Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Memasuki Satu Nostalgia Kelam


__ADS_3

...Ketakutan itu hanya sementara penyesalan itu selamanya...


...Penyesalah itu datangnya selalu di akhir agar kita memiliki waktu yang lebih untuk belajar...


...Berlarut dalam penyesalan serupa dengan memperhatikan bumi yang tidak memiliki ujung...


__________



____________


"Hoekkk.... Hoekkk!"


Suara itu berasal dari Rey entah sudah berapa kali mual itu menyiksanya saat ini. Harith berada diambang pintu melipat tangannya sambil memperhatikan Rey yang terus saja muntah sedaritadi. Seragam Putih miliknya lusuh, kotor, padahal seingat Harith itu baru diberikan beberapa hari lalu.


Clinggggggggg


Kali ini Baron keluar dari tubuh Rey ia menghampiri Harith sambil melayang lalu berada disisinya, duduk bersila netranya memperhatikan pemilik tubuh, tempatnya bersemayam. Harith dan Baron saling tatap beberapa saat, lalu tersenyum, ada ide licik dalam pikiran mereka saat ini.


Harith akan memanggil Lapu-lapu merah kemari, makhluk ahli ramuan itu pasti bisa membantu Rey namun sejujurnya Harith tau Rey pasti akan menolak segelas cairan ramuan itu, namun itulah tujuannya entahlah, membuat Rey kesal itu menyenangkan, itu hiburan sungguh.


"Padahal kacungmu hampir mati dilahap Iblis senior, tapi kau senyum merekah ini penuh dengan kelicikan sungguh kau luar biasa, tapi aku juga ingin melihat hiburan darinya."


Mereka berbicara lewat telepati seraya netranya masih setia memperhatikan Rey. Entah bagaimana manusia ini bisa mabuk portal, bahkan selama ini.


"Sialan sekali kalian! Mengapa kalian menyunggingkan senyuman, ketika aku hampir mati. Juga ini, Hoekkk....."


Harith menahan tawanya mendengar itu, Rey mabuk portal, mantra Leviousa adalah mantra teleportasi, namun jika membawa muatan maka mantra itu akan menggunakan portal yang berbeda untuk memindahkan keduanya. Saat itu Harith menggunakannya tak sendiri, ada Rey yang sedang dibopong olehnya. Harith sudah memanggil profesor Geralda kemari itulah namanya, Lapu-lapu wanita berambut merah yang selama ini mengajar dibidang ramuan.


Tak beberapa lama Geralda datang tepat ia tiba tepat diambang pintu ruangan Harith, berdiri dengan segelas ramuan ditangan kanannya.



"Wah senang sekali kau datang kemari, terima kasih sudah memenuhi panggilanku."


Harith memberi hormat pada Lapu-lapu wanita itu sedang Rey masih berkutat dengan wadah itu memeganginya dengan kedua tangannya, menjaganya agar posisinya tepat berada di wajahnya. Jika dilihat dari kejauhan rasanya wajah Rey seperti tertelan oleh wadah itu.


"Aku senang kau memanggilku kemari Kaisar, dengan membantumu itu sudah suatu kehormatan untukku."


Ujar Geralda, Harith menunjuk tepat ke arah Rey seakan menyuruh Geralda memperhatikan bocah itu dengan masalah yang sedang menimpanya. Geralda membuang kasar nafasnya, bocah berambut putih itu siapa yang tak mengenalnya. Dari ketiga mata pelajaran sihir Rey adalah murid kesayangan Musketeers Axcel, pemegang ilmu mantra dan penguasaan pedang sihir.


Namun tidak bagi dua kelas wajib yang selalu diikutinya, kelas ramuan juga sejarah rasanya memang tidak cocok untuk Rey. Rey adalah masalah paling besar dikelas mereka dimana ia selalu gagal dan gagal jika dihadapkan ujian ramuan juga sejarah sihir. Harith paham betapa istimewanya kesan Rey dimata para pengajar, sekalipun kesan Rey dalam mata mereka berbeda-beda.


