
Mereka akhirnya pergi dan sampai di sebuah restoran tepi danau.
Cuaca cukup teduh saat mereka tiba disana. Air danau terlihat tenang. Begitupun angin sepoi-sepoi yang terasa berhembus pelan. Aroma kayu bakau yang khas mulai terhidu di indera penciuman.
"Kamu suka gak keadaan disini?" tanya Sky pada Yara yang terus menatapi air danau yang tenang setelah makan siang mereka berakhir.
Yara mengangguk. "Makasih ya, udah ajak aku kesini," katanya.
"Hmm, kamu tau kenapa aku ajak kamu kesini?" Sky pun bertanya lagi.
"Kenapa?"
"Karena saat melihat danau, selalu mengingatkan aku sama kamu..."
"Hah? Kok bisa?"
"Danau itu tenang, sama seperti kamu. Kamu pun selalu tenang dalam menghadapi segalanya. Kamu mampu meredam dan memendam masalah kamu apapun keadaannya."
Yara tertegun mendengar penjelasan Sky. Apa ia dia begitu? Ia sendiri meragukannya.
".... air didalam danau juga tetap pada tempatnya, tidak mengalir kemana-mana. Itu juga sama seperti kamu. Tepatnya sama dengan perasaan kamu, yang juga tetap dan gak kemana-mana, tetap mencintai aku."
"Sky..." Yara menepuk punggung tangan Sky. Sky kembali menarik sudut bibirnya saat melihat Yara yang berniat menghentikan kalimatnya.
Kenapa rasa percaya diri pria ini sangat tinggi? pikir Yara. Namun, mendengar itu, Yara pun jadi ikut tersenyum, sama seperti yang saat ini Sky lakukan.
"Dan satu lagi, tidak ada yang tau seberapa dalamnya danau itu. Sama seperti aku yang juga gak pernah tau seperti apa kedalaman hati kamu. Aku memang bisa menebak kalau kamu masih mencintai aku, tapi sesungguhnya, hanya diri kamu sendiri yang paling mengetahui jawaban yang sebenarnya," imbuh Sky mengakhiri kalimatnya tentang persamaan Yara dengan Danau yang saat ini mereka tatapi.
"Sky, untuk saat ini jangan dulu bicarain soal perasaan..."
"Kenapa?" tanya Sky sambil merapikan anak-anak rambut Yara yang beterbangan diterpa angin. "Apa karena perasaan kamu sedang terluka sekarang, akibat perbuatan Juna?" tanyanya kemudian.
"Bukan gitu, aku---"
"Kemarin aku udah bilang kan, aku rela meski jadi pelampiasan kamu. Biarin aku yang ngobatin luka dihati kamu itu, biarin itu jadi tugas aku, Ayara..." potong Sky.
Sekali lagi Yara tertegun. Terkadang, Yara tidak bisa menebak isi kepala Sky yang cerdas namun isinya selalu dan melulu hanya tentang Yara. Pria ini seperti tidak ada pembahasan lainnya saja.
"Kalau hari ini kamu mau kembali bilang dan minta aku buat lepasin kamu, lupain kamu, jangan pernah nunggu kamu lagi, jawabannya tetap satu, Ra.... Enggak! ENGGAK!" tandas Sky menekankan kata-katanya.
"Sky... kamu tuh---- Ahh!!"
Selalu, pria ini selalu saja membuat Yara kehabisan kata-kata. Entah kenapa Yara ingin sekali memeluknya. Dia, yang selalu berdiri di posisi paling depan untuk melindungi Yara dan berbuat nekat tanpa pikir panjang demi mendapatkan Yara yang bukanlah siapa-siapa, bahkan bisa dikatakan tidak layak sama sekali untuk mendampingi seorang Sky Lazuardi.
Sky terkejut sekaligus kesenangan saat Yara dengan suka rela memeluk tubuhnya. Ah, mimpi apa dia semalam?
"Makasih ya, kamu selalu ada buat aku. Tapi, kalau boleh jujur, kamu terlalu telat datang lagi di hidup aku."
"Hah?" Sky menangkup pipi Yara tanpa berniat melepaskan tangan Yara yang sudah melingkupi pinggangnya.
"Seharusnya kamu datang sebelum aku menikah dengan Mas Juna, Sky. Jadi, aku gak ngerasa insecure pas ketemu kamu lagi dan aku udah jadi janda."
Sky terkekeh, kini ia membalas tindakan Yara dengan ikut mendekapnya.
__ADS_1
"Gak ada kata terlambat buat kita. Apapun keadaan kamu, yang penting kamu adalah orang yang sama dengan Yara yang aku kenal dulu."
"Sky, gimana aku gak terus mencintai kamu sejak dulu sampai saat ini? Kamu selalu memahami aku. Kamu selalu ada buat aku dan kamu selalu buat aku meleleh seperti es krim yang mencair," batin Yara.
"Kamu tahu gak, hari ini kamu terlalu banyak ngomong." Yara mendongak demi bisa menatap pria tinggi dihadapannya.
"Oh ya? Aku cuma bisa gitu kalau sama kamu," akui Sky sembari menatap lekat kedalam netra Yara.
Sky kembali menangkup pipi Yara, membuat wajah wanita itu benar-benar mendongak sempurna kearahnya. Yang membuat Sky kembali tersenyum adalah kali ini Yara tampak pasrah begitu saja.
"Ra?"
"Hmm?"
"Nikah yuk!"
Seketika itu juga Yara menepis tangan Sky yang berada di kiri- kanan pipinya.
