EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
29. Berkunjung


__ADS_3

"Ehm, mungkin waktu di mobil, hp nya jatuh dari tas aku dan aku gak sadar, Mas." Yara menjawab sambil menatap Sky yang malah mengerlingkan mata kearahnya.


"Sky.... awas aja kamu!" geram Yara dalam hati.


Sebenarnya Yara sempat mencari-cari keberadaan ponselnya tadi, ia juga mengingat jika terakhir kali melihat benda pipih itu adalah saat bersama sky di mobil semalam.


Tapi, Yara tidak menduga jika pria itu akan nekad mengembalikan padanya dengan cara menyambangi kediamannya seperti saat ini. Ia pikir nanti ia akan bertemu Sky di lain tempat tentunya hanya untuk urusan pengembalian ponsel saja, begitulah rencana Yara.


"Ya udah, tapi kamu bilang makasih dong sama Pak Sky, Beliau udah repot anterin hp kamu sampai kesini lho."


"Hah?" Yara melongo, tapi buru-buru menguasai keadaan. Wanita itu kembali melihat pada Sky, kali ini benar-benar ingin berujar pada sang pria.


"Makasih udah anterin hp aku, Sky," ujar Yara sedatar mungkin, tetapi respon sky malah tersenyum tengil yang membuat Yara habis kesabarannya.


"Aku buatin minum dulu deh, Mas." Yara ingin menghindar dari Sky, daripada ia terus disana, ia akan semakin kesal nantinya.


Yara pun langsung berbalik menuju dapur untuk merealisasikan ucapannya.


Juna dan Sky akhirnya mengobrol ringan seputar dunia pekerjaan masing-masing.


"Ehm, kalau gak salah, tadi sore saya sempat melihat pak Juna mengunjungi kantor saya, Pak."


"Lho, jadi Decorindo Architecture itu kantornya pak Sky?"


Sky tersenyum seraya mengangguk pelan.


"Wah, kebetulan sekali, ya." Juna mengusap lehernya sendiri. Gugup. Jika begini, otomatis Sky pasti tahu mengenai dia yang sudah membeli sebuah rumah baru, sebab walau bagaimanapun, ia telah memakai jasa desain dari kantor pria tersebut.


"Rumahnya sudah jadi di beli ya, Pak?" tanya Sky kemudian.


"Begitulah, Pak." Juna mendadak kikuk. Apa Sky akan mengatakan pada Yara bahwa ia sudah membeli rumah? Jika iya, dapat dipastikan akan ada pertengkaran hebat antara ia dan Yara nantinya.


"Ehm tapi, Pak Sky... Apa boleh saya minta kerjasamanya?"


Dahi Sky langsung mengernyit. "Kerjasama apa?" tanyanya heran.


Juna kan suami Yara. Apa Sky harus bekerjasama dengan rivalnya sendiri? Tidak lucu kan, jika mereka jadi saling mendukung satu sama lain?


"Rencananya rumah baru yang saya beli itu akan saya jadikan surprise buat Yara. Sebagai hadiah anniversary pernikahan. Jadi, Pak Sky tidak perlu mengatakan pada Yara mengenai rumah itu. Biar nanti itu menjadi kejutan dari saya saja."


"Ah, begitu..." Sky pun menganggukkan kepalanya.


"Bisa kan, Pak?"


Bukannya merespon Juna, Sky malah menoleh ke arah dapur, ia menunggu Yara yang tak juga kembali ke ruang tamu. Bukankah Yara mengatakan mau membuat minuman? Kenapa belum juga datang? Apa belum selesai?


"Pak?" Juna kembali menanyakan kesediaan Sky.


"Ah, iya, iya, saya paham, Pak Juna." Sky pun mengiyakan saja permintaan Juna. Biar cepat, pikirnya.

