
Bagaimana perasaannya yang menghangat ketika pergi, begitupula yang Anton rasakan ketika sudah tiba dirumah.
Menatap seorang wanita yang dengan sabar memberikan susu formula kepada putri kecilnya.
Pemandangan itu seakan sangat kontras dan terasa menggetarkan hatinya. Ketulusan sang wanita dapat terpancar dari caranya yang lembut dan penuh kasih sayang.
Untuk hal ini, Anton mengakui jika Nadine benar-benar bersikap selayaknya seorang ibu bagi Baby Elara.
"Minum sufor aja gak apa-apa ya, Sayang? Kalo aja Tante punya asi pasti Tante kasihin buat kamu, deh...." celetuk Nadine dan dapat di dengar oleh Anton dari ambang pintu.
Entah kenapa mendengar hal itu justru membuat Anton jadi merasa terenyuh. Baby Elara memang tidak dapat merasai Asi sama sekali dari awal kelahirannya. Sebaliknya, Nadine juga tak akan memiliki hal itu meski dia ingin memberinya pada sang bayi.
Sepertinya Nadine belum menyadari kepulangan Anton, Nadine terlalu sibuk dengan Baby Elara.
"Nad?"
Panggilan dari Anton sontak membuat Nadine menoleh, dia tersenyum simpul ke arah pria itu.
"Udah balik, Mas? Aku pikir bakal sampe sore," kata sang wanita menjawab.
"Kenapa? Kamu udah mau pulang?"
"Enggak sih, ngapain juga aku pulang aku lebih senang disini sama Elara." Kali ini Nadine berujar sembari menatap pada bayi kecil dalam gendongannya.
"Elara belum tidur?"
"Kayaknya bentar lagi nih, udah ngantuk, Elara lagi serius banget ngabisin su-sunya. Mas jangan gangguin ya, ntar dia jadi nangis," kata Nadine memperingatkan Anton yang memang awalnya berniat menyapa sang bayi.
Akhirnya Anton hanya tersenyum tipis, dia pun memasuki rumah, pintu itu memang tidak ditutup sedari awal kepergiannya-- satu jam yang lalu.
"Harusnya kalau saya pergi kamu tutup aja pintunya, takutnya ada tamu yang gak diundang."
"Enggaklah, Mas. Lagian bengkel kamu kan buka di depan, mana mungkin aku tutup pintu. Aku gak enak sama pekerja kamu, ntar dikira lagi ngapain gitu."
"Lho, Fandi kan tau kalau saya keluar belanja stok. Emang dia mau ngira kamu ngapain?"
Nadine mengendikkan bahu acuh tak acuh. Dia hanya tidak mau ada yang salah sangka dengan keberadaannya di rumah Anton jadi ada baiknya pintu rumah itu memang dibuka lebar-lebar. Apalagi dia juga mendengar-- bagaimana dulu Yara dan Sky yang mendadak dinikahkan warga. Dia tidak mau hal itu sampai terulang kembali kepada dia dan Anton.
Andai saja bisa, Nadine mau mengasuh Baby Elara dengan tenang, tanpa prasangka orang lain. Tapi, jika membawa Baby Elara ke kediamannya sendiri, itu rasanya tak etis--seolah dia mau menguasai bayi itu, padahal niatnya tentulah tidak demikian.
Bagaimana caranya ia bisa menjaga Baby Elara tanpa prasangka orang lain?
"Ehm, Mas. Tadi pas kamu pergi memang ada sih yang datang kesini. Beliau nanyain aku siapa. Dia pikir aku istri baru kamu, malah." Nadine menyengir diujung kalimatnya.
Mendengar itu, Anton mengulumm senyum tapi juga terheran-heran. Pasti itu warga yang kepo dengan kehadiran Nadine di rumahnya. Maklum saja, daerah tempat tinggalnya memang ditinggali oleh orang-orang yang masih peduli dengan lingkungan sekitar. Mereka tidak cuek, bahkan sangat peduli, tapi karena hal itu pula yang membuat para tetangganya jadi terkesan sangat ingin tau dan ikut campur urusan orang lain.
