Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Iblis Lintah


__ADS_3

Rey dan Justice sudah tiba tepat di pemukiman yang Riley katakan. Pesan dari gagak membuat mereka saat ini sibuk memantau area lokasi.


Sambil terus menguap Rey dan Justice berpencar menelusuri desa itu. Seluruh warga di sana sudah pergi. Yang tersisa adalah bangunan rumah mereka yang kosong.


Ini sudah sekitar dua jam mereka menelusuri area itu. Namun nyatanya, baik Rey dan Justice keduanya sama sekali tak menemukan apapun. Tak ada hal mencurigakan di sana.


Rey sejak tadi menguap, sungguh ia bosan kali ini. Rey bersandar di salah satu bangunan, dari dalam domain ia mengeluarkan secangkir teh hangat lalu menyeruputnya santai.


Hal itu jelas saja diperhatikan oleh ketiga Baron di dalam dirinya. Mereka benar-benar tak habis pikir. Kejadiannya sudah genting hingga melahap sepuluh nyawa, tetapi Rey di sini malah sesantai ini.


"Otak dungu, coba katakan padaku kau ini sedang apa?" tanya Baron Putih kepadanya.


"Huh?" Rey berhenti menyeruput tehnya setelah mendengar apa yang Baron katakan,


"Aku sedang minum! Aku haus!" jawab Rey kepadanya, Baron Hitam terlihat kesal mendengar jawaban itu.


"Rey Arlert, fokuslah dahulu pada tugasmu! Sepuluh nyawa manusia hilang, mereka mati! Apakah kau tak peduli?" tanya Baron putih lagi kepadanya.


Rey menghela nafas panjang setelah mendengar apa yang Baron putih katakan. Lantas ia segera mengembalikan cangkir berisi teh itu masuk ke dalam domainnya.


Namun Rey masih diam di sana, bersandar sambil melipat kedua tangannya di dada. Sejenak ia menatap ke arah langit. Biru, masih cerah sekalipun mereka berada dalam kukungan iblis.


"Menurutmu, di mana mereka akan pergi setelah melahap sepuluh nyawa itu?" tanya Rey kepada ketiga Baronnya di dalam domain.


"Aku hanya mampu mendeteksi kekuatan ketika orang itu berada tepat di hadapan kita!" ujar Baron emas kepada Rey.


Rey berseringai mendengar itu. Ia bergerak, jubah putih miliknya berkibar tersapu oleh angin. Rey melepas tudung kepalanya. Tangan kanannya mulai bercahaya, mengiringi pedang Baron cahayanya keluar dari dalam domain.


"Iblis takut matahari, tapi dia tidak mati karena matahari! Mereka yang hidup dalam kegelapan, akan selalu berada dalam kegelapan. Ketika pagi menjelang, kegelapan itu hanya akan berada di bawah tanah!" ujar Rey.


***Clashhhhhhh


Krekkkkkkkkk***


Rey menancapkan pedang miliknya ke dalam tanah. Aliran sihir miliknya mulai merasuk masuk ke dalam tanah.

__ADS_1


Retakan demi retakan mulai terlihat. Perlahan tanahnya mulai membelah, bunyi petir itu menyita perhatian Justice yang berada jauh dari tempat Rey.


Justice berbalik menghadap ke arah sumber suara. Matanya membulat ketika melihat cahaya kuat beserta petir mengerjap berkali-kali. Cahaya dan petir itu sontak membuat Justice berlari, sambil membuang kasar nafasnya.


"Kena kau!" ucap Rey menatap ke bawah tanah.


Terlihat di sana sesuatu yang besar sedang menggeliat beberapa kali. Ketika Rey mencabut kembali pedangnya, darah dari sesuatu besar itu mengucur deras ke atas. Rey menghindari itu lalu mundur.


"Ada apa Rey?" tanya Justice antusias ketika melihat Rey mundur menabraknya.


"Ada makhluk menjijikan di bawah tanah! Mari kita bunuh!" ujar Rey kepada Justice.


Perlahan Justice melihat ke arah retakan yang terbuka. Benar apa yang Rey katakan, di sana ada sesuatu.


"Mari kita lakukan! Iblis sialan ini benar-benar membuatku muak sepanjang hari sungguh!" ujar Justice kepada Rey.


Apa yang Justice katakan seketika membuat Rey berseringai. Keduanya mulai memunculkan senjata mereka, keduanya mencoba mencari titik lemah dari sosok itu.


Iblis hanya akan mati apabila di penggal kepalanya. Berkali-kali tanah tempat mereka berpijak, mereka belah. Namun nyatanya mereka masih belum mampu menemukan letak kepala iblis ini.


