
Anton sudah mulai terbiasa dengan kesehariannya mengurus Baby Elara. Tapi, masih banyak hal yang harus dia pelajari sebab belum lulus meski telah mencobanya berulang kali. Salah satunya adalah menenangkan Baby Elara ketika menangis.
Baby Elara termasuk bayi yang sulit ditenangkan. Ia akan terus menangis dan membuat Anton kalut seketika. Maka Anton selalu berusaha agar putrinya tidak mulai menangis, karena jika tangisan itu dimulai maka akan sangat sulit mendiamkannya.
Anton berpikir untuk mencari seorang babysitter, tapi jiwanya yang protektif selalu takut menyerahkan bayinya begitu saja pada orang baru. Sehingga membuat pria itu lebih memilih untuk menjaganya sendiri.
Terkadang Sharla datang dan kembali membujuk Anton untuk membiarkan dia membawa Baby Elara dalam pengasuhannya saja, tetapi Anton tetap bersikeras untuk menjaga putrinya sendiri. Dia tidak bisa melepas baby Elara untuk diasuh Sharla begitu saja, entah kenapa.
Sore itu, Anton baru saja selesai memandikan Baby Elara. Bayi itu sudah mulai senang jika Anton mengajaknya berjalan-jalan sore meski hanya ke depan teras rumah saja.
Seperti kebiasaan, jadi Anton menggendong Baby Elara untuk ke depan rumah setelah memastikan bayi cantiknya sudah harum dan bersih.
"Anak Ayah, sayang..." Anton menciumi pipi Baby Elara yang mulai gembul. Dia senang minum susu dan sangat lahap.
Baby Elara tampak senang dan menikmati jemari Anton yang mengelus-elus pipinya lembut.
"Cantik banget anak Ayah, hummm udah harum juga." Anton mencoba mengajak bayinya berinteraksi, membangun pendekatan diri agar Baby Elara terbiasa dengannya dan turut merasakan kasih sayangnya.
Bayi itu menggeliat senang, membuat senyuman Anton melengkung karena sejak kehadiran Baby Elara dia bisa merasakan kebahagiaan menjadi seorang Ayah.
Meski sibuk, tapi Anton menikmati fase ini. Ini adalah perannya dan dia menerima dengan lapang dada.
"Nton?"
Anton menoleh ke arah dimana bengkelnya berada, dia memang mempekerjakan Fandi--sudah tiga hari ini--untuk bekerja di bengkel miliknya.
"Ya? Kenapa, Fan?"
Pria itu membawa baby Elara menuju kios bengkel yang tak jauh dari rumahnya, dan menghampiri Fandi.
"Ini, stok oli, busi, belting, sama sparepart yang lain banyak yang kosong. Kapan kau mau belanja?"
Ah, iya. Anton sampai lupa bahwa beberapa perlengkapan ganti di bengkelnya memang harus dibeli untuk persediaan.
"Kau aja yang beli ya, Fan."
"Lah, terus bengkel gimana? Tutup?"
Anton bingung, tak mungkin dia pergi meninggalkan Baby Elara untuk membeli segala keperluan bengkel itu, menyuruh Fandi belanja juga tak mungkin sebab bengkel baru dibuka dalam tiga hari ini setelah sebelumnya sudah tutup cukup lama. Ada banyak kendaraan yang sudah terlanjur ditinggal di bengkel untuk diperbaiki, tak mungkin dikembalikan pada pemilik sebelum motornya pulih.
"Besok kalau Yara pulang, aku belanja. Aku gak mungkin ninggalin Elara."
"Oke lah," kata Fandi sembari mengacungkan jempolnya yang tampak kotor sebab membengkel hampir seharian.
Anton pun gegas beranjak kembali untuk memasuki rumah. Tak dipungkiri hal mengenai stok kebutuhan bengkel juga membuatnya kepikiran. Sementara Yara baru akan pulang dua hari kedepan, pikirnya.
"Apa aku titipin Elara sama Mbak Sharla aja, ya?"
Anton berpikir lama, bukan dia tidak mau menitipkan Baby Elara dengan kakak iparnya itu, tapi dia juga tau dan kenal bagaimana watak Sharla. Bisa-bisa setelah Anton menitipkan Baby Elara padanya, lantas Sharla langsung menganggapnya tidak sanggup menjaga sang putri lagi.
__ADS_1
Belum lagi Anton takut, jika Baby Elara benar-benar sampai ke kediaman sang kakak ipar, justru dia tidak boleh lagi membawa sang putri untuk kembali ke rumahnya sendiri.
Entahlah, sebab walau bagaimanapun Anton sangat mengetahui perangai kakak iparnya itu.
Baby Elara tampak sudah mulai mengantuk, Anton memindahkannya ke kamar dan menjaganya disamping tempat tidur.
Rasanya Anton ingin ikut tertidur, sering begadang membuatnya akan mengantuk di waktu-waktu yang tidak seharusnya digunakan untuk tidur. Intinya, waktu tidur Anton sudah tidak teratur akhir-akhir ini.
Baru saja Anton ingin terpejam, suara ketukan pintu membuyarkan angan-angannya untuk sampai ke alam mimpi.
"Ya, sebentar ..."
Entahlah siapa yang datang di sore hari ini. Anton pun berjalan lesu ke arah pintu utama rumah dan membukakannya.
