Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Siksaan Baru di Luar Benteng


__ADS_3

Di atas benteng Mikhail mulai mengobati sepuluh Muskeeters yang terluka itu. Pemimpin mereka hanya Theo dan Wallace saja yang selamat. Sedangkan Jin, ia tewas dalam tragedi yang baru saja menimpa mereka.


Tatapan mereka masih kosong tak percaya. Teriakan mereka masih mengiang dalam telinga mereka. Teriakan itu kemudian di iringi dengan manusia yang hancur tubuhnya.


"Apakah masih ada yang sakit? Tunjukkan bagian mana yang sakit!" Ucap Syena membantu Mikhail mengobati mereka.


Wallace yang sedang di tanyai oleh Syena hanya menatapnya kosong. Syena tau dan ia paham tatapan itu wajar saja. Sebab rekannya mati hanya dalam satu sapuan.


"Mereka memakan kami! Mereka besar dan sangat besar. Apakah penyerangan akan tetap berlanjut? Mendekat dalam areanya saja kita tak mampu, menyentuhnya sedikit saja kita mati!" Ucap Wallace.


Mendengar itu Syena menatap sekilas ke arah Mikhail. Dari dalam domain Syena mengambil satu ramuan penenang.


Sebuah ramuan yang akan sejenak mengistirahatkan mereka. Kemudian Syena memberikannya pada Wallace beserta dengan Theo. Keduanya terlelap kemudian.


"Kakak, kita harus membawa mereka pada Nona Noella! Untuk para pasukan, serahkan pada madam Geralda. Sedangkan mereka berdua selaku ketua, akan ku serahkan pada Nona Noella." Jelas Syena.


Mikhail mengangguk mendengar itu. Syena menyentuh kedua tangan Wallace juga Theo. Kemudian merapal mantra Leviousa. Detik kemudian tubuhnya berpindah ke dalam kastil putih.


"Huh!" Pekik salah seorang Muskeeters terkejut melihat kehadiran Syena yang tiba-tiba.


"Tolong bantu aku membawanya ke ruangan Nona Noella!" Ucap Syena pada nya.


"Baik!"


Seorang Muskeeters mulai memanggil beberapa temannya. Lantas mereka segera membantu Syena. Membopong kedua tubuh itu dengan Syena yang berjalan di depan mereka menuju ke arah ruangan Noella.


Sesampainya disana Syena pun langsung membukanya. Seluruh netra yang ada di dalam ruangan itupun mengarah padanya.


"Syena?" Ucap mereka serentak.


"Maaf jika aku mengganggu kalian! Tapi ini gawat, aku membawa dua Muskeeters yang terluka ini. Mereka di serang tentakel besar ketika mengintai!" Jelas Syena.


Serentak mereka yang ada di dalam ruangan itu pun terkejut. Noella menggerakan tangannya, detik kemudian sebuah ranjang dari sulur melayang tepat di depan mereka.


Melihat itu para Muskeeters yang membopong tubuh Theo dan Wallace meletakkan mereka disana. Kemudian para Muskeeters itu berpamitan undur diri dari sana.


Ketika ruangan tertutup Syena masih berada disana. Ia memegang mata kirinya yang sakit sejak tadi. Iblis di dalam sana sudah ia kurung, dan ia mampu menguasai domain mengendalikan kekuatan Baron.


Namun nyatanya sekalipun iblis itu terkurung rupanya ia masih mampu berucap bahkan menunjukkan padanya apa yang terjadi di dalam Silver Alaska.


"Kau tak apa Syena?" Tanya Debora pada Syena yang duduk di sampingnya.


"Bagaimana kau bisa tau bahwa mereka di serang tentakel besar?"


Axcel yang masih memandangi Wallace dan Theo bertanya pada Syena.

__ADS_1


"Apa kau kesana Syena?" Tanya Rey padanya.


Syena mengangguk mengiyakan apa yang Rey tanyakan.


"Kenapa?" Tanya Rey lagi.


"Mata kiri ku memberi gambaran manusia mati tadi. Itulah yang menyebabkan diriku datang kesana. Rupanya firasat ku benar, makhluk itu dari atas benteng ketika aku melihatnya ia keluar setelah ledakan. Ia keluar dari dalam tanah. Mirip sulit, namun hitam." Jelas Syena.


Kemudian Rey kembali menatap ke arah dua pemimpin divisi pengintai. Rey menyentuh kepala Wallace disana.


"Berapa yang terbunuh?" Tanya Rey masih menatap ke arah Wallace.


"Aku tidak tau pasti mereka membawa berapa pasukan disana! Tetapi yang berhasil ku selamatkan hanya sepuluh orang!" Jelas Syena.


Rey mengepalkan tangannya kuat. Kebencian lagi-lagi semakin membara dalam hatinya. Begitu sialannya iblis itu dimatanya.


