
Sky baru saja menyelesaikan sebuah meeting singkat bersama rekan-rekan seprofesinya saat menerima sebuah pesan dari Yara.
[Aku cuma mau ngabarin, bentar lagi aku ke rumah Mas Anton karena tadi dia ngajak ketemu.]
Sky senang membaca pesan itu, artinya Yara benar-benar mendengarkannya untuk memberikan kabar.
[Makasih udah ngabarin. Jadi sekarang kamu dimana?] Sebuah balasan Sky kirimkan kepada Yara.
[Masih di rumah Rina. Nungguin dia dandan, bentar lagi jalan.]
[Ya udah, hati-hati dijalan. Jangan lupa mikir, ya.]
[Kok mikir? Mikir apa? 🙄]
[Mikirin aku, dong 😚]
[🤪]
Sky tertawa melihat balasan emoticon dari Yara. Ia pun memilih mengirim sebuah emoticon balasan untuk dikirimkan pada sang wanita.
[❤️]
Sky menyimpan ponselnya ke dalam saku celana setelah pesannya tidak lagi dibaca oleh Yara. Mungkin wanita itu sudah dalam perjalanan menuju kediaman sang kakak, pikirnya.
Jangan ditanya perasannya saat ini. Tentu saja Sky sedang berbunga-bunga sebab menghabiskan waktu semalaman dengan Yara malam tadi. Ya, walaupun belum ada kemajuan dari hubungan mereka tapi Sky sudah amat bersyukur. Setidaknya ada sedikit perubahan dari sikap Yara terhadapnya.
"Sekai?"
Siapa lagi yang memanggilnya begitu jika bukan Beno.
Sky membalikkan tubuh dan benar saja Beno sudah ada disana.
"Kenapa, Ben?"
"Besok kau datang ya ke rumahku. Ada acara syukuran."
"Syukuran apa-an?"
"Bukan apa-apa, cuma Abel ulang tahun. Jadi, makan-makan dikit, lah." Beno merujuk pada putrinya yang berusia dua tahun.
"Oh, ya udah, ntar aku datang kesana."
"Bener ya?"
"Iya, aku juga mau ketemu Abel."
"Nah iya, udah berapa lama kau gak ketemu Abel? Padahal dia lebih ngefans sama kau daripada sama aku."
Sky terkekeh mendengar gerutuan Beno. Abel memang anak yang manis, terkadang Sky senang mengajaknya bermain-main, tentunya jika Beno sedang memanfaatkannya hingga menyuruhnya menjaga Abel--sementara Beno mau berduaan saja dengan Jenifer.
"Iya, ntar aku datang, tenang aja," kata Sky santai.
Setelah melakukan pembicaraan diluar konteks pekerjaan itu, perhatian keduanya justru tertuju kearah pintu utama dimana seorang pria yang mereka kenali baru saja datang mengunjungi kantor itu untuk yang kesekian kalinya.
__ADS_1
Dia adalah Juna. Berhubung hari ini dia bolos kerja dan tidak memiliki kegiatan, ada baiknya dia kembali mendatangi kantor Arsitektur itu untuk menanyakan kapan kiranya rumah barunya siap di kerjakan. Sekalian mengisi waktu sambil menunggu Anton yang pasti akan membujuk Yara, pikirnya.
"Pak Sky?"
Juna lebih dulu menyapa Sky. Dia tidak ingat pada Beno, sementara Beno tentu saja mengingat Juna--yang tempo hari sempat diselidiki oleh Sky, hingga menyuruhnya menjadi pengantar makanan.
"Ya, Pak. Mau bertemu Wulan?" tebak Sky, sebab memang Juna adalah klien Wulan sedari awal.
"Iya, Pak. Saya sudah ada janji dengan Bu Wulan."
Sky pun menganggukkan kepalanya, sementara Beno hanya diam tidak bereaksi, namun dalam kepalanya sedang bertanya-tanya apa kaitan Sahabatnya dengan pria dihadapannya ini. Kenapa Sky sampai menyelidiki pria bernama Juna ini beberapa waktu lalu?
Juna memperhatikan Sky, entah kenapa hari ini ia melakukan tindakan itu, biasanya ia tidak terlalu peduli meski ia pun dapat melihat sejak awal jika Sky adalah pria yang tampan dan tentunya matang.
"Maaf sebelumnya, Pak. Apa saya boleh menanyakan hal yang sedikit pribadi?"
Sky mengernyit atas pertanyaan Juna, tapi ia mengangguk sebagai respon terhadap pria itu.
"Pak Sky ini tampan, mapan dan matang. Kapan rencananya mau menikah?"
Sky keheranan, ia menatap Beno dan sang sahabat hanya mengulumm senyum padanya sebab Beno tidak tau apa-apa mengenai Sky dan Juna.
