Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Perayaan dan Amarah


__ADS_3

...Kebebasan bukan tujuan, tapi jalan untuk menemukan batasan-batasan...


...Kita punya kebebasan untuk menentukan pilihan, tetapi kita tidak akan bebas dari tanggung jawabnya...



Tabuhan drum pagi ini mengiringi para Musketeers, berbondong-bondong ke arah Rensuar tempat mereka belajar. Hari ini adalah waktunya, dimana The Next Wizard yang baru akan segera tiba.


Syena berjalan diantara rombongan mereka yang terpilih, tepat di kubu Asrama Elang Putih. Debora yang berada di belakangnya bersama ke empat rekannya mereka sedikit ragu. Sebab disini, hanya Syena lah perempuan yang mengikuti perlombaan ini.


"Sejujurnya hatiku kalut Riley!" Ujar Debora disamping Riley.


Sejak tadi Riley pun tak henti-hentinya berdoa dalam hatinya. Ia ingin Syena keluar dari perlombaan ini hidup-hidup.


"Bajingan gila itu kenapalah harus terus ada dalam perlombaan ini!" Ucap Riley sekilas ia melirik di antara barisan kubu lain, kubu Ferizo.


Itu adalah kubunya Elvas. Elvas adalah Musketeers gila dalam perlombaan. Ia tak setan mematahkan tulang lawannya disana. Jeritan mereka seakan adalah melodi terindah baginya.


Sekalipun lawannya berteriak ampun namun Elvas tidak akan berhenti apabila lawannya tidak jatuh pingsan. Sungguh, sekalipun Riley begitu bar-bar namun ia, juga sangat menyayangi Syena.



"Berani dia menyakiti Syena akan kubunuh selepas pertandingan ini!" Ucap Mikhail.


Emosi pemuda itu ikut tersulut ketika Riley membicarakannya. Justice disampingnya hanya berseringai, perasaanya juga sama seperti mereka.


Syena Arlert adalah satu-satunya hal yang Rey percayakan pada mereka. Marga mereka memang sama, namun bukan berarti kemampuan Syena akan sama juga dengan milik Rey.


"Aku akan membantu kalian menghajarnya jika itu terjadi!" Tambah Justice.


Rombongan mereka berhenti tepat dihadapan gerbang Lapangan terbang. Para Khufra dengan senior diatasnya berterbangan di angkasa. Mereka menghiasi angkasa dengan warna warni sihir.


Sebentar lagi Syena akan bertarung. Tahap perta adalah Simulasi Silver Alaska. Debora berjalan mendekati Syena disana, gadis itu membelakanginya ia sama sekali tak tau bahwa Debora sedang menuju ke arahnya.


Pukkkkk



"Syen.." Lirih Debora dari balik tubuh Syena.


"Ya kakak?" Syena berbalik ke arah Debora saat ini. Debora tersenyum ia menyentuh kedua bahu Syena.


"Lakukan yang terbaik dan pulanglah tanpa cacat! Jangan terlalu memaksakan dirimu, kau adalah bagian dari keluarga kami yang sangat berharga." Tutur Debora padanya.


Hari Syena bergetar rasanya mendengar itu, ia hanya tersenyum lalu memberi Debora sebuah anggukan mantap.

__ADS_1


"Adik, kau harus melindungi dirimu dengan baik!" Ucap Riley padanya, Syena mengangguk ia masih tersenyum.


Para rekan Rey ini membuatnya sangat senang. Mereka semua membuat Syena begitu dihargai rasanya.


"Apakah Brolavor sudah kau bawa?" Tanya Mikhail khawatir.


Syena menggerakan tangan kanannya mengeluarkan puluhan Brolavor dari dalam domainnya. Baik Riley dan Debora mereka tersenyum melihat itu. Syena memang cerdas, bahkan ia mempersiapkan segala persiapannya sendiri.



"Aku yakin sudah meraciknya sesuai arahan darimu, kakak Mikhail!" Ucap Syena.


Gemas rasanya sungguh melihat gadis ini tersenyum ke arahnya. Rasanya jantungnya sudah tidak aman lagi saat ini, Mikhail memilih menunduk daripada harus melihat ke arah wajah cantik Syena.


"Pengecut!" Lirih Justice disamping Mikhail. Ia tau benar bahwa Mikhail saat ini sedang malu menatap ke arah Syena.


"Apa maksudmu hah?"


"Kau pengecut Mikha, tatap dia! Apa kau akan terus mencintainya sebagai bayangan saja? Coba pikir, bagaimana jika aku merebutnya darimu?"


Ucapan itu membuat Mikhail sekejap membulatkan matanya. Justice gila, bukankah ia sudah memiliki Riley lantas mengapa sekarang ia menginginkan Syena nya.



"Lalu Riley mu untuk siapa?" Tanya Mikhail.


Ucapan asalnya itu juga didengar oleh Riley. Hal itu membuatnya menatap Justice tajam.


"Mau mati kau rupanya!" Ujar Riley mengeluarkan sihir ditangannya ia bersiap akan menyerang Justice.


"Sudah cukup, saatnya kita naik ke podium!" Ujar Debora mencoba meredam perselisihan yang akan terjadi disini.


Para rekannya sekejap diam mendengar apa yang Debora katakan. Hari itu mereka menyaksikan Syena dengan segala kekuatannya.