__ADS_1


Tak lama, Yara datang menyajikan minuman untuk keduanya. Yara terlihat gemetaran saat meletakkan gelas kepada dua orang pria yang sama-sama dekat dengannya. Yang satu adalah suaminya yang satu lagi adalah .... mantan kekasihnya? Atau justru kembali menjadi kekasihnya sekarang? Setelah kejadian semalam apa Sky akan menuntut status baru untuk hubungan mereka? Ah, kepala Yara lagi-lagi rasanya mau pecah saja memikirkan hal ini.


Tidak, Yara sudah bertekad untuk tidak mengulangi lagi kesalahan yang sama dengan Sky. Kecuali... jika ada setan' yang hadir ditengah-tengah mereka berdua nanti. Ah, bolehkah Yara memaki dirinya sendiri sekarang?


"Silahkan diminum." Yara berujar kaku, seperti pelayan cafe yang kadang tak begitu ramah meladeni tamunya.


"Eh, mau kemana, Ra?" Juna bertanya pada Yara yang hendak kembali ke kamar. Tentu wanita itu mau menghindar.


"Aku mau ke kamar aja, Mas."


"Loh tapi kan, Pak Sky temen kamu juga. Masa kamu masuk? Disini aja bareng kita."


"Aku pusing, Mas. Mau istirahat." Yara tak sepenuhnya berbohong, kedatangan Sky memang membuat kepalanya nyeri.


"Gak apa-apa, Pak Juna. Saya juga mau segera pulang, biar saja Ayara istirahat."


Ucapan Sky memang terdengar lapang dada, tapi sorot mata pria itu menunjukkan sikap yang sebaliknya. Ia tahu Yara tengah menghindarinya, sehingga ia menatap sang wanita dengan tatapan yang sulit diartikan. Antara marah dan kecewa, atau justru... sedih?


"Kenapa buru-buru, Pak?" Juna memulai lagi basa-basinya. Selain ingin memastikan Sky tak akan buka mulut soal rumah barunya, ia juga masih ingin mengakrabkan diri, siapa tahu dekat dengan Sky akan menguntungkannya dalam suatu hal nantinya.


Yara tak menggubris lagi lontaran kalimat yang terjadi antara kedua pria itu, ia benar-benar berlalu menuju kamarnya.


Pada akhirnya, Juna dan Sky pun kembali terlibat obrolan lain, sebab sekarang mereka malah menyaksikan pertandingan sepak bola Timnas--yang disiarkan di salah satu stasiun televisi.


"Pak, toiletnya dimana, ya? Saya izin ke toilet sebentar?" Tiba-tiba Sky berujar kembali.


Tak ingin membuang waktu, Sky langsung saja berlalu dari hadapan Juna, alasannya ingin ke toilet tentu saja adalah dusta belaka. Yang sebenarnya ia lakukan adalah mengetuk sebuah pintu ruangan-- yang ia yakini sebagai kamar Yara.


"Sky?" Yara terkesiap syok-- saat lagi-lagi pria yang sama telah berani mengetuk pintu kamarnya. Malah sekarang lebih parah daripada di Bali, mengingat ini adalah pintu kamar dikediamannya sendiri.


"Ra, kamu beneran pusing?" Rupanya pria itu mengkhawatirkan Yara yang tadi sempat beralasan sedang sakit kepala.


"Pergi, Sky! Kamu jangan didepan kamar aku kayak begini. Kamu ini bener-bener..." Yara sampai tak bisa berkata-kata. Ia kehabisan kalimat atau mungkin sudah lupa abjad saat melihat Sky berdiri dihadapannya.


Sky menggenggam tangan Yara dengan keberaniannya. "Aku kangen, Ra," ujarnya sungguh-sungguh.


"Aku enggak," kata Yara.


"Bohong."


"Beneran enggak."


"Bohong! Bilang kangen juga, ayo!" Sky memaksa layaknya anak kecil yang tengah merengek.


"Bodo!" Yara ingin menutup pintu tapi Sky mencegahnya.


"Pergi, Sky! Entar Mas Juna lihat kamu disini!" usir Yara lagi. Ia terus mendesak.


"Janji kalo kita bakal ketemu lagi berdua, nanti."

__ADS_1


"Enggak."


"Janji, Ra? Baru aku mau pergi."


