EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
101. Terlambat


__ADS_3

Juna sudah berusaha keras untuk kembali semangat dalam menjalani rutinitasnya. Sepeninggal Shanum, ia harus berusaha tegar karena kini ia benar-benar tak memiliki seorang pendamping, baik istri maupun simpanan.


Ya, pada kenyataannya Juna harus menikmati kesendiriannya, suka atau tidak suka, mau atau tidak mau-- ia harus menjalani garis hidup bahwa tak satupun dari Yara atau Shanum-- yang dapat membersamai dirinya, sekarang atau dikedepan hari.


Dan akhirnya, Juna memang harus sendirian. Tentu, kesepian pula. Ditambah, rasa menyesal dalam diri.


Bagi sebagian orang, khususnya yang mengetahui tentang sepak terjangnya--termasuk kedua orangtuanya pun--justru turut melontarkan kalimat yang membuat Juna harus menerimanya bulat-bulat, yakni perkataan mengenai sebuah hukuman atas tindak tanduk yang sudah ia lakukan selama ini. Terutama terhadap Yara.


Mungkin ada yang mencemoohnya atau justru mengucap syukur atas keadaannya saat ini. Salah satunya mungkin adalah Anton. Ya, bukankah pria itu yang paling tersakiti olehnya dan Shanum?


Sekarang, pasti Anton sedang bersorak sorai karena melihat kenyataan yang menohok hidupnya. Mungkin juga Anton sedang mengejeknya di dalam hati, serta mengucap syukur atas apa yang dialaminya sampai kini. Apalagi, bayi yang dilahirkan Shanum-- bukanlah darah dagingnya, melainkan anak dari pria itu.


Begitulah yang ada dalam pemikiran Juna terhadap Anton.


Disaat seperti ini, Juna justru merindukan sosok Yara. Wanita itulah yang dulu mempunyai tahta tertinggi dalam hatinya, hingga godaan bernama Shanum datang, membuyarkan fokusnya tentang Yara. Membagi waktu, hinga lama kelamaan turut membagi rasa dan perhatian untuk dua wanita yang berbeda.


Mungkin bagi sebagian orang Juna adalah pria yang bo doh. Tidak, bukan sebagian, mungkin hampir seluruh populasi manusia akan mengatakan dia lelaki dan suami terpayah--sebab sudah memiliki istri, tapi justru menginginkan wanita lain yang juga telah bersuami. Bukankah itu artinya ia telah berbagi wanita dengan pria lainnya-- selama ini?


Ya ya ya, Juna telah menyadarinya dan memang itulah kesalahan terbesarnya.


Tapi, bukankah hampir semua pria akan memiliki h@srat sepertinya? Karena hal itu pula-- muncul sebuah istilah mengenai rumput tetangga tampak lebih hijau daripada rumput pribadi.


Akan tetapi, memang semua itu kembali pada komitmen dari masing-masing pria itu sendiri, memilih tergoda dan terjerumus atau justru menyadari sebelum semuanya dimulai. Dan sialnya, Juna justru terperosok terlalu dalam, bahkan sengaja menceburkan diri di kesalahan terbesar itu.


Hingga pada kenyataannya, kini, satu persatu kewarasannya mulai kembali dan disinilah ia merasa amat menyesali.


Apakah salah jika Juna menyesalinya sekarang?


Menyesal memang tak salah, tapi didunia ini ada yang namanya batas waktu dan rupanya dia telah melewati hal itu. Penyesalannya jelas sudah terlambat!


Di sela-sela waktu senggangnya, Juna merasa tak mau melamun lagi. Cukup, terlalu sering merenung justru membuatnya seperti pria depresi yang gila karena wanita.


Karena tak mau berlarut dalam renungan itu, Juna memilih memainkan ponselnya dan membuka media sosial miliknya.

__ADS_1


Hampir sepuluh menit berlalu, akhirnya Juna sampai pada rasa bosan. Hingga akhirnya, hatinya seperti terdetak untuk mengetahui bagaimana kabar terbaru mengenai mantan istrinya, Yara.


Terakhir kali juna melihat Yara adalah saat Shanum meninggal--tepatnya dikediaman Anton, itupun ia hanya melihat sang mantan dari kejauhan. Entah perasaannya saja, tapi Yara memang terlihat jauh lebih baik sekarang. Dan juga, tampak semakin cantik.


Ah, lagi-lagi perasaan menyesal langsung melingkupi diri Juna.


Iseng, malah membuat rasa ingin tahu yang berlebihan, hingga membawa Juna sampai ke laman Instagram milik Ayara Yasmin.


Awalnya biasa saja, ia tersenyum melihat postingan terakhir Yara dimana wanita itu meng-upload foto selfienya disebuah cafe.



