Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Kemakmuran yang Dicari


__ADS_3

...Kita tidak akan pernah bisa menang bila kita tidak percaya bahwa kita bisa...



Saat ini Rey sedang berada didalam ruangan Harith. Disana ada Axcel, mereka berdua berdiri memperhatikan Harith yang sedang sibuk meracik sesuatu di atas sebuah cawan.


"Paman Axcel, sebenarnya dia sedang apa disana?" Tanya Rey berbisik pada Axcel disampingnya.


Leonin yang terbang itu melipat kedua tangannya sambil tersenyum, netranya masih menatap lekat ke arah saudaranya Harith disana.


"Coba tebak Rey, apa kira-kira yang sedang ia lakukan disana?"


Seringai dari ucapan Axcel sedikit membuatnya kesal. Pasalnya, dunia mereka ini berbeda. Rey baru saja mengenal dunia sihir. Perihal apa yang sedang Harith lakukan disana, tentu saja ia tak tau.


"Kau jangan membuatku kesal paman? Pikiranku saja sudah di penuhi beragam pertanyaan.Dan sekarang, kau pun juga bertanya padaku?"


"Peras lah otakmu lebih keras Rey Arlert! Kau ini memang tidak pandai berpikir memang. Otakmu kecil!"


Kedua telinga Rey memanas rasanya mendengar ocehan Leonin cebol disampingnya itu. Geram dengan apa ya g Axcel katakan, sontak Rey menjewer kedua telinga besar milik Axcel begitu saja.


"Awhhhh... Hei kurang ajar kau! Awhhh... hentikan Rey!" Pekik Axcel.


Ketika Harith membalikkan tubuhnya menghadap ke arah mereka, Rey berhenti saat itu juga. Axcel masih diliputi kekesalan rasanya.


Manusia disampingnya ini benar-benar membuatnya murka rasanya. Bahkan di angkasa, tidak ada satupun leonin yang berani padanya. Namun disini, di bumi, ada satu manusia yang begitu menyebalkan dan itu adalah Rey Arlert.


"Sudah kah kau puas menjewernya Rey?" Tanya Harith santai.



Mendengar tak ada amarah dari dalam kalimat Harith, Rey tersenyum mengacungkan kedua jempol nya. Sungguh Axcel tak percaya mendengar itu, saudaranya sendiri tidak mendukungnya.


Namun ketika ia akan berprotes disana. Raut wajah milik Harith membuatnya mengurungkan niatnya. Hampir sering rasanya Axcel melihat raut wajah itu.


Sebuah raut wajah penuh konspirasi juga penuh perhitungan. Biasanya Harith akan menunjukkan wajah semacam ini ketika usai merancang strategi. Sepertinya akan ada sebuah strategi yang cemerlang disini.


Sambil membawa dua cangkir ramuan, Harith terbang ke arah mereka.


"Domain!"

__ADS_1


Ucapan darinya sekejap memindahkan kedua tubuh Axcel dan Rey bersamaan masuk kedalam satu tempat. Tempat itu luas, nuansa warna emas membuatnya elegan disana. Tak hanya itu, di atas mereka kini berdiri jutaan pedang berwarna berbeda. Bak sebuah kristal yang megah disana.


"Ini tempat apa?" Tanya Rey tak percaya.


"Ambillah!" Jawab Harith memberikan dua buah cangkir ramuan pada Axcel dan Rey.


Klikkkk


Harith menjentikkan jarinya, detik kemudian kursi dan meja ada dihadapan mereka. Disana Harith duduk, hal itu diikuti oleh Rey dan Axcel. Sambil memegang dua buah cangkir, mereka berdua pun duduk sambil menatap serius ke arah Harith saat ini.



"Jadi, bagaimana perihal penyerangan ini Kaisar?" Tanya Rey memulai pembicaraan.


Harith mengangguk mendengar itu. Ia sedikit mengingat beberapa para Muskeeters nya saat ini. Ada sedikit rasa kecewa dalam hatinya.


Pasalnya, mereka yang mampu maju masuk kedalam Silver Alaska. Hanyalah pasukan Rey Arlert. Sebab mereka adalah tim yang paling unggul disini, itulah mengapa mereka mampu.


"Aku sedikit kecewa dengan performa bertarung mereka!" Ungkap Harith jujur.


Sejujurnya baik Rey dan Axcel mereka berdua tau. Bahwa kemampuan para Muskeeters lain masih sangatlah jauh. Mereka hanya mampu mengatasi para iblis rendahan saja.


Apa yang ia paparkan itu benar adanya. Tak ada sama sekali penolakan atau pembelaan yang Harith katakan. Sebab argumennya itu nyata dan benar sesuai dengan realitanya.


"Aku ingin kita memperluas wilayah saja Kaisar! Dinding benteng ini terlalu sempit untuk kita. Tidakkah kau lihat, rasanya tak ada bedanya dengan ternak. Terkurung didalam satu kandang padahal bumi itu luas. Lantas mereka, seenaknya membunuh kita begitu saja. Ayolah, derajat kita lebih tinggi daripada mereka!"


Jelas Rey, ia benar-benar kesal. Harith tersenyum mendengar itu. Memperluas wilayah menggambarkan kekuasaan mereka meningkat. Tetapi akan sulit mengawasi wilayah yang luas dengan jumlah manusia yang sedikit.


