
Lucky sangat heran, saat melihat Nadine telah bersiap pagi ini dengan tampilan sederhana. Namun, meski wanita itu tidak berhias, Nadine tetaplah wanita cantik yang mampu membuat Lucky dan banyak pria lain tertarik.
Tanpa berpamitan, wanita itu melewati tubuh Lucky begitu saja. Padahal sudah jelas-jelas Nadine pasti melihat keberadaan Lucky yang tengah meminum kopi buatannya sendiri di ruang tengah.
"Kamu mau kemana, Nad? Ayo sarapan sama aku, aku udah buatin kamu roti bakar selai cokelat."
Nadine hanya menatap datar pada Lucky. Ia tak mau menggubris pria itu.
"Nad? Jawab dulu, kamu mau kemana sepagi ini?"
Lucky menarik lengan Nadine dengan harapan itu dapat menghentikan langkah sang wanita.
Nadine melerai tangan Lucky dengan halus. "Aku mau ketemu Elara, Mas," ujarnya pelan. Nadine tak mau ada keributan di pagi buta.
"Bayi itu? Kamu mau menemuinya sepagi ini?"
Nadine mengangguk mantap, ia memang terbiasa datang ke tempat Anton pagi-pagi sekali agar tidak kehilangan momen melihat Baby Elara bangun tidur lantas memandikan sang bayi menggemaskan itu.
"Jangan-jangan itu alasan kamu aja, kamu sebenarnya mau ketemu ayah dari bayi itu, kan?"
Nadine menipiskan senyum, sampai satu sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Kalau iya, emang kenapa, Mas?"
"Nadine!!!" geram Lucky.
Nadine kembali melangkah mantap tanpa ada keraguan. Tapi ia sangat terkejut saat Lucky kembali menghadangnya dan menghimpitnya disudut ruang tamu.
"Kamu tau kan, apa yang bisa aku perbuat sama laki-laki itu? Aku gak main-main, Nad. Selama kamu masih begini terus, aku gak segan-segan buat ambil tindakan karena selamanya kamu adalah istriku!" ancam Lucky dengan wajah merah padam.
Bagaimana tidak, Nadine terang-terangan mengatakan ingin mengunjungi rumah pria lain dihadapannya, bahkan Nadine juga tidak menggubris keberadaannya di rumah ini.
"Kamu gak akan bisa lakuin apapun, Mas! Kita akan segera bercerai."
Lucky menyunggingkan senyum meremehkan.
"Oh, kamu nantangin aku. Kamu tunggu disini dan kamu lihat apa yang bakal aku lakuin sama laki-laki itu. Dalam hitungan menit, hidupnya bisa hancur karena seorang Lucky Johansen. Kamu tau, aku dan dia tidak selevel, Nad. Jadi, camkan itu!"
Lucky pun berjalan meninggalkan Nadine yang membeku karena ancaman yang baru saja Lucky lontarkan.
"Kalau kamu tetap nekad untuk kesana dan bertemu dengan dia ataupun bayinya, kamu lihat aja, Nad. Kamu tau aku gak pernah main-main sama ucapanku!" pungkas Lucky sambil berlalu.
Nadine menggeram marah dalam hatinya. Apa ia harus takut dengan ancaman Lucky? Lucky memang tidak pernah main-main dalam setiap hal yang membuatnya ingin bertindak. Tapi, haruskah Nadine menunda pertemuannya dengan Elara hari ini?
"Kamu gak boleh egois, Nad. Bagaimanapun, kamu harus mementingkan keselamatan Mas Anton." Batin dalam diri Nadine berkata-kata seolah tengah mengingatkannya.
__ADS_1
Nadine menghela nafas sepenuh dada. Haruskah ia mengalah demi kebaikan bersama?
Pada akhirnya, Nadine memilih mengalah sebab dia tau bagaimana Lucky bisa membuktikan ucapannya. Seandainya ancaman Lucky itu adalah menghancurkan diri Nadine, mungkin wanita itu bisa menerima tapi Nadine tak mungkin tega jika sampai hidup Anton berantakan karena dirinya.
Saat Nadine hampir kembali ke kamar yang ia tempati. Ponsel miliknya pun berdering.
Sudah dapat Nadine pastikan jika itu adalah Anton.
"Hallo, Mas?" jawab Nadine ragu-ragu.
"Nad, kamu dimana? Gak kesini?"
"Ehm ... aku masih di rumah, Mas."
"Oh, jam berapa kesini, Elara udah bangun nih, kayaknya dia nyariin kamu, mewek terus."
Senang rasanya jika bayi itu juga merasakan kasih sayangnya dan dapat merasakan ketidakhadirannya.
Tapi, wanita dengan tubuh ramping itu hanya bisa menghela nafas pasrah kala mengingat ancaman Lucky.
"Nadine!! Kamu gak jadi pergi, kan?" Suara teriakan Lucky membuyarkan pemikiran Nadine tentang Baby Elara. Bersamaan dengan itu, Anton juga kembali memanggilnya dari seberang panggilan.
"Nad? Itu ... suami kamu? Kalian sedang bersama sekarang?"
