
"Cean!!!"
Pemuda itu menoleh pada seseorang yang berjalan cepat di belakang tubuhnya.
"Tungguin!" seru Aura lagi.
"Cepatlah," decak Cean malas. Aura selalu lambat, padahal mereka sudah bersiap untuk pergi ke sekolah dan takut terlambat.
"Aku sudah cepat, kamu yang langkahnya terlalu lebar," protes Aura.
Cean memutar bola mata. Dia tiba di mobil lebih dulu dan menunggu Aura yang berlarian ke arah kendaraan roda empat itu.
"Jalan, Pak!" ujar Aura pada sopir yang akan mengantarkan mereka ke sekolah, gadis itu terengah-engah karena menyusul langkah Cean dengan terburu-buru.
"Aku bahkan belum selesai sarapan," gerutu Aura setelah lebih dulu menghela nafas panjang untuk menetralkan degup jantungnya yang juga ikut berkejaran didalam sana.
"Aku gak mau terlambat," kata Cean realistis.
"Kenapa? Kamu pasti mau lihat anak baru itu, kan?"
Cean terkekeh karena ucapan Aura. "Siapa bilang?" ujarnya.
"Iya, kamu pacaran sama anak baru itu, kan? Ayo ngaku!"
"Gak."
Aura tersenyum mencibir. "Iya, sih. Kamu mana tertarik pacaran ya. Mungkin di kepala kamu itu cuma ada bahan-bahan kimia ataupun produk apa yang mau kamu amati selanjutnya."
"Hah? Kayak kamu tertarik aja soal pacaran."
Aura mengernyit pada Cean, bahkan dia memiringkan tubuhnya demi memasang wajah skeptis didepan Cean. "Emang enggak!" desisnya.
Cean langsung terbahak. "Makanya gak usah ngata-ngatain aku kalau kamu sendiri gak punya pacar sampai kita nyaris mau tamat SMA kayak gini," paparnya.
Aura memutar bola mata, kemudian terlintas sebuah ide di kepalanya.
"Tapi kamu itu cowok, Cean. Jangan samakan denganku. Coba lihat disekeliling kamu. Nah, Marko misalnya, udah berapa sih mantan pacarnya? Kamu jangan sampe gak tertarik sama cewek, ya?'
"Ya aku tertarik sama cewek. Aku masih normal," kata Cean lantang.
"Coba? Mana buktinya? Satu mantan aja gak punya." Padahal Aura pun sama, tapi bisa-bisanya dia mengejek Cean hanya karena saudarinya seorang laki-laki yang dia rasa lebih layak membuktikan ketimbang dirinya.
"Jadi kamu nantangin aku? Kalau aku bisa pacaran terus punya banyak mantan, gimana?"
"Coba aja!" kata Aura tertawa lirih.
"Hah? Oke, kalau aku bisa buktiin aku punya pacar, imbalannya kamu buatin desain terbaru untuk body lotion buatan aku ya. Ah, iya, kemasannya yang ramah lingkungan dan harus terjangkau dipasaran," tantang Cean.
"Heh?" Aura menaikkan sebelah alisnya. "Oke, siapa takut!" ujarnya sewot.
__ADS_1
...***...
Sejak hari itu, Cean mulai menebarkan pesonanya. Sebenarnya dia sudah tampan tanpa perlu bersikap berlebihan. Hanya saja, selama ini Cean terlalu cuek dan dingin dengan sekitar.
Ada seorang anak baru yang di selalu mencari perhatian Cean. Itulah yang dikatakan Aura tempo hari dan selalu menjadi bahan olokannya kepada Cean Anak baru itu sebenarnya cantik, tapi dia bukan tipe Cean sama sekali.
Entah kenapa Cean justru selalu ilfeel dekat dengan gadis yang agresif atau yang mengejar-ngejarnya lebih dulu.
Dia sendiri belum menemukan yang pas untuk dipacari. Tapi, saat si anak baru terus menerus mengikutinya seperti anak ayam, akhirnya Cean menyerah dan menerimanya.
Ini dia lakukan hanya semata-mata untuk menjawab tantangan Aura saja. Gadis itu bernama Fira. Dia begitu bangga menjadi pacar Cean yang pertama.
"Jadi ternyata bener kan kamu pacaran sama si anak baru?" tanya Aura, ucapannya ada nada terkejut sekaligus mencibir disaat bersamaan.
"Itu kan mau kamu. Kamu mau lihat aku pacaran kan?"
"Hahaha, aku cuma nantangin kamu. Taunya yang digebet malah tuh anak baru centil," kata Aura terkekeh miris.
"Lah, yang penting aku pacaran, kan?"
Aura mengendikkan bahu acuh tak acuh.
"Jangan banyak protes. Intinya aku udah ngelakuin dan ngebuktiin tantangan kamu. Mana desain kemasan barunya?"
Aura mendengkus sebal. Dia tau status Cean yang berpacaran ini sebenarnya hanya untuk mengambil keuntungan darinya, bukan semata-mata Cean serius dengan Fira.
Cean tersenyum puas, dengan begini Aura mengakui kekalahannya dalam pertandingan mereka yang entah apa maksudnya.
