
...Orang yang kuat hatinya bukan mereka yang tidak pernah menangis...
...Melainkan orang yang tetap tegar ketika banyak orang menyakitinya...
...Jika kamu berani mengucapkan selamat tinggal k...
...Kehidupan akan memberikanmu hadiah berupa lembaran baru....
______
Cukup lama para manusia ini memejamkan matanya akibat sihir Awenna. Debora mengerjapkan matanya mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat hilang.
Ketika kedua mata itu kembali menemukan kesadarannya. Hanya satu yang ia lihat disana. Ini adalah ruangan ramuan.
Bau-bau ramuan mulai tercium masuk kedalam Indra penciumannya. Debora memilih mendudukkan tubuhnya saat ini.
Sebuah tirai putih yang mengelilinginya dalam sekejap membuatnya tau, dimanakah letak dirinya saat ini. Kembali Debora berusaha mengingat tentang peristiwa apakah yang membawanya kemari.
Hal terakhir yang ia ingat adalah ia jatuh di luar benteng Silver Alaska. Kolase memori dalam kepalanya mulai terbentuk membentuk satu peristiwa paling dominan.
"Mati kau manusia!!!"
Crashhhhhh
"Awas!!!"
"Uh?" Debora terkejut ketika mengingat hal apa yang baru saja menimpa dirinya dan beberapa rekannya.
Hal itu membuat hatinya kalut rasanya. Ia mencoba bangkit dari atas ranjangnya, tangannya terulur membuka tirai arah kiri tubuhnya.
Slapppp
Ketika Debora membukanya rupanya disana terlihat Syena masih terpejam. Beberapa Lapu-lapu disana sedang merawatnya. Para Lapu-lapu itu menatap heran ke arah Debora.
Namun Debora mengacuhkannya, ia memilih bangkit mencoba berdiri lalu pergi dari sana. Tubuhnya lemas, namun ia masih memaksakan diri untuk berjalan. Ia tau benar seluruh rekannya sedang berada dalam satu ruangan bersamanya.
Namun entah mengapa rasanya ada sesuatu yang ganjal. Ada sesuatu yang berbeda dari dalam kepalanya. Debora adalah tipe pemikir, sedikit saja hal ganjal terjadi ia pasti akan meragukan sesuatu dan pasti ia akan mencari tau jawabannya.
Sambil sedikit tertatih Debora memilih berjalan diantara lorong-lorong kastil putih. Debora memeluk tubuhnya sendiri dengan kedua tangannya, netranya menatap ke arah kiri dimana disana adalah pemandangan benteng Rensuar terlihat jelas.
Cuacanya cukup dingin rasanya segelas matcha cocok hari ini. Sejenak Debora berhenti tepat dihadapan pintu ruangan Kaisar putih.
Namun disana ia tidak masuk, tubuhnya berbalik ke arah kiri menatap pemandangan Rensuar. Terpaan angin berhembus mengibarkan surai putihnya. Sejenak ia ingin menikmati ketenangan ini walau hanya sesaat.
Dua hati saling mencintai sedang berdiri dekat saat ini. Rey yang berada tepat didalam ruangan Harith, dan Debora yang berdiri tepat di hadapan ruangan Harith sambil memunggunginya.
"Jadi Rey Arlert?" Tanya Harith pada Rey yang hampir menghabiskan seluruh makanannya.
"Hmm..Hmmm.." Suara itu adalah suara pertanda begitu luar biasanya makanan yang ia santap.
Noella yang berdiri disamping Harith dibaur geleng-geleng rasanya. Arlert benar-benar manusia yang tidak tau malu.
"Kau seperti manusia yang tidak diberi makan selama bertahun-tahun Rey!" Sindir Noella padanya.
Slruppppp
Rey meneguk kuah terakhir dalam mangkoknya lalu mendongak, mencoba menatap Noella yang baru saja melempar sindiran padanya. Ada apa dengan kucing putih ini.
"Kucing Putih, mengapa kau bicara semacam itu padaku?"
Tanya Rey heran ia menyandarkan tubuhnya di kepala kursi, mencoba menyamankannya.
"Arlert sepertinya kita sudah cukup mengulur waktu!"
Ucapan Harith membuat Rey tersenyum. Benar, ini sudah cukup lama. Rey sedikit membersihkan sisa makanan yang melekat di sudut bibirnya. Lalu ia melipat tangannya di atas meja, menatap lekat ke arah Harith.