Justice semakin lemah rasanya. Mana miliknya akan terkuras sia-sia jika begini adanya. Rey menyuruh untuk berhenti sejenak, lalu mereka memilih duduk di atas atap rumah warga.


Dia memang bukan Debora, namun Rey berusaha mencari tau titik lemah iblis itu. Agar desa ini aman kembali, dan agar warganya bisa tinggal di sini kembali.


"Hufttt..." lirih Rey kemudian ia membaringkan tubuhnya, menopangkan kepalanya di antara kedua tangannya, seperti sedang tidur di atas bantal.


"Kenapa kau malah tidur hah?" tanya Justice kepadanya.


"Aku sedang berpikir! Sudah lima jam kita di sini menghajarnya, namun tidak ada perkembangan. Dan ya, jika dia lintah maka dia adalah penghuni tanah. Artinya dia masuk melalui bawah tanah agar tidak terdeteksi Muskeeters!" jelas Rey kepada Justice.


Justice mendengar seluruh perkataan Rey. Hal itu membuatnya menyadari sesuatu. Justice berdiri kemudian, namun Rey masih tetap berbaring di sana. Hanya kedua bola matanya saja yang bergerak, menangkap sosok Justice yang berdiri.


"Gali lebih dalam!" ujar Justice, kedua netranya menatap lekat ke arah lintah itu.


Menyadari apa yang dikatakan Justice benar, Rey pun juga ikut berdiri.

__ADS_1


"Benar apa yang kau katakan! Mengapa aku tidak berfikir sampai sejauh itu ya?" tanya Rey kepadanya.


"Itu gampang saja," ujar Justice ia mengangkat jari telunjuk, menunjuk-nunjuk tepat ke atas kening Rey.


"Sebab kau dungu, otakmu itu kecil! Itulah mengapa kau tidak mampu berpikir dengan baik!" jawab Justice kepadanya.


Rey tertawa mendengar itu, keduanya kembali mengeluarkan pedang mereka. Sambil menatap lekat ke arah target, secepat kilatan petir mereka pun melesat.


Mereka melesat ke arah iblis itu. Area mereka berbeda, keduanya sama-sama mencari keberadaan kepala iblis itu.


Rey menggali semakin dalam tempat tubuh iblis itu bersemayam. Begitupun juga dengan Justice. Ketika Justice menemukannya ia pun berteriak,


"Arlert, aku menemukannya!!!" teriak Justice kencang.


Rey yang sibuk seketika diam mendengar itu. Ia menoleh sekilas menatap ke arah rekannya. Kemudian, ia berancang-ancang terbang ke arah rekannya. Secepat kilat sebelum iblis itu menyerang Justice, Rey menahan tentakel sialan yang akan mengambil Justice.


"Keji sekali kau, lawanmu ini aku! Bukan dia!" ujar Rey kepadanya.


Kepala iblis itu sudah berada di hadapan Rey. Rey menghilangkan pedangnya, lalu mengambil cincin Dandelion. Cincin itu seketika berada mengitari jarinya.


Grepppp.


"Minta maaflah kepada para jiwa yang sudah kau bunuh!" ujar Rey kepadanya, namun dengan keras kepalanya iblis itu menggeleng.


Rey mengepalkan tangan kanannya, mengarahkannya tepat di wajah iblis lintah. Kemudian ia memanggil kembali Baron putih miliknya.


Di sisa akhir waktunya, iblis itu masih tertawa. Tak ada raut wajah kekesalan di sana. Murni, itu adalah suara tawa kebahagiaan, betapa psikopatnya para iblis bukan.


Muak atas apa yang terjadi. Percy pun segera mengakhiri iblis itu. Sabitan pedang miliknya menggores indah lehernya. Perlahan, iblis itu mulai lenyap terbakar menjadi sebuah abu.


Hilangnya hal itu, membuat Rey dan Justice bernafas lega. Berjam-jam di sana pada akhirnya terbayar. Mereka merangkul satu sama lain, lalu menjatuhkan diri mereka tepat di atas tanah.


"Gila, aku lelah sekali sungguh!" ujar Rey kepada Justice.


Keduanya sama-sama menatap langit. Ada keindahan juga ketenangan di sana yang mampu ia dapatkan.

__ADS_1


"Menangkan pertempuran besar ini untuk kami, Rey! Sebab kami percaya kau mampu!" ujar Justice kepada Rey.


Apa yang Justice katakan seketika membuat Rey tersenyum. Tentu saja, ia pasti akan memenangkan pertempuran ini.


__ADS_2