Perasaan kalut dalam hati mereka sekejap hilang. Sebab rupanya, Syena adalah ahli strategi yang hebat. Segala pergerakannya ia perhitungkan.


Debora di atas podium bersama dengan seluruh rekannya dibuat kagum akan itu. Dua pertandingan hari itu usai dan Syena keluar dari dalam portal dengan keadaan baik.


Esok adalah hari dimana Pertandingan terakhir diselenggarakan. Untuk merayakan keberhasilan Syena, ketika malam menjelang. Debora dan Riley memasak daging Wagyu. Hal ini mengingatkan kembali mereka pada Rey.


Saat itu juga sama, selepas pulang dari pertandingan. Riley dengan baik hati memasak Wagyu untuk Rey sebagai perayaan. Bedanya saat ini tak ada kekonyolan yang terjadi disini.



Sejak tadi Rey memperhatikan mereka dari atas podium. Bahkan Rey saat ini berada dalam Asrama Elang Putih. Namun ia tidak masuk kedalam markas, sebab penghuni markas itu akan berdebat perihalnya.

__ADS_1


"Rasanya bersyukur sekali melihat kalian, merawat Syena ku dengan baik." Lirih Rey ia berjalan menjauhi markasnya.


Ketika berjalan seorang gadis dengan jubah putihnya melihat ke arah Rey. Gadis itu pun berlari ke arahnya, ia menarik jubah yang Rey kenakan dari belakang.


"Eh?" Pekik Rey terkejut lalu berbalik. Ia mencoba melihat siapakah yang berani menarik jubahnya itu.


"Rey Arlert!" Panggilnya, berapa terkejutnya Rey mendengar itu.


Gadis ini adalah Syena. Bukan adiknya, namun seorang gadis yang Rey kenal beberapa tahun lalu. Lihatlah bahkan tinggi gadis ini hampir menyamainya, waktu berlalu sangat cepat sungguh.


"Kau Rey Arlert? Kau masih hidup?" Tanya Syena lagi padanya.


Rey dibuat bingung disini. Mengapa Syena mengenali kloningnya, padahal kloning ini memiliki wajah yang berbeda darinya.


"Kau ini bicara apa? Aku ini Musketeers tingkat empat, sudahlah aku akan menjalankan tugasku sebentar!" Ujar Rey ia pun bergegas pergi dari sana.


"Kakak Arlert, terima kasih! Karenamu aku menjadi seorang Musketeers yang kuat!" Ucapan itu sekejap menghentikan langkah kaki Rey.


Rey tersenyum, namun ia sama sekali tak berbalik. Beberapa detik kemudian, Rey kembali melanjutkan langkahnya. Pergi meninggalkan Rensuar dan Asmara Elang Putih.


Esok adalah hari dimana Pertandingan The Next Wizard yang terakhir. Rey pasti akan datang sebab Syena ada di babak itu.


Elvas juga ada disana, sungguh apabila esok Musketeers gila itu menyiksa adiknya. Rey Arlert pasti akan datang kemari membunuhnya.


Syena adalah segalanya untuk Rey. Melihatnya dilanda sakit bertubi-tubi adalah hal terberat untuk seorang Rey Arlert. Selagi Rey masih bernafas, ia tidak akan membiarkan Syena nya terluka.


"Sudah waktunya untukku kembali!" Ucap Rey ketika berada tepat dihadapan gerbang Asrama. Sebuah senyuman miring ia berikan disana.


"Aku begitu mencintai mereka. Semoga saja mereka selalu baik-baik saja, kurasa hanya itu pintaku disini. Semoga harapan sederhana itu kau kabulkan! Rey Arlertmu ini, akan mengubah dunia!"


Rey berucap sambil tangan kanannya ia julurkan ke atas langit. Kedua netranya menatap lekat taburan bintang di atas sana. Indah, dan semoga Tuhan mengabulkan satu permohonan kecilnya itu. Beberapa detik setelah ucapan itu, kloning miliknya menghilang.


...Teman adalah mereka yang memungkinkanmu memiliki kebebasan secara total untuk menjadi diri sendiri...


...Selama orang terus mencari arti sebuah kebebasan, maka orang itu tidak akan pernah menyerah...



________


Ensiklopedia :


Methuselah, Watch Mojo melansir bahwa planet ini merupakan planet luar tertua di alam semesta. Planet ini diperkirakan berusia 12,7 milyar tahun, yakni satu milyar tahun lebih muda dari perkiraan waktu terjadinya Big Bang. Hal ini menjadi bukti bahwa planet mula-mula sangat cepat terbentuk. Planet ini akhirnya dinamai "Methuselah", nama yang diambil dari orang tertua di dunia yang tercatat di Alkitab.


Methuselah yang keberadaannya dikonfirmasi pada 2003 terbilang cukup aneh. Eskify melansir bahwa PSR B1620-26 b menjadi satu-satunya planet yang diketahui mengorbit dua bintang berukuran raksasa dan berusia tua. Dilansir Secrets of Universe, karena mengorbit terhadap dua bintang, planet ini juga disebut sebagai "circumbinary planet". Planet ini terletak di rasi bintang Scorpius dan berjarak 12.400 tahun cahaya dari Bumi.

__ADS_1



__ADS_2