
Nadine berlalu dari hadapan Lucky, meninggalkan pria itu yang masih termenung kaku akibat ucapan sang wanita.
"Aku tau aku bersalah, Nad. Tapi aku masih sangat mencintai kamu," batin Lucky menatap tubuh ramping istrinya yang sudah bergerak menjauh.
Sementara itu, Nadine kembali ke Ballroom hotel dan mencari keberadaan Anton dan Baby Elara. Sayangnya ia sudah tak dapat menemukan mereka dimanapun. Nadine merasa kalut dan khawatir. Apa Anton meninggalkan pesta Yara karena kehadiran Lucky tadi yang jelas-jelas meremehkannya? Apakah Anton jadi tak bersemangat karena kejadian tadi?
Entah kenapa Nadine justru memikirkan perasaan Anton sekarang. Ia tak yakin jika pria itu akan bersikap baik padanya setelah diremehkan oleh Lucky beberapa saat lalu.
Apalagi Lucky tampak ingin sekali menunjukkan pada Anton--bahwa Nadine adalah istrinya.
Tapi, kenapa Nadine harus memikirkan perasaan Anton? Harusnya ia fokus mencari Anton untuk melihat keadaan Baby Elara. Apa fokus Nadine sekarang sudah terbagi---bukan hanya untuk sang bayi---tetapi juga pada ayahnya?
Nadine melihat ke pelaminan, Yara sudah kembali ke sana bersama Sky untuk menyambut para tamu mereka. Tapi dimana Anton? Nadine tetap tak menemukannya.
Nadine merasa lega saat dari arah yang cukup jauh, dia dapat melihat kembalinya Anton ke tengah-tengah acara, tapi dia merasa heran sebab Anton tidak menggendong bayi mereka. Ah bayi mereka? Ya, terserah. Baby Elara memang kepunyaan mereka berdua sekarang, pikir Nadine yang merasa sudah memiliki bayi itu juga sebagai putrinya.
"Mas?"
Anton menoleh dan mendapati Nadine disana. Ia heran, kenapa Nadine sudah kembali ke Ballroom secepat ini? Bukankah seharusnya Nadine masih bersama suaminya?
"Mana Elara, Mas?"
"Kamu udah balik kesini?" Bukannya menjawab, justru Anton memberi pertanyaan lain pada wanita itu.
"Elara mana, Mas?" Nadine merasa panik, ia takut Anton melupakan Elara atau justru meninggalkan bayi itu entah dimana.
"Tuh, Elara lagi di gendong sama Fera."
Anton menunjuk seorang wanita cantik yang kini memomong Elara. Seketika-- hati wanita itu terasa mencelos. Siapa wanita itu? Batinnya bertanya-tanya.
"Fera? Siapa dia, Mas?"
"Tadi pas kamu pergi, Fera lihat aku kerepotan gendong Elara, jadi dia mau bantuin nenangin. Gak taunya Elara juga cepat akrab sama dia."
"Iya, tapi dia itu siapa, Mas? Pacar baru kamu?" tanya Nadine menuntut jawaban yang benar-benar jujur dari bibir Anton.
Anton menipiskan bibir. "Kenapa setiap ada wanita yang mau gendong atau dekat sama Elara selalu kamu anggap sebagai pacar baru aku, Nad?" tanyanya.
"Y--ya, gak. Siapa tau... kan, kamu juga single, Mas."
Anton tertawa pelan. "Iya, sih. Single father with a daughter," ujarnya.
"Terus, Fera siapanya kamu, Mas?" Kembali pada pertanyaan yang sama. Ada nada cemburu disana. Iyakah?
"Dia itu temannya Yara. Mungkin dia prihatin sama nasib Elara. Ya, gitulah, banyak yang mendadak sayang sama Elara sekarang."
__ADS_1
Entah kenapa mendengar itu hati Nadine diliputi perasaan yang ... kesal dan cemburu. Iya, dia memang cemburu.
"Cantik ya, Mas. Apa kamu gak tertarik sama dia?" Entah kenapa pertanyaan seperti itu refleks terlontar dari bibir Nadine.
"Aku gak tertarik sama istri orang, Nad. Terlibat sama istri orang itu repot, kecuali dia udah benar-benar berpisah dari suaminya, ya mungkin aja..."
CTAS!
Hati Nadine bagai tersentil oleh kalimat Anton. Entah kenapa dia merasa ucapan sang pria itu tengah menyindir dan tertuju kepadanya. Bukankah Nadine sendiri masihlah istri orang? Tapi, perkataan terakhir Anton justru membuka sebuah harapan di hati wanita itu. Apakah mungkin? Ah, kenapa ada rasa semacam itu dibenaknya.
"Jadi dia punya suami ya, Mas? Aku kirain dia single...." kata Nadine merujuk pada Fera.
"Itu ... pria yang baju biru itu suaminya, dia baru menikah tiga minggu yang lalu. Tapi Yara gak bisa datang ke pesta mereka karena lagi di Labuan Bajo. Itu sih yang aku dengar..."
"Kamu ... pernah dekat sama salah satu teman Yara gak, Mas?"
"Pernah sih..." Anton tersenyum tipis, kenapa Nadine jadi menanyainya dengan pertanyaan seperti ini?
"Siapa, Mas? Yang mana orangnya?"
"Kamu gak bisa lihat dia disini."
"Hah?"
"Kalau kamu mau lihat, kamu bercermin aja."
Ah, kenapa sih pria ini selalu memberi jawaban yang membingungkan?
...~~~...