"Aku akan menolongnya, dia murid kesayangan leonin Axcel jadi harus kutolong."


clinggg


Geralda maju mendekati Rey, sebelum itu sebuah cahaya hitam menguap menjadi gas diatas gelas, sedikit menambah kesan horror dari ramuan itu. Geralda menepuk-nepuk bahu Rey yang masih memuntahkan cairan bening itu.



"Minumlah Rey, kau akan segera membaik jika kau meminumnya!"


Geralda menyodorkan gelas kecil itu pada Rey, namun ketika gelas itu mendekati wajahnya tepat ketika netranya menatap lekat cairan hitam pekat didalamnya, rasanya sungguh ia tak ingin meneguknya walau hanya setetes. Seram itu bukan sebuah obat sepertinya, lebih mirip racun untuknya, obat apa berwarna hitam pekat dengan kulit penyu yang mengambang itu.

__ADS_1


"Hahhhh racun!!!"


Teriak Rey berdiri seketika sambil menutup mulutnya layaknya seorang anak kecil yang tak ingin meneguk obat. Geralda terkejut melihat reaksi itu, Harith juga Baron menatapnya sambil menahan tawanya.


"Minumlah atau kau akan tersiksa dengan hal itu dalam jangka panjang!"


Ujar Geralda, Rey menggelengkan kepalanya dengan cepat mendengar itu. Harith maju mendekati Rey saat ini, sepertinya sudah saatnya ia bertindak, melihat kedua ancaman menerkamnya Rey berusaha kabur dari sana.


Susah payah Rey menahan rasa mualnya sambil berlari, ia menggunakan sihir autrom miliknya memusatkannya tepat di telapak kakinya sehingga kecepatan larinya tak seperti manusia normal. Dalam Istana putih itu Rey berlari seakan dikejar oleh sesuatu yang seram. Ketika dua makhluk itu hampir mendekatinya Rey mengarahkan tangannya tepat ke arah wadah muntahannya.


"Ayui!"


Akibat rapalan itu wadah itu terpental ke atas, baik Harith juga Geralda sama-sama merapal satu mantra untuk melindungi mereka dari cairan hasil muntahan milik Rey, itu menjijikan sungguh, memang sedikit laknat manusia bernama Rey ini. Padahal mereka seniornya, pengajarnya namun berani sekali ia.


Pranggggggg


Bersamaan dengan jatuhnya wadah itu Rey berlari kencang pergi meninggalkan mereka berdua yang sedang tercengang dibawah hujan muntahannya. Rey berlari melewati beberapa Musketeers yang berpas-pasan dengannya.


"Rey!!!"


Teriak Harith dari belakang rupanya makhluk menyebalkan itu masih mengejarnya, Rey lebih mempercepat langkahnya begitupun dengan Harith juga Lapu-lapu wanita yang terbang mengejarnya.


Rey bahagia ketika netranya menemukan rekannya yang sedang berdiri dihadapan satu pintu, seakan menemukan harta karun Rey menghampiri mereka.


"Justice!!!"


Rey berteriak padanya, mendengar itu Justice mengedarkan pandangannya tepat ke arah sumber suara disana ditemukannya Rey yang berlari kencang ke arahnya sambil merentangkan tangannya seakan ingin memeluknya.


"Justice aku akan dibunuh!"



"Kau... kau kotori bajuku ku hajar kau disini!"


Ancam Justice, susah payah Rey menahan muntahnya dengan kedua telapak tangan yang membungkam mulutnya. Harith semakin dekat dengannya, disana satu tangan Rey mencengkram bahu Harith seakan meminta tolong untuk mengusir mereka berdua.


"Lebih baik kau lepas saja mulutmu itu Rey, ganti dengan yang baru menyusahkan saja."