"Kenapa menanyakan kapan saya menikah, pak?" Sky malah balik bertanya pada akhirnya.
"Bukan apa-apa, hanya ingin tau saja. Udah ada calonnya kan?"
Sky tertawa pelan. "Ya, memang sudah ada. Kenapa tiba-tiba ingin tau?" ujarnya.
Sekali lagi Sky terkekeh heran. Selanjutnya, ia undur diri dari hadapan Juna sebab merasa pertanyaan Juna terasa mengintimidasinya. Apa Juna mulai curiga padanya? Jika memang iya, Sky berani mengaku jika memang Yara sudah menyetujui tentunya.
Sementara Juna, ia menatap kepergian Sky bersama Beno ke arah yang berlawanan. Bukan tanpa alasan ia bertanya pada Sky mengenai hal itu. Sebab saat hari ini dia memperhatikan lebih teliti tentang penampilan Sky, Juna merasa arloji yang Sky kenakan sangat mirip dengan kepunyaan Yara. Seketika tadi, pikirannya langsung berpikiran macam-macam, dan akhirnya berujung dengan mempertanyakan tentang pasangan pria itu.
"Gak mungkin lah selera seorang Sky Lazuardi kayak Yara, dia pasti memilih seorang gadis yang juga punya karir hebat sepertinya," batin Juna.
...~~~...
Sementara di kediaman Anton, Yara dan Rina baru saja turun dari mobil kedatangan keduanya sudah ditunggu oleh Anton. Bahkan kakak Yara itu sengaja menutup usaha bengkelnya.
"Mas, ini Rina, temen Yara." Yara memperkenalkan Rina pada Anton.
"Anton."
"Rina." Rina mengulurkan tangan dan menyalami kakak kandung Yara.
"Semalam Yara nginap di rumah Rina, Mas," kata Yara langsung ke point-nya.
Anton mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kembali menatap Rina.
"Bener Yara nginap di rumah kamu, Rin?"
Rina tersenyum tipis. "Iya, Mas. Yara nginap di rumahku. Itu dia juga pakai bajuku," jawabnya ramah.
"Ya udah, masuk dulu, yuk." Anton segan sebab membiarkan tamunya hanya berdiri di teras rumah.
__ADS_1
"Ehm, maaf Mas, aku kesini hanya untuk mengantarkan Yara aja dan mengatakan yang sebenarnya kalau Yara memang menginap di rumahku semalam. Aku harus pamit, ada urusan lainnya, maaf," kata Rina.
Rina bukan tak mau mampir, tetapi ia yakin Yara pasti butuh privasi untuk menyelesaikan dan menjelaskan pada sang kakak terkait masalah rumah tangganya. Rina yang merasa sebagai orang luar, tidak layak ikut mendengar semua itu. Biarlah Yara mengurusnya sendiri, pikirnya.
"Oh, gitu... ya udah, makasih ya, Rin," kata Anton.
"Sama-sama, Mas." Rina menangkupkan kedua tangan sebagai tanda izin untuk undur diri.
"Rin, makasih banyak ya, atas bantuan kamu." Kali ini Yara yang bersuara.
"Gak masalah, Ra. Aku seneng bantuin kamu."
Saat Rina hendak berbalik pergi, ia tertegun melihat seseorang yang baru muncul diantara mereka.
"Shanum?"
"Rina?"
Rina tak jadi beranjak, ia justru menyapa Shanum. "Lo ngapain disini, Num?" tanyanya.
"Ini rumah gue, Mas Anton suami gue," kata Shanum kemudian.
"Oh... lo lagi hamil?" tebak Rina saat melihat perut Shanum yang mulai membuncit.
Shanum mengangguk.
"Selamat ya, gue balik. Sehat-sehat lo, jangan banyakin dugem," kelakar Rina yang kemudian berlalu pergi.
"Rina itu teman kamu, Ra?" Shanum menanyai Yara sesaat setelah mobil Rina berlalu dari kediamannya.
"Iya, mbak. Mbak kok kenal?"
"Temen main dulu..."
Anton yang sudah masuk ke dalam rumah pun terdengar memanggil Yara.
"Yara?"
"Iya, Mas." Buru-buru Yara menyahut. Ia tahu kakaknya pasti ingin bicara padanya sekarang.
"Ra?"
Sekali lagi Yara menoleh pada Shanum. "Apa, mbak?" tanyanya.
"Mbak udah denger masalah kamu sama Juna. Kalau emang mau pisah, mbak dukung, pisah aja," kata Shanum sambil berbisik, ia memprovokasi Yara agar segera berpisah dari Juna, berlagak mendukung keputusan adik iparnya padahal memang itulah yang ia harapkan.
Yara hanya tersenyum kecut. "Iya, mbak..." jawabnya.
Bersambung ....
*****
Nanti othor up lagi.... kirimin bunga dong🌹🥰
__ADS_1