
Rembulan di langit cahayanya syahdu menyinari perkotaan. Cahaya itu masuk di antara sela-sela celah ruangan. Tak hanya itu, cahaya itu juga masuk menembus tirai tipis dari ruangan. Sama seperti saat ini. Cahaya rembulan masuk samar-samar dalam ruang kamar Debora.
Obrolan kecil sejak tadi mengalun memenuhi ruang kamar Debora. Dia sedang berbicara dengan Riley di ponsel. Jam sudah menunjukkan pukul dua belas tepat tengah malam. Tapi mereka masih saling mengobrol, membicarakan perihal Rey Arlert.
"Jadi begitu Riley, Harith dan Noella datang menemui kami tadi! Noella mengatakan hal itu padaku. Riley, aku takut kehilangan dia lagi!"
Debora berucap demikian, hampir menangis rasanya ia tiap kali mengingat apa yang Noella katakan. Nampak di tempatnya, Riley tersenyum miring ia iba mendengar kisah cinta sahabat baiknya itu.
"Jadi apa rencanamu padanya Debora?" tanya Riley padanya.
"Aku bingung, aku tidak memiliki rencana atas itu! Aku juga sudah melakukan segalanya semampuku. Tapi ternyata tidak ada perkembangan sama sekali!" jelas Debora.
Di sana, Riley yang duduk pun mulai berpikir serius. Ia ingin masalah Debora segera selesai. Lalu menyaksikan mereka berdua menikah dan bahagia selamanya.
"Debora, kapan tiap kali dia mengidap sakit kepala saat bersamamu?" tanya Riley padanya.
Debora diam mendengar itu. Ia mulai mengingat kapan tiap kali Rey sakit kepala tiap bersamanya. Ketika Debora menyusuri memori ingatannya, dia bersemu.
Apakah hal itu harus kukatakan pada bocah ini? Malu rasanya, tapi memang benar! Rey selalu sakit kepala setelah melakukan itu denganku. Mungkinkah dia sering mencumbuku seperti itu karena ingin mengingat lebih jauh ingatannya?. Ujar Debora dalam hatinya, ia menggigit kecil bawah bibirnya.
"Hei, aku bicara padamu Debora! Kenapa kau diam?" tanya Riley di sana yang sudah tidak sabar rasanya mendengar jawaban Debora.
"Ahh... Ah.. Iya! Maaf, aku tadi hanya sedang mencoba mengingat kapan terakhir kali dia seperti itu!" ucap Debora sedikit terkejut.
"Aku tau kau mengingatnya! Sudah jangan berbohong padaku!" ucap Riley.
Debora terkekeh mendengar itu. Sahabatnya ini memang benar-benar luar biasa. Bahkan dia tau jika Debora berbohong.
"Aku tidak sabar melihat kalian berdua menikah! Jadi jika memang ada sesuatu yang mengingatkan dia pada masa lalu. Lakukan itu! Tak apa Rey merintih kesakitan, asalkan ingatannya cepat pulih maka dia akan bersamamu selamanya!" jelas Riley padanya.
Debora manggut-manggut saja mendengar apa yang Riley katakan. Di sela-sela pembicaraan itu. Suara pintu kamar Debora yang terbuka menyita perhatiannya.
__ADS_1
Sepasang langkah kaki masuk ke dalam. Itu adalah Rey. Entah ada apa dengannya sampai berjalan limbung dan harus berpegangan mencari tumpuan tiap kali berjalan.
"Rey!" ucap Debora sambil memperhatikannya.
"Nanti, aku hubungi kau lagi!" ucap Debora pada Riley lalu ia pun mengakhiri panggilan mereka.
Debora meletakkan ponsel miliknya di laci lalu berjalan mendekati Rey di sana.
"Ada apa?" tanya Debora padanya.
Rey yang cukup lemas itupun jatuh ke arah Debora. Kepalanya menopang di atas bahu Debora. Susah payah Debora menahan berat tubuh Rey di sana.
"Rey kenapa?" tanya Debora yang mulai khawatir.
Tak ada jawaban. Debora memilih membawa tubuh itu ke arah ranjang. Perlahan, Debora pun membantu Rey berbaring di sana. Debora yang duduk di sisi ranjang pun memperhatikannya. Wajah itu pucat pasih. Padahal sejak sore tadi dia tidak begini. Lalu apa yang membuatnya sampai selemah ini?
