
Bocil melipir yak✅
_____
Malu. Itu adalah kata pertama yang ada dalam benak Nadine saat ini. Kendati Anton sudah menjadi suaminya, dia tidak pernah sedekat ini dengan pria itu. Apalagi tindakan yang Anton lakukan sekarang mampu membuat Nadine tak berani menatap ke dalam netra milik sang pria.
"Nad?"
"Hmm?"
"Lihat aku, dong."
Nadine menggeleng, meski kini kedua tangan Anton sudah menyatu di belakang pinggangnya--dengan jarak tubuh mereka yang sangat dekat--tapi tetap saja Nadine urung untuk mengadah pada pria tinggi dihadapannya.
"Nad?"
"Hmm?"
Anton menyunggingkan senyum tipis tatkala Nadine tetap pada pendirian dan tak berani melihat padanya. Wanita itu terus menundukkan pandangan.
"Nad?"
"Kenapa sih, Mas?" gerutu Nadine akhirnya, sebab sejak tadi Anton terus memanggilnya dengan tak jelas seperti itu.
"Nad?" Bukannya menjawab pertanyaan Nadine, pria itu malah mengulangi panggilan yang sama, lagi.
Nadine makin terpojok dengan kepala yang masih menunduk menatap ubin kamar mandi.
"Nad?"
"Terus aja gitu, Mas," omel Nadine, tapi ini yang memang Anton tunggu karena pada akhirnya wanita itu jadi menatap kepadanya.
Anton segera sigap memindahkan kedua tangan yang tadinya berada di pinggang sang wanita--menjadi memegang kedua sisi wajah Nadine yang terasa panas.
"Kamu kenapa?" tanya Anton, dia tak akan membiarkan Nadine mengalihkan pandangan lagi. Wanita itu hanya boleh melihat padanya saja.
Sadar tak bisa menunduk lagi, akhirnya Nadine memejamkan matanya rapat-rapat agar terhindar dari sorot mata Anton yang terasa menikamnya. Nadine tidak sanggup mengatakan bahwa dia malu sekali sekarang, apalagi melihat Anton yang hanya ber-te-lan-jang dada.
Syukurlah pria itu masih menutupi bagian bawah tubuhnya dengan secarik handuk. Jika tidak, maka Nadine pasti akan kembali memekik setelah sebelumnya sempat melakukan tindakan itu--saat tadi Anton menariknya masuk ke dalam kamar mandi.
"Kamu malu sama suami kamu sendiri?" Anton kembali berkata-kata.
"Mas, aku---"
Ucapan Nadine terputus kala Anton mengecup pipi kirinya dengan sangat refleks dan tiba-tiba. Nadine langsung memegang pada bekas ciuman Anton di sana.
"I want to have you. Complete me ... from today until forever," bisik Anton seduktif di telinga wanita yang sudah menjadi istrinya.
Kali ini, mata Nadine terkunci disana, tidak dapat beralih kemanapun. Dia terpaku ditempatnya dengan jantung yang bermanufer cepat.
Anton memangkas jarak diantara mereka, hingga terpaan rasa hangat dari nafas pria itu dapat dirasakan oleh Nadine yang melemas bahkan sebelum memulai semuanya.
Tak ada perkataan lagi, ucapan Anton yang terakhir sudah sebagai permintaan izin kepada Nadine dan diamnya wanita itu Anton anggap sebagai persetujuan atas tindakan yang akan dia lakukan selanjutnya.
Cukup berpandang-pandangan selama beberapa menit, akhirnya Anton kembali bersuara.
__ADS_1
"Aku mau mencium kamu disini," kata Anton menunjuk bibir Nadine dengan telunjuknya.
Belum sempat Nadine menjawab pernyataan prianya itu, Anton benar-benar sudah merealisasikan ucapannya. Sebuah kecupan lembut dapat Nadine rasakan sebagai permulaan.
"Aku juga mau menyentuh kamu disini," kata Anton lagi dan dia memegang leher Nadine disaat yang sama.