"Sebelum memperbincangkan perihal penguasaan wilayah, coba pikirkan dahulu. Perihal pengawasannya nanti, apakah kita bisa efektif meminimalisir iblis yang masuk kemari. Ditambah, jumlah Muskeeters dan Iblis sangat jauh. Ditambah lagi, dari dua ratus ribu Muskeeters. Mereka yang terkuat jumlahnya bisa dihitung, selain itu, mereka masih pengguna sihir tingkat bawah yang belum sehebat Tim mu. Angka kematian mereka nantinya akan meningkat. Dan kita akan kehabisan prajurit!"


Jelas Harith memaparkan argumennya. Axcel mengangguk mendengar apa yang Harith katakan. Paparan itu benar adanya.


"Aku... aku hanya tidak bisa bersabar lebih jauh lagi Paman! Perihal banyak manusia mati yang ku lihat dengan kedua mataku. Tanganku gatal rasanya ingin membunuh para iblis hina itu!"



Rey mengepalkan kedua tangannya. Benar rasanya sangat perih, apalagi ketika memori perihal Sustenya yang mati di tangan Cronus semakin membuatnya emosional.


Sejenak Harith dan Axcel saling tatap satu sama lain. Mereka merasakan perang batin yang Rey rasakan saat ini.

__ADS_1


"Kita sudah cukup mengulur waktu Paman? Kenapa kita hanya berdiam disini lalu menunggu mereka terus menyerang? Mengapa kita tidak menjajah mereka lebih dulu seperti apa yang mereka lakukan pada kita. Bukankah Aku beserta tiga pedang guardian sudah ada disini? Lantas apa yang kau tunggu?"


Tanya Rey bertubi-tubi, ia berdiri sekarang. Telapak tangannya menyentuh permukaan meja mencoba menopang tubuhnya. Kedua bola matanya menatap lekat ke arah Harith dihadapannya.


"Rey, ada durasi dimana para Muskeeters akan mampu menguasai ilmu sihir dengan baik. Lebih baik maju dengan ribuan pasukan, daripada maju sendiri tanpa pasukan. Untuk meraih kemenangan, kau harus bersabar. Ditambah, belum seluruhnya kekuatan mereka kau kuasai. Juga soal Syena, bukankah aku sudah mengatakan padamu. Adikmu juga adalah salah satu peran Muskeeters yang paling penting disini."


Bagi Harith, ketika Syena mampu menguasai kekuatan partikel Baron dalam tubuhnya. Maka Rensuar memiliki senjata yang kuat untuk mengalahkan Iblis seratus juta jiwa.


Lengkapnya kekuatan ketiga pedang pasti akan mampu mengatasi empunya, yang saat ini sudah di serap oleh Iblis seratus juta jiwa. Bukankah kita tau, bahwa Bembi dan Lunox sudah berada dan kalah dalam genggaman Iblis seratus juta jiwa.


Itulah mengapa Harith ingin, Syena mampu menguasainya. Sebab kekuatan Baron Cahaya Putih akan sangat efektif penyerangannya ketika seluruh partikelnya terkumpul.


"Berapa lama aku harus menunggu penyerangan pembalasan untuk para iblis?" Tanya Rey padanya.


Harith menunjukkan dua jarinya pada Rey. Yang artinya, dibutuhkan waktu sekitar dua tahun untuk menyempurnakan sihir para Muskeeters. Lalu menjadikan mereka pasukan yang kuat dan tangguh untuk berperang memasuki Medan Silver Alaska.


Dalam hatinya Rey berdoa, dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Bahkan selama itu, mungkin sesuatu akan terjadi lagi dan lagi. Namun Rey berusaha mered keinginannya untuk berjuang sendiri. Ia ingat akan perkataan Debora padanya.


Dengan berat hati Rey menganggukkan kepalanya. Kemakmuran entah mengapa sangat susah di raih. Tujuan Harith saat ini adalah memperkuat pertahanan para Muskeeters nya. Sedangkan Rey, ditugaskan untuk melatih Syena mampu menguasai kekuatannya.



"Minumlah itu!" Ucap Harith sambil menunjuk kedua cangkir Axcel dan Rey yang masih penuh.


Mereka berdua kembali meraih cangkirnya lalu meneguk habis isi cangkir itu. Usai meneguknya, rasanya seluruh beban dalam tubuhnya hilang begitu saja. Lelah dan penat yang ada dalam tubuh mereka sekejap sirna menghilang tanpa jejak.


"Apa ini?" Tanya Rey padanya.


"Itu ramuan khusus dari angkasa! Dibuat untuk menenangkan pikiran, mengusir beban dan letih yang ada dalam tubuhmu." Jelas Harith pada Rey.


Rey berdiri kemudian lalu menatap ke arah Harith dan tersenyum. Entah mengapa rasanya ia sangat bahagia sekali setelah meminumnya.


Melihat Rey yang sudah cukup tenang disana. Harith pun kembali menjentikkan jarinya, mengembalikan mereka kembali dalam ruangannya.


"Aku pergi Kaisar!" Ucap Rey berlalu dari hadapan mereka.


Harith mengangguk mengiyakan keinginan Rey. Sedangkan Axcel hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Rey itu.


...Kalau kita tidak pernah berjuang sampai akhir, kita tidak akan pernah melihatnya walau ada di depan mata...

__ADS_1



__ADS_2