"Kaisar, sebab mengapa diriku tak melibatkan kalian kau sudah tau. Maka saat ini aku akan menjelaskan rencanaku padamu." Ucap Rey serius.
"Ya jelaskan Rey, kami dengan senang hati akan mendengarnya."
__ADS_1
Sesuatu yang akan Rey jelaskan adalah intinya. Itu adalah kunci untuk membawa para Musketeers bertarung secara aman, juga meminimalisir para korban jatuh nantinya.
"Manusia, sudah cukup berada dalam ambang kematian." Lirih Rey ia menatap kosong ke arah meja.
Dari dalam tatapan itu tersirat banyak sekali maksudnya. Itu adalah tatapan putus asa, tatapan kebencian, tatapan kemurkaan itulah yang Harith tangkap saat ini.
"Benar, itulah mengapa kita harus berjuang disini untuk menghentikan itu Rey." Ucap Harith.
"Paman, Iblis seratus juta jiwa dan para Generasinya itu berkaitan." Jelas Rey lagi.
Pernyataan itu membuat ketiga para petinggi disana saling bertatapan sejenak. Mereka kembali mendengarkan apa yang akan Rey katakan sebentar lagi.
"Bisakah kau menjelaskan bagaimana maksudnya itu, Arlert?" Tanya Axcel antusias.
"Tentu saja Paman!" Jawab Rey sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ada alasan mengapa para Iblis tidak menyerang area Rensuar secara langsung. Padahal jika dilihat dari segi manapun, tempat kita bernaung ini hanya sekali lahap saja jika mereka bergerak."
"Mungkin itu juga karena Kedatangan Kaisar kemari Rey. Sebab para penduduk langit datang membantu dunia, mereka berhenti di area timur ini. Satu area dimana disini para Iblis mudah dilenyapkan. Sihir pelebur milik para Lapu-lapu adalah kunci. Dan Ketiga Baron dalam tubuhmu, juga di lapisi mantra itu." Jelas Axcel padanya.
Mungkin memang itu adalah salah satu alasan mengapa mereka sama sekali tak menyerang. Namun ada alasan lain selain itu, yaitu rencana tubuh abadi pemimpin mereka yaitu Iblis seratus juta jiwa.
"Ada alasan lain selain itu Paman!"
"Apa itu?" Harith menyipitkan matanya menatap lekat ke arah Rey yang juga menatapnya kali ini.
"Ini adalah tentang tubuh yang sama sekali tidak akan memiliki kelemahan. Berapa kalipun kalian menyerangnya dia tidak akan pernah hancur ataupun lebur."
Deggggg
Baik Harith dan Axcel keduanya dibuat bungkam saat ini. Itu bukan berita yang baik tentunya saat ketika Rey menunjukkan picingan matanya.
"Baron Emas adalah ahli pendeteksi juga analisa. Mungkin kekuatan abjad sihir E adalah berasal darinya. Dia adalah tipe pemikir yang hebat. Tiap aku mengalahkan Iblis petinggi disana Baron emas menganalisa. Bahwa para generasi itu adalah, jantungnya iblis seratus juta jiwa."
"Hah?" Pekik Axcel tak percaya.
"Ya Paman, ia memecah kelemahannya menciptakan tubuh baru penampung itu. Jumlah pelenyapannya adalah seratus juta jiwa. Dimana tiap dua ratus jiwa manusia, di berikan pada satu generasi. Syena bilang pada Baron Emas sebelumnya, bahwa akan ada sepuluh generasi dalam rencananya."
"Artinya, akan ada sepuluh Para Iblis generasi yang terlahir?" Tanya Axcel lagi pada Rey.
Rey adalah kebanggan mereka sungguh. Dengan begitu maka mereka hanya tinggal menyelesaikan enam diantara mereka.
"Jika begitu artinya kita hanya perlu membunuh enam saja bukan?" Ucap Axcel.
"Benar, tetapi tidak semudah itu. Tiap Generasi petinggi ini memiliki kemampuan yang teramat sangat besar. Mereka beraneka ragam, sihir mereka berbeda dengan kita. Kemampuan analisis diperlukan disini."
Penjelasan dari Rey membuat Harith tersenyum. Jika begini, mungkin ini adalah waktu yang tepat untuknya mengatakan perihal kerja sama tim kembali.
