
...Sulit melupakan seseorang yang memberikanmu begitu banyak kenangan...
...Biarkan yang lalu menjadi kenangan dan pengalaman ...
...Karena masa depan masih menanti perjuangan dan kemantapan diri kita...
____________
Rey sedang berada dimeja makannya, surai hitam pekat jabrik miliknya, membuatnya semakin lucu dan menawan. Sambil mengunyah makanannya Rey merenungkan sesuatu, kalian harus tau menu makanan pagi Rey hari ini hanya sepotong ubi rebus. Rey menoleh ke arah jendela, dari balik kaca itu terlihat beberapa anak-anak panti asuhan sedang bermain.
Letak panti asuhan tempat Rey tinggal memang terpencil, jauh dari kota, bahkan jarak antara rumah ke rumah juga sangat jauh. Disini hanya ada sekitar lima belas anak panti, tiga biarawati pengurus, satu pemilik panti asuhan. Rey mengingat percakapan biarawati semalam, mereka membicarakan perihal krisisnya ekonomi panti.
Sejak bayi Rey adalah anak yang tak diharapkan, kelahirannya saat itu tak dihargai. Ia dibuang tepat saat badai petir tepat di depan panti asuhan ini. cerita itu Rey dapat dari kepala panti saat Rey membuatnya kesal, fakta-fakta pahit itu terlontar begitu saja untuk Rey darinya. Pahit memang, tapi realitanya memang benar lantas jika dirinya tak menerima apakah realita itu akan hilang, tidak bukan. Mereka akan tetap melekat sebab mereka adalah bagian dari skenario kita.
"Rey, kau sudah selesai makan?"
Suster Agarwa adalah yang paling dekat dengan Rey, dia yang menjaga juga membesarkan Rey. Suster Agarwa bahkan tidak pernah membuat Rey menangis, bahkan kecewa dia adalah satu-satunya yang paling Rey percaya.
"Sudah Suster! Aku sedang memikirkan sesuatu, Suster."
Ujar Rey, bocah berusia lima belas tahun itu bicara layaknya seorang pria dewasa. Suster Agarwa yang sedang membersihkan piring makanan milik anak-anak panti, menghentikan aktivitasnya, ia memutar keran air itu menutupnya lalu duduk dihadapan Rey sambil menopang dagunya.
"Ada apa Rey? Apa yang sedang kau pikirkan pagi ini?"
Rey mengangguk, Rey memutar netranya sebelum berucap mencoba mencari-cari, barangkali ada yang menguping pembicaraan mereka, sedang suster Agarwa tersenyum melihat itu.
"Tidak ada manusia yang akan mendengarkan pembicaraan kita, kau tenang saja. Jadi, apakah Rey mau membaginya denganku?"
Keramahtamahan suster Agarwa selalu bisa membuat hati Rey menghangat. Rey menganggukkan kepalanya lagi sekarang, bersiap mengucapkan kalimat-kalimat dari dalam hati dan pikirannya.
"Suster, aku sering mendengar percakapan kalian. Aku sering keluar malam untuk mencari makanan sisa di dapur. Ketika aku kembali ke ranjangku, suara kalian selalu kudengarkan."
Suster Agarwa mengerutkan keningnya, memang sepertinya tak ada gunanya menyembunyikan masalah panti dari anak-anak. Mereka akan semakin dewasa dan mengerti, sekalipun orang dewasa memilih mengemban dan menyembunyikannya sepihak, tetap saja, anak-anak ini juga manusia yang berotak suatu saat mereka pasti akan paham.
"Rey, setelah mendengar itu, sering pergi menebang pohon di desa sebelah. Lalu Rey, mendapatkan upah ini."
Ujar Rey merogoh sakunya, disana ada lembaran uang hasil kerja kerasnya.
"Suster Agarwa, aku tidak mau Syena merengek tiap malam kelaparan. Itulah mengapa aku sering mengambil makananmu, maafkan Rey. Ini mungkin tidak seberapa, tapi suster bisa memakainya. Rey akan tetap bekerja untuk kalian!"
Jelas Rey, Suster Agarwa tersentuh mendengar itu. Lihatlah, betapa mulianya hati anak ini bahkan tanpa diminta pun ia memberikan seluruh lembaran uang ini untuknya. Rey memang masih remaja, namun skenario Tuhan yang keras mendewasakannya di usianya yang muda.
"Suster, ambil ya! Anggap saja ini ucapan terima kasih Rey!"
