Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Sosok Pengarung Langit #2


__ADS_3

...Jadikan persaingan sebagai pelecut semangat agar kita menjadi lebih baik...


...Kelebihan yang kita miliki bukan untuk saling bersaing, tetapi untuk saling melengkapi...


...Kemenangan adalah milik mereka yang paling percaya dan paling lama mempercayainya...


_____________



Silver adalah warna dominan simbol Alaska, baik pagi ataupun malam disana tidak ada cahaya mentari yang akan merubah warnanya. Seakan itu mutlak, mutlak memiliki satu warna sebagai ciri khasnya.


Dari luar kota besar itu terlihat layaknya gumpalan kabut, namun ketika mendekatinya kabut itu adalah asap berwarna putih. Silver Alaska, tepat dihadapan pintu masuk tatkala kaki kalian melintasi gerbang utamanya, Belantara rimbun akan menyambut kalian. Gelap gulitanya akan mengundang hawa-hawa negatif itu melesat masuk mengitari tubuh membawa kalian merasakan ketakutan terbesar dari dalam diri kalian.


Hanya satu orang yang sering kemari keluar masuk layaknya sebuah Rumah, Harith adalah satu-satunya yang berhasil keluar masuk Rensuar beberapa kali demi menemukan dua pusaka langit yang jatuh di area itu. Namun dengan tiga puluh kedatangannya kemari sama sekali tak membuahkan hasil, tak ada apapun ditemukan disana.



Gadis bertudung keluar dari dalam Kastil besar bersama dengan Sosok manusia serigala. Dalam gelapnya Alaska mereka berjalan menuju satu tempat yang sama, tujuan utama mereka adalah pintu masuk benteng Alaska.


"Apa menurutmu hari ini kita mampu menangkapnya?"


Kali ini gadis itu mencoba menanyakan apa yang ada dalam hatinya.


"Kau yakinlah pada kemampuanmu, bukankah kau pemula? Buat bahagia Tuan kita."



Kalimat itu membuat Gadis ini sedikit gundah, namun bertepatan dengan itu mereka berhenti.


Slapppppp


Mereka merapal satu mantra teleportasi, detik kemudian mereka berada di atas benteng Alaska. Tinggi benteng ini sekitar seratus meter, namun penglihatan keduanya ini masih mampu menatap jelas kebawah. Mereka masih mampu menatap apa yang ada dibawah sana sekalipun asap putih ini memenuhi, menyelimuti area Alaska.


Disisi lain lima manusia ini sedang mengarungi langit dengan tugangannya yang bernama Khufra. Debora berdiri diatas Khufra-nya sungguh penyihir-penyihir ini tak takut jatuh dan mati. Debora menggunakan sebuah teropong beberapa menit lagi mereka akan sampai tepat ketempat tujuan utama mereka, tempat misi mereka akan dijalankan. Hari ini levelnya cukup mengancam nyawa memang, baik Justice dan Rey keduanya terbang sambil mendiskusikan perihal berapakah Kaisar menjengkelkan itu akan membayar mereka.


"Kira-kira berapa juta kita akan dibayar?"


Ujar Rey ia berucap sambil netranya masih lekat menatap jauh kedepan, hatinya juga menanti-nanti ingin segera sampai di atas tanah Alaska.


"Hah entahlah, memang kenapa? Uang milikmu sudah habiskah?"


Sahut Justice yang berada di sampingnya, ia tengkurap diatas Khufra-nya kedua tangannya menopang kepalanya seraya netranya sama menatap fokus kedepan. Mikhail di belakang mereka melihat sesuatu tak jauh dari mereka, kepulan kabut tebal yang menggumpal tinggi.


"Hei lihat!"


Ujar Mikhail seraya menunjuk kedepan, Rey, Justice dan Riley sontak duduk dengan benar menatap fokus ke depan. Gumpalan kabut itu lebat sekali, apakah mereka sudah sampai? Itulah beragam pertanyaan yang memenuhi kepala mereka.


Debora membuka gulungan peta yang diberikan Harith pada mereka, Debora memperhatikan dengan seksama apa yang ada di dalam sana tak lama ia mengangguk, kembali menggulung kertas itu, Debora tersenyum meskipun rasa khawatir juga ketakutannya mencekam memenuhi dirinya.


"Selamat datang di Area kematian, Silver Alaska!"