Hal itu juga karena warga ingin kawasan ini aman dan tidak terjadi aktivitas yang tidak sesuai dengan etika dan melanggar norma-norma.
"Terus, kamu jawab apa sama yang nanya?"
"Aku jawab aja aku pengasuhnya Elara."
"Tapi, Nad?" Anton merasa status itu tidak cocok untuk Nadine yang notabenenya adalah tamu dirumahnya.
__ADS_1
"Ya, memang aku ngasuh Elara kan, Mas. Lagian aku harus jawab apa lagi? Kalau aku bilang aku tamunya kamu, ntar aku gak bisa sering kesini buat liatin Elara lagi."
"Kok gitu?"
"Ya, mana ada tamu yang datang setiap hari. Takutnya aku disuruh lapor ke RT tiap 1x24 jam lagi," canda Nadine.
Sekali lagi Anton terheran-heran dengan jawaban Nadine. Tapi dia juga ikut tertawa pada akhirnya.
"Jadi, maksud kamu----"
"Iya, Mas. Gak apa-apa ya, kalau aku datang tiap hari buat kunjungi Elara." Nadine memotong perkataan Anton dengan cepatnya.
Anton sebenarnya lucu dengan pernyataan Nadine kali ini, tapi dia juga tak tega melihat binar pengharapan di mata wanita itu.
"Ya boleh aja, sih. Saya juga suka."
"Suka?"
"Iya, suka, ehmm ... maksudnya senang, karena kamu mau bantuin saya jaga Elara."
"Iya, Mas. Aku seneng, Elara juga bayi yang baik. Aku udah ngerasa cocok sama bayi kamu. Oh iya, kamu udah makan siang, Mas?"
"Kenapa? Jangan bilang kalau kamu mau masak disini? Serius Nad, saya gak enak sama kamu. Terus saya juga gak sanggup kalau diminta untuk menggaji kamu," kelakar Anton dan Nadine akhirnya menundukkan wajah.
Anton bergerak pelan, kemudian mengulurkan sebuah bungkusan pada Nadine.
"Ini apa, Mas?" tanya wanita itu.
"Kamu makan dulu, pasti belum makan karena jagain Elara dari pagi."
"Maaf ya, cuma belikan nasi di warteg aja tadi."
"Ya gak apa-apa lah, Mas. Kok mesti minta maaf sih."
"Ya, saya pikir kamu gak terbiasa sama makanan seperti itu."
Sekarang Nadine malah tertawa. "Apaan sih, Mas. Ya aku makan sama kayak yang kamu makan aja. Sama-sama makan nasi juga," ujarnya terkekeh.
Nadine pun beranjak dari hadapan Anton, dia mau meletakkan Baby Elara ke atas tempat tidur yang ada di kamar Anton sebab bayi itu sudah terlelap bersamaan dengan su-sunya yang telah habis.
Tak lama, Nadine keluar dari kamar itu dan melihat Anton sedang melakukan sesuatu didekat meja makan, namun dia tidak tau pasti apa yang dilakukan oleh pria itu. Kebetulan posisi kamar Anton memang harus melewati ruang makan+- hingga mau tak mau Nadine dapat melihat hal tersebut.
"Kamu ngapain, Mas?"
Prak! Srrrrhhh
"Arkh!" Anton memekik tertahan, membuat Nadine yang mendengar jadi panik seketika.
Wanita itu lantas menghampiri posisi Anton dan melihat jika sang pria yang sudah tersiram air mendidih.
Rupanya, tadi Anton sedang menyeduh air teh-- ketika Nadine menyapanya. Karena terkejut, air itu lantas mengenai punggung tangan Anton sendiri.
"Ya ampun, Mas." Nadine merasa bersalah, dia segera menggeser cangkir Anton agar lebih berada ke tengah meja, kemudian melihat pada tangan pria itu.