Perlakuan Anton itu membuat sekujur tubuh Nadine merinding. Bukan karena takut tapi aliran darahnya yang berkejar-kejaran karena Anton bukan cuma berucap saja melainkan melakukan tindakan sesaat setelah ujarannya berhasil diucapkan. Ada geleny@r yang menyertai setiap kulit mereka bersentuhan.
"Setelah itu, aku akan memberi kamu tanda kepemilikanku disini," kata Anton dan selanjutnya benar-benar membubuhkan kissmark yang cukup jelas tercetak di dekat tulang selangka istrinya.
"M--mas ..." Nadine melenguhh panjang atas respon dari tindakan yang Anton lakukan.
Anton tersenyum melihat Nadine merasakan ulahnya. Wajah yang merona itu dia nikmati sebagai pemandangan yang paling indah.
"Buka mata kamu, Nad. Kamu boleh menikmatinya, tapi kamu juga harus menyaksikannya," kata Anton dan lagi-lagi ucapannya itu terdengar nakal di indera pendengaran Nadine.
Perlakuan Anton saat ini memang sangat mendebarkan hati dan jantung Nadine. Tapi, dia juga menantikan apalagi yang akan Anton lakukan.
Nadine pun otomatis membuka matanya dan mengikuti keinginan suaminya. Mereka saling bertatap-tatapan lama dalam suasana hening.
"Mas?"
"Hmm?" Anton mengelus wajah cantik dihadapannya dengan tatapan yang sayu.
"Aku kasih kamu pilihan."
Mendengar itu, alis Anton terangkat naik. Apa maksud kata-kata Nadine, pikirnya.
"Pilihannya, kamu mau aku mandiin atau kamu yang mandiin aku?"
"Fine, tentu aku pilih yang kedua." Anton menjawab tenang, bahkan terkesan datar sekali, tapi senyum tengilnya tidak luntur sedikitpun. Nadine jadi meragukan keamatiran pria ini dalam hal berc1nta.
Glek! Nadine meneguk ludahnya dengan kasar. Dia sudah terpancing dengan kelakuan Anton rupanya, sampai bisa-bisanya dia memberi pilihan seperti itu.
Akan tetapi, sudah terlanjur. Jadi, Nadine tetap harus menghadapinya.
"Sekarang, aku yang kasi kamu pilihan, hmm?"
"Y-ya," sahut Nadine gugup.
"Mau buka baju sendiri atau aku bukain?"
Byrrr! Jantung Nadine melorot sampai ke perut saat mendengar pernyataan c@bul suaminya. Makin kesini makin-makin ternyata, pikir Nadine.
"A-aku ..."
"Aku bukain aja, ya?"
"Hah?" Nadine jatuh pada pilihan yang sulit. Salah sendiri dia memberi pertanyaan aneh tadi. "A-aku bisa sendiri, mas," sambungnya.
"Oh, oke."Anton melipat tangannya di dada, bersikap penuh pengertian ketika Nadine ingin membuka pakaiannya secara mandiri. Waiting for this, pikirnya.
Sebodo amat, lah! Batin Nadine ingin cuek dan masa bodoh. Dia menarik nafas panjang dan mulai menangg@lkan pakaiannya satu persatu dengan disaksikan oleh dua bola mata Anton yang memandang gerak-geriknya dengan lekat.
Tubuh wanita itu seakan merah seluruhnya. Amat malu. Anton menatapnya tak berkedip namun tetap dalam mode datar yang sulit di tebak.
__ADS_1
Sampai pada akhirnya, Anton kembali bersuara.
"Stop!" Anton menghentikan pergerakan Nadine yang hendak membuka br@ dengan masih menggunakan mode 'bodo amat' nya.
"Ke-kenapa, Mas?" Nadine gugup.
"Yang ini, biar jadi kerjaan aku," tutup Anton dan menarik Nadine ke dalam dekapannya.
