
"Kita kemana lagi?" tanya Yara pada pria yang duduk mengemudi--disbelahnya.
"Kencan," jawab Sky.
"Kencan apaan? Aku pakai baju begini, mana hujan deras lagi," kata Yara merujuk pada penampilannya yang masih mengenakan kebaya dan bawahan rok lilit batik.
Sky mengendikkan bahu. "Gak apa-apa lah, yang penting kamu selalu cantik dimata aku."
"Tapi ribet, Sky."
"Jadi gimana dong? Pulang?"
Yara mengangguk tapi Sky menggelengkan kepala sambil berlagak mencebik.
"Ini hujan, emang mau kemana?"
"Nonton. Ada film baru di bioskop," ajak lelaki itu.
"Dengan penampilan aku yang begini?" tanya Yara memastikan.
"Kalau perlu nanti kita beli pakaian ganti dulu buat kamu. Ya?"
Yara tampak menimbang-nimbang tapi Sky tidak memberinya kesempatan untuk menolak, malah pria itu melewati jalanan yang seharusnya menjadi jalan pulang Yara menuju rumah Anton.
Sky memarkiran mobil di basement gedung sebuah plaza dimana terdapat bioskop XXI di dalamnya.
"Ayo!" Sky menggenggam tangan yara yang berjalan pelan disisinya.
Hanya beberapa menit berjalan dari basement gedung, mereka pun tiba didalamnya.
"Jadi mau cari baju ganti?"
Yara mengangguk. Ia sendiri risih dengan tampilan begini. Sky menariknya pelan, berjalan menuju sayap kiri bangunan berlantai enam itu dan membawanya masuk ke sebuah outlet fashion yang pasti akan membuat mereka menemukan apa yang saat ini Yara perlukan.
Tidak butuh waktu lama, Sky langsung menunjuk sebuah pakaian casual yang terpampang disebuah manekin.
"Itu aja, cocok juga sama outfit yang aku pakai sekarang."
Yara mengangguk, ia melihat Sky mengenakan kemeja hitam slimfit yang tidak terlalu formal.
"Oke."
Yara memutuskan langsung membeli itu dan tidak ingin membuang waktu sebab mereka akan segera menonton bioskop.
Karena ukuran dan bentuk tubuh Yara terbilang standar alias freesize, ia yakin baju itu akan langsung cocok untuknya tanpa ia cobai lebih dulu.
Sampai di kasir, Sky menambahkan sebuah belanjaan miliknya yang tadi sempat ia pilih secara asal.
"Kamu, mau ganti baju juga?" tanya Yara heran.
"Hmm, biar nyamain sama penampilan kamu aja. Kayak pasangam kebanyakan." Dia menyengir.
Yara sampai menahan gelak, ternyata yang dikatakan Anton--sang kakak-- mengenai Sky--- benar adanya. Pria itu terlalu bucin sampai pakaian saja mau disesuaikan. Kadang yara lucu dan gemas sendiri melihat pola dan tingkah laku pemuda ini.
Sky pun membayar belanjaan mereka. Lalu mereka berpisah di koridor toilet, untuk memasuki area masing-masing.
__ADS_1
Didalam toilet, Yara mengenakan baju yang tadi dipilih oleh Sky untuknya.
Sementara Sky juga membuka kemejanya di toilet pria, hingga menyisakan kaos dalam berwarna hitam. Lalu, ia pun mengambil kantong belanjaannya dan mengenakan sebuah jaket denim yang tadi dipilihnya secara random.
"Pas, Sky emang tampan," pujinya pada diri sendiri. Terkadang ia memang senarsis itu.
Saat Sky sudah siap dengan penampilannya, ia memilih menunggu Yara di koridor.
Hingga wanita itu muncul dan Sky tersenyum-senyum geli karena Yara yang melongo melihat penampilan sang pria dihadapannya.
"Kamu sengaja, kan?" kata Yara yang kini memicing pada Sky.
"Sengaja apa?" Sky berlagak bo doh.
"Ini, penampilan kita. Ini namanya bukan matching lagi tapi udah kayak couple-an."
Sky tertawa pelan. "Kan biar samaan, tadi udah aku bilang, kan," ujarnya polos tanpa merasa bersalah.
"Kayak anak remaja aja pakai baju samaan gini."
"Biarin, gak berdosa ini, kan?" jawabnya tak acuh.
Yara mengangguk saja dan akhirnya hanya pasrah saat Sky kembali menggenggam tangannya, lalu membawanya menaiki sebuah lift untuk menuju letak bioskop.
Disana, Yara melihat-lihat film yang sedang ditayangkan. Kebanyakan adalah film horor dan action. Yara tak masalah menonton yang manapun.
"Horor?" tanya Sky seperti menantang Yara.
Sky mengacak rambut Yara dengan gemas. "Oke," katanya.
Sky memesan dua tiket untuk mereka kemudian tak lupa pula untuk membeli camilan dan minuman yang akan menemani selama film berlangsung.
