EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
77. Pulang Bersama


__ADS_3

"Rin .... selamat, ya. Semoga bahagia dan pernikahan kalian langgeng terus." Yara menyalami Rina disertai ucapan yang tulus.


"Makasih ya, Ra. Udah dateng kesini." Rina pun seperti mencari-cari sesuatu dibelakang Yara tetapi entah apa.


"Kamu sama siapa kesini, Ra? Gak bareng sama suamimu?" tanyanya.


Rina memang tau bahwa waktu itu Yara dan Juna sempat bermasalah tapi ia tidak mengetahui jika mereka sudah berpisah. Dalam pemikiran Rina adalah mungkin Yara sudah menyelesaikan masalah rumah tangganya dengan Juna secara baik-baik tanpa perpisahan.


"Aku kesini sama mbak Nadine." Yara menunjuk Nadine yang tak lama juga ikut berjalan di belakang tubuhnya untuk ikut memberikan selamat kepada pengantin baru tersebut.


"Rina, selamat ya..."


"Makasih banyak udah datang ya, Bu Nadine..." jawab Rina. "Kalian saling kenal ya?" tanyanya merujuk pada Yara dan Nadine.


"Ah, iya... Yara ini udah kayak adik aku sendiri," jawab Nadine serius.


Yara ikut tersenyum, ternyata Nadine tidak menyatakan pada Rina bahwa dia adalah ART dirumah wanita cantik itu, meski kalaupun Nadine berterus terang itu tidak masalah bagi Yara.


Tak lama, Sky juga ikut naik untuk menyalami Rina dan Dion diatas pelaminan. Ia berjalan berbarengan dengan Ilyas dan Rozi menggantikan posisi Yara dan Nadine yang sebelumnya berada dihadapan pengantin baru itu.


"Selamat ya, Rin."


"Makasih lho, gue doain kalian bertiga cepetan nyusul. Betah banget jadi jomblo ngenes," kelakar Rina yang diangguki oleh Dion juga.


Sky dan kedua temannya itu tergelak.


"Lu rasa diantara kita bertiga siapa dulu yang bakal nyusul lu dan ikut menikah?" Ilyas menimpali.


Rina tampak menimbang-nimbang kemudian terkekeh pelan. "Sky?" katanya menebak


Dan tanpa disangka oleh mereka semua, Sky malah mengaminkan ucapan Rina.


"Amin. Doain aja, ntar Lo semua gue undang pokoknya," kata pria itu tampak girang.


"Serius?" sahut Rozi yang menatap Sky dengan tatapan tak percaya. 'Udah ada calonnya emang?" tanyanya.


"Woyaaa ada dong," jawab Sky dengan mantap, matanya melirik pada Yara yang sudah lebih dulu turun dari panggung pelaminan.


Setelah menikmati acara di pesta pernikahan Rina berikut dengan sajian makanannya, Sky yang sudah kembali di meja yang tadi ditempatinya bersama Yara dan Nadine--tapi sekarang juga ada Ilyas dan Rozi disana, kembali memainkan ponsel untuk mengirimi Yara pesan.


[Pulang yuk, bareng]


Terkirim, tapi Sky melihat Yara tidak membuka ponselnya, mungkin wanita itu belum menyadari ada pesan darinya disana. Sky memberi kode dengan isyarat mata dan Yara seakan memahami itu.


Yara membuka ponsel dan menemukan pesan singkat dari Sky.


[Aku pulang bareng mbak Nadine aja, gak enak kalau biarin dia pulang sendirian. Kita berangkatnya kan sama-sama tadi]


Sky menghela nafas berat saat membaca balasan Yara. Tidak bisakah semua ini dihentikan saja? Andai Sky tidak menghargai perasaan Yara dan apa yang tengah dijaga wanita itu, dia akan menarik tangan Yara didepan semua teman-teman mereka bahkan didepan semua tamu yang berada dalam gedung ini. Ia tidak peduli apa pandangan orang lain terhadapnya.


Tuhan, beri dia keberuntungan agar keadaan absurd antara ia dan Yara yang terjebak diantara sejumlah teman-teman mereka ini segera bisa keluar bebas secara bersama-sama.


"Mbak Nadine..." Rupanya Sky lebih memilih mengajak Nadine bicara, mencoba mengakrabkan diri demi mencapai tujuannya.

