EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
73. Tak bisa ke lain hati


__ADS_3

Sky tiba di rumah sambil memutar-mutar kunci mobilnya. Ia bersiul riang, membuat Indri yang duduk di ruang tv hanya bisa geleng-geleng kepala saat melihat tingkah absurd putra semata wayangnya.


"Sky ..." Indri melambai-lambaikan tangan pada sang anak. Mereka memang belum sempat membahas hal yang sejak kemarin ingin Indri bicarakan secara empat mata bersama Sky.


Sky menghentikan langkah, melirik Indri, kemudian berbalik arah. "Kenapa, Ma?" tanyanya.


Indri menepuk tempat kosong disisinya. "Sini duduk," katanya.


Sky menurut, kemudian duduk tepat disebelah sang Mama. Perasaannya mengatakan ada hal yang ingin Indri bicarakan padanya. Mungkin ini terkait hubungannya dengan Yara.


"Sky, mama mau nanya sama kamu ...."


"Ya tanya aja, Ma."


"Kamu serius sama Yara?"


"Iya, Ma. Dari dulu Sky gak pernah main-main sama Yara."


Indri tampak ragu-ragu untuk berujar, tapi kemudian dia benar-benar mengeluarkan kalimatnya.


"Mama sebenarnya gak mau melarang-larang soal siapa yang akan kamu nikahi. Yara juga baik dan mama tau itu. Tapi, mengingat statusnya itu lho, mama---"


"Ma, apa yang salah sama status Yara?" potong Sky cepat. "Aku cinta dia, Ma. Memangnya kenapa kalau Yara, janda? Bukan berarti dia gak layak aku cintai, kan?" tukasnya.


"Bukan gitu, Sky. Kamu denger dulu mama ngomong."


"Ma, langsung ke intinya aja, mama mau merestui aku sama Yara, apa enggak? Jangan buat aku jadi melawan mama karena hal ini. Jangan buat aku kecewa sama keputusan mama."


Indri menghela nafas panjang. "Mama bukan gak merestui. Tapi, tolong kamu pikir-pikir lagi, Sky. Yara itu pernah bercerai dan kamu belum pernah berumah tangga sama sekali. Ada banyak hal yang mama takutkan jika kalian bersama."


"Hal apa, ma? Coba mama bilang salah satu aja, hal apa yang membuat mama takut?"


"Mama ragu kamu benar-benar serius sama Yara. Mama pikir, perasaan kamu itu hanya rasa penasaran karena belum mendapatkan dia. Dan lagi, Mama takut Yara gagal lagi bersama kamu. Bagaimanapun dia pernah gagal dalam rumah tangganya yang dulu."


Sky bangkit dari duduknya. "Mama meragukan perasaanku sama Yara? Gitu? Dan soal gagal atau tidaknya aku dan Yara, seharusnya mama lah yang mendoakan hal terbaik buat kami, ma. Bukan malah bersikap paranoid gak jelas kayak gini, sampai takut sama sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi," tandasnya menutup pembicaraan.


Sky langsung bangkit, ia sendiri tak menyangka bisa berkata demikian pada sang Mama. Ia kecewa mamanya memberi pernyataan seperti ini terkait perasaan dan hubungannya dengan Yara. Sebenarnya Sky sudah terlanjur berekspektasi tinggi terhadap restu dari sang Mama. Nyatanya, justru hal seperti ini yang Mamanya berikan.


Indri menatap Sky dengan perasaan serba salah. Ia ingin kembali memanggil pemuda yang sudah berjalan menjauh itu, tapi ia ragu dan urung. Akhirnya, ia hanya bisa melihat punggung putranya yang kini sudah berjalan menaiki tangga.


"Sky, mama cuma mau yang terbaik untuk kamu, nak." Indri bergumam.


Indri takut perasaan Sky pada Yara hanya karena cinta masa lalu yang belum selesai, bukan karena keseriusan. Ia takut Sky labil dan justru menyesali pilihan yang diambil tanpa pemikiran dewasa.


Sementara sekarang, Sky masuk ke kamarnya dengan perasaan yang berubah keruh. Percakapannya dengan Indri membuatnya kesal sendiri. Tapi walau bagaimanapun, wanita itu tetaplah ibunya. Ia menghargai Indri, tapi tidak bisa mentolerir penolakan Indri terhadap Yara.

__ADS_1


Apa hanya karena pernyataan Indri tadi Sky harus kembali merelakan Yara? Apa jika Yara masih seorang gadis maka Indri akan tetap mempermasalahkan juga? Atau justru tetap pada keputusan yang sama?


Sky tidak bisa berpikir sekarang. Ia memilih mengambil ponselnya untuk menghubungi Yara.


"Hallo, Sky?"


