EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
174. I Love You


__ADS_3

Yara begitu terkejut mendengar Sky yang dengan santainya mengatakan soal hukuman yang sudah di terima Michele. Hukuman itu bahkan sama sekali tidak terlintas di kepala Yara.


Menurut Yara, membuat Michele di deportasi dan tidak bisa datang ke Indonesia lagi itu sudah lebih dari cukup. Akan tetapi suaminya memiliki pemikiran lain.


"Jadi, Michele bener-bener bakal ke Sri Lanka? Apa itu gak keterlaluan, Sayang?"


Sky hanya mengendikkan bahu acuh tak acuh. Menurutnya Michele memang harus banyak belajar dari kesalahan yang telah dia buat. Belum lagi karena keisengannya, Sky sampai hampir kehilangan nyawa. Meski bukan Michele yang menyebabkan insiden kecelakaan itu tapi bukankah Sky buru-buru pulang dari Surabaya karena Michele yang sudah memprovokasi istrinya.


"Udahlah, sekarang kamu jangan mikirin dia. Beno sama Jenifer aja udah setuju, kok. Biar disana Michele belajar bagaimana sulitnya hidup. Gak semua yang dia mau bakal dia dapatin, Sayang."


Sky berdehem sejenak, jaraknya dan Yara hanya beberapa centi saja sebab mereka sedang berbaring dengan posisi berhadap-hadapan sekarang.


"Dia pasti bakal kesulitan disana, Sayang." Yara mengelus rahang suaminya dan memetakan wajah itu lekat-lekat.


Sky menipiskan bibir. "Jangan pikirin dia lagi, kamu cuma boleh mikirin kita dan anak-anak. Terutama ... mikirin aku," katanya sembari mengerling seduktif.


Yara tersenyum dalam posisinya. "Aku selalu mikirin kamu," katanya.


"Beneran?"


"Huum ..."


"Mungkin yang aku lakuin sama Michele terlihat keterlaluan, tapi aku cuma gak suka wanita yang aku cintai diganggu. Belum lagi dia mengusik ketentraman rumah tangga kita, aku gak suka itu, Sayang." Sky mengelus-elus pipi Yara hingga tangannya berhenti dan tertangkap disana.


"I love you," gumam Yara.


Sky terpana, beberapa saat mencerna dia akhirnya menyunggingkan seulas seringai tipis.


"Kamu bilang apa tadi?"


"Hah? Yang mana?" Yara pura-pura tidak tau kalimat mana yang ingin Sky dengar.


"Coba bilang sekali lagi!" Pernyataan cinta dari Yara itu semacam air di tengah oasis kering, sangat jarang sekali Sky dengar karena istrinya ini termasuk wanita yang tidak pantai mengutarakan tentang rasa.


Yara salah tingkah, demi menghindari permintaan Sky dia justru menyandarkan kepala pada dada bidang sang suami. Sementara Sky yang tau jika istrinya ingin melarikan diri dari keinginannya, malah mendorong pelan pundak istrinya demi bisa menatap kembali mata hazel itu.


"Gak mau ngulang?" Ternyata Sky masih menuntut hal yang sama.


"Nggak," kata Yara menahan senyuman geli. "Salah sendiri kamu gak denger tadi," sambungnya.


"Aku denger, tapi aku cuma mau kamu ulangi sekali lagi, please ..." rengek Sky seperti anak kecil yang memelas.

__ADS_1


"I love you, Sayang. I love you ... Sky, I love y---"


Yara tidak bisa melanjutkan kata sebab bibirnya sudah dibungkam Sky dengan sebuah ciuman panas di detik yang sama.


Sky mendesak Yara, membuat kedua tangannya menangkup sisi wajah wanita itu agar bisa mengendalikannya.


Yara membalas ciuman suaminya dengan rasa rindu yang sama. Dia bahkan melingkarkan kedua tangannya di leher sang pria.


Untuk beberapa saat, mereka saling membalas dalam ciuman dengan leluasa. Tidak ada rasa canggung sebab memang merindukan. Saling menyesaap dan menjilaat dengan rasa menuntut.


Sampai akhirnya, ciuman itu terlepas kala keduanya merasa kehabisan nafas.


"Sayang, kamu masih sakit ..." Yara tau jika sudah begini, Sky akan menuntut hal yang lebih dari sekedar ciuman.


Sayangnya, tangan Sky sudah merambat naik ke balik piyama yang Yara kenakan. Dan catat, itu tidak bisa lagi dihentikan.


Sky menyentuh dan merasai kulit istrinya yang terasa mulus, halus dan lembut. Ini salah satu yang amat dia rindukan dalam kurun waktu hampir setengah bulan ini.


"Sayanghh ..." Yara meng ge lin jang geli saat satu tangan Sky sudah menangkup pada dadanya dan bermain-main disana.


"This was created especially for me," bisik Sky pada Yara, lalu mengulumm daun telinga wanitanya.