Yara mendengkus. "Iya, iya. Udah sana!" Yara sampai mendorong tubuh Sky sangking takutnya hal ini akan dipergoki oleh suaminya.


Sky menurut, pria itu mengalah, tapi saat Yara lengah, ia malah mencium pipi Yara secara kilat.


Astaga... hampir saja Yara memekik karena kaget, untungnya ia refleks untuk membekap mulutnya sendiri.


Entahlah, jika ada kata diatas gi la, mungkin Sky yang memiliki predikat tersebut.


Yara sampai susah berkata-kata atas tindakan nekad yang Sky lakukan dirumahnya.


"Apa aku harus terjebak didalam hubungan seperti ini bersama Sky?"


Yara memegangi dadanya yang bergemuruh hebat. Tidak bisa dipungkiri, segala hal yang dilakukan Sky kepadanya-- sampai pada kejadian yang terjadi beberapa saat lalu didepan pintu kamarnya--justru membuatnya merasa sangat bahagia.


"Sky, aku harus gimana? Kamu bener, aku udah berusaha kuat tapi tetap aja aku kalah sama perasaanku sendiri."


...~...


Sepulangnya Sky dari kediamannya, Juna pun memasuki kamar pribadinya bersama Yara. Ia hampir lupa, jika ia sempat meminta hak-nya sebagai suami Yara, sejak tadi.


Selama ini has rat nya selalu dipuaskann oleh Shanum, sampai terkadang ia lupa untuk menyentuh Yara. Tapi, jika melihat kemolekan tubuh istrinya, ia juga tidak mampu untuk membendung keinginan itu.


"Ra? Kamu udah tidur?" Juna menaiki ran jang. Melihat Yara yang sudah berbaring dalam posisi meringkuk.


Ah, benar saja istrinya itu sudah tidur. Juna memperhatikan wajah Yara yang pulas. Dulu ia sangat mencintai Yara, sampai godaan Shanum datang kepadanya dan ia tidak kuasa membendung perasaan itu. Ia tergoda dan terpesona pada sosok yang seharusnya menjadi kakak baginya-- meski usianya dan Shanum setara.


"Maaf, Ra. Aku gak bisa ninggalin Shanum untuk kamu. Tapi, aku juga gak bisa ninggalin kamu... mungkin karena aku adalah pria pertama yang beruntung bisa menyentuh kamu. Tapi, mungkin juga karena rasa tanggung jawab yang udah Ayah kamu berikan padaku sebelum beliau wafat."


Juna membatin. Ia tidak menyadari bahwa dengan sikapnya yang telah mengkhianati Yara-- berarti ia juga sudah lalai dalam tanggung jawabnya sendiri. Begitupun dengan nafkah yang tak seberapa. Pria itu sebenarnya sudah tidak layak disebut sebagai suami yang bertanggung jawab. Nyatanya, Juna memang telah mengecewakan kepercayaan yang sempat diberikan mendiang Ayah Yara kepadanya.


Tangan Juna terulur, ia mengelus rambut Yara. Kendati ia sangat merindukan dan menginginkan Yara malam ini, tetapi melihat istrinya sudah terlelap ia jadi tidak tega membangunkan.


Sudahlah, jikapun tidak mendapatkan dari Yara, ia bisa memintanya dari Shanum, besok, pikirnya. Ia mengira semua dapat dijalani dengan mudah selama ada dua wanita disisinya.


Jika Shanum sibuk, ada Yara. Jika Yara berhalangan, ada Shanum yang menggantikan. Begitulah pemikiran pria yang tidak pernah puas itu.


Tapi, seketika otak kotornya langsung kosong kala pandangan matanya tak sengaja menangkap bekas kemerahan di bagian tubuh Yara, tepatnya diantara leher dan dada wanita itu.


Saat itu juga ia langsung menyentuh bagian tersebut.


"Gak mungkin," gumamnya syok. "Gak mungkin Yara juga mengkhianati aku!" lanjutnya dalam hati.


Bersambung ....


*****

__ADS_1


__ADS_2