Suara jawaban Yara dari seberang sana-- membuat hati Sky lega. Bagaimana mungkin sang Mama meragukan pilihannya, sedangkan hanya mendengar suara Yara saja hatinya langsung berubah lebih tenang.


"Ayara..."


"Iya? Kamu udah sampai di rumah, kan?"


"Hmm," sahut Sky dengan mata berkaca-kaca. Ia tidak sanggup menceritakan soal perdebatannya dengan sang Mama pada wanita diseberang telepon ini.


"Ya udah, sekarang mandi abis itu istirahat. Aku juga udah mau tidur."


"Hmmm...."


"Kamu kenapa? Apa ada masalah?"


Sky menarik nafas singkat. "Gak, gak ada apa-apa, semua baik-baik aja," dustanya, tapi ia yakin Yara bisa mengetahui kebohongannya.


"Jangan bohong, kalau ada masalah, cerita sama aku. Apa ada masalah sama kerjaan kamu?"


"Ya, sebenarnya memang ada masalah, tapi bukan soal pekerjaan."


"Terus? Masalah apa? Masalah besar?"


"Ya, masalah besar." Sky tersenyum miring, meski Yara tak dapat melihatnya.


"Masalah apa? Kamu gak korupsi, kan?"


Hampir saja Sky tergelak mendengar ucapan Yara dari seberang sana.


"Enggak, Sayang. Kan, udah aku bilang masalahnya bukan soal pekerjaan, apalagi korupsi. Gak kepikiran sama sekali soal itu."


"Lah terus? Kamu bilang ada masalah besar."


"Iya, masalahnya itu, aku kangen banget sama kamu. Hehehe ...."


"Astaga, Sky!!! Aku udah serius kamu malah bercanda."


"Aku juga serius, paling serius udah."


"Tauk, ah! Udah, mandi dulu sana."

__ADS_1


Sky tergelak. "Iya, Sayang... mau ikut bantuin, gak?" tanyanya.


"Bantuin apa?"


"Mandiin aku!"


"Dasar me sum!"


Sky terkekeh dan ternyata panggilannya langsung diakhiri sebelah pihak oleh Yara.


"Ra, gimana bisa, mama nyuruh aku buat mikir-mikir lagi soal kamu. Aku udah gak bisa mikir lagi sekarang, kepala sama hati aku .... isinya cuma ada kamu doang," gerutu Sky sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Sky tau, dia sudah tidak bisa ke lain hati lagi. Hatinya sudah memilih Yara dan tidak ingin diganti dengan sosok wanita manapun. Apa hal ini akan membuatnya jadi anak durhaka karena tidak mendengarkan nasehat sang Mama?


Sky pikir Mamanya hanya takut jika ia sampai gagal berumah tangga. Ia memahami itu. Tapi, mamanya juga sudah mengakui jika Yara adalah wanita yang baik. Jadi, tak ada yang salah, bukan?


Sky rasa ia hanya butuh beberapa waktu untuk membuat mamanya berubah pikiran. Lagipula, sang Mama pasti menomorsatukan perasaan dirinya dan kebahagiaannya sebagai seorang anak.


Selesai mandi, Sky kembali turun ke lantai bawah, ia pun mencari sang Mama. Kepalanya sudah mulai dingin sekarang, dan ia ingin memberi pengertian pada sang Mama.


Sky mau mengetuk pintu kamar mamanya. Tapi entah kenapa ia ragu-ragu.


"Ma, Sky mau bicara..."


Akhirnya, Sky memanggil Indri sembari mengetuk pintu kamar wanita itu dengan sangat pelan.


Tapi tak ada sahutan. Apa sang Mama sudah tidur? Pikirnya.


Bagaimanapun, Sky tidak mau melawan sang Mama, tapi ia juga tak mungkin meninggalkan Yara. Bukan tentang keegoisan diri dan demi perasaannya sendiri, tapi Sky juga tak mau mengecewakan Yara dan dia juga sudah terlanjur berjanji pada Anton.


"Ma.... apa Mama udah tidur?"


Sekali lagi Sky memanggil, namun tidak juga mendapat jawaban dari dalam.


Sky pikir sang Mama pasti sudah benar-benar tidur, memang Sky yang pulang terlalu malam tadi.


Apa Sky menyerah? Tidak, ia akan kembali membujuk mamanya besok, kalau perlu besoknya lagi dan setiap hari, sampai sang Mama bisa mengubah keputusannya. Sebab, Sky juga tidak mau jika nantinya ia menikah tapi tanpa restu dari sang Mama.


Bersambung ....


***


...~~~~...


Kirim Vote Senin kesini guys🙏 Maaf up nya kesorean. Ntar kalau sempat aku up bab baru lagi yah... mohon dukungannya terus❤️❤️❤️

__ADS_1


__ADS_2