Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Mari Ungkap Faktanya!


__ADS_3

...Sangat mudah untuk berdiri di tengah keramaian, tetapi dibutuhkan keberanian untuk berdiri sendiri...



Rutinitas hari ini cukup berharga rasanya bagi dua pasang manusia yang sedang duduk tepat dihamparan rumput. Sebuah peternakan besar terletak tepat di belakang mereka.


Mereka adalah Riley dan Justice. Ini adalah rutinitas mereka ketika senggang. Mereka akan menghabiskan waktu dalam peternakan Riley, memberi makan para Khufra juga melatihnya.


Ketika lelah, mereka akan duduk di hamparan rumput yang luas, letaknya tepat di belakang pekarangan ini. Langitnya sudah redup, namun mereka masih tetap disana.


Angkasanya terlihat begitu indah. Riley sama sekali tak bosan memandangi taburan cakrawala itu. Sesekali Justice melirik kecil Riley disampingnya. Terkadang gadis kepunyaannya ini terlihat menggemaskan.


Namun terkadang Riley kadang juga mampu bersikap bar-bar. Ketika salah satu sifat itu melekat dalam dirinya, Riley nya yang menggemaskan seakan mati musnah begitu saja.


Brukkkk



"Ah indah sekali langitnya!" Ucap Riley menjatuhkan tubuhnya hingga terlentang di atas hamparan rumput.


"Bahkan ketika bumi sekacau ini langitnya tetap indah ya!" Ucap Justice menimpali.


"Lantas kau ingin bagaimana? Langitnya mendung berwarna silver seperti di Alaska? Tinggallah di penjara setan itu jika kau mau." Ucap Riley asal.


Jari telunjuknya bermain-main menunjuk bintang di atas sana. Terpaan anginnya tidak terlalu kencang malam ini, namun tetap dingin.


"Riley..."


Lirih Justice, gadis yang masih asik menghitung bintang itu hanya berdehem. Langit malam seakan hanya prioritasnya malam ini. Tuhan begitu baik menyediakan lukisan seindah ini padanya.


"Aku sedikit khawatir perihal satu hal!"


Sejenak Riley menghentikan aktivitasnya lalu menghela nafas panjang. Perihal apa yang sedang mengganggu Justice, Riley sangat tahu.



Ini adalah perihal salah satu rekan mereka. Seseorang yang ada dalam ramalan para Lapu-lapu. Ya, siapa lagi jika bukan Rey Arlert.


Justice dan Riley beberapa kali membicarakan tentang dirinya memang. Kembalinya Rey kemari membawa perubahan yang besar.


Manusia non sihir menganggap Rey sebagai sebuah senjata. Berbeda dengan Harith dan mereka yang memiliki berkemampuan sihir. Rey memang luar biasa, bukan hanya sekedar kuat namun dia adalah manusia dengan hati yang sangat baik.


Yang mereka takutkan saat ini adalah, kebaikan yang Rey miliki malah akan membunuhnya nanti. Mereka begitu menyayangi Rey Arlert sebagai keluarganya.


"Kekuatannya berkembang secepat itu hanya dalam hitungan bulan. Aku bertanya-tanya dalam diriku, kekuatan sebesar itu bagaimana mampu digunakan oleh manusia. Kau tau bukan, meluncurkan kekuatan sihir terbesar saja menguras banyak mana. Lalu dampaknya akan sangat melelahkan. Bagaimana dengan Rey, dia memiliki kekuatan sebesar itu dalam tubuh manusianya, apakah kau tidak berpikir bahwa ada timbal balik dalam hal ini?"

__ADS_1



Jelas Justice padanya, menurut Riley itu benar. Konon dalam sejarah sihir tak ada manusia yang mampu memiliki kekuatan guardian kecuali mereka yang terpilih. Dibagian bab akhir dalam pelajaran itu mengatakan, bahwa jika mendapatkannya akan menghilangkan sesuatu.


Namun Professor Viesta, pemilik bidang sejarah sihir sama sekali tak menjelaskan hal itu. Riley dan Justice baru mengingatnya beberapa hari ini. Topik ini berulang kali mereka bahas ketika berdua.


"Mungkinkah kita harus membaginya pada Debora? Debora cerdas bukan, membedah teka-teki semacam ini adalah hal mudah untuknya, mungkin."


Tawaran Riley sekejap membuat Justice tertegun. Hatinya khawatir rasanya apabila jawaban atas segala kekalutan ini akan berakhir mengecewakan.


Debora Lah yang akan sangat sedih menerima segala jawabannya nanti. Sebab mereka tau, Debora sangat menyayangi Rey. Bukan hanya sekedar rasa sayang saja, namun juga cinta.


