Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Sesuatu yang Jahat


__ADS_3

...Jangan berusaha ataupun mengerjakan sesuatu dengan setengah hati, karena hasil yang kamu dapat juga hanya setengahnya...



Getaran dari dalam tanah sama sekali tak merenggut keberanian para Iblis untuk tetap berdiri di atas tanahnya. Nampak Iblis seratus juta jiwa selalu Tuan terhebat mereka berdiri tepat di Garda paling depan.


Retakan tanah mulai menyabang. Retakan itu semakin banyak. Para Iblis petinggi saat ini masih berdiri tepat di belakang Tuan mereka. Seluruh Iblis rendahan juga begitu.


"Kekuatan ini besar sekali!" Lirih Barsh masih menatap ke depan.


Bunyi retakan tanah mulai membelah menampakkan sesuatu dari dalamnya. Sesuatu yang teramat jahat juga ganas.


Aumannya menggelegar sangat kencang juga menggema. Para petinggi yakin makhluk ini sangat besar nantinya.


Clashhhhh


Clashhhhh


"Aaaaaaa!!!"


Teriakan para iblis rendahan di area belakang juga mulai menggema. Suara teriakan itu adalah atu pertanda dimana para Iblis rendahan diserap masuk kedalam tanah. Dipaksa menyatu oleh sesuatu yang brutal disana.


"Dengan ini, rencana kita menaklukan Harith pasti akan berhasil! Kejayaan silver alaska sudah di depan mata, saat nya bagi para Iblis berkuasa di bumi!"


Brakkkkkkk



Ucapan itu berakhir dengan keluarnya seekor naga yang sangat besar. Kedua matanya memerah. Kumis-kumisnya bagaikan pedang. Taring-taring mereka mengerikan. Sekali ia mengaum maka terbakar lah hutan Silver Alaska. Nafasnya panas bagikan Ucapan air yang mendidih.


Barsh tertegun melihat sosok binatang perkasa itu. Jadi inilah senjata yang di endap dalam tanah selama beberapa tahun ini. Luar biasa besarnya mampu menerjang Rensuar dengan sekali serang.


"Dengan begini, manusia itu juga bentengnya akan hancur lebur tak tersisa! Sebab naga ini begitu besar juga perkasa!" Ucap Barsh memprovokasi.


"Kau benar Barsh! Naga ini akan mengecoh seluruh sistem pertahanan Rensuar. Dan aku, akan menyerang Harith lalu memakannya. Hahaha.. lengkap sudah kekuatan ketiga Guardian dalam tubuhku nanti!"


"Aku senang sekali Tuan mendengarnya!"


Iblis seratus juta jiwa mengangguk mendengar apa yang Barsh katakan.

__ADS_1


"Kita akan melakukan penyerangan lagi terhadap Rensuar besok malam!" Perintah Iblis seratus juta jiwa.


"Apakah setelah Harith kau tangkap, kita akan mundur ataukah kita akan tetap menyerang seluruh daerah Rensuar?" Tanya Barsh lagi.


"Aku ingin kita lenyapkan sekaligus! Serang mereka makan mereka. Jangan sampai ada yang tersisa. Kehancuran Rensuar harus terjadi besok malam!"


Setelah mengatakan perintah perang. Iblis seratus juta jiwa menghilang dari hadapan anak buahnya. Begitupun dengan satu maha yang baru saja lahir itu. Naga itu menghilang dengan sendirinya.


Namun ucapan Tuan mereka cukup melegakan bagi kaum iblis. Mereka bersorak ria menyambut kemenangan yang sebentar lagi akan datang pada kaum mereka.


"Era Iblis akan segera dimulai! Persiapkan diri kalian para Muskeeters juga para manusia fana! Kematian sedang mengintai kalian!"


Ucap Barsh lalu menghilang dari sana. Para petinggi lain juga ikut pergi. Meninggalkan suara sorakan para iblis rendahan disana.


__________



Debora sedang duduk di balkon lantai lima. Milky way nya terlihat begitu menawan malam ini. Beberapa hari setelah fakta perihal kekuatan Rey terkuak. Debora berusaha meneguhkan hatinya agar tetap kuat menerima konsekuensi yang akan terjadi.


Sekalipun dirinya bahkan masih tak mampu menerima realita. Tetapi untuk dunia yang hancur ini, ia harus mampu bersikap netral. Tak ada waktu mengeluh ataupun meratapi. Sebab dunia ini membutuhkan para Muskeeters nya selalu siap dalam keadaan apapun.


Debora berucap ke arah langit. Seakan berbicara pada langit untuk menyimpan perasaannya.


