Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Laronna (Trying)


__ADS_3

...Buang rasa takutmu, lihat ke depan...


...Terus maju, jangan pernah berhenti...


...Kalau mundur, kau akan jadi tua!...


...Kalau ragu, kau akan mati!...



Latihan penyatuan domain kekuatan telah usai. Saat ini Rey harus ditempa lebih keras lagi. Pelajaran kedua, setelah berhasil menyatukan kekuatan Black hole menyatukannya kedalam mananya. Rey ditempa untuk mampu memanggil sihir itu.


Saat ini jurang bukanlah pilihan yang tepat untuk melakukan latihan itu. Sebab akan bahaya apabila kekuatannya nanti, meruntuhkan jurang. Rey pasti akan tertimbun lalu mati sia-sia.


Bersama dengan Baron Hitam dalam genggaman tangannya. Rey mengarah ke arah Utara. Sihir penyamaran aura membuatnya aman untuk saat ini. Situasi disana juga sangat mendukung, dimana sunyi dan hening menjadi satu. Hanya hawa dingin juga salju turun saja yang ada.


Para Iblis tak ada disana, sepertinya Penguasa sengaja mengatur waktu yang pas ini. Rey memegang Baron Hitam dengan kedua tangannya. Tatapan tajam miliknya mengarah tepat kedepan, tepat ke arah bongkahan es besar.


"Cara pemanggilan kekuatan itu sama dengan caramu memanggil pedang. Hanya saja pembedanya terletak pada kualitas manamu."


Baron Hitam mulai memberi arahan pada Rey. Penjelasan itu Rey perhatikan dengan seksama.


Drttttttttt


Aura hitam milik Baron mulai memenuhi tubuhnya. Aliran gravitasi Black hole saat ini berpusat tepat melumuri pedangnya.


"Laronna!"


Blummmmmmm



Ucapan mantra itu sekejap mengundang lubang hitam berdiri tepat di belakang Rey. Seperti sebuah portal yang akan melahap siapa saja yang datang mendekat.


Rey mengangkat pedang miliknya ke atas. Hal itu membuat pusaran tengah lubang berada tepat di atas ujung pedang. Rupanya tidak semudah itu mengangkatnya, Rey harus tetap mengontrol penuh mananya agar tetap stabil.


"Berat juga rupanya!" Lirih Rey.


"Kau hanya belum terbiasa menggunakannya Rey!"


"Lalu bagaimana cara menggunakannya?"


"Ahhh itu mudah, kau berkuasa atas dirinya saat ini. Black hole, dominan dengan teknik penyerapan sebab gravitasinya sangat tinggi. Bahkan cahaya yang datang mendekatinya juga akan tertelan. Yang artinya, dia juga berkuasa atas sihir dimensi."


"Seperti saat ketika kau membuat banyak lubang hitam, saat melawan Akaza?"

__ADS_1


"Benar sekali Rey! Saat ini aku ingin melihatmu menggunakannya! Apa kau mampu mengolah kekuatan ini dengan baik Rey Arlert?"



Rasanya kalimat itu seperti sebuah tantangan. Tak ada satu tantangan yang tidak pernah Rey jalankan. Tiap tantangan yang di ajukan padanya, selalu membakar semangatnya.


Rey menggerakan tangannya memutar Black hole di atas sana. Lubang hitam itu berputar layaknya sebuah gasing. Sambil menatap ke arah balokan es didepannya, Rey bersiap meluncurkan satu serangan pertamanya.


Satu serangan dari kekuatan baru, yang baru saja ia dapatkan. Rey mencoba mengkombinasi mantra Autrom disana. Akibatnya dari dalam lubang muncul kilatan-kilatan petir.


"Dia terlihat sangat bersemangat!" Ujar Baron Emas, dalam domain kepada Baron putih disampingnya.


"Dia hanya akan diam ketika tertidur! Selagi matanya terbuka, dia adalah manusia yang jarang diam. Hal baru adalah makanan menarik untuknya, ketika ia mendapatkannya. Maka ia akan menggunakan hal itu berulang kali sampai bosan."


"Sepertinya kutub Utara ini akan diratakan olehnya!"


"Lihat saja nanti!".


Merasa sudah cukup mengkombinasi mantranya. Rey sekuat tenaga menebaskan pedangnya ke depan. Hal itu mengirim jutaan petir, beserta dengan aura hitam melesat tepat ke arah bongkahan.


Syuthhhh


Bongkahan batu es besar itu sekejap lenyap dalam hitungan detik. Itu tidak hancur, namun lenyap seperti di serap.


"Sebab yang kau pegang adalah lubang misterius! Bongkahan itu terserap kedalamnya, hilang untuk selamanya."


Rey berbinar mendengar penjelasan itu. Akibatnya ia mulai menggila sekarang. Bongakahan es besar yang berdiri kokoh di kutub Utara, perlahan berkurang karena ulahnya. Rey menyerap seluruh bongkahan itu.


