
...Jika kau seorang pria, buatlah wanita yang kau cintai jatuh cinta denganmu apa pun yang terjad...
...Wanita itu sangat indah, satu senyuman mereka saja sudah menjadi sebuah keajaiban...
...Semua laki-laki mudah cemburu dan bodoh, tapi perempuan malah menyukainya...
...Orang jadi bodoh saat jatuh cinta...
Setelah berjalan cukup panjang pada akhirnya Rey sampai tepat di depan markas mereka. Ketika Debora akan beranjak turun dari gendongan Rey. Pemuda berdurasi putih itu menahannya. Sepertinya ia masih enggan melepas Debora kesayangannya ini.
"Kenapa?" Lirih Debora bertanya.
Ia bertanya perihal mengapa Rey menahannya untuk beranjak. Namun disana Rey hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum menatap ke depan. Peluh itu jelas ada di dahinya mengingat ia membawa beban di punggungnya sambil berjalan cukup panjang.
"Debora, jangan sekali-kali kau pergi dariku tanpa seizin ku." Ucapnya.
Hei tunggu, itu adalah kalimat paling romantis pagi ini untuknya. Sejak ia bangun hingga saat ini segala perlakuan manis Rey berikan untuknya.
"Mengapa kau mengatakan semacam itu? Aku tidak perlu ijin darimu bukan selama aku bernafas?"
Ucap Debora mencoba menyangkal perkataan Rey.
"Kata siapa?"
"Kataku, sebelum aku bertemu denganmu untuk melakukan apapun dalam hidup aku tidak perlu ijin mu."
"Hahahaha..."
Tawa Rey meledak seketika setelah Debora mengatakan itu. Debora mengatakan hal itu karena logikanya. Namun ada satu kalimat yang mungkin akan membungkam Debora saat ini.
"Hei, Kucing Putih!"
Lagi-lagi panggilan itu membuat telinganya sedikit memanas. Pasalnya Rey mengucapkannya dengan wajah yang sangat datar, mengesalkan bukan.
"Apa?" Tanya Debora memasang raut muka sama sepertinya.
"Dengarkan aku ya! Sebelum kau memijakkan kakimu di bumi ini. Ada satu manusia yang menyumbangkan salah satu rusuknya untuk mu."
Apa yang Rey katakan membuat Debora bingung kali ini. Sejarah darimana itu, mengapa bisa seperti itu.
"Hei kau baca sejarah darimana itu?" Tanya Debora penasaran.
Rey sedikit mengingat kecil perihal buku yang pernah ia baca saat itu. Pada akhirnya ia mengingatnya. Tepat di bawah tanah panti asuhan nya. Ada banyak buku usang. Tumpukan buku yang sudah tidak berguna.
Saat ketika ia dan beberapa anak panti asuhan di tugaskan meringkasnya. Ada satu buku yang membuat dirinya terpukau. Lantas Rey membawanya membacanya beberapa kali hingga ia hafal isinya.
"Arlert.." Lirih Debora padanya.
Lamunannya sekejap buyar begitu saja. Suara itu lirih dekat dengan telinganya. Hembusan nafas Debora juga dekat dengannya. Dan tunggu, gundukan yang menempel di punggungnya sedikit membuatnya berpikir mesum rasanya.
"Ah iya Debora?" Tanya Rey padanya. Ia lupa perihal pertanyaan Debora sepertinya.
__ADS_1
"Arlert, aku bicara padamu! Mengapa kau malah balik bertanya? Apa kau lupa pertanyaanku?"
Pertanyaan itu sekali lagi membuat Rey tersenyum.
"Tidak Debora, aku tidak akan pernah melupakan tiap detik suaramu. Tiap detik waktu yang kita lewati bersama. Dan Rey Arlert, tidak akan pernah melupakan Debora nya. Kau milikku selagi aku masih hidup!"
Batin Rey andai saja ia berani menyatakannya. Mungkin saat ini gadis bersurai putih di punggungnya ini akan banjir air mata. Sebuah air mata bahagia sebab perasaannya terbalas.
"Aku membaca itu dari hatiku!"
Jawaban asal itu membuat Debora terkekeh. Pemuda ini konyol sekali menggemaskan rasanya. Ketika Debora menghentikan tawanya, Rey hanya diam lalu maju masuk ke dalam markas mereka.
"Kuncinya?" Tanya Rey padanya.
Syuthhhh
Dari dalam domain Debora mengambil kunci markas mereka. Debora menggerakkan kunci itu ke arah lubang lalu membukanya.
Markas yang tadinya tak terlihat pada akhirnya terlihat setelah kunci itu di tancapkan. Melihat itu Rey pun masuk bersama dengan Debora ke dalam.
"Menurutmu apakah mereka masih tidur?" Tanya Rey sambil memperhatikan sekeliling markas.
"Sepertinya begitu!"
"Jadi adikku pergi dengan perut kosong?"
