EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)

EX (BELENGGU CINTA PERTAMA)
172. Tidak mungkin


__ADS_3

Di hari yang sama, saat hujan turun rintik-rintik, Michele memilih untuk permisi dari kantornya dengan alasan kurang enak badan.


Wanita itu memang tidak bisa mengurus cuti dadakan di kantornya untuk misi melarikan diri yang sudah terpikir di benaknya. Tapi, dia sudah tidak memiliki ide apapun. Pikirannya blank, karena Daisy saja bisa semarah tadi apalagi Yara yang sudah mengetahui jika dia adalah biang keladi atas semua masalah ini.


Michele pun memilih mengabaikan soal pekerjaannya yang sudah pasti tak akan membiarkan dia pergi jauh dan menuntutnya untuk tetap hadir selama weekdays. Tapi, untuk saat ini, itu tidak begitu penting, yang menjadi prioritasnya sekarang yaitu dia harus segera pergi untuk menghindari pertemuan dengan aparat kepolisian yang akan mencarinya-- jika saja Yara benar-benar telah melaporkannya.


Tujuan Michele sebenarnya adalah pulang ke rumah orangtuanya di Australia. Tapi, dia rasa itu terlalu jauh, dia masih terikat kontrak pekerjaan meski sebenarnya dia mau mengabaikan. Entahlah, lupakan hal tentang itu. Intinya, Michele hanya perlu ke luar kota sekejap, sampai masalah ini dingin dan paling tidak dia sudah dapat memastikan bahwa situasinya aman-aman saja bagi dirinya yang adalah sang dalang.


Belum apa-apa, Michele sudah dihantui rasa takut yang berlebihan padahal kemungkinan yang ada dibenaknya belum tentu benar-benar akan terjadi. Kemarahan Radja dan Daisy seolah menyadarkannya bahwa semuanya mungkin saja. Bahkan Radja mau melaporkannya, apalagi Yara. Itulah pemikiran wanita itu.


Maka hari itu juga, Michele memutuskan untuk pulang lebih awal dan akan segera berkemas meski dia belum memiliki tujuan kepergian yang jelas. Dia akan memikirkan nanti setelah semua baju-bajunya siap dia susun dalam sebuah koper miliknya.


Pulang dengan terburu-buru ke Apartmen yang ditempatinya selama di Indonesia, Michele harus dikejutkan oleh kehadiran dua orang yang sangat dia kenali didepan pintu Apartmennya. Salah satu dari mereka adalah sepupunya sendiri, Jenifer dan yang satunya lagi adalah Beno.


Michele bertanya-tanya, apa gerangan Jenifer dan Beno datang mengunjungi Apartmennya. Apalagi mereka tidak mengirimi Michele pesan lebih dulu, syukurnya dia cepat pulang, jika tidak mungkin keduanya harus menunggu sore untuk melihat kepulangan Michele.


"Jen?" Baru satu kata itu yang tercetus dari bibir Michele, Jenifer malah mendekat kepadanya dan tiba-tiba ...


Plak!


Sebuah tamparan keras di terima Michele dari kakak sepupunya.


"Apa yang kau lakukan, Michi? Kelakuanmu membuatku sangat malu!" cecar Jenifer didepan wajah Michele yang mendadak pias karena syok.


Beberapa saat sebelumnya ...


Beno mengajak Jenifer untuk mendatangi kediaman Sky dan Yara karena permintaan sahabatnya itu. Siang itu, Beno memang sengaja meluangkan waktu untuk permintaan Sky karena Sky sudah memberitahunya garis besar awal mula permasalahan yang terjadi dan ini berkaitan dengan Michele. Sehingga Beno berniat mau membantu Sky dan membereskan semuanya.


Kendati yang Jenifer tau adalah Sky telah meninggal, tetapi dia mengiyakan saja ajakan sang suami. Dalam benak Jenifer mungkin kedatangan mereka untuk menghibur Yara yang baru saja ditinggal Sky untuk selamanya.


