
Suara deruh nafas seorang manusia mulai terdengar tersengal-sengal. Beberapa manusia di wilayah bagian ujung kiri Rensuar berlari, mereka menuju tepat ke arah kota tempat mereka berdagang biasanya. Di sana pula para Muskeeters akan banyak terlihat, di sana adalah pusat bersantai sebuah perbelanjaan besar.
"Sepuluh manusia hilang!!!" teriak salah seorang dari mereka. Seorang kakek tua dengan tenaga lemahnya berteriak menyampaikan satu berita yang cukup mengejutkan para penghuni kota.
Beberapa pedagang di sana mulai berdatangan ke arah kakek tua beserta rombongannya. Mereka yang tadinya berjualan penuh hasrat melarikan segala dagangan mereka, mulai tersulut keingintahuannya ke arah kakek tua ini.
"Ada apa kakek? Manusia hilang apa maksudmu?" tanya seorang penjual ia juga ikut panik.
Sambil memegangi kedua bahu kakek itu, kedua netranya turut membulat mencoba mengintrogasi mencari tahu sesuatu perihal apa yang kakek itu sampaikan.
Sang kakek sejenak mengatur nafasnya, ia lelah berlari sambil membawa tongkatnya itu. Beberapa menit setelah nafasnya cukup teratur, barulah kakek itu mendongak menatap tepat ke arah penjual itu dengan raut muka ketakutan.
"Rensuar sudah tidak aman lagi! Wilayah kami di ujung kiri Rensuar, mulai terjadi pembunuhan massal oleh iblis. Panggil Muskeeters panggil Baron Putih! Sampaikan kita akan berada dalam kandang ini? Perdagangan kalian untuk apa di tengah neraka? Pada akhirnya satu persatu dari kalian juga akan mati!" ujar kakek itu kepada penjual.
"Eh!" pekik penjual itu terkejut.
Benar sekali, apa yang dikatakan oleh kakek tua ini. Sampai kapan mereka akan terus bertahan di dalam Rensuar ini? Sampai kapan mereka akan hidup terancam semacam ini, tidak, mereka tidak ingin hidup seperti ini.
"Kau benar kakek! Para Muskeeters ini, seharusnya sudah melawan habis seluruh iblis di sana. Wilayah sudah mereka rebut, namun mereka masih tetap diam! Apa yang mereka pikirkan di sini?" tanya penjual itu meninggikan suaranya.
Ia ikut memprovokasi di sini. Debora juga sedang berada di area itu. Namun, kali ini ia tidak memakai jubah kebanggaannya. Sebuah jubah tanda seorang Muskeeters. Sebab ini libur, maka Debora hanya ingin membeli beberapa rempah-rempah saja.
Namun rupanya, saat seperti ini ia di hadapkan oleh beberapa massal yang mulai termakan oleh rasa takut. Rasanya saat ini, Debora ingin sekali berteriak kepada mereka. Bahwa para Muskeeters sedang merencanakan penyerangan.
Sekuat apapun Muskeeters mereka juga adalah seorang manusia. Mereka juga mampu letih, serangan beruntun akan mengakibatkan banyak korban. Untuk melawan para makhluk keji itu dibutuhkan kelicikan juga.
Bukan hanya sekedar melawan, lalu memikirkan kemenangan saja. Namun, sebagai ahli pemikir pertahanan ia beserta Noella juga harus memikirkan perihal meminimalisir korban.
"Mereka bersantai di kastil putih! Apa sebenarnya yang sedang mereka lakukan di sini? Kami menaruh harap kepada mereka tetapi mereka tidak bergerak!" ujar Sang Kakek lagi.
Ucapan itu disambut sorakan pendukung oleh para massal. Riley baru saja sampai di tempat Debora kali ini, sama sepertinya ia tidak menggunakan jubah di sini. Mendengar perkataan kotor perihal para Muskeeters, Riley mengepalkan tangannya kuat. Sial rasanya, seperti perjuangan mereka selama ini tidak dihargai.
"Akan kubunuh orang-orang ini!" ujar Riley melangkah,
Grepppp
"Lepaskan aku Debora!" ujar Riley lagi kepada Debora, ia memicingkan kedua matanya kali ini.
