EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
175. Kabar duka


__ADS_3

Menunggu hingga beberapa waktu, membuat perasaan Anton tidak karuan. Rasa cemas, kalut dan panik yang bersatu padu membuatnya terlihat berantakan. Dia hanya bisa menghela nafas berat berkali-kali tanpa bisa mengekspresikan yang dirasakan.


Kedatangan Yara dan Sky ke Rumah Sakit pada pagi hari itu, membuat Anton sedikit kehilangan rasa kalutnya. Dia menjelaskan yang terjadi pada Yara dan Sky dimana Nadine yang mendadak harus melakukan operasi sesar.


Setidaknya, adiknya juga bisa turut mendoakan keadaan Nadine yang sedang ditangani dalam ruang operasi.


Syukurlah tak lama dari itu, operasi yang dilakukan sudah selesai.


"Selamat, Pak. Ibu Nadine sudah melewati proses operasi. Keadaan ibu Nadine sudah baik-baik saja--"


"Bayinya?" sela Anton cepat setelah dia mengetahui jika istrinya baik-baik saja.


"Bayi anda dalam kondisi sehat, hanya saja bayi saat ini kita pindahkan ke NICU karena saat bayi lahir usia kehamilan Ibu Nadine belum genap 37 minggu alias lahir dengan prematur."


"Berapa lama bayi saya akan berada disana, Dok?"


"Durasi perawatan bayi prematur di ruangan NICU tidak dapat dipastikan. Hal ini tergantung pada kondisi kesehatan bayi, Pak."


"... bayi prematur diperbolehkan keluar dari Rumah Sakit dan dirawat di rumah kalau sudah bisa minum ASI atau susu formula secara langsung, berat badannya sudah naik, serta suhu tubuhnya tetap stabil di suhu ruangan biasa," imbuh sang Dokter kemudian.


"Apa saya sudah bisa menemui istri saya?" tanya Anton terlihat tidak sabaran.


"Tentu saja, Pak. Setelah ibu Nadine dipindahkan ke ruang perawatan. Ah, iya, bayinya laki-laki dan mirip sekali seperti anda."


Anton tersenyum haru, kemudian mengangguk saat Dokter itu pamit undur diri dari hadapannya.


"Mas ke ruangan Mbak Nadine, ya. Kalian sekalian ikut atau--"


Perkataan Anton terjeda, karena tiba-tiba suara deringan ponsel Yara menginterupsi percakapan mereka.


"Mas duluan aja, deh. Ini Yara angkat telepon dulu."


Anton mengiyakan ujaran adik perempuannya itu, kemudian berderap pergi.


"Hallo .." Yara menerima panggilan selulernya, dihadapan Sky yang masih menunggui disana.


"...."


"A--apa?" Suara Yara terdengar kaget. Air wajahnya langsung berubah, entah apa yang dia dengar dari seberang panggilan. Sementara Sky yang menyaksikan itu--menatap istrinya dengan tanda tanya yang besar.


"Iya, iya, Mbak. Nanti kita kesana ya. Ini aku sama suami aku masih di Rumah Sakit,"


"...."


"Iya, Mbak Nadine istrinya Mas Anton baru selesai melahirkan."


"...."


"Iya, Mbak. Makasih udah kabarin aku. Mbak yang sabar ya, ikhlas dan aku turut berduka cita yang sedalam-dalamnya untuk keluarga Mbak."


Yara pun menatap Sky setelah panggilannya berakhir.


"Siapa?" tanya sang suami.

__ADS_1


"Mbak Kirani ... Mas Juna, meninggal, Sayang."


"Innalillahi wainnailaihi raji'un," gumam Sky yang cukup terkejut mendengar kabar ini.


Sky memegang tangan Yara kemudian menggenggamnya. "Semoga amal ibadah Juna diterima dan segala dosanya diampuni," paparnya.


"Aamiin ..."


...***...