Ucap Rey lagi seraya mengulurkan tangannya yang penuh lembaran uang itu. Suster Agarwa tak menjawab itu, ia bangkit dari duduknya lalu menghampiri Rey memeluknya, mengusap kepalanya.
"Anakku, terima kasih atas pengertianmu pada kami. Rey tidak perlu memaksakan diri juga terbebani atas apa yang menimpa kami ya. Nikmati masa mudamu Rey!"
Ujar Suster Agarwa, disana Rey tersenyum menjauhkan tubuh suster Agarwa darinya lalu meletakan lembaran uang itu tepat diatas telapak tangan Susternya. Rey mengacungkan kedua jempol nya setelah itu, sambil tersenyum tepat ke arah Suster Agarwa.
"Rey sudah sangat menikmati hidup! Dengan suster membiarkanku bebas, berpijak kesana kemari itu sudah cukup. Jiwa Rey jiwa penjelajah bukan?"
Brukkkkk
Ujar Rey seraya beranjak dari duduknya, lantai panti asuhan ini terbuat dari kayu, itulah mengapa tatkala Rey memijakkan kakinya bunyi itu tercipta.
"Kakak!!!"
Syena turun dari atas tangga sembari berteriak memanggil Rey. Disana kedua netra milik manusia dibawah pun beralih, menengok ke arahnya.
"Kakak, bukankah kau bilang akan mengajakku ke desa sebelah?"
Syena berucap riang sekali ketika berada tepat dihadapan Rey. Rey tersenyum mendengar itu begitupun dengan suster Agarwa.
"Wahhh, Syena sudah sangat cantik ya! Kalian akan kemana?"
Tanya suster Agarwa pada mereka, Rey sembari mengusap Surai milik adiknya itu tersenyum. Umur mereka berbeda lima tahun, Syena berusia 10 tahun sedangkan Rey berusia 15 tahun.
"Aku akan pergi ke desa sebelah boleh ya, suster? Rey akan menebang kayu sebentar, lalu menjualnya ke pasar."
Jelas Rey disana suster Agarwa tersenyum menatap kedua bocah lucu dihadapannya itu.
__ADS_1
"Boleh saja, asalkan kalian bisa menjaga diri masing-masing ya!"
Mendengar persetujuan itu rasanya hatinya seperti dihujani bunga, Syena berteriak senang begitupun dengan Rey.
"Aku ingin kue kemarin, yang kau dapatkan di pasar kakak!"
Ujar Syena seraya menarik-narik baju Rey. Sepertinya Syena sudah tidak sabar, Rey melambaikan tangannya sambil masih tersenyum ke arah Suster Agarwa. Mereka bergegas pergi setelah itu.
Beginilah rutinitas Rey tiap hari, saat pagi jika musim dingin Rey akan berada di desa sebelah untuk sekedar menebang kayu. Setelah kayu-kayu itu cukup baginya, Rey akan mengangkut kayu itu dipunggungnya membawanya ke pasar atau menawarkan dari tiap rumah kerumah, kayu itu nantinya akan sangat mereka butuhkan saat malam sebagai api unggun, menghangatkan diri didepan apinya akan menolong mereka sedikit dari dingin musim tahun ini.
Sembari berjalan diantara salju, Syena menikmati permen salam mulutnya. Syena juga tak mau melepaskan tangannya dari kakaknya, ia bilang takut tersesat nanti jika Rey melepaskannya.
"Dingin sekali!"
Gerutu Syena sambil menatap kedepan, Rey tersenyum mendengar itu. Topi kupluk rajut yang ia kenakan segera ia lepaskan, topi itu Rey letakan tepat diatas kepala Syena.
"Pakai ini, supaya salju tidak membekukan kepalamu yang kecil ini."
Ujar Rey, Syena tersenyum mendengar itu.
"Wah terima kasih, kakak!"
Mendengar ungkapan terima kasih itu Rey mengangguk sembari netranya kembali menatap kedepan.
"Aku lelah!"
Ujar Syena lagi, Rey menghela nafasnya mendengar itu. Memang begitulah Syena namun Rey adalah manusia yang sabar. Rey berhenti lalu maju tepat dihadapan Syena, membelakanginya, lalu merendahkan tubuhnya menyamai tinggi Syena. Girang rasanya melihat hal itu, Syena mengerti apa maksudnya posisi itu segera ia pun naik di atas punggung Rey. Rey menggendong asik kecilnya itu sambil kembali berjalan.
_________
Bommmmmmmmm
Bommmmmmmmm
"Ayo, Syena!"