Sampai akhirnya, Jenifer cukup terkejut saat melihat Sky yang juga ada disana. Dia menatap suaminya dan Beno mulai menjelaskan apa yang terjadi pada Sky berikut apa yang sudah Michele lakukan sebelum kecelakaan Sky terjadi.


Jenifer yang selaku kakak sepupu dari Michele, berulang kali melontarkan kata maaf, dia tidak menyangka ternyata Michele tidak berubah. Sejak dulu, Michele memang memiliki sikap yang cenderung senang terobsesi dengan hal apapun. Termasuk pada barang-barang incarannya yang harus dia dapatkan dengan cara apapun termasuk menjadi kleptomania.

__ADS_1


Sejujurnya, bukan hanya kali ini Michele membuat Jenifer malu. Sepupunya itu sudah beberapa kali tertangkap kamera cctv karena kebiasaan buruknya. Dia bahkan tidak pilih-pilih, jika menyukai dan menginginkan sesuatu maka dia tidak segan untuk benar-benar mengambilnya. Alih-alih permisi atau berniat membeli untuk mendapatkan hal yang dia mau, Michele lebih memilih mencuri, itu semacam tantangan penuh adrenalin bagi wanita itu. Michele juga pernah berurusan dengan security Restoran hanya karena dia telah mencuri sebuah sendok yang dirasanya unik saat makan disana.


Hal itulah yang menyebabkan Michele lebih memilih menetap di Indonesia dan tidak tinggal dengan kedua orangtuanya. Dia sudah terlalu banyak membuat malu keluarganya yang ada di Australia.


Jenifer sendiri, merasa amat malu dengan kelakuan Michele kali ini. Bahkan berkali-kali lipat malunya. Jenifer juga dihantam rasa bersalah sebab kecelakaan yang menimpa Sky dan hampir menewaskan pria itu turut dimanfaatkan Michele untuk memprovokasi Yara. Benar-benar keterlaluan. Jenifer bahkan merasa tak punya muka dihadapan Sky dan Yara.


"Maafkan aku, aku akan ikut membereskan Michele karena dia adalah adik sepupuku. Aku sangat malu atas tindakan yang Michele perbuat. Dia benar-benar keterlaluan, aku merasa sangat berdosa pada keluarga kalian," kata Jenifer dengan wajah penuh rasa bersalah.


Yara yang memang belum mengizinkan Sky untuk keluar rumah, mau tak mau mengiyakan saja sebab Beno berjanji untuk menjaga pria itu dengan baik. Lagipula, kondisi Sky memang sudah cukup membaik meski Yara tak yakin apa yang mau Sky lakukan selain hanya melihat Jenifer yang menghukum Michele.


Dengan rasa berat hati, Yara akhirnya menyetujui. Ini adalah kepergian pertama Sky dari rumah sejak kecelakaan itu terjadi. Kepergian ketiganya membuat Yara khawatir, tapi Sky benar--jika perbuatan Michele harus mendapatkan efek jera, sebab jika tidak, mungkin Michele akan mengulangi perbuatannya lagi.


"Apa yang kau lakukan, Jen! Kenapa kau menamparku!" bentak Michele sesaat telah menyadari keadaan. Dia tidak tau kenapa Jenifer menamparnya secara tiba-tiba.


"Kau masih bisa bertanya kenapa aku menamparmu?"


Michele menatap murka pada Jenifer yang juga memasang wajah merah karena amarah.


Michele menoleh ke arah Beno, dia ingin mendapat pembelaan dari pria itu.


"Ben, lihat kelakuan istrimu ini? Kenapa kau tidak mencegahnya? Dia menamparku!"


"Kenapa aku harus membelamu?" Beno malah balik bertanya dengan tak acuh.


Rahang Michele mengeras, kenapa pula sepasang suami istri ini datang ke apartmennya lalu membuat keributan dengannya.


"Kalian ini sebenarnya, kenapa, sih?" berang Michele kemudian.


"Apa yang kau lakukan? Kenapa kau memprovokasi Yara dengan foto editan? Apa kau tidak bisa, tidak mempermalukan aku? Kau lihat sekarang, apa dampak dari perbuatanmu itu!" Jenifer membalas tatapan marah sama seperti yang Michele berikan kepadanya.


