
...Hidup itu datangnya dari cinta, dan tidak ada sihir yang bisa mengubahnya...
...Kalau kau ingin menangis karena gagal, berlatihlah lebih keras lagi sehingga kau pantas menangis ketika kau gagal...
Crashhhhh
"Arghhhhhhhh.."
Crashhhhhhhh
"Arghhhhhhhh.."
Gema suara itu memenuhi Silver Alaska hari ini. Sudah sejak tujuh jam yang lalu teriakan itu tak kunjung berhenti.
Suara itu berasal dari dalam kastil Silver Alaska. Didalam sana, Iblis Seratus juta jiwa selalu Tuan para Iblis, sedang menyiksa para anak buahnya.
Mereka yang gagal melindungi sesamanya, berulang kali disiksa. Tangan-tangan mereka dipatahkan, kedua mata mereka bahkan ditusuk sedemikian rupa. Belum lagi, kekuatan sihir Tuan mereka yang menghempaskan tubuh mereka berulang kali.
Para Iblis ini sudah tak terbentuk lagi tubuhnya. Bagian-bagian yang patah tercerai berai perlahan mulai menyatu lagi. Seandainya kemampuan regenerasi tak ada, mungkin seluruh Iblis ini sudah musnah.
Akibatnya, Silver Alaska terlihat begitu sunyi saat ini, bahkan para Iblis rendahan sama sekali tidak menampakkan diri mereka disini.
Sebuah keberuntungan besar bagi Rey. Saat ini ia gunakan situasi menguntungkan ini untuk berlatih. Kembalinya dirinya dari Rensuar kemarin, membuat Baron Emas berinisiatif untuk menerapkan sihir pamungkasnya pada Rey.
Kedua telapak tangannya mulai melepuh. Sihir ini begitu kuat juga sangat panas. Elemen matahari, panasnya angkasa dipadukan menjadi satu dalam sihirnya.
Ceshhhhh
"Rey, tanganmu melepuh? Kau bisa berhenti jika kau mau!" Tutur Baron Emas dari atas singgasananya.
"Bagaimana ini bisa terjadi, padahal domain kekuatannya sudah ku tarik masuk dalam domainku. Seharusnya tidak ada penolakan untuk ini bukan?"
Baron Hitam di atas si singgasananya tertawa mendengar itu. Hal itu membuat Rey kesal rasanya. Makhluk laknat ini tertawa di atas penderitaan Rey, sial.
"Hahahaha... Rey, tentu saja hal itu bisa! Pengendalian sihir matahari memang yang paling sulit disini. Lunox selaku pemilik pedang Baron emas, pernah kehilangan kedua tangannya saat memakai jurus sihir ini." Ucap Baron Hitam terkekeh.
"Lalu apa yang Lunox lakukan setelah kehilangan kedua tangannya? Bagaimana ia mampu mengangkat senjata sebesar ini, jika memang ia kehilangan kedua tangannya?" Tanya Rey ingin tau kisah selanjutnya.
"Lunox adalah pemilik elemen panas dalam Semesta. Sukunya, mendiami area tujuh matahari. Ada satu area tempat pimpinan tertinggi, nama pimpinan itu adalah Leonin Sun. Berbeda dengan Harith juga Axcel yang bertubuh kecil, identik seorang leonin. Generasi Sun bertubuh tinggi, dengan mahkota kristal yang terletak di keningnya. Itu adalah, kristal pengendali matahari. Ciri khas generasi Sun adalah, jubah oranye yang menyela terang juga panas. Jubah itu multifungsi, bahkan ia juga bisa menjadi sebuah tunggangan."
"Jadi apa yang membuat Lunox mampu menguasai ini?"
"Kristal pengendali matahari yang terletak di keningnya. Kristal itu mampu menyerap aura panas matahari. Keberhasilannya itu mampu membuatnya membuka sihir pamungkas, bernama Elden Ring Scuti. Sihir Tujuh matahari semesta."
"Jadi itu berkat kristal di keningnya?"
"Ya Rey, tetapi kau pun juga mampu mengendalikannya. Meskipun tidak ada kristal pengendali itu dalam dirimu."
Penjelasan dari Baron Emas masih belum Rey mengerti. Saat ini, ia hanya ingin tau satu hal. Bagaimana caranya menahan panas yang sedang membakar kedua tangannya ini.
Bagaimana ia mampu fokus pada pertarungan apabila kedua tangannya melepuh. Tidak, Rey Arlert tidak akan mampu bertarung dengan kondisi seperti ini.
"Aku tau apa yang sedang kau pikirkan Rey. Penyebab dari tanganmu melepuh adalah kau dan Dandelion."