Anton sedikit kesal karena harus bertemu dengan suami Nadine tadi. Ah, kenapa dia harus kesal? Apa karena pria itu terang-terangan meremehkannya?
Sepertinya tidak, Anton tau kapasitas diri dan sudah terbiasa untuk diremehkan seperti itu. Mentalnya yang sekuat baja-- sudah kebal. Perkataan menohok yang terdengar sumbang di telinga juga sudah sering ia dapatkan.
Tapi, kenapa ia harus kesal saat bertemu Lucky? Apalagi saat pria itu menyatakan statusnya sebagai suami Nadine dengan intonasi bangga diri yang berlebihan.
Jujur saja, Anton menggeram dalam hati. Tapi, kenyataan cukup menamparnya. Ya, siapalah dia bagi Nadine? Ia tak berhak mencampuri urusan rumah tangga wanita itu.
Saat Nadine kembali ke Ballroom dan menyapanya lagi, sebenarnya Anton sangat ingin menanyakan bagaimana pertemuan Nadine dengan suami yang sudah dalam proses perceraian itu?
Tapi hal itu tidak Anton lakukan, dia takut dianggap kepo dan di cap terlalu ingin tahu masalah orang lain. Ya, meski pada kenyataannya Anton memang cukup penasaran.
Awalnya, Anton mulai senang mendengar Nadine yang menanyakan keberadaan Elara. Tapi, lambat laun ia merasa janggal dengan pertanyaan Nadine yang berikutnya.
Kenapa Nadine selalu menganggap wanita yang dekat dengan Elara sebagai pacar barunya? Begitulah pemikiran Anton.
__ADS_1
Entahlah, tapi Anton juga senang menangkap nada cemburu di intonasi suara wanita itu.
Saat Nadine menanyakan siapa teman Yara yang pernah dekat dengannya. Anton justru merasa lucu. Ya, bagaimana tidak, selama ini dia tak sekalipun pernah terlibat bahkan dekat dengan teman-teman Yara. Baik teman sekolah maupun saat sang adik berada di jenjang perkuliahan. Anton terlalu cuek untuk hal itu.
Dan Nadine, justru mempertanyakan hal semacam itu. Jelas saja Anton cukup bingung untuk menjawab pada awalnya, tapi melihat mata lentik milik Nadine justru membuat Anton sadar bahwa Nadine juga adalah salah satu teman Yara, kan?
Ya sudah, Anton memberikan jawaban yang menjurus pada wanita itu sendiri. Entahlah Nadine akan memahami perkataannya yang ambigu itu atau tidak sadar sama sekali.
...~~~~...
Acara resepsi itu akhirnya selesai. Sky dan Yara cukup lega. Mereka memutuskan untuk langsung beristirahat di kamar hotel yang mereka tempati.
"Besok kita kontrol lagi ke Dokter Metha ya, sayang? Aku takut kamu kecapekan."
Yara menatap Sky--yang juga tengah memandanginya sekarang.
"Aku baik-baik aja, kok."
Yara hanya kehilangan mood setelah melihat Juna hadir di acara resepsi tadi siang. Akibat kejadian itu lah dia merasa lesu. Ia malu, belum lagi rasa tak enak hati pada mertuanya yang pasti juga merasakan malu yang sama.
Yara takut, mama Sky yang akan diolok sebab kehadiran masa lalu Yara dalam perhelatan itu.
"Kamu mikirin apa, sih? Jangan mikirin pria lain setelah menjadi istriku, Ra." Sky seolah tau apa yang Yara pikirkan sekarang.
"Aku cuma gak enak sama mama. Apa kata relasi mama yang mungkin aja kebetulan dengar kejadian tadi pas mas Juna datang."
"Udahlah, Ra. Mama itu orangnya cuek kok."
"Tapi tetap aja aku gak enak."
"Ya mau dimana lagi, Sayang. Lagipula semua udah terjadi. Itu adalah resiko aku sebagai pria yang menikahi wanita yang memiliki masa lalu."
Jawaban Sky itu akhirnya dapat menenangkan jiwa istrinya. Yara pun memeluk Sky dan menyandar dalam dada bidang milik pria itu.
"Makasih ya, Sayang. Kamu selalu bisa bikin aku waras. Kalau aja pasangan aku bukan kamu... aku gak tau apa jadinya aku," kata Yara mengakui.
"Itulah gunanya kita menikah. Selain saling menerima satu sama lain, kita juga harus saling memahami keadaannya. Aku gak marah sebab kejadian tadi. Buat aku itu sudah menjadi konsekuensi karena pilihan aku adalah kamu."
Yara tersenyum dalam posisinya. Sky memang selalu menerimanya apa adanya, terkadang ia takut mengecewakan pria baik yang telah menjadi suaminya ini.
"Tapi mama, gimana Sky?" Masih saja Yara memikirkan perasaan Indri, ia takut mempermalukan Indri secara tak langsung karena kedatangan masa lalunya beberapa saat lalu.
"Mama gak akan marah, ini juga bukan salah kamu. Bukan kamu yang ngundang Juna. Mama juga pasti memahami itu. Mama sama aku kan gak jauh beda."
Bersambung ....
__ADS_1
Gak tau bisa up sekali lagi atau enggak nanti. Soalnya lagi repot serepot-repotnya di dunia nyata. Ini aja aku usahain up tengah malam sama pagi-pagi banget. Moga nanti bisa up sekali lagi ya buat hari ini. Mohon dukungannya trus gaes. Semoga urusan kita lancar hari ini๐๐๐