
Kabar mengenai kepergian Shanum untuk selama-lamanya itu, telah sampai ke telinga Juna dan kedua orangtuanya yang baru saja menginjakkan kaki di kediaman mereka.
Pak Bayu sampai kehilangan kata-kata, sementara istrinya turut menyalahkan Juna.
"Seharusnya tadi kita menjenguk Shanum dulu, setidaknya, meski yang dia lahirkan adalah anak Anton, tapi kita kan sudah terlanjur disana, gak ada salahnya kalau tadi kita melihat dia dan bayinya."
Wanita itu berbicara dengan raut yang sendu, tak dapat dipungkiri jika kabar meninggalnya Shanum ikut membuatnya sedih karena hal ini mengusik jiwa kemanusiaannya.
Juna mencengkram kepalanya sendiri, entahlah, ia juga ingin menangis sekarang. Terlebih, mengingat perbuatannya yang kurang menyenangkan di akhir hidup Shanum.
"Bantulah Anton mengurus kepulangan jenazahnya. Kalau perlu, kamu juga ikut mengurus semua keperluan di rumah duka," timpal Pak Bayu menyarankan putranya.
Juna menggeleng lemah. "Aku gak tau apa aku bisa melakukan semua itu atau enggak, Pa. Karena statusku bukan siapa-siapanya Shanum. Aku gak berhak untuk hal itu," paparnya lesu.
"Setidaknya, kamu menunjukkan itikad baik dan rasa belasungkawa."
Juna hanya diam, tak lama dia bangkit dari duduknya dan berjalan lesu menuju letak kamarnya sendiri.
Sampai di kamarnya, Juna meraih ponsel dan membuka galeri yang berisikan foto-foto Shanum. Semua foto itu dia simpan dalam satu file yang tersembunyi---selama ini---karena dulunya dia takut Yara sampai menemukannya.
Juna menatapi wajah ceria Shanum disana, kebanyakan fotonya sedang tersenyum ke arah kamera dan memeluk leher Juna dengan mesra.
"Maafin aku, Num..." Lelaki itu terisak, sesak menghantam relung hatinya yang terdalam. Mau bagaimanapun, ia pernah melewati banyak hari bersama Shanum. Tidak bisa dipungkiri jika Wanita itu adalah salah satu orang terdekat dalam hidupnya. Dan ditinggalkan oleh orang terdekat rasanya tentu sangat menyesakkan jiwa.
"Maaf, Num. Aku banyak salah sama kamu," akuinya berdialog sendiri-- sembari menatap foto Shanum dan mengelusnya.
"Terlepas dari kesalahanku sama kamu, aku sayang sama kamu, Num. Aku nyesel udah bersikap kurang baik sama kamu akhir-akhir ini."
Airmata Juna menetes tanpa bisa dihentikan, ia merasa sangat tidak beruntung. Ditinggalkan oleh Yara dan sekarang ditinggalkan lagi oleh Shanum untuk selama-lamanya.
Kembali Juna teringat akan karma dan hukuman timbal balik untuk perbuatannya di masa lalu. Entah apa lagi hukuman yang akan diterimanya setelah ini.
Mungkin ini salah satu kejadian yang dapat menohok hidupnya, peringatan keras dari yang maha kuasa. Mengingatkannya bahwa semua yang pernah dia raih, serta semua yang pernah dia dapatkan--- akan tiba saatnya untuk diambil sewaktu-waktu dan tanpa peringatan lebih dulu.
Semuanya tak bersisa dan tanpa bekas. Seperti kematian Shanum yang tidak menyisakan apa-apa baginya. Bahkan putri yang dilahirkan Shanum juga bukan darah dagingnya. Yang tertinggal hanyalah bayang kenangan serta dosa-- yang dulu ia rasa sangat indah saat dilakukan.
...~~~...
Plak!!
__ADS_1
Sebuah tamparan keras diterima Anton hari ini. Itu adalah kelakuan Sharla, kakak dari Shanum.
Anton tidak membalas kelakuan kakak iparnya, seolah memang siap untuk disalahkan.
"Aku gak nyangka, selama empat bulan ini Shanum udah gak tinggal sama kamu. Kamu usir dia dalam keadaan hamil. Dimana hati nurani kamu, Anton?"
Anton diam, dia tidak mau membuka aib mendiang Shanum. Anton tau Sharla tidak mengetahui jika Shanum yang telah berkhianat. Jadi, selama ini Shanum tidak bercerita apapun pada kakak kandungnya.
Anton bukan tidak mau membela diri, tapi dia memang tau letak kesalahannya. Dan sekali lagi, Anton tidak mau membuka kesalahan Shanum lagi karena itu cukup menyakitkan bagi dia untuk menceritakannya.
"Sekarang Shanum udah gak ada. Shanum udah meninggal, kamu puas, kan?" sinis Sharla.
Anton hanya menundukkan kepala dalam-dalam. Entahlah, ia tak tau harus menjawab apa pada Sharla.
"Maaf, mbak. Aku dan Shanum punya permasalahan rumah tangga sendiri yang mungkin Shanum enggak menceritakannya sama Mbak."
Mendengar itu, emosi Sharla kembali naik. Ia memang tak berhak tau perihal rumah tangga adiknya, tapi ia juga pengganti orangtua bagi Shanum. Haruskah ia hanya diberitahu ketika adiknya sudah tidak bernyawa?
"Mbak kecewa sama kamu Anton. Seharusnya kamu menjaga Shanum jika kamu benar-benar suaminya."
