Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Undangan Mengarungi Masa Lalu


__ADS_3

Kediaman Akaza saat ini sedang dikejutkan dengan kedatangan dua orang anak kecil, laki-laki. Mereka berlari ke arah Riley dan Justice yang saat ini sedang duduk sambil menikmati teh.


Mereka berdua sedang bersantai saat ini. Suara teriakan dua orang bocah membuat mereka mengalihkan perhatian mereka ke arah sumber suara. Rupanya itu adalah anak-anak mereka.


Sambil membawa selembaran kertas di tangan mereka masing-masing, berlari menghampiri Riley dan Justice.


"Okaasan!!!" teriak putra sulung Riley yang bernama Shika. Ia menunjukkan selebaran yang ia bawa di tangannya.


Riley menatap selebaran itu. Lalu Riley mengambilnya mencoba membaca apa isi dari selebaran itu.


"Ada pesta kembang api di kuil! Apakah Kaasan tidak ingin ke sana? Bukankah itu sudah menjadi budaya Jepang? Biasanya Kaasan akan sangat menyukai hal seperti itu!" ucap Shika pada Riley.


Justice yang duduk di sampingnya melirik ke arah selebaran yang saat ini Riley baca. Benar, itu seperti saat itu. Satu kejadian di mana saat itu di atas kuil mereka melepas lampion bersama.


Justice tidak terlalu ambil pusing perihal itu. Sebab jika Riley mau dia juga pasti akan ikut. Namun jika tidak, tentu saja mereka tidak akan berangkat. Segalanya tergantung Riley di sini.


"Kita berangkat malam ini?" tanya Shika lagi pada Riley.


Sejenak Riley mengingat sesuatu perihal acara itu. Ia ingat saat itu mereka pernah datang ke kuil bersama untuk menyaksikan acara itu. Ia juga teringat bahwa Debora dan Rey saat itu begitu mesra.


Refleks Riley menatap ke arah Justice yang sedang menyeruput tehnya. Ditatap semacam itu membuat Justice sedikit terkejut. Cairan teh sudah berada di kerongkongannya, segera ia menelannya.


"Ada apa Riley?" tanya Justice padanya.


"Sayang, apakah kau ingat malam di mana dulu kita menikmati lampion terbang?" tanya Riley.


Pertanyaan itu tentu saja membuat Justice mengangguk. Ia ingat itu, semuanya ia ingat.


"Aku ingat!" jawab Justice.


Riley mengangguk lalu tersenyum senang. Lega rasanya, dalam kepalanya ia ingin membawa Rey dan Debora ikut bersamanya. Menikmati acara itu bersama.


"Ada apa?" tanya Justice heran melihat Riley yang masih tersenyum.


"Kita akan ajak Rey dan Debora! Malam ini kita berangkat!" ucap Riley berdiri mengucapkannya dengan penuh semangat.

__ADS_1


"Yeay!!!" teriak Shika bersama adiknya.


Keputusan sudah dibuat dan Justice sama sekali tidak memprotes hal itu. Jika Riley sudah bicara bahwa mereka akan ikut, maka Justice asti akan menurutinya.


_______


Sementara di tempat lain saat ini Rey dan Debora baru saja selesai sarapan. Rey sedang mencuci piring mereka. Sedangkan Debora ia sedang merapikan meja makannya.


Setelah kegiatan mereka usai, Rey bersandar sebentar di dinding sambil menghela nafas. Debora yang baru saja selesai pun membuka pintu lemari es lalu mengambil minuman. Jus yang sudah ia isi di dalam termos besar.


Debora membawa itu ke meja makan lalu meletakkannya di sana. Cangkir yang ada di atas meja ia ambil kemudian tubuhnya duduk di atas kursi, menuangkan jus itu ke dalam cangkirnya.


Ketika cangkir itu sudah terisi penuh, barulah Debora menikmati minumannya itu. Sungguh dahaganya seakan lenyap seketika.


Rey yang melihat itu sedikit tergiur. Ia pun berjalan ke arah Debora lalu ikut duduk di sampingnya.


"Kau mau?" tanya Debora kepadanya.


"Ya, boleh!" jawab Rey.


Debora tersenyum kemudian mengambil cangkir lain di sana. Namun Rey di sana menahannya, tidak membiarkan Debora pergi meninggalkannya.