Yara terkesiap, erangannyaa teredam sebab sepersekian detik berikutnya, Sky kembali meluumat bibirnya kembali.


Yara menggeleng pelan, sebagai isyarat penolakan tapi mata Sky yang sudah berbalut kabut gai rah tidak mau menghentikan.


"Aku kangen banget sama kamu, Sayang." Suara Sky terdengar bergetar, demi apapun dia tidak bisa meredam ha s rat nya kali ini.


"Tapi ..." Sebenarnya wajah Yara juga sudah memerah, tapi logikanya masih mengingatkan tentang kondisi sang suami.


"Pelan-pelan. Okey?" bujuk Sky sembari melepaskan piyama Yara seutuhnya, sampai akhirnya Yara tidak bisa menolak dan hanya bisa berpasrah pada kendali sang suami.


...****...


"Mas??"


Suara teriakan Nadine membuat Anton terkesiap, dia berjalan cepat memasuki area rumah. Padahal, sebelumnya pria itu sedang memanaskan mobil dan ingin berangkat memantau salah satu cabang cafe miliknya.


"Kamu kenapa, Sayang?" Anton menatap panik pada Nadine yang merintih kesakitan.


"Perut aku, Mas. Sakit ..." kata Nadine dengan ringisan yang membuat wajahnya tampak memucat.

__ADS_1


Anton menggeleng samar. "Apa kamu mau melahirkan? Seharusnya ini belum, kan?"


Sigap pria itu mengangkat tubuh istrinya, membawanya dalam gendongan dengan kedua tangannya lalu berjalan cepat menuju mobil yang kebetulan sudah disiapkannya sebelumnya namun bukan untuk melarikan Nadine ke Rumah Sakit seperti ini.


"Mbok ... Mbok..." Anton berseru.


Seorang wanita paruh baya mendatangi keberadaan Anton dengan gestur tergopoh-gopoh.


"Tolong jaga Elara sama Liora ya, Mbok. Aku titip mereka. Nadine kayaknya kontraksi."


Belum sempat sang asisten rumah tangga itu menyahut, Anton segera melontarkan kalimatnya.


Anton segera mengemudikan mobilnya setelah memastikan Nadine dalam kondisi aman di jok belakang. Mereka bahkan tidak sempat pamit pada anak-anak yang masih dalam kondisi tertidur.


Kehamilan Nadine baru menginjak awal bulan ke tujuh, seharusnya dia belum mengalami kontraksi berlebihan seperti ini. Wajah wanita itu bahkan memucat membuat Anton khawatir teramat sangat.


"Sabar ya, Sayang. Bentar lagi kita nyampe Rumah Sakit, kok." Anton memberikan pengertian pada Nadine yang merintih-rintih di belakang.


"M-mas ... sakit banget...'


Anton semakin mempercepat laju kendaraannya, dia tidak tahan mendengar lenguhann kesakitan sang istri.


Dua puluh menit berkendara, Anton sangat bersyukur akhirnya mereka tiba di Rumah Sakit dan tidak terjebak kemacetan pagi hari.


Nadine dibantu Anton naik ke atas brangkar dan didorong menuju ruangan untuk segera ditindaklanjuti.


Beberapa saat menunggu, Anton harus mendapat kabar jika istrinya harus melakukan operasi caesar mendadak di usia kehamilan yang masih sangat muda.


Anton merasa bersalah pada istrinya. Kenapa Nadine harus melahirkan premature? Tapi mungkin ini memang sudah jalannya. Sehingga Anton pun mengiyakan tindakan operasi itu sebab dia mau yang terbaik untuk istri dan anaknya.


Dalam hati, Anton berharap semuanya berjalan dengan lancar sebab dia sangat takut terjadi sesuatu pada dua orang yang amat dia cintai.


Sekelebat bayangan saat Shanum meninggal sesaat melahirkan Elara dulu--terlintas di benak Anton. Dia segera membuyarkan pemikiran itu, mencoba membuang hal itu jauh-jauh dari otaknya.


Saat Nadine melahirkan Liora, kejadiannya tidak sedramatis ini meski Anton harus menghadapi sang istri yang melakukan proses melahirkan secara normal, itu lebih baik ketimbang saat ini.


"Ya Allah, semoga anak dan istriku baik-baik saja. Hamba mohon ya Allah," kata Anton berdoa dengan penuh harap.


Bersambung ....


Ini update othor di penghujung tahun ya. Moga di tahun yang baru kita jadi lebih baik lagi. Oh iya, dukungan dan likes-nya makin kesini makin sedikit. Kayaknya pada banyak yang skip ya? Huhuhu ... jadi merasa jadi othor yang tak dirindukan update-annya.✌️😁

__ADS_1


Sehat-sehat semua ya Readers ku 🤲


Dan, yang masih setia baca sampai part ini makasih banyak ya. Love sekebon buat kalian❤️💚❤️💚❤️💚❤️


__ADS_2