"Kenapa? Apa aku salah ngomong?" Sky keheranan, tentu saja.
"Aku belum resmi pisah sama Mas Juna, Sky...."
"Kalau dia gak mau ceraikan kamu. Ya kamu aja yang nuntut dia ke pengadilan, kamu punya bukti, Sayang...."
"Sky, jangan panggil aku sayang..."
"Kenapa? Biarin..." cuek Sky. "Aku kan emang sayang kamu, Ra. Sayang banget malah," imbuhnya.
"Ya tapi aku masih istrinya Mas Juna."
"Debat sama kamu tuh emang gak mutu!" gerutu Yara.
"Gak mutu gimana, sih? Kan aku ngomongnya bener..."
"Gak mutu lah, orang aku selalu kalah..." Yara bersungut-sungut.
Sky terkekeh. "Makanya jangan ajak aku debat, kamu terima aja apapun yang aku lakukan."
Yara mendengkus tapi tak menyahuti lagi perihal pembahasan ini.
"Balik ke topik awal, ya... kalau Juna emang gak mau ngelepasin kamu, aku yang bakal nemuin dia."
Mata Yara langsung membulat sempurna. "Kamu? buat apa?" tanyanya syok.
"Ya aku bilang, kalau aku mau nikahin kamu, jadi dia harus ceraikan kamu, Ra."
"Jangan mulai deh, Sky. Kamu kalau gak aneh-aneh sehari aja, bisa?"
"Aneh-aneh gimana? Aku serius, duarius malah."
"Mas Juna kalau denger itu bisa ngamuk."
"Ya aku juga bisa ngamuk, emang dia aja yang bisa!"
__ADS_1
"Ah, pusing deh. Ayo pulang!" Yara menarik tangan Sky dan Sky mengikuti saja apa kemauan wanitanya ini.
Sesampai di mobil, Yara ingin memasang sabuk pengaman, tetapi Sky lebih dulu mengambil alih tugas itu.
"Sky? Udah?"
Sky justru tidak berkedip menatap Yara dari jarak dekat. Mengikuti nalurinya, Sky justru menurunkan tuas jok hingga posisi duduk Yara menjadi lebih turun seperti tengah berbaring.
"Sky---engh...."
Yara tidak dapat menolak serbuan ciuman Sky yang mengecupi bibirnya secara bertubi-tubi. Tanpa sadar, wanita itu malah ikut larut dalam kegiatan yang sama. Kini, Yara justru membalas perlakuan Sky padanya, hingga kabin mobil itu dipenuhi oleh suara ciuman mereka.
Sky membuka tiga kancing baju Yara secara perlahan, sebab ia tidak mau kejadian yang lalu terulang kembali hingga menyebabkan baju Yara menjadi rusak karena ulahnya.
"Sky, nanti dilihat orang...."
Sky diam tak menyahut, ia yakin kaca mobilnya gelap dan tidak ada yang dapat melihat kegiatannya bersama Yara dari luar kabin.
Yara mencoba berpikir keras tentang apa yang saat ini ia dan Sky lakukan. Jika ini dilanjutkan maka ia dan Juna tidak ada bedanya.
"Ayara...." Sky menatap Yara dengan pandangan yang sudah diliputi kabut ga i rah. Tatapannya seolah tengah meminta persetujuan Yara.
"Aku gak mau seperti Mas Juna, Sky."
"Dia gak akan ngelepasin kamu, Sayang...." kata Sky dengan suara yang berubah serak.
Inilah yang menyebabkan Sky tiba-tiba terdiam saat menelepon Yara sebelum mereka makan siang di danau tadi. Sebenarnya Sky sedang berpikir, Juna tak akan melepaskan Yara jika masih menganggap Yara istri yang baik. Sebaliknya, Juna juga harus dapat balasan yang sama, hingga mau tak mau dia akan melepaskan Yara yang juga telah mengkhianatinya. Begitulah pemikiran Sky.
"Jadi? Maksud kamu apa, Sky?"
Sky tidak mau menjawab Yara, biarlah pemikiran licik itu hanya ada dibenaknya saja.
Lambat laun, Yara yang tadinya protes mulai menerima perlakuan Sky karena naluri kewanitaannya tidak bisa menolak hal itu.
Namun, saat Yara mulai tergoda dan menginginkan lebih, Sky justru menghentikan kegiatan itu saat ia sudah merasa cukup.
Sky kembali mengancingkan blus yang Yara kenakan, sebab ia juga takut kebablasan.
Yara menatap Sky dengan tatapan yang bertanya-tanya. Pria ini melepaskannya setelah memberikan beberapa kissmark di dada Yara. Apa maksud Sky sebenarnya?
"Biarin Juna anggap kamu sama dengan dia, tapi cukup kita yang tau kalau perbuatan kita gak sejauh apa yang dia lakukan."
Yara menatap Sky keheranan. "Jadi, maksud kamu apa?" tanyanya. Yara yakin sekali Sky sedang menahan has rat nya mati-matian sekarang, tetapi pria itu juga tampak sengaja menghentikan kegiatannya sendiri. Ada apa?
"Udahlah, sekarang aku anter kamu pulang sebelum aku gak bisa ngontrol diri lagi."
"Sky?"
Sky mengecup puncak kepala Yara sekilas, kemudian kembali bersuara.
"Aku bakal ngelakuin lebih, kalau kita bener-bener udah menikah," putus Sky, membuat Yara akhirnya tersenyum lega.
Bersambung ...
__ADS_1
****