Akhirnya sebuah jawaban diberikan. Namun itu masih membuat Rey heran rasanya. Mengapa Dandelion disini disalahkan? Terlihat Dandelion dari dalam domainnya berseringai.
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah ingin menyatu dengan kekuatan Lunox! Jangan memerintahku!"
Sebelum Rey berucap, Dandelion lebih dulu membicarakan perihal apa yang akan Rey minta nanti. Tidak akan pernah Dandelion, sisi lain Baron Putih ini berdamai dengan pedang Baron Emas.
Jika domain Baron Putih menerima kekuatan Lunox, sedangkan bagian dari dirinya yang lain tidak. Maka, kekuatan Lunox juga Baron Emas sama sekali tidak mampu Rey kendalikan.
Ini berbeda dengan sihir pamungkas milik Baron hitam. Yang hanya mengandalkan kualitas mana murni.
Sihir Pamungkas milik Baron Emas, ia harus menggunakan kesatuan domain. Seluruh domain didalam tubuh Rey harus menerima aksesnya. Hanya ada satu sosok yang menolak, itu adalah Dandelion.
__ADS_1
"Gila kau, bumi sudah sekacau ini menerima penderitaan. Dan kau masih bersikukuh dengan prinsip sampahmu!"
Amarah Dandelion semakin memuncak kedua tangannya mengepal keras. Ingin rasanya menghantam Rey Arlert saat ini. Selama ini, Dandelion hanya akan tunduk pada perintah Harith juga Penguasa.
Namun tidak semua perintah dari Harith ia jalankan. Terkadang sifatnya yang kekanak-kanakannya, membuatnya tak bisa memilah antara kebaikan juga kejahatan.
Ia bertindak sesuai keinginannya, mereka diberkati pikiran sendiri, bukan. Itulah yang membuat mereka bisa melakukan apapun sekalipun berada dalam tubuh seseorang.
Mereka hanya memiliki kebebasan memilih, antara mau menjalankan perintah Tuannya atau Tidak. Itu adalah kebebasan mereka. Tetapi, mereka tidak akan mampu jauh dari Tuan mereka. Mereka juga tidak akan mampu kabur dari Tuan mereka.
Tuan mereka tidak akan mampu menyakitinya ataupun memaksanya. Begitupun sebaliknya, sisi lain pedang tidak akan pernah mampu menyakiti tubuh Tuan yang mereka tempati.
"Dandelion, kita membutuhkan partisipasimu disini!" Ucap Rey lagi.
Mendengar itu Dandelion kembali diingatkan pada hari itu. Hari dimana kebebasannya di renggut. Hari dimana dirinya hanya mampu menatap segala yang terjadi dari dalam satu domain. Ia tak mampu campur tangan, juga kekuatan miliknya yang bahkan tidak pernah Harith sentuh.
"Tidak!!! Kau memang mendapatkan kekuatanku, tetapi aku tidak akan menuruti perintahmu. Aku akan bertindak sesuai kehendak ku, jika aku mau, aku akan lakukan. Jika tidak, aku tidak akan beranjak!"
Syuthhhhhh
Rey mengembalikan kembali Baron Emas dalam domainnya. Rey memejamkan matanya lalu duduk di atas batu. Sepertinya ia harus menasehati sisi lain Baron Putihnya.
Crashhhhhhh
Rey kini masuk sepenuhnya dalam domain Dandelion. Terlihat disana ruang domain ini dipenuhi bara api. Rupanya begini cara kerjanya, domain akan berubah aura dan isinya tergantung pada pemiliknya.
Dandelion sedang naik pitam saat ini. Bara-bara api ini sama sekali tak panas. Rasanya ini hanyalah sebuah ilusi.
Rey menatap lekat ke arah Dandelion yang berada jauh di atas. Sosok itu sedang duduk sambil menopang kepalanya. Kedua netra mereka sama-sama menyimpan sesuatu.
Rey dengan asanya dan Dandelion dengan prinsip dan egonya. Sejenak Dandelion melipat tangannya, lalu berseringai ke arah Rey.
"Berani sekali kau masuk kemari, Rey Arlert?"
"Arlert ini tidak penakut, tetapi dia adalah penakluk. Coba lihat, suda ada tiga pedang dengan dua sisi lain tunduk dibawah perintahku. Aku tidak memerintah mereka secara egois. Tetapi aku disini, mengemis meminta kekuatan kalian sebab aku... aku.. aku ingin menyelamatkan orang-orang yang aku cintai."
Ucapan itu sedikit membuat Dandelion tersentuh. Namun sungguh, ia tidak akan mau menyatukan kekuatannya dengan Baron Emas.
