
Ini adalah hari kedua Sky menjalani perawatan di Rumah Sakit. Pria itu dinyatakan koma. Bahkan polisi yang ingin meminta keterangan terkait kecelakaan itu pun tidak bisa mendapatkan info apa-apa darinya.
Pihak kepolisian hanya bisa mencari bukti lewat CCTV jalan, serta saksi mata yang melintas di jalan Tol pada saat kejadian itu terjadi. Adapula rekaman amatir yang entah siapa yang menyebarkan pertama kali, namun itu semakin menghebohkan dunia maya atas kejadian lakalantas yang menimpa model Diandra Calista serta Arsitek ternama Sky Lazuardi.
Gosip-gosip miring mengenai keduanya juga semakin sering diberitakan. Status Diandra yang seorang janda semakin memperkuat praduga para khalayak. Hal itu juga turut membuat akun-akun serta beberapa orang yang ingin pansos semakin merajalela untuk membuat bahan berita di media pribadi mereka.
Kejadian ini juga turut membentuk oknum yang semakin memanaskan berita yang belum tentu kebenarannya itu.
Grep ...
Anton menarik ponsel dari genggaman Yara Dia tidak suka melihat adiknya larut dalam berita semacam itu. Itu akan semakin membuat mental Yara semakin down.
"Mas? Kok hp aku diambil, sih? Aku cuma mau mengalihkan pikiran aku sebentar dengan main sosmed," protes Yara atas tindakan sang Kakak.
"Udahlah, Dek. Buka sosmed itu justru buat kamu makin sakit hati nanti. Untuk sementara stop main hp, bisa kan?"
Yara menghela nafas pendek-pendek, mencoba menekan kesabaran hatinya.
"Nih, Mbak-mu bawain makanan. Jangan lupa makan." Anton mengangsurkan tas bekal kepada Yara sesuai amanat istrinya.
"Makasih ya, Mas. Bilangin sama Mbak Nadine juga."
"Hmm," sahut Anton bergumam. "Sky udah boleh di jenguk?" tanyanya kemudian.
Yara mengangguk. "Tapi, masih ada Mama di dalam," katanya merujuk ruang yang kini ditempati Sky. Suaminya itu kini dipindahkan ke ruang ICU dan tidak bisa sembarangan di kunjungi.
"Ya udah, Mas nunggu Tante Indri keluar dulu deh, baru jenguk Sky."
Anton memilih duduk disebelah kursi tunggu yang ditempati Yara. Diam-diam dia memperhatikan sang adik.
"Mumpung ada Mas sama Mertua kamu disini, ayo kamu makan dulu, Dek."
"Aku gak selera, Mas. Tapi nanti aku makan, kok."
"Kamu mau lebih kuat, kan? Maka dari itu kamu harus makan. Kamu gak mau ikutan sakit, kan?"
Dengan perlahan Yara akhirnya membuka bekal yang dibawakan Anton. Disana ada sup ikan, sayuran dan sambal. Ada buah pir dan apel yang sudah dipotong-potong, juga ada sekotak susu full krim.
__ADS_1
Bekal itu tampak dibuat dengan sungguh-sungguh. Yara merasa terharu dengan perhatian kakak iparnya. Meskipun Nadine sedang hamil tua, tapi dia tetap memperhatikan Yara.
"Urusan Aura dan Cean, jangan kamu pikirin ya. Mereka aman sama Mas."
Syukurnya sekarang Anton hanya bekerja memantau bengkel dan cafe miliknya, hal itu membuatnya leluasa untuk datang kesana kapan saja. Karena keadaan ini pula, dia yang harus bertindak aktif untuk mengantar anak-anak Yara ke sekolah serta menjemputnya.
Yara mengangguk atas ucapan sang kakak. Untuk saat ini, jika dia rindu pada anak-anaknya, dia hanya bisa melakukan panggilan video karena tidak bisa meninggalkan Rumah Sakit barang sedetikpun, dia takut sesuatu terjadi pada suaminya. Entahlah, pikiran buruk selalu menghantuinya setelah melihat kondisi Sky yang seperti saat ini.
Yara mulai melahap makanannya. Meski tak berselera tapi dia harus kuat untuk menghadapi segala cobaan dan ujian hidup yang sudah diberikan kepadanya.
Terjadi hening cukup lama, sepertinya Anton hendak bicara namun dia mau memastikan jika Yara sudah makan dengan baik, setelah itu barulah dia akan mengutarakan isi kepalanya pada sang adik.
"Kamu ... jangan percaya sama gosip-gosip itu ya, Ra."
Ucapan Anton menghentikan pergerakan Yara yang ingin membereskan tempat bekal ditangannya.
"Kenapa aku gak boleh percaya sama gosip-gosip itu? Apa menurut Mas itu cuma gosip biasa? Sky terbukti kecelakaan bersama Diandra, kan?" Ada senyum getir yang Yara sunggingkan setelah kalimatnya selesai.
"Dek, Mas tau Sky seperti apa. Dia sangat mencintai kamu. Seharusnya kamu juga bisa mempercayainya."