Ungkapan itu merubah ekspresi mereka seketika, Rey mengeluarkan pedang Baronnya bersiap menerima segala konsekuensi yang akan terjadi. Riley dengan panahnya mulai bersiap, Mikhail dengan seluruh sihir pertahanannya juga sudah bersiap, Debora mengeluarkan pedang pembinasanya. Seluruh rekan timnya sudah bersenjata saat ini, hingga tibalah mereka menembus masuk kedalam kabur tebal itu, terkejut ketika mereka masuk rupanya itu bukan kabut melainkan asap putih tak berbau.


"Huh?"


Kali ini Mikhail dibuat terkejut aura semacam apa ini aneh sekali kuat sekali, mantra apa ini mengapa sesempurna ini berapa banyak pengguna yang mereka butuhkan untuk membuat selubung asap ini memenuhi daerah seluas Alaska.


"Ini gila, kuat sekali mantranya!"


Kali ini Riley mulai berucap, netranya sesekali memperhatikan area bawah mencari segala titik ancaman barangkali ada yang menyerang.


"Ini masih di area luar, bagaimana jika kita berada didalam?"


Ucap Rey netranya pun sama sibuk mencari keberadaan iblis barangkali mengagetkan mereka seperti misi pertamanya.

__ADS_1


"Errrrrrr Argghhhhh!"


Gema suara Iblis itu membuat mereka bersiap, gema-gema itu semakin bersaut-sautan. Adrenalin mereka terpaku tak ada apapun yang mampu mereka lihat disini selain putih silver sudah itulah pemandangan yang mata mereka saksikan tak ada yang lain. Debora dibuat gemetar rasanya kuduknya berdiri begitu saja, ketakutannya kian membesar.


"Debora, apa kita akan terus berada di udara?"


Deggggggg


Ucapan Rey itu membuatnya tersadar kali ini, mereka sudah sampai sini tak ada yang mampu Debora lakukan selain menjalankan segalanya sesuai dengan apa yang ia pikirkan.


"Baiklah, kita turun! Jangan lepas mantramu Justice juga pertahananmu Mikhail karena kita tidak tau Iblis akan datang dari arah mana."


Ujar Debora sekalipun kalut itu menguasainya namun ia tetap berusaha mengendalikannya.


"Jadi apakah kita turun dengan Khufra?"


Kali ini Riley bertanya padanya, Debora mengangguk mendengar itu mereka berlima turun tepat di atas tanah Alaska untuk pertama kalinya. Dingin, dingin sekali tanahnya seperti sebuah kutub es begitupun dengan udara disini. Mereka turun dari para Khufra-nya, mereka mulai meneliti segala hal disana memperhatikan seluk beluk apa yang mata mereka tangkap.


Deggggggg


Dari atas benteng mendadak mata kiri gadis bertudung polanya menyala, ia terkejut melihat itu namun sebuah seringai dari rekan serigalanya membuatnya heran, untuk apakah seringai itu saat ini.


"Baron Putih Legendaris sudah datang!"


Ucapnya, Gadis itu terkejut lantas mengapa dan kenapa matanya menyala seperti ini.


"Aku akan turun! Kau buat beberapa pasukan di sekelilingku, Syena!"


Ujar Manusia serigala itu, benar, gadis bertudung yang selama ini berada dipihak para Iblis adalah Syena asik dari Rey.


"Baiklah Barsh, aku mengerti!"


Jawaban meyakinkan itu membawa Brash si manusia serigala itu turun melompat kebawah.


Brshhhhhhhhh


Clingggggggg


"Aggoa Amoerra Abyas!"


Blummm Blummmm


Beberapa pasukan iblis sekejap bangkit dari belakang Barsh, Syena kembali melakukan sihirnya rapalan mantra itu menciptakan beberapa Iblis yang ia kendalikan dari dalam tengkorak manusia yang saat ini berada ditangannya.


"Huh?"


Rey juga beberapa rekannya dibuat terkejut atas kedatangan angin beserta debu didalamnya yang menghempaskan mereka.


"Ini serangan!"


Ujar Justice, Debora terbelalak mendengar itu bagaimana mungkin sihir meminimalisir aura milik Justice bisa terdeteksi, bahkan pelindung Mikhail dihancurkan secepat itu hanya dengan debu dan angin. Debora yang berada di urutan paling depan dibuat terkejut ketika sosok serigala itu datang mengarahkan senjatanya padanya sambil berteriak.


"Arghhhhhhhhh!!!"