Tidak sekalipun Sky melepaskan tangan Yara. Ini adalah momen kencan mereka lagi setelah sekian tahun. Yang kemarin makan di Mall tidak dihitung sebab mereka sempat bertemu dengan Shanum dan Juna hingga membuat mood Yara kurang baik waktu itu.
"Kenapa pilih kursi paling belakang, sih?" protes Yara.
"Kenapa? Kamu takut nonton film horor dibelakang?"
"Bukan."
"Terus?"
"Aku lebih takut sama kamu kalau duduknya mojok-mojok begini," akui Yara terus terang dan Sky justru memasang senyum tengilnya mendengar gerutuan sang wanita.
...~~~...
Pria yang ingin menolong Nadine itu--memberinya kode untuk meminggirkan posisi mobil setelah sebelumnya membuka kap mobil sekejap-- hanya untuk memastikan kondisi mobil tersebut.
Nadine langsung mengangguk dari balik kaca mobil yang terbuka.
Sang pria pun mulai membantu mendorong mobil Nadine dari belakang sisi luar, sementara Nadine sendiri--- mengarahkan mobilnya ke pinggiran jalan dengan kemudi yang ada dihadapannya dan sepertinya dia berhasil.
Sesampainya di pinggiran, sang pria langsung membuka kap mobil Nadine lagi, kemudian ia mulai sibuk disana. Tak berapa lama, pria itu terdengar berteriak dari luar.
__ADS_1
"Coba di stater, mbak..." katanya.
Nadine yang masih berada didalam kabin mobil langsung mengikuti instruksi dari sang pria.
"Iya, sebentar," sahut Nadine dari dalam kabin. Ia pun mulai men-stater, mencoba menyalakan mesin mobil dan syukurnya itu bisa menyala dengan cepat.
Wah, pria ini benar-benar malaikat yang menolongnya, batin Nadine.
"Udah bisa," gumam Nadine kesenangan.
Nadine ingin keluar dari mobil untuk berterima kasih pada pria itu. Tapi, belum sempat ia bicara, pria itu sudah akan berbalik setelah memastikan mobil Nadine yang tampak menyala di pandangannya.
"Mas?" teriak Nadine menghentikan langkah sang pria.
Pria itu berbalik saat merasa Nadine keluar dari mobil dan melangkah mendekati posisinya.
"Mas, terima kasih, ya." Nadine menyodorkan beberapa lembar uang kehadapan sang pria.
Pria itu mengernyit dengan seulas senyum miring disudut bibirnya.
"Saya tulus menolong, mbak. Simpan saja uangnya," kata sang pria.
"Tapi, Mas?"
Pria itu malah membuka mantel plastiknya, kemudian membuka jaket yang ia kenakan, lalu memberikannya pada Nadine.
"Kenapa mengejar saya? Mbak jadi basah. pakai ini buat nutupin kepalanya," ujar sang pria lagi, membuat Nadine speechless. Pria ini saja sampai cukup basah demi menolongnya, mana tega Nadine mengambil jaket itu demi melindungi dirinya sendiri.
"Kenapa? Ayo Mbak, ini gak bau kok, baru dicuci dan baru saya pakai setengah jam yang lalu." Pria itu terkekeh pelan, membuat Nadine salah tingkah sebab rupanya pria ini cukup ramah-- tidak seperti tampangnya yang tampak kaku plus dingin.
"Sekali lagi makasih ya, Mas." Nadine merasa sungkan. "Tapi jaketnya gak perlu kok. Mas nya udah kehujanan dan kedinginan juga," lanjutnya.
Sang pria tidak mengindahkan, ia justru melihat Nadine yang mulai kebasahan.
"Tutupi kepalanya, nanti kalau ubun-ubun di kepala mbak basah karena kehujanan, mbak bisa flu."
Sekali lagi Nadine terperangah. Pria macam apa yang dijumpainya dalam rinai hujan ini? Sepertinya dia makhluk langka yang ada di bumi. Atau sisa-sisa dari spesies pria baik yang hampir punah?
"Makasih banyak, ya, Mas." Mau tak mau Nadine menyambut jaket pria itu, sebab ia juga urung jika sang pria terus-terusan menutupi kepalanya dengan jaket.
"Hmm..." Sang pria pun berbalik pergi, menyisakan Nadine yang masih terhipnotis oleh sosok tersebut.
Nadine memperhatikan pria itu menghampiri sebuah motor yang terparkir dipinggir jalan. Sebuah senyum kecil tersungging di bibirnya.
"Ternyata masih ada pria yang baik didunia ini."
Nadine kembali masuk ke mobilnya, ia meletakkan jaket milik pria tadi di jok sampingnya.
"Astaga... namanya siapa, ya?" Nadine sampai lupa menanyakan nama pria itu. Bagaimana caranya ia mengembalikan jaket ini nanti?
Bersambung ....
****
Jangan bosen sama novel ini ya... beri dukungan dan komentar yang membangun mood baik buat authorππππππππ Cintahhh kalian semuaβ€οΈ
__ADS_1