Sharla mendengkus dengan perasaannya yang tak habis pikir atas kelakuan Anton. Anton diam tak lagi menjawab, membuat Sharla semakin geram karenanya.
Anton ingin sekali menyahut, tapi ia tidak mau berdebat didepan ruang jenazah dimana Shanum berada sekarang. Ia ingin mengurus kepulangan Shanum dengan baik dan layak, tetapi karena merasa Shanum masih memiliki kakak, makanya dia berinisiatif menghubungi Sharla. Tapi, Anton tidak menyangka reaksi Sharla akan semarah ini meski Anton telah siap untuk disalahkan.
"Kenapa kamu diam? Jadi benar kamu berselingkuh dibelakang adikku?" tanya Sharla yang sekarang seakan menantang Anton untuk menjawabnya.
"Itu benar, Mbak!"
Tiba-tiba seseorang menyela pembicaraan Sharla dan Anton disana, membuat keduanya sontak melihat ke arah seseorang itu.
"Memang benar yang mbak katakan bahwa ada perselingkuhan, tapi itu dilakukan oleh mbak Shanum. Dia yang berselingkuh dibelakang Mas Anton."
Itu adalah Yara yang datang kesana bersama dengan Sky. Sejak tadi dia sudah mendengar dan melihat perdebatan antara Sharla dan Anton. Awalnya dia tak mau ikut campur, Yara merasa Anton bisa menyelesaikan hal ini sendiri. Tapi, Yara tidak terima ketika Sharla justru menuduh Anton yang berselingkuh. Sehingga Yara memutuskan untuk menjawab rasa keingintahuan Sharla dengan sebuah kenyataan.
"Apa maksud kamu, Yara?" Kini Sharla menatap Yara tajam.
Yara tersenyum kecut. "Sebenarnya gak etis ya, aku buka aib orang yang udah meninggal. Tapi, aku gak terima Mbak menyalahkan mas Anton, karena disini Mas Anton lah yang paling banyak tersakiti," terangnya.
"Dek..." Anton menatap Yara seolah mau menghentikan kalimat adiknya, tapi Yara menggeleng tegas.
__ADS_1
"Jadi maksud kamu, Shanum yang berselingkuh?" tanya Sharla dengan senyum yang seakan tak percaya.
"Iya," kata Yara lantang. "Dan kenapa mbak Shanum keluar dari rumah Mas Anton, itu karena pilihannya sendiri. Mas Anton mengusir mbak Shanum karena mbak Shanum sendiri yang tidak memilih Mas Anton. Jadi aku rasa itu wajar, ya," katanya.
Sharla geleng-geleng kepala. Ia tak percaya jika adiknya melakukan hal demikian. Tentu saja.
"Mbak Sharla harusnya berterima kasih, sujud syukur, karena mas Anton masih mau mengurusi jenazah mbak Shanum. Gak perlu lah kita debat disini, gak etis," kata Yara yang sudah terbiasa jutek.
Sky yang mendengar dan menyaksikan itu, hanya bisa diam melihat perdebatan Yara dan Sharla, sebab ia merasa tak berhak untuk mencampuri. Tapi jika Sharla sampai menyakiti Yara dengan sentuhan fisik, barulah ia akan turun tangan, pikirnya.
"Udahlah, Yara. Kamu tau apa? Jelas kamu membela Anton karena dia kakakmu," kata Sharla lagi, sambil bersungut-sungut.
"Astaga, Mbak. Aku membela mas Anton bukan semata-mata karena dia adalah kakakku. Tapi aku bicara kenyataan, kalau mbak gak percaya, mbak bisa tanyakan sama selingkuhannya mbak Shanum, orangnya masih hidup, kok!" kata Yara sangking kesalnya.
Sharla melirik sinis, sekarang perhatiannya justru beralih pada pria tampan yang berdiri disamping Yara.
"Mana suamimu? Kenapa bersama pria lain? Atau jangan-jangan kamu juga berselingkuh ya. Sama aja kelakuanmu sama Anton, Yara!"
Sky terkekeh miris mendengarnya, tapi dia tak mau menjawab, biar saja, dia mau mendengar apa jawaban Yara kali ini.
"Lah, ya ini suamiku, Mbak," kata Yara yang kini menggenggam jemari Sky tanpa ragu. "Tapi, kalau yang mbak maksud sebagai suamiku adalah Mas Juna, maaf, aku udah gak sama dia lagi sejak dia berselingkuh sama Mbak Shanum," katanya tenang, tapi cukup membuat Sharla membulatkan mata lebar-lebar.
"Yara? Ini... maksudnya apa?"
Anton menghela nafas panjang. "Udahlah, gak baik kita berdebat disini. Kalau kalian masih mau lanjut, terserah. Aku mau ngurus kepulangan jenazah Shanum dulu," katanya angkat suara.
Anton pun beranjak meninggalkan koridor ruang jenazah itu. Meninggalkan Yara, Sky dan Sharla--yang masih dengan pemikiran syok tak percaya.
"Mbak, kan udah aku bilang tadi, selingkuhannya mbak Shanum masih hidup, kok. Ya itu, Mas Juna orangnya. Tanya aja sama dia kalau mbak gak percaya sama kata-kataku ini."
Yara turut meninggalkan Sharla disana, ia menarik tangan Sky agar mereka segera beranjak dan tidak perlu melihat lagi bagaimana reaksi kakak kandung Shanum tersebut.
Bersambung ....
*****
Next, 2 bab lagi untuk hari ini yaπππ
Ayo, ayo, tinggalkan jejak hari iniππππ
__ADS_1