Ajak Rey seraya meraih tangan Syena menggenggamnya, menuntun adiknya itu untuk ikut bersamanya. Rerumputan dihutan cukup tinggi, ditambah salju mulai tebal disana, rasanya untuk sekedar berjalan saja susah disana salju itu seakan membekukan kaki mereka.
Rey yang ingin tau bersama Syena disampingnya tetap berjalan, mereka ingin tau benda seperti apa yang jatuh sehingga menimbulkan suara sebesar itu. Rey berhenti tepat didepan beberapa pohon hangus tak jauh dari tempatnya, kepulan asap itu menguar kelangit-langit. Ini musim salju, darimana asalnya api sebesar ini, api itu membakar beberapa pohon disana.
"Kakak, kita kembali aku takut!"
Ujar Syena, namun Rey diam mendengar itu. Bagaimana seorang bocah kecil tak takut melihat apa yang ia saksikan, dihutan itu mereka sendiri, disini sepi hanya ada mereka. Rey memantapkan kembali kakinya untuk melangkah, namun Syena menahannya.
"Ada apa, Syena?"
Tanya Rey, seraya menatapnya. Bola mata penuh ketakutan itu jelas sekali, namun Rey menunduk menatapnya mencoba menyakinkannya.
"Syena, ada aku bukan? Aku akan menjagamu, lagi pula itu yang kukatakan pada Suster Agarwa. Maka itu juga yang akan terjadi."
Jelas Rey, mendengar itu Syena yang polos itu mengangguk. Ia berada dibelakang Rey, sambil memegang baju Rey dari belakang. Rey terus melangkah, sampai ketika netranya menemukan benda besar jatuh membuat lubang yang cukup curam. Lubang itu mengeluarkan asap, percikan api itu bertebaran terbawa oleh angin.
Ketika netranya terfokus pada satu hal itu, terjadi getaran yang cukup kuat.
"Aaaaa... kakak ini apa?"
Ujar Syena keduanya bersimpuh akibat getaran itu. Rey yang tak tau itu berasal darimana pun syok, ditengah kepanikan itu suar-suar asap dari dalam lubang itu menebal, diiringi getaran yang masih terjadi salah satu suar berbentuk sulur dengan cahaya didalamnya menuju ke arah mereka.
"Syena!!!"
Rey mendorong Syena kesamping tatkala sulur itu mendekatinya. Sulur itu masuk tepat kedalam dada Rey, menyatu dengan tubuhnya, sedang cabang tipis dari sulur itu sedikit mengenai kaki Syena. Dalam hutan yang sepi, diterpa salju yang semakin menebal kedua kakak beradik itu pingsan setelah menerima suar itu.
Dilain tempat Suster Agarwa termenung sambil mematri langit yang mulai gelap. Kedua anak asuh kesayangannya, sama sekali tak ada pertanda pulang kembali.
"Suster Agarwa, apa kau menunggu seseorang?"
Pertanyaan dari Suster Hilda itu membuyarkan lamunan Suster Agarwa, refleks dirinya berbalik menghadap Suster Hilda.
__ADS_1
"Iya, aku mengkhawatirkan Rey dan Syena!"
Ujarnya, Suster Hilda menghela nafas mendengar itu. Ia tau betul Rey adalah anak yang cukup nakal, ia juga anak yang tidak taat aturan. Terkadang memang tingkahnya sering membuat para suster kesal.
"Pamit kemana dia tadi?"
"Dia bilang akan kembali sebelum petang, dia memberiku lembaran uang sebelum pergi, untuk keperluan panti katanya."
Jelas Suster Agarwa seraya menunjukkan lembaran uang yang diberi oleh Rey. Terhenyak juga tersentuh tatkala netra milik Suster Hilda melihat lembaran uang itu, ia bertanya-tanya darimanakah bocah itu mendapatkannya.
"Darimana dia mendapatkan uang sebanyak ini?"
Pertanyaan itu membuat Suster Agarwa tersenyum, memasukkan kembali lembaran uang itu dalam sakunya.
"Rey tidak hanya tau bermain, Suster. Anggapan kalian mengenai Rey itu salah, bocah itu memang bebas sifatnya. Namun nuraninya luar biasa, Tuhan menciptakan Rey dengan hati yang lembut sekalipun sifatnya mengesalkan juga kadang menyusahkan."
Jelas Suster Agarwa, Suster Hilda menunduk benar apa yang Agarwa ucapkan. Rey memang anak yang baik, mungkin sudah saatnya bagi mereka merubah sifatnya pada Rey.
___________
"Kakak!!! Kakak!"