__ADS_1


"Ya, ada apa?" tanya Nadine. Sebab Yara yang menjaga jarak dari Sky, memang membuat posisi Nadine jadi terduduk diantara mereka berdua. Dan memberi Sky akses langsung untuk bisa bicara dekat dengan wanita itu sebab Nadine berada tepat disebelahnya.


"Aku pulang bareng Yara, ya?"


Nadine tentu terkejut dengan ujaran Sky. Apa dia tidak salah mendengar? Kenapa mengajak Yara pulang harus meminta izin dengannya? Pikirnya. Ia merasa tidak membatasi Yara dan ia juga senang melihat Sky yang sepertinya sangat serasi dengan Yara, hanya saja entah karena apa sekarang mereka malah menjaga jarak. Nadine masih belum memahami meski Yara sempat menyebutkan alasan padanya, tadi.


"Yara gak enak sama mbak kalau aku ajak dia pulang bareng. Nggak mau kalau mbak jadi pulang sendirian karena dia bareng aku," kata Sky.


Pembicaraan mereka tidak didengar yang lain meski mereka berada di meja yang sama, sebab suara live music yang menghibur para undangan juga sedang keras-kerasnya disana.


"Oh, gitu. Ya udah, aku juga udah saranin Yara buat pulang bareng kamu kok. Have fun ya," ujar Nadine tulus.


"Mbak bisa tolong yakinkan dia biar pulang bareng aku gak? Karena aku udah coba tapi dia gak mau."


Nadine memahami jika sejak tadi memang Yara yang menghindar dari Sky.


"Ya udah, aku coba ya."


Nadine menepuk punggung tangan Yara, lalu berbisik pelan pada wanita itu.


"Ra, kayaknya disana ada relasi bisnis aku deh. Kami mungkin bakal ngobrol ngalir ngidul, kamu kalau mau pulang lebih dulu, aku gak apa-apa."


"Aku emang mau ngajak mbak pulang sih," akui Yara membalas Nadine dengan bisikan yang sama.


"Ya udah, ajak Sky pulang sekarang. Udah mulai malam juga."


"Terus mbak gak apa-apa."


"Gak apa-apa, Ra. Aku bukan anak balita," Nadine terkikik diujung kalimatnya.


[Aku keluar duluan ya. Aku tunggu di parkiran aja]


Membaca itu Sky menyunggingkan senyum tipis, ia membiarkan Yara keluar lebih dulu meninggalkan gedung tempat pesta itu digelar. Setelah sebelumnya Yara berpamitan dengan teman-temannya yang lain.


"Makasih ya, mbak." Sky berujar tulus pada Nadine yang juga sudah berdiri dari duduknya.


"Sama-sama. Apa perlu aku anterin ke Yara juga?" canda wanita itu tapi Sky hanya menggeleng sambil tersenyum tipis.


Tak lama, Sky pun ikut berpamitan dengan teman-temannya, ia tidak bisa membiarkan Yara lebih lama menunggu diparkiran. Ia tidak peduli apa tanggapan mereka semua jika alih-alih ada yang iseng menyimpulkan waktu kepulangannya yang nyaris berbarengan dengan Yara. Atau jikapun salah satu dari mereka melihat mereka pulang bersama, memangnya kenapa?


Sky berlalu setelah undur diri dari semua teman semasa SMA nya itu. Ia berlari kecil, takut Yara berubah pikiran dan malah pulang menggunakan taksi. Syukurlah saat Sky memencet remote mobil dan benda besi itu mengeluarkan suara alarmnya, ia melihat Yara yang berdiri tak jauh dari mobilnya.


"Ayo!" Sky buru-buru membukakan pintu mobil untuk Yara, berhubung hari juga sudah mulai gerimis.


Sky melajukan mobilnya sambil sesekali menghela nafas lega.


"Huh, akhirnya... keluar juga dari gedung itu."


"Kok kayak beban banget sih kamu pas ada disana?" tanya Yara.


"Beban lah, abisnya gak bisa bebas dekat sama kamu."


Yara hanya mengulumm senyum sambil geleng-geleng kepala mendengar alasan pria itu.