Nadine membeku, tentu tak dapat membantah sebab bibirnya sudah di bungkam oleh bibir pria itu yang kini bukan lagi dengan ciuman yang lembut dan singkat seperti di awal tadi-- melainkan dengan pergerakan yang tidak sabaran.
Hhhh Hhh hhh
Nadine menghirup oksigen sebanyak-banyaknya kala Anton memberinya kesempatan untuk bernafas. Tidak lama, karena selanjutnya pria itu benar-benar menghabisinya.
Tangan Anton terulur ke belakang punggung Nadine dan menyelesaikan hal yang dia sebut sebagai pekerjaannya, membuka peng@it yang ada disana. Beberapa kali mengerjap tak percaya saat melihat pemandangan yang ada di depannya.
Dalam sekali pergerakan, Anton sudah membawa wanita itu dalam gendongan dan meletakkan tubuh wanitanya dengan sangat hati-hati ke dalam bathub yang dipenuhi dengan busa-busa sabun.
Kembali menyapu bibir Nadine dengan bibirnya dalam keadaannya yang masih berdiri di pinggiran bathub.
Sebelum ikut memasuki bathub yang sama, Anton meloloskan handuk yang sejak tadi menutupi separuh tubuhnya.
"M--mas?" Suara Nadine bergetar dengan bibir yang setengah terbuka, dia melihat sesuatu yang membuatnya semakin malu. Tapi, tampang Nadine yang seperti itu dianggap sebagai pemandangan yang sangat indah bagi Anton.
"Hmm?" Anton tersenyum lembut. Dia mengambil shower dan membasahi rambut Nadine dengan air yang sudah dia steel pada mode hangat. "Pilihan aku yang kedua, ini ... mandiin kamu. Jadi, kamu cuma perlu diam dan merasakan. Gak ada protes, Nad," tandasnya yang sudah berada dalam bathub yang sama dan kini mereka duduk dengan berhadap-hadapan.
Nadine menurut, toh mereka sudah pada tahap ini. Meski dentuman jantungnya sudah sangat meledak-ledak sekarang--laksana ikan yang menggelepar--tapi Nadine tak mau gagal di malam ini. Ya, ia harus membuang rasa malunya jauh-jauh. Anton miliknya sekarang dan dia pun milik pria itu seutuhnya.
Nadine pun memilih menikmati dan memasrahkan dirinya pada pria yang sudah berstatus suaminya itu.
Anton menarik kedua tangan Nadine untuk diletakkan pada wajah pria itu. Mereka saling menatap lamat-lamat dengan tubuh yang terendam sebatas dada.
"She's mine," batin Anton yang ingin segera mewujudkan malam indah mereka. Dia membalas tatapan intens istrinya.
Disaat tangan Nadine diminta untuk memegang sisi wajah Anton, lain halnya dengan tangan pria itu yang mulai ingin bermain-main.
Nadine terkesiap saat merasakan Anton sudah berani menyentuh dadanya dari dalam air yang merendam mereka.
"Rileks, Nad... rileks," batin Nadine menguatkan dirinya. Dia tidak tahan untuk tidak mendes@h sekarang.
"Ehm ... Mas ..."
"Kenapa?" tanya Anton dengan tampang tak berdosa.
Nadine menggeleng, ia terlalu malu untuk meminta Anton melakukan tindakan itu lagi dan lagi dengan tempo lebih cepat.
Sementara Anton sendiri, merasa jika kedua tangannya penuh sekarang. Dia memejamkan mata dan merasai aktivitasnya yang melenakan.
"Nghh ... Mas!" Tangan Nadine kini turun dan bertumpu pada bahu kekar Anton, dia merapatkan diri dan merasakan sesuatu yang mengganjal dari dalam air.
"Arkh, Sayang ..." Anton yang kemudian menger@ng. Dia mendekap tubuh istrinya lebih dalam dan meng1git cuping telinga Nadine.
Secara naluriah, Nadine justru membawa tangannya pada sesuatu yang sejak tadi mengganggu pikirannya. Dia ingin tau mengenai benda itu.
Bersambung ....
__ADS_1
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