Ujar Mikhail, Rey memicingkan matanya saat itu juga seakan menolak apa yang Mikhail katakan padanya.


"Rey!!!"


Pekik Harith ketika berada tepat dihadapan mereka, Harith sedikit terengah-engah atas ulah Rey padanya. Justice memperhatikan segelas ramuan dalam genggaman tangan Harith.


Disitu dirinya paham ramuan apakah itu, ada selembar kulit penyu didalamnya. Justice menatap jijik ramuan itu, bahkan baunya pun rasanya mematikan. Sejenak Justice menoleh, menatap tepat ke arah Mikhail seakan sedang merencanakan konspirasi pembunuhan, keduanya berbicara melalui mata seperti layaknya sepasang kekasih.


Mengerti akan isyarat itu Mikhail mengangguk, Justice merangkul Rey sekarang mencoba berbasa-basi. Telunjuknya mengarah tepat ke arah langit, seketika itu netra Rey juga teralih ke arah langit detik itu juga Mikhail mengukung tubuh Rey.


"Hmmmp Hmmm Hmmm!!!"


Rey merapatkan bibirnya melihat itu, lihatlah ia seperti seseorang yang akan di eksekusi. Justice menempelkan gelas itu tepat dibibir Rey, namun Rey masih berontak, tak mau membuka mulutnya. Kesal akan hal itu Justice mencubit hidung Rey menyumbatnya itu akan membuat Rey membuka mulutnya untuk bernafas. Ketika Rey membuka mulutnya detik itu juga cairan sakral itu masuk kedalam kerongkongannya, sumpah demi apapun Rey membenci cairan keramat itu beserta pembuatnya.


"Hahahahahaa.. hahahahaha..."


Justice membuang begitu saja gelas kosong itu sedang Rey ia seakan-akan kehilangan kekuatannya lemas tak percaya rasanya, terutama ketika bagian kulit penyu itu masuk melewati kerongkongannya.

__ADS_1


Namun hasil dari ramuan itu mujarab, saat ini mual yang dirasakan Rey hilang seketika. Disana Mikhail mulai memunculkan buku resep ramuan miliknya dari telapak tangannya, lalu menulis beberapa kandungan yang ada dalam ramuan itu.


"Kalian berusaha membunuhku!"


Protes Rey, ketika ia akan memulai perdebatan netranya tak sengaja melihat Debora disudut lorong tak jauh dari mereka. Gadis itu duduk meringkuk tatapannya kosong, tak ingin memperpanjang kekonyolannya Rey terdiam sambil menatap gadis itu lekat-lekat.


"Dia kenapa?"



Satu pertanyaan dari Rey membuat Justice mengepalkan tangannya, dadanya dipenuhi amarah rasanya ingin ia luapkan itu pada Debora sekarang.


Harith tau situasi ini, mungkin inilah waktunya bagi mereka saling menyelesaikan masalahnya.


"Aku pergi Rey!"


Ujar Harith namun Rey sama sekali tak membalas itu ia masih menatap lekat Debora. Rey merasakan perasaannya, ia pasti sangat muak pada dirinya sendiri saat ini. Namun apa yang menjadikan Debora menjadi egois saat disana mereka tak tau alasannya. Rey berjalan mendekati Debora kali ini, diikuti dengan Justice dan Mikhail dibelakangnya.


"Kau tak bosan meringkuk seperti itu, apa lututmu tak sakit?"


Kali ini Rey mengulurkan tangannya mencoba mengajak Debora bangkit dari duduknya. Debora terdiam mendengar itu, Justice yang muak rasanya ingin mengumpat, memaki bahkan memojokkan Debora atas apa yang ia lakukan dan katakan di area Alaska beberapa jam lalu. Amarah itu sesak didada rasanya, ketika Justice akan kehilangan kendali Rey mencegahnya.


"Huh?"