__ADS_1
"Kok bisa kena air panas, sih, Mas?" Nadine membantu mengelap tangan Anton yang terlihat memerah-- dengan secarik tisu.
Pria itu masih meringis, ia menatap Nadine yang memegang tangannya dan mengelapnya dengan perlahan. Ia bahkan dapat merasakan sentuhan lembut dari kulit wanita itu. Membuatnya pupil matanya membesar seketika.
"I--iya, tadi saya kaget pas kamu keluar kamar," akuinya terus terang.
"Duh, aku jadi gak enak sama Mas Anton, harusnya tadi aku nggak nyapa dan diam aja, ya."
"Gak apa-apa, Nad. Saya juga salah."
"Ada salep gak, Mas? Biar aku bantu obatin..."
"Gak usah, Nad. Saya bisa sendiri."
Tapi, mata Nadine justru langsung menangkap kotak obat yang memang bertengger di dinding ruangan. Mencari sejenak disana dan menemukan sebuah salep yang cocok untuk mengobati luka di tangan Anton.
"Ayo duduk, Mas."
Anton menurut dan duduk di kursi makan. Disusul oleh Nadine yang duduk disebelahnya.
"Lain kali hati-hati, ya, Mas." Nadine berucap sembari mengoleskan salep ke tangan pria itu.
Rasa dingin langsung menjalari kulitnya, namun berbeda dengan rasa dihati yang justru terasa berkebalikan dengan itu. Ya, hati Anton mendadak dialiri rasa hangat.
Nadine pun mengolesi tangan Anton dengan telaten. Dia bahkan tidak menyadari jika sejak tadi Anton menatapi kegiatannya itu dengan tatapan lekat.
"Nah, udah selesai, Mas."
Saat Nadine mengangkat wajah, tatapannya bersirobok dengan sorot mata Anton yang menatapnya intens. Untuk beberapa saat, pandangan itu terkunci disana--bahkan mereka seakan tidak menyadari bahwa ada daya magnet yang terasa sedang tarik-menarik dalam tatapan keduanya.
Hati Anton memang telah beku sejak Shanum terbukti mengkhianatinya. Dia bahkan tidak tau bisa membuka hati lagi untuk wanita lainnya atau justru menutup perasaan itu selamanya.
Tapi kehadiran Nadine ....
"Mas, tadi nasinya aku taruh dimana ya?" Nadine memutus kontak mata diantara mereka, sekarang malah seperti sibuk mencari-cari bungkusan nasi yang tadi sudah Anton berikan sebelumnya.
"Ah, kayaknya di meja depan. Biar aku ambilkan." Anton beranjak dan bangkit dari duduknya. Dia juga ingin menghindar dari suasana akward yang sempat terjadi diantara mereka.
Seperginya Anton menuju ruang depan, barulah Nadine bisa mengembuskan nafas panjang. Kenapa tadi rasanya dia sedang menahan nafas dan terasa menyesakkan? Hujaman mata Anton itu seperti memikat dan mengurungnya.
"Apa-apaan sih aku ini?" gumam Nadine pada dirinya sendiri. Dia sampai memijat pelipisnya sendiri, sebab sekarang mulai was-was dengan detak jantungnya sendiri yang mendadak bermanufer jika berada dekat dengan Anton.
Nadine memegangi dadanya, dia jelas dapat merasakan sesuatu yang berbeda dari respon tubuhnya sendiri.
"Gak, aku gak boleh tertarik sama Mas Anton." Nadine membatin dalam dirinya sendiri, sebab ia takut salah menafsirkan rasa yang sejak awal belum punya nama.
Apa nama perasaan ini? Ah, entahlah, Nadine tidak mengetahuinya, atau mungkin .... belum menyadarinya?
Bersambung ....
Dukung novel ini terus kalau mau tau kelanjutannya🥰✌️
Semoga kita semua sehat terus ya 💚💚💚
__ADS_1
Nanti aku kasi 1 Bab lagi kalo banyak dukungannya🤭🤭🙏