Anton melihat pada istrinya yang terbaring lemah setelah operasi selesai dilakukan. Nadine tersenyum tipis pada sang suami.


"Maafin aku ya, Mas."


"Kenapa kamu minta maaf? Kamu gak ada salah sama sekali, Sayang."


"Mungkin aku kurang jaga diri, sampai akhirnya harus melahirkan secara secar dan mendadak kayak gini," tutur wanita itu dengan raut penyesalan.


Anton mengelus wajah istrinya dengan senyuman haru. "Kamu ... udah ngelakuin yang terbaik. Apapun, kamu udah berusaha menjadi yang terbaik. Terima kasih, Sayang. Kamu gak perlu ngerasa minder atau bersalah karena hal ini. Kamu selalu jadi yang terbaik dan segala-galanya buat aku."


Anton tidak tahan untuk tidak menghadiahi Nadine dengan ciuman-ciuman kecil yang bertubi-tubi.


"Aku yang merasa berdosa karena gak bisa jagain kamu, maafin aku ya."


"Kalau Mas gak mau aku merasa bersalah, Mas juga gak boleh menyalahkan diri. Ini udah diatur sama yang maha menciptakan. Begitupun alur dan kehadiran bayi kita yang harus dilahirkan secara secar. Percaya, ini berarti yang terbaik, Mas."


"Iya, Sayang. Aku percaya."


Suara ketukan pintu membuat keduanya menoleh, terlihat Sky dan Yara yang kini memasuki ruang perawatan itu.


"Boleh," kata Anton.


"Pasti bayinya ganteng kayak Mas aku deh," goda Yara.


Mendengar itu, mata Nadine melebar. "Emang bayinya cowok, ya?" tanyanya takjub.


"Huum." Anton mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sebelumnya, mereka memang belum pernah menanyakan jenis ke-la-min bayi yang dikandung Nadine kendati sudah beberapa kali melakukan USG dan cek kesehatan janin. Jadi, berita ini merupakan pelengkap kebahagiaan mereka sebab kehadiran bayi laki-laki semakin menyempurnakan pernikahan keduanya.


"Alhamdulillah, aku seneng banget. Elara sama Liora pasti bakal seneng punya adek cowok. Biasanya mereka selalu antusias sama Cean, kan?"


Anton tersenyum pada istrinya yang terbaring di atas bed Rumah Sakit.


"Iya, Sayang. Udah punya nama belum buat bayi laki-laki kita?" tanya Anton pada istrinya. Mereka memang sudah sempat memilih nama bayi laki-laki dan perempuan untuk sang jabang bayi tapi belum men-deal-kan satu yang cocok.


"Kamu pilih yang mana dari tiga nama itu?" tanya Nadine.


Anton menggeleng dan terlihat bingung. "Semuanya bagus, sih," katanya.


"Emang namanya apa-apa aja, Mbak?" tanya Yara menimpali.


"Mbak-mu mau Rigel atau Ardan. Mas maunya Saka."

__ADS_1


"Ya udah, gabungin aja tiga-tiganya," kata Yara memberi usul.


"Kenapa gak Andine? Artinya Anton dan Nadine?" celetuk Sky tanpa rasa berdosa.


Anton sampai geleng-geleng kepala. Sementara Yara menepuk jidatnya. Nadine sendiri, hanya bisa menahan tawa, sebab dia tau jika Sky tengah bercanda, tapi suami Yara itu paling pandai menyembunyikan raut jenakanya, sehingga Sky tampak sangat serius saat mengatakannya dan itu lah yang membuat gurauannya semakin terlihat lucu.


...***...


Siang hari saat cuaca cukup panas namun juga diselingi hujan rintik-rintik, akhirnya jenazah Juna disemayamkan di tempat peristirahatannya yang terakhir.


Hampir lima tahun bertahan dengan penyakitnya, akhirnya pria itu memilih menyerah dan berpulang ke pangkuan-Nya.