"Sial!" Gerutu Rey bergegas pergi.


"Amarah tidak menyelesaikan sesuatu dengan baik, Rey Arlert!" Tutur Noella.


Rey berhenti ia kembali di ingatkan lagi pada segala petuah yang menusuk hatinya.


"Kita bisa memantaunya dari atas benteng terlebih dahulu nona Noella!" Jelas Debora.


Debora mengangguk, kemudian ia menjelaskan rencananya. Bahwa tim nya akan menjadi relawan pengamat di atas benteng.


"Aku akan mencari tau apa itu!" Ucap Debora lagi padanya.


Noella setuju dengan hal itu. Pengamatan akan dilakukan demi mencari tau apa itu. Noella sangat percaya sekali pada kemampuan Debora dalam mengamati. Pengambilan keputusannya selalu tepat.


"Jika begitu, aku membutuhkan Riley juga Justice disini. Bisakah mereka datang bebaskan tugas untuk tiga hari ini?" Tanya Debora meminta.


Mendengar itu Noella mengangguk. Axcel juga mengangguk disana.


"Baiklah, aku akan menggantikan mereka mengajar untuk tiga hari itu!" Ucap Axcel menimpali.


"Oke, sudah selesai masalahnya! Silahkan beroperasi, Debora! Semoga berhasil!" Ucap Noella.


Debora mengangguk, bersama dengan Rey dan Syena ketiganya pun mulai menuju ke arah benteng.


Sesampainya disana Rey mengamati area iblis itu. Namun nyatanya benda yang Syena sebutkan sama sekali tak ada.


"Dimana?" Ujar Rey netranya mulai mencari keberadaan tentakel setan yang Syena jelaskan tadi.


Syena membuang kasar nafasnya. Kemudian ia terbang membelakangi Rey dan Debora. Keduanya memperhatikan Syena.

__ADS_1


Jutaan sihir ranting cahaya beserta petir itu memenuhi langit-langit. Itu adalah sihir milik Syena. Dengan kedua tangannya ia mulai mengarahkan sihir-sihir itu melesat ke arah Silver Alaska.


Crashhhhhhh


Dummmmmm


"Huh!"


Pekik Rey dan Debora terkejut ketika mendapati serangan milik Syena di halau oleh tentakel-tentakel besar berwarna hitam.


Syuthhhh


"Tentakel itu menyerap darah, membuang tulang dan kulit manusia! Sekali saja kulit manusia terkena, mereka akan mati!"


Jelas Syena pada Debora dan Rey yang masih terpaku menatap itu.


"Sial sekali iblis seratus juta jiwa ini! Bolehkah aku mencobanya kesana Debora?" Tanya Rey pada Debora.


Debora masih diam, ia masih mengamati tentakel-tentakel itu. Detik kemudian, keberadaan Justice dan Riley muncul disamping mereka.


"Ada apa Debora? Apakah kita memiliki tugas?" Tanya Riley yang baru saja sampai.


Debora yang masih belum beralih tatapannya dari tentakel itu. Kemudian menunjuk ke arah Silver Alaska.


Riley dan Justice mengarahkan netra mereka ke arah yang Debora tunjuk. Mereka terkejut, namun Riley kemudian tersenyum.


"Cumi-cumi? Sekarang dia memakai cumi-cumi untuk melawan kita?" Ujar Riley tersenyum.


"Kreatif dia!" Timpal Rey.


"Iblis-iblis gila memang!" Tambah Justice.


Ketiganya masih saja sama. Bersikap netral dan konyol ketika ancaman baru datang lagi dan lagi.


"Jadi bagaimana Debora, apa rencananya?" Tanya Rey lagi.


Kemudian Debora menatap ke arah Rey. Lalu kembali menatap ke arah Silver Alaska.


"Cumi-cumi itu, bisakah kau mendekatinya lalu seranglah dia? Dan Riley gunakan panah-panahmu untuk melindungi Rey dan Syena. Justice bersalah di belakang Rey dan Syena. Halau serangan apapun yang akan mendekati mereka. Perintah penyerangan, tiga menit!"


Debora mengeluarkan jam berbentuk seperti kalung dari dalam domain. Jam itu adalah jam kesepakatan. Dimana mereka akan mengatur waktu penyerangan, lalu mundur ketika waktunya habis.


Melihat itu mereka pun mulai mengeluarkan jam itu. Mengatur waktunya, ketika jam sudah di atur Debora pun mengangguk mereka pun segera pergi dari sana.


Debora juga turun ikut serta kesana. Namun ia menjaga jarak sesuai panjang sulurnya. Ketika seluruh rekannya mulai mendekat, tentakel-tentakel itu kembali muncul menyerang mereka.

__ADS_1


__ADS_2