Ada intonasi kecewa yang tertangkap dipendengaran Nadine saat Anton mengucapkan kalimat itu, tapi haruskah Nadine menjelaskan apa yang terjadi pada sang pria?
Hening, tak ada sahutan dari Anton. Nadine tidak tau apa pemikiran pria itu tentang dirinya sekarang. Yang jelas, Nadine melakukan semua ini demi keselamatan pria itu.
"Nadine?"
Nadine segera menyembunyikan ponselnya di belakang tubuh saat melibat Lucky yang sudah kembali ada dihadapannya--sebab Nadine memang belum memasuki area kamar saat telepon dari Anton terdengar.
"Syukurlah kalau kamu mengurungkan niat untuk tetap pergi. Aku mau kamu nemenin aku mumpung aku sedang ada disini."
Lucky mengelus wajah Nadine dengan lembut, menyusuri tulang pipi sang wanita dengan ujung jemarinya. Sebab Nadine sedang menyembunyikan panggilan Anton di ponselnya, ia hanya bisa memejamkan mata rapat-rapat saat Lucky melakukan hal itu.
"Nad, perlu kamu tau, biarpun aku memiliki Firda tapi kamu tetaplah pemilik hati aku. Kamu yang mencintai aku. Kamu juga yang menjadi support sistem dalam hidupku. So much, i love you...."
Lucky ingin memagutt nikmat bibir kemerahan yang dimiliki Nadine, ia merasa jika wanita itu miliknya dan selamanya akan menjadi miliknya.
Lucky tak akan lelah membujuk Nadine, agar menarik gugatan cerai itu. Meski Nadine membencinya, meski Nadine akan merutuki hingga mengumpatnya berulang kali--Lucky tak akan peduli. Yang ia pedulikan hanyalah Nadine tetap menjadi miliknya.
"Mas, kamu apa-apaan sih."
Tindakan Lucky justru membuat Nadine hampir menyerah, untuknya dia segera sadar, sebab tadinya dia justru membayangkan pria yang ada dihadapannya bukanlah Lucky, melainkan Anton.
__ADS_1
Lucky tersenyum kecil, dia kira Nadine sudah mau melunak padanya, terbukti dari penolakan Nadine kali ini yang terkesan lemah lembut.
"Aku tunggu kamu kembali ke kamar kita, ya, Sayang." Lucky mengelus pipi merona wanita itu sekali lagi.
Sementara Nadine menghela nafas berat saat Lucky berjalan memasuki kamar yang dulunya memang mereka tempati bersama.
Nadine melihat pada ponselnya selepas kepergian Lucky. Matanya membola saat melihat panggilan dari Anton masih tersambung.
Astaga ... apa Anton mendengar semuanya? Pasti Anton akan salah mengartikan nanti.
"Ha-hallo, Mas?"
"Hmm..."
"Mas, tadi kita bicaranya sampai dimana ya?"
"Kamu gak bisa ke rumah aku, kan? Gak apa-apa, Nad. Aku maklum kok, kamu juga pasti repot karena suami kamu ada di Indonesia sekarang."
Nadine memejamkan mata barang sejenak. Benar, pasti Anton sudah mendengar percakapannya dengan Lucky tadi. Apa Anton marah sekarang?
"Mas, ini gak seperti yang kamu pikirkan."
"Aku denger semuanya, Nad."
Benar, kan? Rasanya Nadine ingin menjerit histeris sekarang. Ia pikir tadi ia sudah memutus panggilan itu atau paling tidak, Anton harusnya mematikan saluran teleponnya yang sudah tak disahuti oleh Nadine.
"Jika begini, ambyar semuanya," rutuk Nadine dalam dirinya
"Mas, aku bisa jelasin. Kamu salah paham."
"Aku bukan siapa-siapa yang harus mendengar penjelasan kamu, Nad. Ya udah, ini Elara udah nangis... teleponnya aku matikan. Kamu bisa lanjut... maksudnya, selamat beraktivitas, Nadine."
Nadine menghela nafas berat saat panggilan itu benar-benar berakhir.
Haruskah ia mendatangi Anton sekarang untuk menjelaskan yang sebenarnya terjadi?
Tapi bagaimana dengan ancaman Lucky?
Nadine takut salah mengambil langkah. Tapi sekarang ia merasa sangat serba salah.
Bersambung ....
Masih ada vote Senin gak ya? Kirim kesini dong...🙏 butuh asupan vote.
Kalau vote nya nambah, insya Allah nanti othor up lagi.
__ADS_1
Makasih banyak yang masih nungguin update novel ini. Maaf ya, up-nya terlambat... kesorean. Jadi, curcol dikit lah ya... othor baru pindahan, tau lah ya repotnya kayak apa dan berantakannya juga kayak apa. Hmmm ngelihatnya aja udah capek, ngerjainnya gak kelar2 sampe waktu buat nulis bener2 tersita, cuma othor tetap sempatin buat up tiap hari karena gak mau ngecewain kalian yang udah nungguin. Makasih buat yg udah kirim Vote Senin kesini🙏🙏🙏❤️❤️❤️❤️❤️❤️