Setelah produk baru Cean mendapatkan desain produk dari Aura--sesuai dengan keinginannya--dia pun memutuskan hubungan dengan Fira seenak jidatnya. Toh, sejak awal dia memang hanya main-main.
Dari sanalah awal mula Cean suka bermain-main dengan banyak gadis. Mereka semua patah hati saat sedang sayang-sayangnya. Cean menganggap ini hiburan tersendiri dikala dia bosan dengan segala penelitiannya.
"Cean, kamu kenapa jadi begini sih?"
Cean mengendikkan bahu acuh tak acuh. "Kamu ini kenapa protes terus sih? Bukannya dulu kamu yang mau lihat aku pacaran? Sekarang udah terbukti aku normal, kan?" jawabnya datar.
"Ya iya, tapi gak semua cewek juga kamu jadiin selingan. Sampai Marsya temen aku juga kamu pacarin."
"Lho, mana aku tau. Justru aku baru tau sekarang kalau Marsya itu temen kamu. Lagian, gak ada larangan kan kalau aku pacarin temen kamu. Yang penting dia cewek, bukan cowok."
Aura sampai kesal sendiri melihat Cean, meski pada awalnya Aura yang memiliki ide untuk melihat saudaranya berpacaran, tapi dia tidak menyangka Cean akan menjadi-jadi seperti ini
Bayangkan saja, dalam sebulan mantan pacar Cean sudah terlalu banyak. Hampir semua gadis cantik disekolah pernah dia pacari. Aura sendiri takut Cean membuat mereka patah hati.
"Mereka bakal dendam sama kamu kalau kamu sakitin terus menerus!" cetus Aura pada suatu ketika.
"Dari awal, mereka udah tau resikonya kok. Dan mereka mau aja meski aku bilang aku udah pacaran sama yang lain."
"Dasar Playboy telat!" omel Aura.
__ADS_1
Aura merasa sekarang jika Cean bukan hanya meneliti bahan-bahan kimia, melainkan dia juga meneliti setiap gadis yang dipacarinya satu persatu. Astaga, pacaran dibuatnya jadi penelitian, begitulah pemikiran Aura yang makin hari makin dongkol terhadap ulah Cean.
"Cean, belajarlah untuk tidak bermain-main. Kemarin Karin kesini cari kamu. Terus siangnya Nasya juga kesini. Pacar kamu siapa sebenarnya? Kenapa semua cari-cari kamu."
Cean mengangkat kepala yang sebelumnya tertunduk, baru kali ini sang Mama memprotes kelakuannya. Mungkin karena para gadis itu yang nekat mencarinya ke rumah, Mamanya sampai mengomel, sudah sama seperti Aura saja.
"Karin itu pacar Cean, Ma. Nasya juga," akuinya terus terang.
Bukan hanya Yara yang melongo karena kejujuran Cean, tapi Sky pun ikut terbelalak tak percaya. Bahkan pemuda itu menyahutnya dengan sangat enteng.
"Terus, pas mereka cari kamu tadi, kamu kemana?"
"Aku kan keluar, Aura juga tau."
"Iya, kemana?"
"Jalan sama Gisel."
"Astaga..." Sky sampai menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Acara makan malam mereka hari ini jadi membahas tentang kelakuan Cean. Aura pun dengan senang hati membongkar semua nama gadis yang pernah Cean pacari dan dekat dengannya.
"Kamu pacari cewek satu sekolah?" marah Yara.
"Enggak, Ma. Gak satu sekolah juga," jawab Cean membela diri.
"Hampir," timpal Aura. "Pokonya yang cantik udah jadi mantannya semua, Ma."
"Cewek itu bukan objek penelitian Cean. Semua jangan kamu coba-coba kayak kamu lagi meneliti bahan-bahan pembuatan parfum."
"Ma, ini cuma hiburan biar kepala Cean enggak botak kayak Prof. Steward," jawab pemuda itu.
"Tapi mereka semua punya perasaan Cean. Kamu juga punya kakak perempuan, jangan mempermainkan mereka," kata Sky menengahi.
"Iya, Pa. Aku cuma belajar memahami setiap karakter cewek aja. Gak aku apa-apain juga jadi mereka tuh gak rugi."
"Gak rugi kamu bilang? Mereka itu pasti rugi hati dan buang-buang waktu jalin hubungan sama playboy kayak kamu," kata Aura.
"Ya, mereka yang mau. Aku gak maksa. Siapa suruh wajah aku tampan begini."
"Dih, masih aja muji diri kamus sendiri." Aura pura-pura mual dan ingin muntah membuat Yara dan Sky akhirnya terkekeh karena ulah anak gadis mereka itu.
...***...
Nah, ini awal mulanya Cean jadi ba-dung. Pada dasarnya dia suka meneliti jadi cewek-cewek pun mau diteliti sama dia.
Dah ya, liat kayak mana kisah percintaan Cean yang akhirnya jatuh cinta beneran sama cewek dan gak mau mempermainkan lagi. Baca kisahnya di TETANGGA MERESAHKAN.
🙏
__ADS_1