"Mau bagaimana lagi, duniamu ini sudah sangat hancur! Aku dan dia adalah seorang Muskeeters, prajurit bumi. Seorang yang dituntut selalu siap menghadapi ancaman. Bahkan bisa mati kapan saja!" Lirih Debora lagi.


Ketika tangannya meraih secangkir matcha hangat. Ketika akan meneguknya rupanya matcha itu sudah habis. Debora lalu mengembalikan cangkir yang ia pegang ke meja samping ayunan. Kedua netranya masih setia menatap ke arah langit.


Dalam ruangannya ia tidak menyadari bahwa Rey saat ini sedang menuju ke atas. Sepertinya pemuda bersurai putih itu insomnia nya kambuh.


Sesampainya di atas sana. Rey melihat Debora yang duduk, sedikit terkejut memang. Namun bagi Rey ini adalah kesempatan. Sejujurnya ia lelah, dan sudah lama baginya tidak meletakkan kepalanya di atas pangkuan gadis itu.



"Debora.." Lirih Rey berjalan mendekati Debora.


"Rey?" Ucap Debora menoleh ke arahnya.


Rey tersenyum mendengar itu lalu duduk disampingnya. Kebetulan Rey sedang membawa segelas minuman hangat. Netranya tidak sengaja melihat kesamping, ada cangkir.

__ADS_1


"Kau minum apa?" Tanya Rey padanya.


Lantas Debora meraih kembali cangkir kosongnya lalu menunjukkannya pada Rey.


"Ini kosong, malam ini cukup dingin. Dan bintangnya indah sekali malam ini. Aku terpesona melihat taburan bintang itu, indah dan jarang terjadi. Juga kepalaku sedang banyak pikiran, jadi aku memutuskan untuk terjaga dan bersantai sebentar."


Jelas Debora. Ketika ia akan mengembalikan cangkir kosongnya Rey menahannya. Hal itu membuat Debora diam lalu menatap ke arah Rey.



"Ada apa?" Tanya Debora padanya.


"Aku tau kau sangat menyukai matcha hangat. Tapi aku hanya memiliki secangkir teh panas disini. Jadi Debora, mari kita nikmati bersama."


Jawab Rey ia pun menuangkan cangkirnya yang penuh itu ke dalam cangkir Debora. Debora tersenyum memperhatikan Rey yang menuangkan minumannya ke dalam cangkirnya.


Setelah hal itu usai Rey membalas senyuman Debora lalu kembali menatap ke arah langit. Rey meletakkan cangkir miliknya di meja samping ayunan.


" Kau tidak meminumnya?" Tanya Debora pada Rey.


Tanpa berucap apapun Rey hanya diam lalu menatap langit. Beberapa detik kemudian ia menjatuhkan kepalanya pelan di atas pangkuan Debora nya.


"Rey!" Pekik Debora ketika me dapati Rey tertidur disana.


"Aku pernah mengatakan bahwa pangkuanmu ini setara dengan pangkuan Suster Agarwa ku. Debora biarkan malam ini aku meletakkan kepalaku sebentar disini. Bolehkah?" Pinta Rey.


Debora meletakkan cangkirnya yang baru saja ia minum. Lalu tangannya terulur membelai lembut Surai putih milik Rey.


"Apa yang terjadi pada Suster mu Rey?" Tanya Debora padanya lembut.


"Iblis yang ku lawan bersama dengan Syena dan Kaisar adalah dia yang telah memangsa suster ku. Ketika kami berhasil mengalahkannya gambaran tentang bagaimana suster tiada tergambar jelas. Saat itu bahkan kami merasa Suster kami berada tepat di belakang kami. Memberi kekuatan pada kami. Suster Agarwa luar biasa Debora! Tanpa nya aku tidak akan mampu bernafas selama ini."


Rey menceritakan hal-hal yang memilukan. Apa yang sedang Rey rasakan turut ia rasakan. Kehilangan memang pedih namun beginilah siklus dunia. Hidup, tumbuh menua lalu mati adalah keindahan bagi makhluk bernama manusia.


"Aku turut berduka cita atas itu Rey! Tapi kau tidak sendirian disini. Kau masih memiliki ku dan Syena. Juga para rekan yang lain. Kita disini bersamamu, berjuang bersamamu dan tidak akan pernah meninggalkanmu."


Ucapan tulus itu membuat Rey bahagia sekali rasanya. Nyaman di dengarkan, suara lembut kekasihnya ini benar-benar menenangkan.


...Tuhan bersama mereka yang sedang berusaha memperjuangkan sesuatu dengan tanpa setengah hati...

__ADS_1



__ADS_2