Rey hanya tersenyum kemudian merebut lembut cangkir yang masih Debora genggam. Namun bukan cangkirnya yang ia ambil, melainkan pergelangan tangan Debora.


Pergelangan tangan itu ditarik ke arahnya. Lalu Rey minum dari tangan Debora. Debora terkejut melihat itu, namun melihat Rey yang minum dari tangannya membuat Debora tersenyum.


"Jangan menambah cangkir kosong lagi, aku baru saja selesai cuci piring!" ucap Rey setelah meminum itu.


Debora terkekeh mendengar itu. Kemudian ia kembali meminum minumannya. Rey bersandar menyamankan dirinya di kepala kursi.


"Debora, biasanya kau akan apa tiap pagi begini setelah makan?" tanya Rey.


Debora berpikir sejenak, kemudian ia meletakkan cangkirnya di atas meja. Debora melipat kedua tangannya di atas meja, masih berpikir sebentar.


Tak lama satu ide dalam kepalanya membuatnya tersenyum. Saat itu juga Debora menatap ke arah Rey.

__ADS_1


"Rey, maukah kau berjalan-jalan keluar bersamaku?" ajak Debora.


Rey mengalihkan netranya ke arah Debora. Di sana Rey menemukan sunggingan senyum itu. Benar-benar bidadari yang sangat cantik menurutnya.


"Kemana?" tanya Rey padanya.


"Kemana saja, asalkan tidak di rumah! Jika kau tanya aku biasanya akan apa setelah makan pagi. Maka aku biasanya akan pergi ke panti jompo. Tapi, panti jompo bukan tempat mainnya Rey Arlert. Sebab dia mudah bosan di sana!" jelas Debora.


Rey terkekeh mendengar itu. Namun ada satu hal yang tidak Rey pahami di sini. Untuk apa Debora berada di lantai jompo?


"Kau ke panti jompo untuk apa?" tanya Rey padanya.


Debora tersenyum lagi mendengar itu.


"Aku pekerja sosial! Sejak bumi sudah kembali normal. Kami diberi banyak kekayaan oleh negara. Dan ya, itu membuat kami sangat hidup dengan kemewahan. Itulah kenapa banyak di antara kita Mantan Muskeeters yang hidup mewah tanpa bekerja. Sebab negara membiayai kehidupan kita, Rey! Jadi untuk membalas itu aku ingin membantu panti jompo. Merawat mereka adalah hal menyenangkan buatku!" jelas Debora padanya.


Sambil menjelaskan itu Debora sama sekali tak menatap Rey. Dia hanya menatap ke atas seperti membayangkan sesuatu.


Selama penjelasan itu pula tatapan Rey sama sekali tidak lepas pada Debora. Jantungnya berdetak kencang lagi sepertinya kali ini.


"Kau cantik Debora!" puji Rey padanya.


Hal itu tentu saja membuat Debora langsung terdiam. Semu merah menghiasi wajahnya.


"Terima kasih!" jawab Debora padanya.


Rey hanya mengangguk. Debora kemudian bangkit dari duduknya lalu menarik tangan Rey untuk mengikutinya.


"Jadi mari, pagi ini kita bersenang-senang Rey!" ucap Debora.


Rey tersenyum melihat itu, keduanya pun keluar dari dalam rumah. Mereka bertujuan menikmati waktu bersama. Mengarungi jalanan perkotaan dan keindahannya.


Selama mereka berjalan baik Rey dan Debora masih bercengkrama. Tak jarang lelucon kecil Rey lontarkan. Tak hanya itu, bahkan sejak tadi tangan mereka pun masih terpaut satu sama lain.


Benar-benar hal yang membahagiakan bagi Rey rasanya. Tepat ketika mereka berada di taman kota. Mereka bertemu dengan Riley beserta dengan Justice. Di sana mereka mengajak Rey dan Debora untuk ikut serta menikmati acara di atas kuil.

__ADS_1


Rey melihat Debora sepertinya ragu menerima tawaran itu. Namun Rey tau, keraguan itu adalah dia penyebabnya. Debora mungkin takut jika Rey tidak akan ikut atau setuju.


Dengan tegas Rey pun berkata pada Riley bahwa ia akan ikut serta dalam acaranya. Betapa bahagianya Debora mendengar itu. Sepertinya waktu mereka akan menghabiskan banyak waktu berdua malam ini.


__ADS_2