__ADS_1
Namun di sana Debora sama sekali tak takut. Ia hanya menatapnya datar tanpa ekspresi apapun. Tatapan mereka beradu, cengkraman Debora semakin menguat sebab Riley berusaha berontak.
"Mengapa kau menahanku? Mereka ini harus diberi pelajaran Debora!" jelas Riley kepadanya.
"Huh!" Debora menghela nafas panjang mendengar itu sekaligus menunduk sebentar, lalu kembali menatap ke arah Riley.
Debora menepuk pelan bahu Riley, menyentuhnya lalu salah satu tangannya yang lain menunjuk ke arah kerumunan manusia yang sedang diprovokasi.
"Pekerjaan kita adalah melindungi mereka! Biarlah mereka berkata apa, tapi kita sebagai seorang petarung harus selalu taat pada rantai komando. Kita yang menguasai Medan perang, bukan mereka! Kita yang kendalikan pertempuran bukan mereka! Dan satu hal lagi Riley, mereka bukan musuh kita! Jadi jangan membunuh mereka, oke! Jangan mudah tersulut emosi seperti Rey!" tutur Debora kepadanya.
Sekejap Riley dibuat bungkam, kemudian ia menunduk menatap tanah merenungkan apa yang Debora katakan kepadanya. Itu benar sekali, apa yang Debora katakan benar.
"Pantas saja kau dikarunia kemampuan secerdas itu Debora! Bahkan dalam masalah seperti ini pun, kau masih mampu tenang! Aku salut sekali padamu, dan ya, Rey adalah pemuda yang beruntung dicintai olehmu!" ujar Riley kepadanya.
Ketika nama Rey disebut, hal itu membuat Debora tersipu sejenak. Kemudian Riley menatapnya, keduanya sama-sama tersenyum.
Suara provokasi itu masih ramai, Debora mengalihkan netranya ke arah lelaki tua itu juga seorang penjual. Kemudian, Debora menyerahkan belanjaannya kepada Riley di sampingnya.
"Bawa ini, aku ingin menyampaikan sesuatu kepada mereka! Aku juga ingin tau, perihal apa mereka sampai menyalahkan Muskeeters di sini. Setelah jawabannya kudapatkan, mari kita ke kastil putih bersama-sama!" ujar Debora sambil berjalan mendekati kakek tua itu.
Ketika kakinya berhenti tepat di depan kakek tua itu, kedua suara yang sedang memprovokasi itu terhenti. Mereka berdua menoleh tepat ke arah Debora yang berdiri di samping mereka. Terlihat di sana Debora tersenyum manis sekali seakan tidak terjadi apa-apa.
Tutur kata yang santun juga lembut itu, sekejap menghangatkan hati mereka. Mereka yang tadinya tersulut emosi seketika mereda, seluruh manusia di sana menatap lekat ke arah paras cantik Debora dengan Surai putih terurainya.
"Jadi begini nak, aku akan menjelaskannya kepadaku!" ujar kakek tua itu tertatih mendekati Debora.
Ketika mereka saling berhadapan, kakek tua itu pun menceritakan segalanya. Perihal para manusia di bagian kiri Rensuar paling ujung banyak yang menghilang. Jumlah mereka ada sepuluh orang.
Di sana, kakek itupun juga menjelaskan perihal kebenciannya kepada para Muskeeters. Sebab baginya, para Muskeeters tidak melakukan apapun di sini. Mereka tidak melakukan penyerangan lagi.
Debora memahami apa yang sedang kakek tua ini rasakan. Ketakutan yang menguasai jiwa manusia, perlahan akan menguasai akal sehatnya. Logikanya tidak lagi mampu bekerja dengan baik. Mendengar seluruh cacian hinaan dari para warga di kota, pada akhirnya membuat Debora menghela nafas panjang.
"Terima kasih ya, Tuan! Saya senang mendengar penjelasan anda. Saya biasanya mengantar susu di kastil putih. Jika bertemu dengan nona Noella, keluh kesah anda akan saya sampaikan." ujar Debora kembali tersenyum kepada mereka, sambil mengatupkan kedua tangannya.
"Aku seperti melihat seorang Dewi, berdiri di hadapanku!" ujar kakek tua itu menatap lekat kepada Debora.
Para warga di sana juga menatapnya. Debora memang sangat anggun. Pribadinya yang tenang dan cerdas, mampu menghipnotis siapa saja. Keanggunannya luar biasa, suaranya lembut menenangkan.