"A-apa?" Mendadak Michele tergagap. Sekarang dia sudah tau kemana arah pembicaraan ini dan kenapa Jenifer serta Beno tampak marah padanya.


"Bisa tidak, kelakuanmu itu di rubah? Atau kau kembali saja ke Australia! Hidup disana tanpa membuat aku malu terus-terusan!"

__ADS_1


"Aku sudah dewasa, aku bisa menentukan hidupku sendiri. Kau tidak berhak mengaturku untuk tinggal dimana." Michele tak mau kalah, dia berpikir siapa Jenifer yang seenaknya saja mengaturnya? Bahkan mereka hanya sebatas sepupu, bukan saudara kandung.


"Kau lupa? Orangtuamu mengizinkanmu berada disini karena aku, secara tak langsung akulah yang bertanggung jawab selama kau tinggal disini!"


"Bullsh*ttt!" dengkus Michele. Dia berderap menuju pintu Apartmennya yang berada tak jauh dibelakang punggung Beno, sebab dia sudah tidak tahan berdebat dengan Jenifer dan ini akan mengundang pihak lain untuk ikut mendengar sebab mereka bertengkar di koridor yang adalah tempat orang lain bisa berlalu lalang.


Disaat bersamaan, gerakan Michele terhenti ketika dia sudah ingin menekan-nekan password Apartmennya di panel yang terdapat di dinding. Sudut matanya menangkap siluet seseorang yang ada disebelah kiri.


Dan seseorang yang membuat Michele akhirnya menolehkan pandangannya itu adalah Sky yang tampak duduk di kursi roda.


Mata Michele hampir mencuat keluar saat melihat jika itu benar-benar Sky. Dia merasa ketakutan. Apa orang yang sudah dikubur bisa kembali ke hadapannya sekarang? Tidak mungkin, ini pasti mimpi di siang bolong.


Michele mendorong pintu apartmen yang sudah terbuka, dia terserang panik dan langsung masuk begitu saja, saat dia mau langsung menutup pintu itu, secepat kilat Beno menahan daun pintunya, sehingga Sky yang mulai mendekat dengan kursi rodanya--dapat merangsek masuk kesana.


"Sky!!" Michele berteriak panik. Ini tidak mungkin, kan? Begitu hatinya berkata-kata.


Beno dan Jenifer ikut masuk kesana dan menyaksikan wajah merah Michele yang perlahan-lahan berubah warna menjadi putih.


"A-apa, apa maksudnya ini semua? Kenapa bisa? Bagaimana--" Michele tidak melanjutkan kalimatnya, dia segera menghambur ke dalam kamarnya sendiri demi melarikan diri dari keadaan ini. Bisa-bisa dia terkena serangan jantung di usia muda. Dia masih ingin menyangkal apa yang tengah dilihatnya. Ini semua tidak mungkin.


"Michi!" Jenifer mengetuk-ngetuk pintu kamar Michele. Tapi sang wanita sedang sibuk berkemas didalam sana.


"Michele!" Sekali lagi Jenifer memekikkan nama wanita itu.


"Jen! Aku memang bersalah. Aku yang mengedit foto itu dan aku yang memprovokasi Yara. Tapi, aku tidak mau menjadi gila. Sky meninggal bukan karena aku!" teriak Michele dari dalam kamarnya.


"Buka dulu pintunya!" kata Jenifer. Dia tidak menyangka Michele akan sepanik ini. Padahal mereka tidak berniat menakuti wanita itu sebelumnya.


Sky sendiri merasa terheran-heran, dia memang mau mengejutkan Michele dengan kehadirannya tapi dia tidak menyangka wanita itu akan lari terbirit-birit seperti bertemu hantu.


"Dia kenapa? Apa wajahku seperti hantu?" Sky bertanya-tanya, tapi respon Beno malah mengulumm senyum sembari mengendikkan bahu, ini justru seperti tontonan asyik buat lelaki itu.


Bersambung ....

__ADS_1


__ADS_2