"Aku akan memasakkan sesuatu untuk Syena jika kau mau!"
"Wah sepertinya kau sudah pandai memasak sekarang?" Tanya Rey padanya.
"Mengapa tidak? Disini ada jadwal pergantian koki. Jika masakan milikku buruk, aku kasihan pada kalian. Jadi aku dan Riley mempelajarinya sampai mahir." Jawab Debora membanggakan dirinya.
"Baguslah, sepertinya setelah bumi ini kembali pulih kau harus secepatnya menikah!"
"Dengan siapa?"
Pertanyaan itu membuat Rey kembali tersenyum.
"Dengan Elvas?"
Jawaban asal dari Rey sekejap membuat Debora menekuk mukanya. Raut wajah yang tadinya berseri-seri itu seketika lenyap.
"Maaf ya, aku tidak ingin menikahi manusia berhati Iblis sepertinya. Jika ada yang harus ku nikahi di dunia ini. Dia adalah manusia yang baik."
Rey mengangkat salah satu alisnya merasa terpancing rasanya atas pembahasan ini. Lagi-lagi Rey ingin menguak lebih dalam perihal perasaan Debora.
"Oh ya siapakah itu?" Tanya Rey padanya.
"Suatu saat takdir akan menjawab perihal dirinya. Bukan aku! Aku tidak sanggup mengatakan itu saat ini. Sebab dunia rawan perpisahan secara mendadak. Bagaimana jika setelah ku utarakan cintaku padanya, salah satu dari kami pergi. Mengukir kenangan manis lalu di paksa menghapusnya adalah hal paling tragis dalam percintaan. Maka biarlah bumi dan pemilik semesta saja yang menyatukan kami dengan durasi dan takdir. Sebab.."
"Jodoh tidak akan kemana!"
__ADS_1
Ucap keduanya bersamaan. Hal itu membuat mereka berdua tertawa setelah mengucapkan itu.
"Baiklah kita sampai Debora!"
Glekkkk
Rey membuka pintu markas mereka. Sunyi tak ada suara penyambutan menyambut mereka. Benar rupanya, para rekannya yang mengesalkan itu masih tertidur pulas.
"Tidak biasanya mereka tertidur selama ini Debora!" Lirih Rey berjalan mendekati sofa.
"Iya kau benar, tapi mungkin mana mereka yang terkuras cukup banyak membuat mereka sangat letih sekarang. Lagi pula ini libur, biarlah mereka menikmatinya!" Ujar Debora.
Debora duduk di sofa bersama dengan Rey disampingnya. Sesekali Rey mencuri-curi pandang pada gadis bersurai putih disampingnya itu.
Debora yang sejak tadi menunduk pada akhirnya memilih menoleh ke samping menatap Rey Arlert.
"Hei, apa kau tak letih?" Tanya Debora padanya.
Rey menggeleng pelan. Lagi pula Debora tak berat, tubuhnya tidak seberat barang belanjaan bulanan rekapan Riley. Sekalipun ia dan Justice adalah seorang pemuda. Namun Riley sungguh kehabisan akal.
Belanjaan seberat dua gerobak itu di serahkan tepat pada mereka. Tetapi ketika gilirannya tiba. Yang ia bawa bersama dengan Debora adalah dua kantung plastik belanjaan. Sungguh tidak manusiawinya Riley ini.
"Kau mengingat apa lagi Rey? Kau terlalu sering melamun!" Ucap Debora kembali menyadarkan Rey dari lamunannya.
"Tidak ada! Apa kau ingin sesuatu, biar aku buatkan!"
Tawar Rey padanya. Namun disana Debora juga menggeleng.
"Tidak, aku tidak ingin sesuatu! Jika kau ingin pergi ke kamarmu silahkan. Terima kasih Rey, untuk hari ini!" Ucap Debora tulus.
Tuhan, sungguh wajah itu begitu menggemaskan saat mengucapkannya. Tak tahan dengan itu, Rey pun memilih berpaling darinya. Debora terkejut memperhatikan itu.
"Ada Rey?" Tanya Debora padanya.
Namun Rey malah berdiri setelah mendengarnya.
"Ahh.. aku akan pergi membersihkan diri dulu! Jika ada sesuatu yang kau inginkan, berteriak lah!"
"Bagaimana jika rekan kita bangun!"
"Tak apa bukan? Anggap saja suaramu itu alarm untuk mereka!"
Ucap Rey lalu bergegas pergi dari sana. Debora menunduk lalu menggelengkan kepalanya. Rey Arlert memang sangat konyol. Tetapi itulah daya tarik seorang Rey untuknya.
...Kita harus mensyukuri apa yang kita punya saat ini karena mungkin orang lain belum tentu mempunyai nya...
...Cinta membuat orang menjadi kuat dan cinta itu juga yang dapat membuat orang menjadi lemah...
...
...
__ADS_1