EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
44. Banyak masalah


__ADS_3

Juna harus menghela nafas pasrah saat bujuk rayunya tidak membuat Yara bergeming sedikitpun. Nampaknya, wanita itu memang sudah pada keputusan akhir yaitu berpisah.


Juna tahu semua ini terjadi karena kesalahannya. Dan demi melunakkan hati wanita yang sudah ia nikahi hampir dua tahun belakangan, ia rela memberikan rumah untuk Yara--rumah yang sama dengan yang seharusnya ia janjikan untuk Shanum.


Nyatanya, Yara tetap berderap pergi setelah kesempatan bicara lima belas menit telah usai, wanita itu meninggalkannya, dan kembali masuk ke peraduan yang bukan menjadi kamar mereka berdua.


"Aku harus apa lagi, Ra? Kenapa kamu harus sekeras ini dan gak mau ngasih aku kesempatan," gumam Juna pada dirinya sendiri.


Rasanya Juna telah kehabisan akal untuk membuat Yara tetap tinggal disisinya. Apakah ia harus menyerah dan melepaskan Yara? Kenapa lagi-lagi rasa tidak rela menghantam keras dinding hatinya.


Juna tidak menyadari bahwa kelakuannya yang salah juga telah meluluh lantakkan perasaan wanita itu. Yara sudah mati-matian menerima sang suami. Mengabdi dan menjalani kewajiban sebagai seorang istri meski kadang hatinya bergemuruh, menuntut untuk merengkuh bahagia.


Selama ini Yara pasrah, berharap Juna lelaki terbaik yang sudah ditakdirkan untuk dirinya. Mengikis perasaan, mencoba mengubur cinta yang ia punya untuk pria lain berstatus mantan kekasihnya meski itu sulit dan belum berhasil.


Tapi, pada kenyataannya, demi Juna, Yara merelakan masa depannya, serta mengorbankan kebahagiaan dirinya sendiri, tidak menuntut apapun, ia sibuk berkutat menjadi seorang istri yang baik, meski sejatinya Yara pun sadar bahwa ia belum bisa menaruh seratus persen rasa untuk suaminya.


Yara tidak pernah menyangka, kepercayaannya, pengabdiannya, sebagai seorang istri harus dibalas Juna dengan sebuah pengkhianatan.


Sekali lagi, kendati cintanya belum berlabuh untuk seorang Arjuna Bachtiar, akan tetapi ia sudah berusaha menjadi istri yang paling memahami meski harus mengorbankan dirinya sendiri.


"Impianku memang tinggal di rumah sendiri, Mas. Tapi, jika karena rumah itu aku jadi terikat bersama seorang pembohong dan tukang selingkuh, lebih baik aku gak tinggal disana," batin Yara.


Yara bisa memaklumi segala apapun bentuk kesalahan Juna, termasuk sikap perhitungannya dan acuh terhadap dirinya. Tapi, Yara tidak bisa mentoleransi sebuah penyakit bernama perselingkuhan ataupun kekerasan dalam rumah tangga.


Selama ini Yara bertahan karena Juna tidak pernah menunjukkan adanya salah satu penyakit itu. Akan tetapi, dengan mata kepala sendiri Yara melihatnya memasuki kamar hotel dengan seorang wanita. Apakah Yara harus memaafkannya?


Tidak, terlepas dari seorang Sky yang memang hadir kembali dan menyelinap ke dalam rumah tangganya, sikap Juna sudah lebih dulu keterlaluan dan sengaja mengkhianatinya.


Keesokan harinya, Juna berangkat bekerja seperti biasanya. Ini adalah hari kedua ia pergi tanpa melihat wajah Yara. Biasanya, istrinya akan sibuk berkecimpung di dapur demi menyajikannya makanan paling spesial, meski ia tahu uang bulanan yang ia beri pasti harus membuat Yara memutar otak untuk mencukupi isi perutnya.


Beberapa saat diperjalanan, akhirnya Juna tiba di parkiran kantor tempat ia bekerja. Akan tetapi, belum sempat ia keluar dari mobil, satu permasalahan datang saat ia membaca sebuah pesan yang dikirimkan oleh Shanum.


[Yang, aku di Rumah Sakit. Tadi perut aku kram, terus dibawa Mas Anton periksa.] Shanum.


Tidak bisa dipungkiri, kabar itu membuatnya langsung khawatir terhadap kesehatan Shanum dan bayi yang ada didalam kandungan wanita itu.

__ADS_1


[Kok bisa kram? Emang kamu ngapain? Gak kerja berat, kan?] Balasnya langsung pada Shanum.


Juna yakin, Shanum tidak melakukan pekerjaan berat sebab wanita itu tidak biasa melakukan banyak hal, bahkan sebelum Shanum hamil pun. Biasanya, Anton yang pasang badan untuk melakukan semuanya.


