
Hari terakhir di Bali, mereka semua dibebaskan untuk menuju tujuan masing-masing. Ada yang mengunjungi rumah sanak saudara yang kebetulan berada disana. Ada pula yang memilih untuk jalan-jalan dan melihat Pura dengan unsur Hindu Bali yang sangat kental di pulau tersebut. Beberapa diantaranya adalah Pura Uluwatu yang menawarkan pemandangan memukau, juga Pura Tanah Lot. Selain itu adapula Garuda Wisnu Kencana yang tak kalah megahnya.
Yara pun turut menikmati hari liburan ketiganya itu. Beruntung kondisi dan keadaan tubuhnya sudah membaik.
Ia dan Juna ikut dengan rombongan teman-teman yang akan mengunjungi Pura.
Juna tampak antusias, Yara sedikit lega karena hari ini suaminya mau menikmati liburan bersama-sama dengannya.
PURA ULUWATU
PURA TANAH LOT
GARUDA WISNU KENCANA
"Ra, besok kita pulang naik pesawat aja ya, gak usah bareng temen-temen kamu."
Yara cukup terkejut mendengar pernyataan suaminya. Ia mengerutkan dahi seolah ingin mendengar penjelasan Juna lebih lanjut. Bukan tanpa alasan jika Yara merasa keheranan, tidak biasanya Juna mau mengeluarkan biaya untuk dirinya juga.
"Kalau kita ikutan naik bus, entar sampai dirumah kita bakal kecapekan, kan? Kamu juga baru sembuh, aku gak mau kamu gak enak badan lagi gara-gara kelelahan."
"Mas yakin? Memangnya Mas punya uang untuk biaya tiket pesawat kita berdua?"
"Adalah, kamu tenang aja. Yang penting kita cepat sampai dirumah. Lusa juga aku udah masuk kerja jadi jangan sampai kita berdua kelelahan lagi.
"Ya udah, kalau menurut Mas begitu aku nurut aja. Ntar aku bilang sama Diandra dan yang lain kalau kita pulang naik pesawat aja."
"Oke, nanti aku pesan tiketnya."
Akhirnya mereka pun kembali menikmati suasana jalan-jalan itu setelah menyepakati soal kepulangan dengan pesawat.
Dilain sisi, tentu ada Sky yang berkali-kali menahan perasaan melihat kebersamaan Juna dan Yara hari ini. Ingin rasanya ia menarik Yara kesisinya agar wanita itu tidak terus berada didekat Juna.
Tapi, sekali lagi Sky menahan diri yang sudah ingin meledak. Bagaimanapun disini, ia lah yang menjadi orang ketiga dalam rumah tangga Yara dan Juna. Ia harus sadar diri dimana posisinya.
"Sky?"
Pria itu menoleh dan mendapati Diandra yang memanggilnya. Sky tahu gadis ini tertarik padanya. Feelingnya bisa menangkap gelagat itu, tapi Sky diam saja tidak menggubris panggilan Diandra, seolah ia tak pernah mendengarnya.
"Lu dipanggil Dian, Sky. Nyahut lah." Ilyas menyenggol lengan Sky, saat itu juga Sky memutar bola matanya.
"Kenapa, Di?"
"Bentar lagi kita-kita mau liat pertunjukan tari Kecak. kamu ikut, kan?"
"Oh, maaf, aku udah ada rencana sendiri."
"Mau kemana?"
"Level 21."
"Ke mall? Ngapain?" tanya Diandra kepo.
__ADS_1
"Iya, ada yang mau di beli." Sky menjawab sekenanya, ia tidak terlalu senang meladeni Diandra. Bukan apa-apa, ia tidak mau memberi harapan jika nantinya gadis itu memang berharap lebih padanya. Lebih baik ia cuek sejak awal.
"Aku.... ikut kamu boleh?"
Sky terkesiap mendengar kalimat Diandra kali ini.
"Kebetulan ada yang mau aku beli juga, buat acara dinner nanti malam. Temen-teman pada mau liat Tari Kecak, terus ada yang mau ke Rock Bar. Aku kayaknya lebih tertarik ke Mall, deh."
"Udah, ikut aja sama Sky sekalian." Ilyas dan Rico menimpali dengan serempak. Sky sampai memelototi keduanya.
"Iya, boleh ya, Sky?"
"Ajak yang lain. Aku gak bisa ajak kamu." Sky menolak tegas tanpa peduli bagaimana perasaan Diandra yang ditolak mentah-mentah. Setelah mengucapkan itu, Sky berlalu dari tempatnya. Ia juga tidak bisa menyaksikan lebih lama lagi kebersamaan Yara dan Juna, ada baiknya ia memang segera angkat kaki.
"Sky!" Ilyas mengejar pria itu sambil menepuk pundaknya.
"Hmm?" sahut Sky pada rekannya itu.
"Lu kenapa, sih? Lu tau kan, kalau Dian itu lagi nyoba deketin lu? Hahaha. Kenapa lu tolak? Emang lu tertariknya yang kayak gimana lagi, coba?"
Ingin rasanya Sky menjawab yang seperti Yara, tapi itu tidak mungkin ia lakukan. Entahlah, pertanyaan Ilyas justru semakin membuat Sky ingin segera pergi.
"Yakin lu gak mau coba deketin? Dian udah jadi model papan atas juga. Heran gua ama lu, yang sekelas Diandra aja lu tolak mentah-mentah."
Sky berdecak lidah menunjukkan ketidaksukaannya dengan kalimat Ilyas.
"Atau, lu sukanya yang kayak...." Ilyas menggantung kalimatnya, membuat Sky menggeleng samar.