"Ada alasan mengapa aku tidak mau membantumu, Arlert!" Dandelion berucap seraya berdiri. Jubah putihnya itu berkibar semakin menambah gagah penampilannya.
"Apa itu, katakan!" Perintah Rey.
"Ratusan tahun yang lalu, aku dikurung dalam domain karenanya. Domain yang sama sekali tak memiliki kebebasan. Didalam sana, aku hanya mampu menyaksikan apa yang sedang Harith dan Baron putih lakukan. Rasanya seperti tidak di anggap, aku ini senjata haus pertarungan. Tetapi aku di kurung layaknya ternak!"
Rey paham bagaimana rasanya di campakkan. Menjadi orang yang di abaikan itu sama sekali tidak menyenangkan.
Rey tersenyum getir mendengar itu, ia lebih memilih duduk bersila sekarang. Dandelion bingung akan apa yang sedang Rey lakukan saat ini.
Ada apa dengan Pemuda bersyair putih itu. Apakah ia menyerah sekarang, padahal Dandelion pikir Rey berbeda dari yang lain. Apakah setelah Dandelion mengatakan seluruh masalahnya, Rey akan membiarkannya.
Sebenarnya yang dibutuhkan Dandelion adalah uluran tangan. Rey yang membebaskannya dari dalam domain terkurung itu, sebab ia memanggil Dandelion saat itu.
Harith pernah mengatakan bahwa, apabila ada yang membutuhkan kekuatan Dandelion. Maka saat itu juga Dandelion terbebas, dari jeratan domain terkurung ini.
"Kau ini!" Ucap Rey seraya memegang kepalanya sambil tetap menunduk.
Alas domain milik Dandelion adalah abu. Sebab dinding-dindingnya di penuhi bara api. Sisi lain pedangnya itu masih mengamuk, auranya terasa jelas.
"Apa?" Tanya Dandelion padanya.
"Dandelion kesendirian mungkin memang memuakkan. Tapi, apa kau tau? Cara dunia menguji kita itu beraneka ragam. Kau mungkin merasa itu tidak adil untukmu, memang benar. Segala hal yang menyedihkan selalu bersifat tidak adil untuk manusia ataupun makhluk sepertimu."
Rey mulai mengungkapkan petuahnya. Sebab dahulu dirinya pun pernah merasakan, bagaimana rasanya dikucilkan semacam itu.
__ADS_1
"Sejak kecil aku sama sekali tidak mengetahui, perihal kedua orang tuaku. Aku tinggal di panti asuhan, sendiri. Aku ini manusia yang bebas, manusia yang membenci peraturan. Jiwa-jiwa bebas semacam kita ini memang rawan dibenci."
Dandelion terdiam mendengar itu. Ada sesuatu yang akan Rey katakan. Suara itu, intonasinya memiliki aura yang sangat sedih. Rasanya pemuda berdurasi putih dihadapannya ini, ditempa dengan banyak hal pahit sebelum sampai kemari.
"Untuk tiap masalah yang datang, lihatlah dari kedua sisi. Jangan lihat dari satu sisi, sebab biasanya kenyataan juga fakta letaknya berada di area yang buram. Mereka harus di kuak!" Ucap Rey.
Rey berusaha menjelaskan kepada Dandelion perihal sisi lain masalahnya. Baron putih dan Hit pernah menceritakan padanya perihal, mengapa Dandelion sama sekali tak bisa akur dengan Baron Putihnya.
"Sudah kubilang, aku membenci seluruh petuah itu! Lagi pula, jika kau ingin aku bergabung lebih tinggil lagi dari kapasitasmu. Kau, harus menyerahkan jantungmu!"
Rey ingat itu, ketika dirinya membawa Debora pergi dari sini. Rey kembali mengajukan perjanjian berdarah kepada Dandelion. Sebab saat itu, kemampuan Dandelion sihir itu diperlukan.
Saat itu Dandelion meminta salah satu anggota tubuhnya. Dandelion meminta kedua kakinya, itulah yang menyebabkan Rey Arlert mampu berlari menyusuri Belantara layaknya seorang ninja.
Saat ini, Rey kembali diingatkan. Bahwa kesempatannya hanya tinggal satu, setelah itu digunakan maka ia pasti akan mati. Tetapi Rey tidak ceroboh, meminta Dandelion membantunya tidak harus menyerahkan anggota tubuhnya lagi.
Rey akan menggunakan kemampuan bicaranya disini, satu kemampuan yang mampu menggoyahkan hari. Satu kemampuan yang mampu menyadarkan hati makhluk yang hidup.