Tapi setelah Anton melihat siapa yang datang, pria itu langsung menegakkan tubuh saat itu juga.
"Nadine?"
Sang wanita pun tersenyum canggung pada Anton.
"Elara mana, Mas?"
Ah, ternyata yang ditanyai malah Elara, Anton sempat jumawa karena mengira wanita itu ingin menemuinya. Tapi, kenapa pula dia harus punya pemikiran seperti itu? Yang benar saja!
"Ehm, Elara baru aja tidur. Abis mandi saya ajakin jalan-jalan sore sebentar tadi, terus ngantuk."
Nadine mengangguk-anggukkan kepalanya, disaat itulah Anton menyadari wajah sendu dan mata bengkak wanita itu.
"Kenapa, Mas?"
"Kamu sakit?" tanya Anton mengulang pertanyaan yang sama.
"Enggak, Mas. Emang aku kelihatan sakit, ya? Aku baik-baik aja, kok."
Akhirnya Anton menganggukkan kepalanya meski ia tidak puas dengan jawaban yang diberikan wanita itu.
"Masuk dulu?" kata Anton menawarkan.
"Ah, enggak usah, Mas. Aku sebenarnya baru aja tiba disini dan mau ketemu Elara."
"Jadi kamu baru pulang dari Bandara dan langsung kesini?"
"Iya, Mas..."
"Gak mau masuk dulu, saya buatkan minum?"
Nadine menggeleng. "Maaf, Mas. Gak enak, udah sore," katanya menolak halus.
Keduanya lalu sama-sama terdiam. Canggung. Suasana terasa akward karena tidak satupun dari mereka yang kembali memulai pembicaraan, lebih tepatnya adalah bingung mau bicara apa lagi.
__ADS_1
Anton hanya bisa menggosok tengkuknya, sementara Nadine kikuk sendiri dengan keadaan ini.
"Ehmm, kalau besok aku kesini lagi buat ketemu Elara, boleh gak, Mas?" Nadine memulai kembali percakapan setelah hening yang sempat tercipta diantara mereka.
"Tentu aja boleh dong, Nad." Anton menjawab refleks yang nadanya terdengar semangat, membuat Nadine tertawa pelan.
"Ya udah, besok aku kesini lagi buat ketemu Elara."
"Hmm...." Anton manggut-manggut.
"Eh iya, ini aku bawain oleh-oleh buat Elara. Pas belanja kebetulan ketemu babyshop dan buat aku ingat sama bayi kamu, Mas."
Anton sedikit terkejut saat Nadine mengeluarkan banyak bungkusan plastik dari dalam kopernya. Dia hanya diam melihat Nadine yang kini sibuk membongkar tas besar itu.
"Ini.... semuanya buat Elara?" tanya Anton syok.
Nadine menyengir. "Iya, Mas. Maaf ya, aku kalap pas belanja, soalnya lucu semua sih."
Anton sangat tak enak hati karena Nadine membelikannya banyak sekali barang-barang dan pakaian untuk putrinya.
"Nad, tapi ini berlebihan sekali...."
"Ya, Mas. Aku tau. Kamu marah ya aku belanja banyak buat Elara?"
Anton terdiam sejenak, ia merasa rendah diri dihadapan Nadine sekarang, entah kenapa.
"Aku gak maksud apa-apa, Mas. Aku tulus belikan semua ini buat Elara, karena aku udah jatuh cinta sama dia sejak pertama ketemu. Sekali lagi maaf, Mas. Aku mau dekat sama putri kamu."
Mendengar itu Anton jadi penasaran apa alasan Nadine yang sesungguhnya.
"Kenapa? Kenapa kamu mau dekat sama putri saya?" Anton tidak mau sampai salah mengartikan kebaikan Nadine, ia tidak mau membawa ke perasaan nantinya. Ia harus tau jelas niat wanita ini.
"Karena kalau bukan Elara, aku gak tau kapan aku bisa belanja perlengkapan bayi seperti ini lagi, Mas."
Tatapan Nadine berubah sendu saat menatap Anton.
"Aku didiagnosa gak bisa punya anak, Mas. Jadi... maaf kalau aku salah dengan semua ini. Aku cuma mewujudkan salah satu keinginan aku aja, Mas. Keinginan yang mungkin gak akan pernah bisa aku lakukan lagi selama hidup aku. Keinginan berbelanja perlengkapan bayi ini cukup sederhana, tapi aku gak bisa melakukannya untuk bayi aku sendiri. Maaf kalau aku lancang."
Ah, Anton jadi merasa bersalah sekarang. Ia terlalu ingin tau alasan Nadine yang sesungguhnya-- demi mendapat jawaban agar dia tidak membawa kebaikan Nadine pada perasaannya.
Akan tetapi, setelah tau alasan yang sebenarnya, Anton jadi menyesal sebab ini membuat Nadine tampak bersedih.
"Ma-maaf, Nad... Saya gak bermaksud--"
"Ya, Mas. Tapi, boleh kan mas, kalau aku menyayangi Elara seperti bayi aku sendiri?"
Bersambung ....
****
__ADS_1
Dukung terus karya ini. Tinggalkan jejak ya gaesπππππ
Nanti 1 bab lagi akan menyusul,π