"Mengapa kau tidak bergabung lagi bersama timmu disini, Rey? Kau masih memiliki rumah disini. Sebuah rumah yang siap menerimamu kapan pun." Jelas Harith pada Rey.
Kaisarnya ini lagi-lagi mencoba merayunya untuk kembali. Namun mau sampai kapan Rey berdiam diri didalam sini. Diluar sana adalah masalahnya, keluar dari dalam benteng adalah jawaban.
Ditambah para rekannya juga masih belum cukup memadai ilmunya. Rey tak ingin para pemilik kekuatan unik ini mati sia-sia. Apakah mereka belajar disini hanya untuk mati? Tidak bukan?
"Aku berencana mengalahkan mereka semua disana. Lalu ketika para jantungnya kalah, Iblis seratus juta jiwa sudah tidak abadi lagi."
Mendengar itu Harith teringat sesuatu. Satu momen dari masa lalu, dimana dirinya sama sekali tak mampu menyentuh tubuh Iblis seratus juta jiwa.
Bukan karena sihir miliknya tak mempan. Namun itu dikarenakan, pada saat itu Harith tidak menyerah generasinya. Barsh adalah titik serang yang benar kalau itu.
"Itu artinya saat itu aku harus menyerang Barsh dulu?"
Rey yang tau pertanyaan Harith mengarah kemana, ia hanya menanggapi itu dengan sebuah anggukan.
"Benar sekali, Barsh lah yang harus kau serang saat itu." Jawab Rey.
Rey berdiri saat ini, sepertinya sudah cukup baginya menghabiskan waktunya bersama dengan para petinggi.
"Kau akan kemana?" Tanya Axcel padanya, Rey hanya mengangkat kedua bahunya.
"Arlert ini bebas, kau tak perlu banyak tanya!" Jawab Rey Arlert mulai pergi meninggalkan para petinggi.
Disana Harith membiarkan itu. Meskipun penjelasan yang Rey ungkapkan sama sekali belum sepenuhnya, namun Harith mampu memahaminya. Mungkin itu karena dirinya dan Baron masih terhubung walaupun hanya sedikit.
__ADS_1
"Ah iya Paman! Beberapa hari lagi, bukankah kalian akan mengadakan acara The Next Wizard?"
Pertanyaan itu membuat Axcel tersenyum. Murid kesayangannya ini, apakah ia akan ikut serta meramaikan perlombaan ini lagi tahun ini.
"Iya, kami akan mengadakannya kembali! Dan apakah kau tau, Syena ikut dalam ajang ini."
Itu membuat Rey tersenyum tipis. Ia tau bahkan ia yakin, Syena pasti mampu mengalahkan Elvas. Namun Rey harus ada disana juga untuk menyaksikan itu.
"Beri aku podium paling atas untuk menontonnya!" Ucap Rey.
"Hahaha... Tentu, kami akan memberimu kursi khusus untuk menontonnya." Ucap Harith mengangguk mengiyakan apa yang Rey minta padanya.
"Sebab adiknya ikut berkompetisi, itulah mengapa ia meminta duduk di podium paling atas." Lirih Noella.
"Tentu saja, adikku itu juga akan menjadi legenda sepertiku. Marga Arlert akan dikenal dan di sanjung, tidak di injak atau pun diremehkan lagi."
Rasanya Rey kembali diingatkan kehidupan didalam panti asuhan setelah mengatakan itu. Namun percuma bukan ia terus saja sedih untuk hal yang sudah lama terjadi. Rey melambaikan tangannya ke arah Harith, berpamitan untuk pergi.
Ketika gerbang itu terbuka, Rey dibuat terkejut melihat seorang gadis berdiri membelakanginya. Dari postur tubuhnya, Rey tau siapa itu. Dia adalah Debora, kekasihnya.
Terlambat rasanya untuk menyapanya saat ini. Sebab disana ketiga Baron itu sudah memanggilnya, sebelum Rey menghilangkan kloningnya ia memanggil satu nama itu. Sebuah nama yang lekat dalam hatinya sampai saat ini, nama itu adalah.
"Debora!" Lirih Rey.
Syuthhhhh
Suara familiar itu sekejap membuat Debora menoleh kebelakang. Namu disana ia sama sekali tak menemukan apapun, hanya sebuah pintu terbuka dengan cahaya dari dalam ruangan itu.