Justice terkejut melihat Rey dengan tangannya dan mata yang masih menatap sendu Debora menahannya, tak memperbolehkan dirinya meledakkan amarahnya.


"Bisakah aku berbicara, empat mata dengannya?"


Kali ini Rey yang masih memunggunginya bersuara, Mikhail mengerti apa yang terjadi disini. Susah payah ia menarik tubuh Justice yang penuh amarah itu untuk mengikutinya. Ketika situasi mulai hening, Rey merendahkan dirinya ikut duduk sama seperti yang dilakukan Debora.


"Aku pernah melakukan kesalahan! Aku muak dengan diriku saat itu, tak mampu menyelamatkan seseorang yang ku sayangi adalah kelemahanku yang paling buruk."


Debora mengangkat kepalanya mendengar itu, fokusnya teralih ke arah Rey saat ini. Mata itu berbicara sambil menatap langit-langit, disana Debora sama sekali tak menemukan amarah melainkan ketenangan. Apakah dirinya mampu terbuka pada pemuda ini? Apakah boleh ia mencurahkan seluruh lara hatinya pada pemuda ini. Sesak memang jika ditahan dan dipendam sendiri.


"Ada hal yang terjadi diluar kemampuan kita, semua terjadi karena Tuhan dan keinginannya. Namun segala itu, ada alasannya. Mungkin ia ingin membentuk karakter kita memoles kita menjadi pahatan indah,kokoh, kuat hati dan jiwanya. Segala yang terjadi dalam semestanya, segala yang diberikan pada jiwa yang bernafas, itu ada alasannya. Tuhan memberikan segala hal itu beralasan, bukan tanpa alasan. Kewajiban kita adalah mempelajari juga menerimanya, dengan itu kita akan tetap maju. Karena dunia itu berjalan, bukan berhenti."


Debora mengangkat kepalanya memberikan fokus matanya itu menatap Rey, yang juga menatapnya. Apakah Pemuda ini tau apa yang terjadi padanya, apakah Riley menceritakan kisahnya padanya.


"Apa yang terjadi Debora? Apa yang membuatmu muak pada dirimu sendiri? Apa yang membuatmu takut dan berpikir dua kali, perihal menyelamatkan nyawa rekanmu. Bukankah setelah penerimaan seragam ini, kita, dihadapan api biru milik Harith bersumpah bersama, akan saling melindungi sekalipun nyawa kita taruhannya."


Rey kembali mengalihkan netranya tangan kanannya terangkat ia membuka telapak tangannya, sebuah topi kupluk rajut seketika muncul diatas telapak tangannya. Debora memperhatikan itu untuk apa topi itu sekarang, Rey mengarahkan topi itu ke arah Indra penciumannya menciumnya menghirup aroma dari topi itu, menikmatinya seraya terpejam.


"Aku kehilangan adikku, yang tersisa adalah benda ini. Aku disini karenanya! Debora, aku menganggapmu juga yang lain adalah keluargaku, maka anggaplah demikian, baik aku juga Riley selalu mengkhawatirkan dirimu juga luka batinmu. Ceritakan, mari kita tanggung seluruh luka itu bersama-sama."


Tersentuh rasanya mendengar hal itu terucap dari diri Rey. Tak percaya rasanya, manusia sekonyol ini mampu menenangkan, mententramkan hati manusia lain. Debora mengangguk, kali ini dirinya siap menceritakan segalanya pada Rey.


...Hati yang tidak memaafkan mati dalam penyesalan...


...Hargailah apa yang kamu miliki saat ini sebelum itu menjadi apa yang kamu sesali...



______________


Ensiklopedia :

__ADS_1


Revolusi bumi adalah peredaran bumi mengelilingi matahari. Dalam satu kali revolusi, bumi membutuhkan waktu sekitar 365 hari 6 jam 9 menit 10 detik atau satu tahun. Saat sedang berevolusi, bumi mengikuti lintasan yang disebut dengan orbit bumi.



__ADS_2