__ADS_1


Sementara setelah kepergian Sky dan Yara, Nadine tidak benar-benar menemui koleganya yang juga ada disana. Ia memutuskan untuk ikut pulang, tadi dia hanya memberi alasan pada Yara demi membantu Sky.


Nadine menemui Pak Hendri--Papa Rina untuk berpamitan pulang, pengusaha itu tampak menggandeng istri barunya yang sekarang menjadi ibu tiri Rina.


Setelah itu, Nadine langsung keluar dan memasuki mobilnya yang mulai berlalu meninggalkan gedung tempat pesta pernikahan Rina tersebut.


Setengah perjalanan, Nadine merasa pikirannya kosong, entah kenapa tiba-tiba ia mengingat pengkhianatan yang dilakukan Lucky dengan Firda--sahabatnya. Ingatan itu seperti terlintas dibenaknya begitu saja. Ia blank dan hampir menabrak trotoar jalanan.


Hal itu menyebabkan Nadine menghentikan mobil secara mendadak demi menyelamatkannya dari tragedi kecelakaan.


"Astaga..." Nadine memijat pelipisnya. Syukurnya tidak terjadi apa-apa pada dirinya dan pengendara lain. Saat Nadine ingin kembali menyalakan mesin mobilnya, tapi itu tidak bisa ia lakukan, ia gemetaran atau memang ada yang salah pada mobilnya?


Nadine mencoba beberapa kali tapi tetap mobil tak menyala. Ia keluar dari mobil dan membuka kap depan, sekarang ia bingung harus melakukan apa.


Kilatan petir terlihat menyala-nyala. Disusul suara gemuruh yang tiba-tiba menggelegar. Nadine harus pasrah pada posisinya saat hujan turun semakin deras dan membasahinya berikut mobil yang dalam keadaan tak menyala.


Ingin rasanya Nadine mengumpat, belum lagi penampilannya sekarang yang memakai kebaya tidak bisa membuatnya bebas bergerak untuk berlari melindungi diri dari terpaan hujan. Ia masuk kembali ke mobil setelah menutup lagi kap sebab tak dapat melakukan apa-apa dengan itu.


Hanya saja, tak mungkin ia terus berada disini sementara posisi mobilnya ini bisa dikatakan tidak terlalu dipinggir, bahkan nyaris ditengah-tengah jalan. Bisa saja ada kendaran lain yang oleng dan menabraknya dari belakang.


Tok. tok. tok.


Kaca mobil Nadine di ketuk dari luar, menyadarkan Nadine dari lamunannya. Padahal, jika itu tidak terjadi mungkin Nadine akan pasrah dalam posisi ini dimana hujan lebat telah mengguyur mobilnya, sedang ia malas untuk kemanapun menggunakan payung dan pakaian begini.


Nadine menoleh ke arah kaca luar mobil, sebenarnya ia takut, jika saja itu perampok, bagaimana?


Tampak seseorang menghampiri, terlihat basah kuyup karena tidak ada payung untuk menutupi.


Secara ragu tapi perlahan, Nadine menurunkan kaca mobilnya untuk melihat dan menanyakan apa maksud seseorang itu mengetuk kaca mobilnya.


"Mbak? Mobilnya kenapa? Ini berada ditengah, takutnya membahayakan mbak ataupun pengendara lain."


Nadine masih diam tidak berkedip, sosok didepannya adalah pria tinggi yang asing baginya tapi entah kenapa Nadine tidak takut pada pria itu. Dalam benak Nadine merasa pria itu bukan berniat jahat.


"Mbak?"


"Ah, ya, ini gak bisa nyala."


"Mau saya bantu?"


"Y-ya?"


"Biar saya bantu menyalakan."


"Bo-boleh," jawab Nadine. Antara gugup dan entahlah... rasanya aneh menerima bantuan dari pria yang tidak ia kenal apalagi ini malam dan hujan lebat.


"Oke, saya coba bantu ya," ujar pria itu membuat Nadine hanya bisa mengangguk dan menatapi sang pria yang mulai membuka kap depan mobilnya tanpa memintanya keluar dari dalam sana.


Bersambung ....


***


Dukung karya ini yuk, dengan cara vote like, komen dan letakkan hadiah.❤️

__ADS_1


Love you gaess🙏🥰🥰🥰


__ADS_2