Menunggu balasan Shanum membuat Juna kesal sendiri. Wanita itu tidak langsung membalas. Padahal ia sudah merasa amat khawatir.


Akhirnya, Juna kembali mengirimi pesan berikutnya.


[Jadi gimana keadaan kamu sekarang, Yang? Semua baik-baik aja, kan?]


[Udah gak apa-apa, ini Mas Anton lagi bicara sama dokternya.] Akhirnya, kini Shanum membalas. Tapi Juna tetap tak mendapat jawaban kenapa Shanum bisa mendapatkan kram perut.


[Ya udah, kamu baik-baik, ya. Aku belum bisa jengukin kamu.] Balas Juna kemudian.


[Kenapa? Ajak aja Yara ke rumah, biar kita bisa ketemu. Udah berapa hari kita gak ketemu, aku kangen, Yang.]


Juna memang belum menceritakan pada Shanum perihal permasalahannya dengan Yara. Ia pikir, ia bisa menyelesaikannya sendiri tanpa memberitahukan pada Shanum terkait masalah ini.


[Gak bisa, aku lagi ribut sama Yara. Entah darimana Yara tau aku selingkuh, katanya dia juga punya bukti.]


Bekerja seperti biasanya, meski dibenaknya masih dipenuhi oleh sikap dingin Yara serta permasalahan rumah tangga mereka. Juna juga tidak bisa menyangkal, bahwa keadaan Shanum yang berada di Rumah Sakit ikut serta menyita pikirannya.


Saat ini, kepala Juna rasanya hampir mele dak akibat semua permasalahan yang ada. Belum lagi ia juga mengantuk karena kurang tidur semalaman.


Menjelang siang, ponsel Juna kembali berdering. Kali ini sebuah panggilan dari Shanum.


"Kenapa, Yang? Kamu udah pulang ke rumah kan?" tanya pria itu.


Bukannya menjawab pertanyaan Juna, Shanum justru membahas mengenai pesan terakhir yang tadi pagi ia kirim pada sang wanita.


"Yang, jadi Yara udah tau kamu selingkuh? Kok bisa? Apa dia juga tau kalau perempuan itu aku?" sambut Shanum dari seberang teleponnya.


Juna mendengkus pelan. "Soal itu aku gak tau. Tapi kayaknya Yara belum tau kalau perempuan itu kamu. Kamu gimana keadaannya?"


Terdengar helaan nafas lega dari Shanum. "Aku udah baik-baik aja kok, Yang."

__ADS_1


"Beneran?"


"Iya, Yang. Aku udah di rumah kok ini."


"Kok bisa sih kamu kram perut?" Lagi-lagi Juna menanyakan hal yang sama.


"Ehmm... itu, tadi malam mas Anton minta hak-nya. Udah empat bulan aku sama dia gak berhubungan. Kamu kan tau!"


Mendengar itu, tangan Juna terkepal erat. Tidak dipungkiri ada rasa cemburu dihatinya, tetapi sedari awal ia sadar jika Shanum memang istri dari Anton, jadi Juna pun tidak bisa melarang hal itu.


"Terus, kenapa bisa sampai kram? Apa Mas Anton ngasarin kamu?" Mati-matian Juna menahan diri agar tidak meng umpat, bagaimana bisa ia menanyakan perihal hubungan suami istri yang dilakukan antara Shanum dengan Anton. Dalam dirinya, Juna mengakui bahwa ia tengah berbagi wanita pada kakak iparnya sendiri.


"Enggak kok, Yang. Udahlah, ngapain bahas hal itu segala. Kram itu mungkin karena anak ini tau kalau mas Anton bukan bapaknya," jawab Shanum yakin dari seberang sana.


"Ya udahlah, kamu makan siang jangan sampai telat. Nanti aku ajakin Yara jengukin kamu, deh."


"Bener ya, Yang? Jangan bohong."


"Iya, Sayang.... kamu mau dibawain apa?"


"Ehm, apa ya... pir madu sama tahu sumedang enak kali ya."


"Oke, nanti aku bawain."


"Makasih ya sayang, kamu memang yang terbaik," puji Shanum manja dari seberang sana.


Saat panggilan itu berakhir, Juna kembali berpikir.


Saat ini, ia tengah membujuk Yara dengan menggunakan rumah yang sudah ia berikan pada Shanum. Tapi, jika sekarang Shanum tau bahwa rumah itu juga telah ia janjikan untuk Yara, bagaimana?


"Kalau Shanum tau rumah itu mau aku kasi ke Yara, gimana, ya?" Juna menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Kalau Yara juga akhirnya tau bahwa rumah itu sebenarnya bukan buat dia, bakal makin runyam juga nih!"


Bersambung ...

__ADS_1


*****


__ADS_2