"Suara itu, mengapa begitu familiar untukku?" Batinnya sambil menunduk.
Bersamaan dengan itu dari dalam Silver Alaska, Rey kembali membuka kedua matanya. Melihatnya walau hanya sekilas menciptakan kebahagiaan besar untuknya.
Debora adalah amunisi kekuatannya. Begitupun dengan Syena, mereka berdua adalah alasan mengapa Rey berjuang sejauh ini.
Bahkan Rey rela meregang nyawanya didalam area musuh, hanya untuk memberi kebebasan pada mereka. Ia ingin melihat orang-orang yang ia cintai, hidup bahagia tanpa ancaman. Tak ada harapan lain dalam hatinya selain itu.
Ketiga Baron dalam domain berseringai mereka merasakan adanya semangat yang luar biasa dari dalam diri Rey saat ini. Sebuah semangat yang entah datangnya darimana, secara tiba-tiba masuk menyelimuti diri Rey saat ini.
"Arlert sedang bahagia!" Sindir Baron Hitam dari dalam tubuhnya.
"Kenapa kau irikah? Kau memang selalu iri kepadaku, aku tau itu!"
"Kau bahagia sebab kau bertemu dengannya walau hanya punggungnya saja? Lelaki macam apa kau ini, seharusnya kau hampiri dia walau hanya sekejap. Bukankah kalian sama-sama saling merindukan satu sama lain?" Dandelion berucap kepada Rey.
"Tidak biasanya kau begitu berisik, Dandelion? Dan ya, tidak biasanya kau mencampuri urusanku apalagi tentang urusan asmaraku. Sepertinya kau menjadi jauh lebih baik saat ini, baguslah!"
"Apa, terserah padaku! Ini aku dan ini tubuhku. Kau jangan membuatku kesal, Arlert!"
Kali ini giliran Dandelion yang bersuara. Ketiga Baron didalam sana terkejut. Makhluk liar itu mampu bersosialisasi ternyata. Itu adalah kejadian yang jarang sekali bagi ketiga Baron mendengarnya.
"Kau bersuara?" Tanya Baron Putih tak percaya.
"Kenapa, kau terkejut? Kau pikir aku ini diciptakan bisu? Aku masih bisa bicara, itulah mengapa aku bersuara! Kau akan melarangku, ku bunuh kau disini." Jawab Dandelion ketus.
"Kau akan membunuhku? Jika kau membunuhku maka kau pun juga akan mati juga. Sebab kita ini satu tubuh, satu bagian." Pekik Baron Putih.
"Hahahaha... Kau menganggapku rupanya, setelah apa yang kau lakukan padaku?"
"Hei sudah cukup! Pertengkaran gila ini membuatku juga gila rasanya. Kalian yang berdebat, tetapi aku yang merasakan pusing disini. Sialan kalian!"
Rey berprotes pada keduanya yang sedang ramai didalam sana. Bagaimana tidak, rasanya saat ini rungunya mendengarkan dua sisi sekaligus. Dua suara, satu dari dalam domain sedang satu lagi dari dunianya.
...Dan apa pun yang mungkin menyakitiku hanya akan membuatku lebih kuat pada akhirnya...
...Aku mengingatmu sebagai jalan buntu...
...Kaulah labirin terindah di mana cintaku rela tersesat tanpa perlu diselamatkan...
_________
Ensiklopedia :
Planet yang diberi nama GJ 504 b ini disebut juga "pink planet". Dilansir Eskify, sesuai dengan sebutannya, planet tersebut terlihat berwarna magenta pink dan merupakan satu-satunya planet berwarna pink yang pernah ditemukan. Pink planet hanya berjarak 57 tahun cahaya dari Bumi dan berada di rasi bintang Virgo. Planet berusia 160 juta tahun ini mengorbit bintang yellow dwarf bernama 59 Virgins.
Mirip seperti Jupiter, planet ini juga terdiri dari gas yang berwarna pink. NASA melansir bahwa suhu permukaan planet ini mencapai 460 derajat Fahrenheit atau sekitar 237 derajat Celcius. Walau ukurannya mirip dengan Bumi, massa planet GJ 504 b empat kali lebih besar dari Jupiter. Jarak orbit GJ 504 b diperkirakan 9 kali jarak orbit Jupiter terhadap matahari.
__ADS_1