Teriak serigala itu secepat kilat ke arahnya, Ini terlalu cepat sungguh bahkan Debora tak mampu membaca pergerakannya, ia pasti mati jika pedang itu menimpanya.


Kresssssss



"Autrom!"


Petir dari langit menyambar tepat ke arah Rey masuk kedalam tubuhnya.


"Accow Axlinow!"

__ADS_1


Rey memusatkan petir dan cahaya miliknya tepat dibawah kakinya, seperti kilatan petir Rey maju ke arah Debora mengayunkan pedangnya.


Brshhhhhhhhhhhhhhh


Drtttttttttttt


Kedua pedang itu saling tertimpa, Debora terkejut ketika Rey berada tepat didepannya seakan menjadi tamengnya melindunginya. Riley membidik manusia serigala itu, lalu melepaskan beberapa anak panahnya ke arahnya namun tiba-tiba dari belakang serigala itu muncul gerombolan pasukan Iblis datang.



Melihat itu Rey mundur membawa Debora bersamanya, mereka kembali berkumpul dalam lingkaran yang sama saat ini.


"Debora! Apa rencanamu saat ini?"


Tanya Rey pada Debora yang masih bersimpuh, Debora dibuat bingung disini sungguh. Bagaimana pemula semacam mereka mampu mengalahkan rentetan Iblis sebanyak itu. Bahkan kemampuan mereka masih kurang dari Musketeers lainnya, lalu mengapa Harith mengirim mereka kemari apakah untuk menjemput kematian mereka. Tidak, tidak Debora tidak ingin mati konyol disini.



Disisi lain Harith dari dalam Istana masih memperhatikan bola kristalnya, bola pemantau yang mampu melihat apa yang terjadi pada Rey dan rekannya. Noella merubah dirinya menjadi seorang Elf lalu duduk disamping Harith.


"Kau akan tetap menatap, lalu membiarkan mereka mati, atau pergi kesana lalu menolong mereka?"


Ujar Noella, Harith hanya diam mendengar itu ia masih fokus pada apa yang disuguhkan kristal miliknya.


"Harith, mereka masih pemula tolong pikirkan itu!"


Ujar Noella lagi, namun Harith masih diam. Noella membuang kasar nafasnya, ia kemudian bangkit akan pergi dari sana.


"Lantas kau akan kemana?"


Tanya Harith, Noella menghentikan aksinya mendengar itu.


"Aku akan menolong mereka, kau memberikan misi bunuh diri pada manusia yang bahkan tak berdosa itu."


Ujar Noella, Harith tersenyum menoleh ke arahnya lalu menepuk-nepuk kursi kosong disampingnya seakan mengajak Noella kembali duduk. Melihat itu Noella kembali menghampirinya duduk disampingnya.


"Baron pasti akan mengamuk disituasi yang tepat, Rey pasti mampu mengatasi ini."


Ujar Harith seraya tersenyum lalu kembali menatap kristalnya. Disana Noella sedikit berfikir, mungkin benar apa yang Harith katakan Baron tidak akan membiarkan manusia yang ia tumpangi mati begitu saja. Mungkin ada saat dimana Baron akan mengambil alih tubuh Rey, lalu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menolong Rey beserta rekannya.


...Berdebat atau bertengkar untuk hal yang tidak ada gunanya...


...Hanya akan menguras energi secara percuma...


...Ada saatnya diam untuk menghindari perdebatan...


...



...


____________


Ensiklopedia :


Teori Alam semesta berbentuk menyerupai terompet?


Dilakukan dengan pemodelan matematika yang cermat sesuai data astronomi yang dimiliki.


Hasilnya akan terlihat bahwa bentuk alam semesta membentang seperti corong panjang dengan salah satu ujungnya berbentuk seperti lonceng.


Sebuah penelitian pernah dilakukan oleh tim Fisikawan Jerman yang dipimpin Frank Steiner di University of Ulm. Mereka menggunakan metode matematika kompleks yang disebut ‘Topologi Picard.


Penemuannya adalah alam semesta memiliki volume terbatas pada sisi tepinya. Konsep tersebut mengikuti penelitian NASA pada 1996 yang menunjukan bahwa radiasi gelombang mikro yang samar masih tersisa dari peristiwa Big Bang 13 miliar tahun yang lalu.

__ADS_1


Bukti lain dari bentuk alam semesta menyerupai terompet adalah tidak adanya gumpalan besar lebih dari 60 derajat pada bentuk alam semesta.



__ADS_2