Juna meninggal akibat kanker darah atau leukimia yang dideritanya. Meninggalkan seorang istri---Kirani---dan Dewangga, putra sambungnya yang kini berusia dua belas tahun.


"Semoga amal ibadah almarhum diterima dan ditempatkan di tempat yang terbaik, ya, Mbak."


Kirani mengangguki segala ucapan belasungkawa dari rekan dan handai taulan yang datang mengunjungi rumah duka sampai ke pada tempat pemakaman suaminya.


"Mbak?"


Kirani menoleh dan mendapati sepasang suami istri yang dia kenali berkat masa lalu milik mendiang suaminya.


"Yara? Sky?"


Yara mendekati Kirani dan memeluk wanita yang tampak layu itu.


"Mbak, aku turut berduka cita ya... Mbak yang tabah dan ikhlas, Mas Juna udah nggak ngerasain sakit lagi."


Kirani membalas pelukan Yara. Selama beberapa tahun belakangan, hubungan mereka memang cukup baik. Yara dan Sky juga rutin mengirimkan Juna obat-obatan herbal yang pria itu butuhkan, karena ada salah seorang rekan Sky yang bisa menyediakannya meski Kirani mengatakan obat-obatan herbal itu sangat mahal.


Sky dan Yara juga sering mengirimi uang untuk membantu Kirani sebab wanita itu tidak memiliki uang berlebih sejak suaminya sakit dan tidak dapat bekerja. Mereka membantu semata-mata untuk biaya sekolah Dewangga serta sedikit meringankan beban Kirani untuk obat-obatan Juna yang tidaklah murah harganya.


"Makasih ya, Ra. Kalian banyak bantu Mbak. Makasih banyak. Maafin Mas Juna kalau semasa hidupnya pernah menyakiti kamu ya, Ra."


"Iya, Mbak. Aku udah memaafkan Mas Juna Mbak."


Mereka melerai pelukannya. Kini Kirani menatap Sky yang juga berdiri tak jauh dari sang istri.


"Mas Sky, terima kasih ya atas semua bantuan yang kalian berikan buat Mas Juna selama dalam masa pengobatan. Saya tidak tau harus membalasnya dengan apa. Juga ... maafkan kesalahan Mas Juna jika pernah menyinggung Mas Sky..."


Sky mengangguk. "Iya, Mbak Kiran. Semuanya sudah berlalu. Sekarang kita ikhlaskan Juna biar almarhum tenang kepergiannya."


Sky menatap Yara yang juga menangis tersedu-sedu dalam prosesi pemakaman ini. Hatinya ingin tau apa perasaan Yara terkait hal ini. Meski Sky sudah menebak jika Yara tengah sedih, tapi dia juga ingin tau apakah Yara masih menyimpan rasa untuk mantan suaminya setelah Juna benar-benar pergi untuk selamanya seperti saat ini.


"Aku nangis bukan karena aku masih ada rasa. Berapa kali aku bilang aku udah melupakan Mas Juna dalam hal perasaan," bisik Yara pada Sky yang tadinya juga berbisik-bisik menanyakan perasaan istrinya sekarang.


"Aku cuma nanya, Sayang. Jangan marah." Sky membasahi bibirnya sejenak, kemudian membisikkan kata lagi pada Yara. "Wajar dong aku nanya, soalnya kamu nangis banget kayak gitu?" tanyanya kemudian.


"Aku membayangkan posisi Mbak Kiran, dua minggu yang lalu aku nyaris berada di pemakaman kayak gini juga, aku gak sanggup ngebayanginnya kalo yang dimakamkan itu adalah suamiku sendiri."


Bersambung ...


Yang masih ada vote Senin, tebar kesini dong🙏

__ADS_1


maaf ya lama update, anakku lagi demam dari kemarin dan rewel banget. ini aja ngetiknya dicicil-cicil.🙏🙏🙏


__ADS_2