Teriakan Syena menggema memenuhi hutan yang mulai gelap itu, buliran air mata turun dari matanya. Sambil terus menggoyangkan tubuh Rey, Syena terisak menangis ia takut, takut Rey mati. Ia takut, takut pada kegelapan yang mulai merengkuh hutan belantara ini. Purnama kadang indah dimatanya, namun malam ini purnama seakan menyeramkan untuknya.
"Kakak Rey!"
"Buka matamu kak! Jangan tinggalkan aku... hiks.."
Mendengar kebisingan itu, Rey membuka matanya perlahan. Syena berhenti menggoyangkan tubuh Rey saat itu, ia terdiam sambil memandang lekat wajah Rey.
"Kakak kau masih hidup?"
Ujar Syena sumringah, Rey merubah posisinya menjadi duduk sekarang. Sambil memperhatikan langit, Rey ingat bahwa mereka sedang berada dihutan sekarang. Purnama, adalah malamnya serigala. Rey berdiri cepat setelah mengingat itu, sambil mengulurkan tangannya pada Syena untuk segera secepatnya berdiri.
"Cepat keluar dari hutan, Syena!"
Ujar Rey sambil berlari, Syena ikut berlari disisinya. Ia tak paham, namun ia harus mengikuti perkataan Rey. Keduanya berlari sekencang-kencangnya berusaha keluar dari dalam hutan, dalam hatinya ia berharap semoga tak bertemu gerombolan serigala disini.
Nasib baik berada dipihak mereka kali ini, sambil terengah-engah lega rasanya tatkala kaki mereka sudah berada diluar hutan. Hari ini tak ada penjualan, tak ada lembaran uang yang Rey dapatkan. Rey kecewa sungguh, seharusnya ia tak pernah mendekati benda aneh itu, sambil tetap menggenggam tangan Syena mereka berjalan kembali ke arah panti asuhan.
_________
Kejadian kemarin membuat Rey tidur terlalu larut, cahaya dari mentari itu sudah cukup lama menerangi kamarnya. Suster Agarwa bersama dengan Syena didapur bercengkrama.
"Syena, dimana Rey?"
Tanya Suster Agarwa yang sedang memasak sesuatu, mencampurkan beberapa rempah-rempah kedalam masakannya. Syena menggeleng sembari tetap mengunyah makanannya.
"Syena tidak tau, mungkin kakak Rey sedang tidur. Mungkin ia lelah!"
Ujar Syena polos, tak lama ketika Suster Agarwa menatapnya Syena juga menatapnya seakan tersirat sesuatu disana, ada sebuah harapan dalam tatapan itu. Suster Agarwa mencoba mengingat sesuatu, mengingat hal itu ia pun tersenyum melepas celemeknya berjalan menghampiri Syena disana.
"Selamat ulang tahun ya, Syena!"
Ucap Suster Agarwa seraya mengusap kepala gadis itu. Syena menarik sudut bibirnya tersenyum penuh kebahagiaan.
"Terima kasih suster!"
Ucap Syena tersenyum, Rey dari atas tangga membulatkan matanya mendengar itu. Syena pasti akan murka jika tau Rey tak mengingat hal ini. Ditambah jika dirinya tak memberinya kado, entah sampai kapan Rey akan mendengarkan ocehan demi ocehan yang menggema dalam telinganya nanti.
"Ahhh bodoh sekali Rey! Adikmu pasti akan membunuhmu nanti!"
Rey bergidik ngeri sambil menaiki anak tangga kembali, menuju ke kamarnya. Dari bawah batalnya Rey mengambil beberapa uang miliknya disana, terbesit dalam pikirannya, Syena sangat menyukai roti di pasar. Hari ini Rey akan membawanya kesana, merayakan ulang tahunnya disana, mengajak adiknya itu bersenang-senang.
Namun rupanya apa yang Rey pikirkan tidak sesuai harapan, hari dimana dirinya berada di toko roti bersama dengan Syena adalah hari terakhirnya bertemu Syena, hari terakhirnya di panti asuhan. Kehancuran bumi hari itu dimulai, Asteroid jatuh berkala di sembilan belahan bumi. Jarak jatuhnya satu asteroid dengan yang lain berkisar sekitar seminggu, dalam waktu kurang dari tiga bulan populasi manusia, hanya tersisa 30% saja dibumi.
...Kemarin kenangan dan pelajaran...
...Hari ini tantangan yang harus terselesaikan...
...Dan esok adalah tantangan baru untuk memulai kehidupan yang lebih baik...
__ADS_1