Debora mengulurkan telapak tangannya ke arah Rey. Dengan itu dia menyentuh kening Rey. Suhu tubuhnya juga baik-baik saja. Tidak ada yang salah. Ketika Debora akan menarik kembali tangannya. Rey menahannya, membawa tangan itu berlabuh di sisi wajahnya.
Debora menaikkan satu alisnya mendengar itu. Perkerasan itu untuk apa? Seharusnya Debora-lah yang harus mengatakan itu padanya. Sebab dia akan ditinggalkan apabila Rey tidak segera mendapatkan ingatannya kembali.
"Rey, tidurlah! Apa kau membutuhkan sesuatu?" tanya Debora lembut sekali.
Rey yang lemah itu hanya mampu tersenyum tipis. Suara gadisnya yang lembut membuatnya selalu tenang berada di samping Debora.
"Aku membutuhkanmu dan aku tidak ingin yang lain!" ucap Rey sambil menciumi telapak tangan gadisnya yang begitu lembut.
"Kenapa manja sekali malam ini?" tanya Debora lagi masih dengan suara pelannya.
"Memangnya aku tidak boleh manja bersama kekasihku di sini?" tanya Rey sambil terpejam.
Jawaban itu membuat Debora terkekeh. Ketika tangan kanannya sedang Rey ciumi. Tangan kirinya saat ini bergerak mengusap-usap lembut surai Rey.
__ADS_1
"Bayi besar Kesayanganku!" ucap Debora.
"Bukan!" jawab Rey.
"Lalu apa?" tanya Debora sambil tersenyum memperhatikan wajah Rey yang masih terpejam.
"Kekasihmu!" jawab Rey.
Kembali Debora dibuat tertawa di sini, ia bahagia sekali malam ini. Tak ada obrolan lagi di antara mereka. Rey hanya diam sambil menikmati sentuhan dan wangi kulit tangan Debora.
Debora juga diam memperhatikan wajah Rey yang terpejam. Tanpa aba-aba sedikitpun. Rey menarik tangan Debora ke arahnya. Lalu tangannya yang satu menarik pinggang Debora juga ke arahnya. Akibatnya gadis itu jatuh tepat di atas tubuh Rey.
"Hei!" pekik Debora terkejut ketika berada tepat di atas tubuh Rey.
"Malam ini biarkan aku bersamamu, memelukmu seperti ini!" ucap Rey lirih.
Luluh rasanya hatinya mendengar pinta yang Rey ucapkan. Pemuda ini, benar selalu bisa menghipnotisnya. Entah itu melalui perkataan,perbuatan, ataupun suaranya.
Sambil membelai lembut Surai terurai Debora. Rey juga menciumi puncak kepalanya. Rey berguling ke samping membuat dirinya dan Debora saat ini berhadapan.
Mereka berdua sama-sama membuka mata saling tatap satu sama lain. Jika seperti ini, Debora tidak mampu menahan dirinya. Mata itu selalu indah, mata itu selalu membuatnya ingin tetap menatapnya.
Begitu pula yang Rey rasakan saat ini. Bola mata Debora menawan selalu menenangkannya. Bola mata itu teduh menyimpan banyak asmara untuknya.
Rey membelai lembut wajah Debora lalu tersenyum. Debora membalas senyuman itu. Perlahan Rey mulai mendekatkan wajahnya pada Debora. Malam itu terjadi ciuman yang cukup lama bagi mereka berdua.
Di atas ranjang yang sama. Debora mati-matian menahan hasrat setan yang hendak menguasai tubuhnya. Tidak, ini bukan saatnya. Rey juga memancingnya, beruntungnya pertahanan Debora untuk itu sekuat baja.
Debora mendorong pelan Rey, mencoba mengakhiri ciuman mereka. Jika diteruskan, maka akan terjadi hal fatal di antara mereka. Debora kemudian mencubit gemas wajah itu.
"Rey tidurlah! Ini sudah malam!" ucap Debora sambil menangkup wajah itu, lalu memberikan satu ciuman singkat di kening Rey.
__ADS_1
Debora berbalik kemudian, membelakangi Rey. Melihat itu Rey tersenyum tipis. Tangan kekarnya mulai memeluk gadis itu dari belakang. Malam itu keduanya pun terlelap bersama dalam satu ranjang.