"Aku udah coba, Mas. Tapi ..." Yara menjeda kalimatnya, merasa takut kebablasan membahas ini dan akan berpengaruh pada mood nya yang memang sudah kurang baik sejak beberapa hari terakhir. "udahlah, Mas. Untuk sekarang aku gak mau bahas ini. Aku bakal berusaha menutup mata dan telinga untuk kewarasanku sendiri," paparnya.
"Yara ..."
Suara itu mengalihkan pembicaraan Yara dan Anton, mereka mendapati Indri yang sudah keluar dari ruang ICU.
Anton gegas menggantikan Indri untuk menjenguk Sky disana sebelum jam besuk berakhir. Lagipula, Anton tau jika Indri dan Yara perlu bicara berdua terkait hal ini.
Yara dapat melihat wajah Indri yang sembab akibat kejadian yang menimpa Sky. Sebenarnya wajah Yara juga tak jauh berbeda, matanya bahkan membengkak karena terus menangis.
"Apa udah ada respon dari Sky, Ma?" tanya Yara berusaha baik-baik saja didepan mertuanya.
Indri menggeleng lemah. "Mama berharap, Tuhan lebih dulu mencabut nyawa Mama ketimbang Sky. Mama udah tua, jika boleh dibarter, mama mau sisa umur mama ditukar dengan kehidupan untuk Sky."
Yara kembali menangis. Ucapan mertuanya berhasil membuatnya kembali sesenggukan.
"Mama juga udah denger berita yang sekarang lagi dibahas hampir di semua infotainment ..." Indri tampak ragu melanjutkan kalimatnya, apalagi melihat Yara yang kini membuang pandangan ke arah lainnya.
__ADS_1
"... Mama harap kamu gak menelan gosip itu bulat-bulat, ya, Ra. Mama sangat tau gimana sayangnya Sky sama kamu dan keluarga kalian. Mama yakin, ini semua cuma fitnah. Dan soal Sky yang bisa satu mobil dengan Dian itu mungkin cuma kebetulan."
"Ma, aku lagi gak mau membahas hal ini. Aku cuma mau fokus sama kesembuhan Sky. Aku gak mau berita-berita ini membuat aku terpengaruh dan jadi istri yang durhaka karena gak berada disampingnya saat dia sakit. Soal Sky ada hubungan atau enggak sama Diandra, aku gak peduli, Ma. Bagi aku, saat ini aku masih istrinya Sky dan wajib bagi aku untuk terus merawat dia."
Indri terisak, dia merasa Yara benar-benar istri terbaik untuk putranya. Dalam hati, dia akan menyalahkan Sky habis-habisan jika sampai Sky benar-benar menyelingkuhi wanita cantik ini. Tapi tetap yang terpenting baginya adalah kesembuhan putranya. Jika Sky sudah sembuh, dia pasti akan menyidang anak itu, kalau perlu mentatar Sky agar tidak melakukan kesalahan yang sangat fatal. Begitulah isi kepala Indri saat ini.
Indri memeluk Yara demi saling memberikan kekuatan satu sama lain.
"Kamu jangan khawatir soal anak-anak, ya. Tiap hari Mama juga datang ke rumah Anton untuk lihat keadaan mereka, biar mereka gak ngerasa diabaikan."
"Makasih ya, Ma." Yara mengelus punggung Indri dengan hangat. Baginya Indri adalah ibu Sky, juga ibu baginya, Yara sudah menyayangi wanita ini jauh sebelum dia dan Sky menikah.
"Mama pulang dulu, ya. Kamu sehat-sehat, jangan lupa makan dan jangan banyak pikiran. Kalau butuh apa-apa jangan lupa bilang ke Mama."
"Iya, Ma. Mama pulangnya sama sopir, kan?"
Indri mengangguki pertanyaan Yara kemudian dia berlalu dari sana.
Yara menatap nanar pada pintu ruang ICU, hingga tak berapa lama Anton juga keluar dari sana.
"Belum ada perubahan, Ra. Kalau kamu mau pulang, Mas bisa kok gantiin kamu disini. Hmm?"
Yara menggeleng lesu.
"Kamu mikirin apa lagi? Coba terbuka sama Mas. Mas rasa ada yang kamu sembunyikan."
Yara menatap Anton lama. Dia ragu, tapi dia percaya jika Anton adalah satu-satunya orang yang dapat memahami dia selain Sky, tentu saja.
"Sebenarnya, sebelum kecelakaan ini terjadi, aku udah beberapa kali dikirimin pesan sama nomor asing, Mas."
Mata Anton melebar mendengar penuturan sang adik. "Pesan? Pesan apa?" tanyanya.
"Aku gak tau ini bener atau enggak. Tapi, waktu Sky tiba di Surabaya, aku dapat kiriman foto ini."
Yara akhirnya menunjukkan foto yang sempat dia dapat dari nomor tak dikenal itu.
Anton terbelalak melihat foto itu. Memang bukan foto syur atau apa, tapi interaksi Sky dengan wanita dalam foto itu menunjukkan mereka sangat akrab dan dekat.
__ADS_1
"Dari situ aku udah curiga sama Sky. Sampai akhirnya dia kecelakaan sama Diandra dan mereka didalam satu mobil yang sama," papar Yara.
Bersambung ....