Namun, caption pada foto itu membuat mata Juna terbelalak tak percaya.


"Menatap Langit."


Astaga, Juna meletakkan ponselnya ke meja kerja dengan tak lagi bersemangat.


Jelas yang dimaksud dalam caption itu bukanlah langit yang sebenarnya, melainkan seseorang yang memiliki nama bermakna langit. Siapa lagi jika bukan Sky. Terbukti foto Yara memang tengah menatap ke depan, bukan mengadah ke atas 'langit' yang sesungguhnya.


Dari rasa terkejut, beralih jadi rasa penasaran yang semakin menjadi-jadi. Juna ingin tahu sejauh mana hubungan keduanya kini.


Juna pun kembali meraih ponsel dan sigap mencari Instagram milik Sky. Kiranya apa yang di posting pria itu dalam beberapa hari terakhir.


"Sial, IG nya di privat," gumam Juna yang kini malah semakin penasaran. Tidak mungkin dia memfollow IG milik Sky, kan? Tentu saja gengsi, pikirnya.


Untuk memuaskan rasa ingin tahunya, Juna membuat sebuah akun fake dan membeli followers kilat saat itu juga--semata-mata agar Sky tidak mencurigai akun bod0ng nya-- jika nanti melihat followersnya yang masih Nol.


Menunggu beberapa saat, akhirnya Juna memilih untuk kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia menunggu sampai malam tiba--dimana nantinya mungkin Sky sudah mengkonfirmasi akunnya yang ingin mengikuti laman Instagram milik pria itu.


...~~~...


Jadi stalker bo dong memang jalan ninja yang dipilih Juna untuk tau postingan terakhir Sky dengan cepat.

__ADS_1


Pria itu tersenyum puas saat akhirnya Sky sudah dapat ia lihat postingannya sekarang.


Jika melihat postingan milik Yara sudah membuat Juna kesal, melihat postingan Sky justru lebih gawat lagi, karena itu justru membuat emosi Juna serasa meletup-letup.


Jika Yara masih memakai istilah atau kata ganti untuk menyamarkan kebersamaannya dengan Sky. Lain halnya dengan yang dilakukan pria itu, sebab Sky justru memposting sebaliknya. Dia lebih frontal dan terang-terangan.


Bagaimana Juna tidak mencak-mencak, postingan terakhir Sky adalah sebuah foto yang menyertakan keterangan tempat sekaligus.


Sky tengah berada di Pink Beach, Nusa Tenggara Timur. Dan itu bersama Yara.


Meski wajah Yara sengaja ditutupi oleh sebuah emoticon love, tentu Juna sangat bisa menebak jika itu adalah mantan istrinya.


Beberapa foto lainnya juga memperlihatkan seorang wanita yang difoto dari sisi samping. Kendati wajahnya tidak terlalu jelas karena angle yang seolah sengaja diambil candid, tapi Juna hafal luar kepala siapa pemilik tubuh ramping itu.


"Jadi, hubungan mereka udah sejauh itu?" gumam Juna.


Juna lupa, jika ada sebuah istilah yang mengatakan bahwa,


"Semakin kamu mencari tau, dsn semakin banyak yang kamu ketahui, maka bersiaplah untuk sakit hati."


Dan itulah yang sekarang Juna rasakan. Sakit hati. Ya, dia merasa sangat sesak didalam dirinya sendiri. Entah perasaan macam apa ini, yang jelas Juna merasa sangat menyesal telah mencari tau lebih banyak.


"Tidak mencari tau terkadang lebih baik, ketimbang banyak mengetahui tetapi berujung sakit hati."


Kata-kata semacam itu, layak disematkan untuk seorang Juna sekarang.


(Yeah, poor Juna. Ada yang mau meluk Juna? Atau justru mau kasih ultimatum dan ceramah di hari Minggu?)


Bersambung ....


****


Dukung ayo dukung😅 Othor akan up lagi nanti. 2 Bab lagi akan menyusul ya🥰 Jadi, tinggalkan jejak. Monggo, yang mau hujat Juna dipersilahkan. Tapi ingat, jangan tekan bintang satu yah gaes.✌️

__ADS_1


Buat yang udah pernah tekan bintang, boleh dong kita rating ulang. Jadi, tekan bintang 5 nya lagi yah, biar novel ini kembali ke rate 5. Karena jujur aja, vote, hadiah, like, komentar, bintang, serta apapun bentuk dukungan kalian itu sangat mempengaruhi mood othor untuk nulis. Othor gak nolak di kritik, justru berterima kasih jika ada yang mau kasih masukan dan saran. Tentunya yang memotivasi serta membangun semangat dan jangan yang buat mental jadi down. Terima kasih ya semua. Moga kita sehat selalu dan dipermudah segala urusannya...🥰🙏


__ADS_2