__ADS_1
Melihat itu Riley dari kejauhan hanya tersenyum sambil menggeleng kepalanya. Tak lama, Debora pun menghampiri Riley yang masih berdiri sambil memperhatikannya. Warga di sana sudah ia tenangkan, dengan jaminan berbicara kepada Noella.
Debora menarik pergelangan tangan Riley. Menuntunnya untuk mengikutinya, kali ini ia akan pergi ke kastil putih. Hari ini, adalah libur terakhir mereka. Besok, akan ada rapat penyerangan besar.
"Kita akan menemui Noella?" tanya Riley kepada Debora di sampingnya.
Sambil masih tersenyum Debora pun hanya mengangguk. Riley menghela nafas panjang usai melihat anggukan itu.
"Debora, kenapa kau tidak berbicara padanya besok saja? Bukankah besok kita juga ada rapat bersamanya?" tanya Riley heran kepadanya.
"Riley, jika warga mengamuk ketika kita berperang! Maka, Noella tidak akan mampu fokus merancang strategi. Pemikiranku saja tidak mampu membantu kalian di sini. Kita semua butuh kerja sama!" tutur Debora kepadanya.
Rasanya tak mampu melawan segala hal yang Debora ucapkan. Debora kembali di ingatkan perihal sepuluh warga yang hilang. Hal itu membuat langkahnya berhenti seketika. Riley di sampingnya terkejut atas tindakannya.
"Ada apa Debora? Kenapa kau tiba-tiba berhenti?" tanya Riley kepadanya, Debora menepuk keningnya.
Mereka sudah menghabiskan lima belas menit berjalan. Saat ini mereka berada di antara Belantara. Lumayan jauh dari kota, ada empat persimpangan di sana. Jika mereka mengarah ke kiri, itu adalah lokasi kejadian tempat tinggal kakek tua itu. Di sana ada desa kecil.
Sedangkan jika mereka terus lurus ke depan, itu adalah arah keluar benteng. Lokasi kastil putih terletak di sana. Lalu, jika mereka pergi ke kanan, itu adalah Land White.
"Aku hampir lupa perihal masalah yang disampaikan, Riley!" ujar Debora sambil menghadap ke arah Riley.
Riley menaikkan salah satu alisnya sambil tetap menatapnya. Perihal apa yang Debora bicarakan ia sama sekali tak paham.
"Apa itu?" tanya Riley kepadanya.
"Riley, bisakah melalui gagak milikmu kau mengirim pesan kepada Rey beserta dengan Justice? Desa itu, sudah kosong sepertinya! Kita harus menyelidiki iblis apa yang sudah melahap sepuluh nyawa itu. Rey dan Justice adalah rekan yang mampu mengatasi ini!" jelas Debora kepadanya.
Benar, apa yang Debora katakan. Rey dan Justice mampu mengatasi masalah kecil ini. Riley mengangguk menyetujui apa yang Debora katakan. Kedua matanya terpejam kemudian, mantra-mantra sihir mulai ia rapalkan.
Dari arah land white muncul beberapa burung berterbangan. Burung itu, menuju tepat ke arah Riley. Burung-burung itu terbang mengitarinya.
Kemudian Riley membuka telapak tangan kanannya, salah satu burung bertengger di sana. Tak lama, Riley membuka matanya menampakkan bola mata bercahaya yang dipenuhi sihir. Di sana, ia berbicara kepada burung itu.
"Merpati cantik, bisakah kau mengirimkan pesanku kepada kedua temanku? Mereka sedang berada di dalam asrama elang putih. Hampiri mereka, katakan pada mereka bahwa Debora memerintahkannya untuk menyelidiki area pemukiman paling kiri di Rensuar. Katakan, bahwa ada sepuluh nyawa yang lenyap di sana." ujar Riley kepadanya.
Kepala merpati itu hanya menoleh-noleh saja. Tak lama, kedua mata merpati itu bercahaya sama seperti milik Riley. Satu merpati di tangan Riley pun pergi, di ikuti dengan seluruh merpati yang mengitarinya.
__ADS_1
Sambil menatap ke arah langit, melihat merpati yang kian menjauh mereka tersenyum lalu kembali melanjutkan perjalanan mereka.
_____________