"Coba pikir, jika jawaban dari keingintahuan kita nanti tragis. Apakah Debora tidak akan sedih menerimanya?" Tanya Justice padanya.


Menurut Riley, lebih baik menerima kenyataan pahit di awal daripada menerimanya di akhir.


"Terkadang manusia perlu menerima pahitnya kenyataan. Sebab Lika-likunya dunia tidak selamanya manis. Itu adalah salah satu bagian dari pendewasaan manusia." Jelas Riley.


"Ya kau benar! Jadi menurutmu kapan kita akan memberitahu Debora perihal ini?"


Pertanyaan itu membuat Riley berpikir. Ah, pada akhirnya ia memutuskan untuk membahasnya sendiri dalam kamar mereka malam ini.


"Aku akan bicara padanya berdua malam ini!"


Jawaban itu membuat Justice lega rasanya. Itu adalah jawaban yang bagus. Justice mengangguk mengiyakan apa yang sedang Riley rencanakan.


"Mari pulang, ada banyak perut yang harus diisi malam ini." Ucap Justice padanya.


"Justice, maukah kau menggendongku?" Tanya Riley manja.


Ya mungkin ini adalah efek gadis ketika datang bulan. Justice menghela nafas mendengar itu, ia tau gadisnya itu pasti sedang datang bulan saat ini. Sebab Justice memperhatikan itu, ketika Riley dalam fase itu sifatnya akan sangat manja.


Justice berjongkok tepat dihadapan Riley membelakanginya. Riley tersenyum melihat apa yang Justice lakukan. Pemuda ini memang tidak akan mampu menolak apa yang Riley minta.


"Aku jatuh!!!"


Brukkkkkk


Pekik Riley menjatuhkan tubuhnya begitu saja kedepan. Mendekap tubuh kekar pemudanya dari belakang, lalu mengalungkan kedua tangannya di antara lehernya.


"Riley kau berat!" Ucap Justice seraya berdiri dan mulai menggendongnya.


"Pemuda sedungu dirimu tetap mencintaiku meskipun aku berat!" Ucapnya yakin.


Justice yang berjalan terkekeh mendengar itu. Faktanya memang tak terbantahkan, Justice memang sangat mencintai Riley. Dan keduanya sudah saling tau akan itu.

__ADS_1


"Mau bagaimanapun bentuknya Riley, aku akan tetap mencintaimu." Ucapnya.


"Benarkah?" Tanya Riley tak percaya, namun Justice mengangguk menanggapinya.


"Meskipun nanti aku sebesar jerapah?"


Pertanyaan asal namun terkesan melantur itu membuat Justice tertawa.


"Jerapah itu tinggi, dan kau ini manusia! Lantas bagaimana bisa tubuhmu nanti sebesar jerapah? Katakan!"


"Bisa saja, Mikhail memiliki ragam ramuan yang aneh. Bagaimana jika aku meminum salah satunya lalu menjadi jerapah?"


"Bumi kita memang berubah bak negeri dongeng. Sepertinya hal ini juga mempengaruhi pola pikirnya, Riley Chan!"


Suffix Chan yang berasal dari bahasa Jepang itu menandakan kedekatan. Ketika Justice menyebutnya, Riley benar-benar dibuat girang rasanya.


"Wahhhh kau sudah banyak belajar bahasa Jepang rupanya!" Puji Riley.


"Iya, sebab gadisku menyukai budaya tempatnya berasal. Melihatmu senang dengan hal sekecil itu membuatku semangat mempelajarinya!"


"Aku terharu.."


"Apapun untuk Riley ku!"


Ucapan terakhir itu membuat Riley menghadiahi pemudanya dengan satu kecupan di pipinya. Riley tak pernah membayangkan, pemudanya akan semanis ini perlakuannya.


"Wah kenapa disitu?" Protes Justice ketika usai menerima kecupan.


"Memang kau ingin dimana?" Tanya Riley penasaran.


Justice memanyunkan bibirnya, hal itu membuat Riley tertawa.


"Tidak mau! Kau akan dapatkan itu saat waktunya tepat nanti!"


Sepasang kekasih itu saling bergurau dalam perjalanan pulangnya. Mengarungi hutan Rensuar dengan cahaya-cahaya sihir di daun dan tangkai pohonnya.


...Seseorang mati ketika dia menolak untuk membela apa yang benar...


...Seseorang mati ketika dia menolak untuk membela keadilan...


...Seseorang mati ketika dia menolak untuk mengambil pendirian untuk apa yang benar...


...


__ADS_1


...


__________


__ADS_2