas." Nadine berusaha menguatkan hati saat mengatakan hal ini lagi-- pada pria yang masih dicintainya itu. "Aku mau kamu segera mengurus perceraian kita!" tandasnya.
"Tapi, Nad. Aku gak mungkin melakukan hal semacam itu!"
"Kenapa enggak? Mengkhianati aku aja kamu bisa, Mas. Membohongi aku selama ini juga kamu bisa. Kenapa bercerai enggak bisa?"
"Berapa kali aku bilang, aku masih sangat mencintai kamu, Nadine!"
Nadine menghela nafasnya. Mencoba menahan sabar yang sudah terkuras habis nyaris seutuhnya.
"Jika memang benar kamu sangat mencintai aku, maka lepaskan aku demi kebahagiaanku, Mas! Jangan egois dan memaksakan keadaan karena ini semua justru menyakiti aku. Kamu pasti tau bahwa definisi cinta yang sebenarnya bukan memiliki, tetapi membuat pasangan kita bahagia."
"Dan kebahagiaan kamu adalah bercerai dariku? Begitu?"
"Iya," kata Nadine mantap membuat Lucky semakin memijat dahinya sendiri.
"Soal aset, aku gak akan menguasainya, Mas. Aku bakal kembalikan semuanya sama kamu termasuk butik dan bridal."
"Kamu seserius ini? Mau cerai sampai mengembalikan aset? Kamu mau hidup darimana tanpa bantuan aku dan tanpa usaha itu, Nad?"
Nadine tidak suka dengan perkataan Lucky yang sekali ini, terkesan meremehkannya.
"Rezeki bisa datang darimana aja, mas. Kalau ujung-ujungnya aset itu akan menjerat aku dan membuat aku tidak bahagia, aku rela melepaskan semua yang ada sangkut pautnya dengan kamu."
"Nadine!"
"Aku permisi, Mas. Aku menunggu keputusan dari kamu secepatnya!"
Nadine beranjak dari kursinya, meninggalkan Lucky dengan perasan lega--sebab dia sudah berterus terang akan segala hal yang diketahuinya.
Meski Nadine masih mencintai sang suami, tapi entah kenapa setelah pembicaraan mereka barusan, justru membuat dadanya terasa plong.
Beban di pundaknya seakan luruh, berjatuhan, hingga membuatnya tidak harus memikul permasalahan itu lagi.
Bersambung ...
****
Hai, jangan bosan sama update-an othorโ๏ธ Seminggu kedepan bakal up 3x sehari lagi dong๐ฅฐ. Jadi, jangan lupa tinggalkan vote Senin kalian kesini ya. Udah pada tau kan gimana cara votenya?
Nah,, buat yang mau kasih rating bintang, bisa juga ya. lihat cara berikut ini oke.
Makasih banyak yang udah mau kasih dukungan ke novel aku. Semoga kita semua dilancarkan segala urusannya dan sehat selalu ๐๐๐๐๐๐
__ADS_1