"Kayak Fera yang tomboi gitu? Atau kayak Rina yang nakal, hah?" Ilyas menaik-naikkan alisnya menggoda Sky. Seketika itu juga Sky benar-benar beranjak meninggalkan sang teman.
"Sky! Gua belum selesai ngomong!" Ilyas memekik namun hal itu tidak menghentikan langkah Sky.
Diandra sendiri, hanya bisa menatap kepergian Sky dengan perasaan yang campur aduk. Jelas sekali Sky menolaknya tanpa tedeng aling-aling. Ia sampai mendengkus keras. Kesal, tentu saja.
"Sabar, Sky kan emang gitu orangnya. Dari dulu gak berubah." Rico mencoba menenangkan Diandra yang tampak kesal itu.
"Emang dia sukanya yang gimana sih?"
Rico mengendikkan bahu, sementara Diandra langsung menatap kearah dimana Ayara dan Juna sedang bergandengan tangan.
"Apa aku tanya Yara aja, ya? Dia pasti tau seleranya Sky kayak gimana." Diandra bermonolog sambil berlalu.
"Ye, Aneh. Malah mau nanya sama mantannya pula. Siapa tau seleranya Sky ya memang kayak si Yara. Dian... Dian..." Rico berujar sendiri setelah kepergian Diandra.
****
Sore harinya, hampir separuh dari alumni ikut menikmati suasana pemandangan matahari terbenam sembari melihat pertunjukan tari kecak api yang berlangsung di Pura Uluwatu.
Hari ini adalah hari terakhir kebersamaan mereka semua jadi Yara benar-benar ingin menjalin keakraban dengan teman-temannya yang lain.
Saat Juna beranjak dari sisi Yara, barulah Rina berani menyapa wanita itu. Sebab, sejak tadi ia seakan tidak punya kesempatan untuk bicara pada sang teman. Bagaimanapun, Rina sungkan dengan Juna sehingga ia menunggu saat yang tepat agar bisa kembali membicarakan masalahnya pada Yara.
"Ra? Suami kamu kemana?"
"Lagi nelpon. Disini berisik, gak denger katanya."
"Oh." Rina manggut-manggut. "Ehm, gimana, Ra? Kamu udah bicara sama Sky soal video aku?"
__ADS_1
Yara mengangguk. "Udah," jawabnya.
"Sky mau hapus videonya kan?"
Yara ingin sekali jujur pada Rina bahwa video itu tidak pernah ada. Tapi, Yara juga takut jika Rina tidak dalam posisi tersudut-- maka wanita ini akan membeberkan mengenai ia dan Sky pada teman-teman yang lain. Yara jadi serba salah.
"Sky enggak mau hapus." Yara terpaksa berdusta, ia juga tidak mau ambil resiko. Sky juga sudah mewanti-wantinya mengenai hal ini.
"Yah, kok gak mau. Harusnya dia mau kalau kamu yang minta kan?"
"Aku udah coba, Rin. Tapi Sky bilang gak mau hapus."
"Bujuk lagi dong, Ra. Aku takut videonya nyebar."
"Gak akan." Yara berujar yakin. "Kalau kamu bisa jaga mulut, pasti Sky gak bakal sebarin. Aku yang bakal menjamin hal itu," ujarnya.
"Tapi, Ra? Tetap aja aku gak mau video aku disimpan sama Sky. Aku malu."
Ingin rasanya Yara memarahi temannya ini. Saat seperti ini Rina baru merasa malu, tapi saat melakukannya tanpa tahu tempat, Rina tidak ingat soal hal itu.
"Aku juga bingung harus gimana, Rin. Aku udah coba, tapi aku kan udah bilang, kalau aku gak janji Sky mau nurutin hal itu."
Rina menghela nafas panjang. "Jadi aku harus gimana dong?" tanyanya frustrasi.
"Tutup mulut aja, omongan Sky bisa dipegang kok. Aku jamin."
"Hmm..." Rina akhirnya berlalu dari samping Yara, bersamaan dengan itu Juna juga kembali ke posisinya semula.
"Siapa yang telepon, Mas?"
"Ini... rekan join aku untuk bisnis konveksi."
"Oh, emang ada masalah?"
"Enggak, sepulang dari Bali, aku diajakin ketemu sama dia."
"Semoga sukses bisnis kamu ya, Mas. Semuanya berjalan lancar dan juga... kamu harus hati-hati dalam menjalankannya."
Juna tersenyum miring. "Tenang aja, Sayang. Semuanya udah aku atur kok. Kamu gak perlu sangsi sama kemampuan aku."
Yara mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Juna yang terkesan pongah.
"Emang rekan bisnis kamu ini siapa, Mas? Apa aku juga kenal?"
"Kamu gak kenal, Ra. Dia ini temen dari temennya aku. Aku dikenalin sama Rudi."
"Orangnya bisa dipercaya, kan?"
"Pasti lah, Ra. Kalo enggak, mana mungkin aku mau join sama dia."
Meski dihati Yara ada keraguan, tapi ia berusaha untuk menghargai keputusan suaminya. Tetapi, jika sampai Juna membohonginya kali ini, Yara tidak akan diam begitu saja. Ia memberi waktu dan toleransi pada Juna sebab ia tahu sebuah pernikahan harus dilandasi dengan kepercayaan. Maka dari itu, sampai saat ini Yara masih berusaha percaya pada semua ucapan sang suami-- meski terkadang ia juga merasakan kejanggalan.
Bersambung ....
****
Nanti othor up lagi, tapi kasih vote Senin ya ke novel ini🙏🙏
__ADS_1
jangan lupa tinggalkan komentar, like dan hadiah❤️❤️❤️❤️