"Hahahaha ini keren sekali!" Puji Rey sambil mengangkat Baron ke angkasa.


Baron yang sifatnya sama seperti Rey, tertawa. Rasanya bahagia sekali bertindak bebas semacam ini. Entah sudah berapa la Baron juga Rey menahan kebrutalan mereka.


Mengamuk dalam Medan pertempuran adalah kelegaan paling menyenangkan bagi mereka berdua. Bermain dengan kekuatan mereka, meleburkan berbagai objek yang mampu di leburkan, juga adalah satu kesenangan yang paling indah bagi mereka.


"Apa kau akan meratakan kutub Utara?"


Tanya Baron emas dalam domain. Pasalnya saat ini balokan es besar di area kutub yang tadinya berdiri kokoh. Akibat kegilaan mereka, balok-balok itu hanya tinggal puluhan disana.


Mendengar hal itu, Baron Hitam beserta Rey terdiam. Ketika tingkah mereka sudah di ambang batas, Baron emas selalu saja menjadi penasihat terbaik mereka.


Disitu sama sekali tak ada penentangan terlontar. Baron emas selalu mampu melegakan juga meredam kegilaan, ataupun emosi Rey disana. Rasanya seperti tiap untaian kata yang keluar dari Baron emas, selalu mengingatkan Rey pada Debora.


Sepertinya hatinya sangat merindukan gadis itu saat ini. Mungkin berkunjung ke Silver Alaska sebentar, menggunakan penampilan berbeda cukup baginya. Sekalipun tubuh yang datang kesana hanyalah sebuah kloning.


Sungguh tak apa bagi Rey, asalkan netranya mampu melihat keadaan Rensuar. Keadaan Syena adiknya beserta dengan seluruh rekannya. Rey mengembalikan Baron Hitam masuk kedalam domainnya. Ia bersila menatap ke arah langit, tak ada apapun hanya mendung saja disana.

__ADS_1


"Apa yang bisa kutemukan disini? Sama sekali tak ada hiburan!" Ujar Rey.


Ketiga Baron dalam domain memperhatikan Rey dengan tatapan sendu. Rey manusia, wajar apabila jenuh melandanya. Sepertinya manusia ini merindukan sesuatu atau sekedar membutuhkan hiburan, atau mungkin keduanya.


"Apa yang kau pikirkan Arlert?"


Baron Putih mulai berinisiatif bertanya. Hal itu membuat Rey tersenyum, diantara bongkahan es itu juga salju yang turun, Rey Arlert merindukan momen dimana saat itu ia meletakkan kepalanya di atas pangkuan Debora. Satu-satunya gadis didunia ini yang Rey cintai, setelah suster agarwa juga Syena.


"Sepertinya, aku merindukan kecupannya saat itu!"


Baron putih merasa menyesal rasanya menanyakan penyebab murungnya Rey. Ia tau apa maksud dari jawaban itu, Baron juga ada disana ketika Rey melakukan perpisahan dengan Debora dengan satu ciuman panjang.


"Mati mesum ini, mati saja!" Pekik Baron Putih.


Kedua rekan Baronnya seketika terkejut mendengar itu, sebuah sumpah serapah dari Baron Putih.


"*Mengapa kau emosional sekali?" Tanya Baron Emas padanya.


"Dia merindukan ciuman bibir dengan kekasihnya!" Jawab Baron Putih.


"Hahahahaha... wajar saja, manusia diciptakan memiliki nafsu bukan? Wajar jika dia merindukan hal itu!" Tambah Baron Hitam*.


Rey yang mendengar seluruh ocehan itu hanya tersenyum. Lucu memang mendengar perdebatan mereka, namun kerinduannya pada Rensuar sama sekali tak terobati.


Baron Hitam menghela nafas melihat sama sekali tak ada perubahan dari raut muka Rey. Mungkin sebuah tawaran bebas sementara, melalui kloningan cukup menghibur hatinya.


"Baiklah, aku akan membantumu!" Ucap Baron Hitam.


"Benarkah?" Tanya Rey tak percaya.


"Tentu saja Arlert! Gunakan kloning seperti biasanya. Mari lakukan itu di markas saja, agar tubuh utamamu tetap aman."


"Ahhh benar sekali!"


Rey menyetujui hal itu, akhirnya setelah tiga bulan rasa rindunya akan terobati. Penggunaan kloning ini membuat para rekannya tak mengenali Rey, sebab kloning miliknya ini bercampur tangan dengan kemampuan Baron Hitam. Itulah mengapa penampilannya tak sama dengan dirinya, terutama pada area wajah.


...Rasa rindu, rasa cinta atau persahabatan, semua itu benar-benar merepotkan...


...Apalagi perasaan iri dengan semua itu...


...Jangan terlihat sedih, bahkan jika kamu tidak bisa lagi melihatku, aku masih bisa melihatmu ...



_________

__ADS_1


__ADS_2