"Arlert memang seorang manusia biasa tanpa kalian disini. Berdirinya kakiku disini, adalah untuk menopang sebuah asa dunia. Aku hanya ingin melindungi mereka, walau harus menjalani penderitaan seperti apa pun."
Rey mengepalkan kedua tangannya menunduk. Dunia tidak memiliki waktu lama. Dunia membutuhkan dirinya, sebagai perisai.
Dialah yang ada dalam ramalan para Lapu-lapu. Dialah harapan yang di takdirkan oleh Sang Penguasa untuk mengalahkan Iblis seratus juta jiwa.
Para penduduk langit yang datang ke bumi. Mereka hanyalah figuran, Rey adalah kunci utamanya. Dia adalah jawaban yang akan mengubah segalanya.
Dandelion melihat itu, ia melihat kenangan Rey disana. Ketika seseorang masuk kedalam domain, maka sang pemilik domain pasti mampu merasakan juga melihat apa yang sedang seseorang itu pikirkan dan rasakan.
Bergetar rasanya hati Dandelion ketika melihat masa lalu seorang Rey disana. Dari dalam sana ia mengerti bahwa, tidak semua masalah datang sebagai benalu. Sebab ada sisi lain yang buram menyimpan hal baik.
"Rey, berdirilah!" Perintah Dandelion padanya yang masih bersimpuh.
"Aku masih belum selesai bicara!" Ucap Rey mendongak menatap lekat ke arah Dandelion disana.
"Kau bisa berdiri jika kau ingin mengucapkan itu." Ucapan Dandelion membuat Rey tertawa disana. Pada akhirnya Dandelion mampu diluluhkan olehnya.
"Kupikir pedang tidak memiliki hati?" Ujar Rey berdiri.
"Penguasa menciptakan kami, memiliki kehendak sendiri. Kami pun juga memiliki perasaan dan hati, sebab itulah kami mampu marah juga bersimpati. Memang luka di hati ini terasa lebih sakit, dibandingkan semua luka pada tubuhku."
"Ya memang, penyembuhan untuk itu membutuhkan durasi waktu yang cukup panjang. Namun, bukan berarti luka itu tidak akan sembuh. Aku menyambutnya beserta kekuatanmu, sebab aku membutuhkanmu. Kau, juga ketiga Baron ini adalah harapan dunia. Salah satu hal paling penting yang diselipkan Penguasa kedalam skenarioku. Dandelion, maukah kau membantuku?"
Ucapan Rey sejenak membuat Dandelion terharu, ia dibuat tersentuh. Baron Putih dari dalam domain mulai beranjak.
"Kau akan kemana?" Tanya Baron Hitam heran padanya. Namun pemilik jubah itu diam tak menjawab apapun.
Baron Putih pergi memasuki domain Dandelion. Ketika kedua tangannya menyentuh portal domainnya, tangannya melepuh. Itu adalah sebuah pertanda bahwa, Dandelion masih belum mampu menerima kehadiran seorang Harith.
"Kau adalah saudaraku! Kita hidup dalam satu tubuh, aku paham kau pasti sangat kecewa kepada keputusan Harith juga Penguasa. Kami, melakukan penyegelan padamu, sebab kau hampir membahayakan jiwa-jiwa hidup didalam bumi. Saat itu kau menyebabkan Black hole raksasa menelan bagian matahari, juga kau pun hampir menyerap bumi. Jika bukan karena ketiga sihir pamungkas milik para Guardian, maka bisa dipastikan bahwa alam raya saat itu musnah. Dan kita akan tamat, sebab kita bukan yang berkuasa disini tetapi penguasa."
Jelas Baron Putih pada Dandelion didalam sana. Sekejap domain itu menjadi dingin, sejuk. Baron Putih pun di izinkan masuk oleh Dandelion. Disana mereka berdua saling bertatapan satu sama lain.
"Tunggu apa lagi Pak Tua, apakah perlu undangan untuk memelukku?" Ujar Dandelion seraya merentangkan kedua tangannya.
"Saudaraku!" Ucap Baron Putih, tubuh tua tua itu berjalan mendekat ke arah Dandelion memeluknya sebentar.
"Aku akan membantumu, Rey Arlert! Mari kita berkombinasi dengan kekuatan Lunox."
Pada akhirnya hati yang pedih itu mampu disembuhkan. Seseorang yang sedang terluka hatinya, ia hanya perlu disadarkan.
Jangan marahi dia, namun belai dia lembut dengan untaian kata-kata halus. Sebab ia sudah terluka, maka jangan menambah luka lagi untuknya.
...Air mata palsu bisa menyakiti orang lain...
...Tapi senyuman palsu hanya akan menyakiti dirimu sendiri...
__ADS_1