
...Satu senyuman yang tulus lebih bermakna...
...Daripada seribu kata-kata yang diucapkan dengan setengah hati...
__________
.
.
Rey berulang kali menguap sejak tadi, ini membosankan sungguh. Berbeda dengan Debora dan Riley. Mereka berdua terlihat begitu antusias disana, mencatat nama-nama peserta yang lolos seleksi. Sedang Mikhail dimejanya sedang sibuk meracik ramuan, ramuan itu nantinya akan disetor secara otomatis ke ruangan madam Geralda.
"Kurasa hanya kita disini yang tidak berguna!"
Sambil menopang dagunya, Justice berucap. Mereka berdua menatap malas ke arah portal itu. Rasanya ingin membantingnya, atau merusaknya, supaya ketiga temannya yang gila ilmu itu memutuskan untuk pulang.
"Lihatlah tiga profesor itu, mereka sedang sibuk masing-masing!"
Justice berucap sambil menunjuk tiga manusia yang sedang sibuk disana.
"Aku lebih suka berada di Medan perang daripada duduk manis disini seperti seorang putri." Ujar Justice.
"Ya, lebih baik begitu memang! Gaji buta ini!"
Debora mengalihkan netranya tepat ke arah Rey. Apa-apaan itu, gaji buta katanya.
"Kau bicara apa Rey?"
Tatapan itu terkesan tak terima akan ucapannya. Rey mengatupkan tangannya sambil tersenyum ke arah Debora. Debora kembali fokus pada portal dan berkas dihadapannya, data-data calon ksatria sedang direkapnya.
"Ah ini bukan profesiku, lebih baik aku pergi mencari kopi saja!"
Rey berdiri, sepertinya segelas kopi hangat cocok pagi ini. Itu akan sedikit meredakan rasa bosannya, juga sedikit menghiburnya tentunya. Debora mengalihkan netranya ke arah Rey yang mendekati pintu keluar.
"Kau akan kemana Rey?"
"Aku bosan, bolehkah jika aku keluar sebentar mencari minuman?"
Debora memahami itu, Rey pasti sangat jenuh disini. Tapi mau bagaimana lagi, jadwal tugas mereka hari ini hanya ini, tak ada misi diluar benteng ataupun misi penangkapan Iblis.
"Baiklah, Rey, kau boleh pergi!"
"Hei Rey, aku ikut!"
Grepppppp
Justice yang sudah bosan itu bangkit dari duduknya, ia berjalan mendekati Rey. Namun belum sempat dirinya menggapai Rey, sebuah telapak tangan menarik jubahnya. Rupanya telapak tangan itu milik Riley, Justice terkejut melihat itu.
"Pergi satu saja kita sudah cukup kerepotan! Bantu aku mendata nama-nama ini!"
"Hah?!"
Justice terhenyak, lembaran kertas dalam genggaman tangan Riley di sodorkan begitu saja ke arahnya.
"Hei, hei! Kenapa lembaran ini banyak sekali? Sejak tadi diamku dan Rey sama sekali tak kau protes. Sekarang ini apa?"
"Bantu! Atau kau tidak akan mendapat makan malam hari ini."
"Hah?! Ancaman macam apa itu?"
"Jatah milikmu akan kuberikan pada Khufra ku!"
Mendengar itu Rey tertawa, Justice yang kesal pun memicingkan matanya ke arah Rey. Sedangkan Rey ia hanya melambaikan tangannya ke arah Justice.
"Semangat Istriku!"
"Aku tidak bisa mengatasi situasi hanya dengan semangat. Bawakan aku secangkir kopi ketika kau kembali, Rey!"
Ucapan terakhir dari Justice, membawa tubuh Rey keluar dari ruangan itu. Pergi ke kota mungkin akan cukup mengusir jenuh dalam dirinya. Sambil menunduk ia berjalan santai disana, sesekali netranya menatap langit-langit, menatap salju yang masih turun, syahdu sekali rasanya.
Depppp
Rey berhenti tepat dihadapan taman, ia sedang berada dilantai atas sekarang. Netranya memilih menetap disitu, menatap taman kosong berselimut salju. Rey membiarkan salju turun menyentuh tubuhnya, sambil sejenak ia memejamkan mata, Rey membuka telapak tangannya mencoba merasakan buliran salju yang berlomba-lomba turun ke bumi.
"Aku ingat ketika kita berdua sibuk mencari kayu bakar didalam hutan, ketika senja mulai nampak, kita berdua terbirit-birit berlari keluar dari hutan sambil berdoa, semoga serigala tidak memangsa kita. Syena, sebentar lagi, tunggu aku!"
Kedamaian ini membawa sekilas memori-memori pahit, sekalipun tempatnya berpijak aman namun hal itu masih berangsur-angsur datang, berputar-putar mengitari kepalanya.
"Apa ada yang sedang kau pikirkan?"
Dalam kesendiriannya, Baron selalu saja tau apa yang ia rasakan. Sekalipun tubuhnya berdiri disini, berbahagia bersama rekan-rekannya. Pikiran mengenai dunia dan adiknya, masih tetap datang dan datang.
"Itu pikiranku yang sudah biasa bukan?"
"Penderitaan membuatmu semakin kuat dan berkembang. Terlalu banyak orang yang mati disini. Rasa sakit itulah yang membuatmu tumbuh."
Ditengah adu argumen antara dirinya dan Baron, sebuah tangan mungil menyentuh pelan bahunya. Tangan itu milik Harith, Rey berbalik menatap pemilik tangan itu. Disana terlihat Harith sedang duduk sambil bersila di udara. Ini sudah tiga tahun, sudah saatnya Harith menepati janjinya untuk membawa Rey ke Alaska.
Waktu terus berputar, tak ada gunanya menjelaskan kepentingannya disini. Untuk mempersingkat waktu, Harith mengulurkan tangannya ke arah Rey.
"Mari pergi!"
__ADS_1
"Hah?"
Sebenarnya apa maksud ucapan leonin dihadapannya itu, Rey sungguh tak mengerti. Apa leonin ini akan membawanya ke Alaska saat ini, tanpa persiapan. Tanpa sepatah katapun, Harith meraih tangan Rey, menggenggamnya.
"Sudahlah, ada hal penting yang harus kulakukan! Ikutlah!"
Harith menyatukan kedua telapak tangan mereka. Satu mantra teleportasi membawa mereka berpindah dalam sekejap.
Wushhhhhhh
"Hah?"
Rey terkejut ketika dirinya sudah tidak berada dalam Rensuar. Rey mengerjap beberapa kali, netranya mencoba mengenali tempat apakah yang sedang mereka singgahi. Warna tembok ini, altarnya, langit-langitnya, Rey tau sekarang. Ini adalah Garena Rensuar.
"Baronku, sudah lama aku menunggu saat-saat ini! Kau ingat, aku pernah mengatakan padamu. Jika kau sudah cukup kuat, datanglah ke Garena Rensuar untuk melawanku."
Ucapan itu mengalun beberapa tahun lalu, bagaimana Rey bisa melupakannya, itu adalah babak penentuan terakhir bagi Rey.
"Bagaimana aku bisa melupakan itu? Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas.
Harith tersenyum mendengar itu, sejauh ini netranya lah yang mengawasi segala perkembangan Rey. Melalui Axcel, juga beberapa pembina Rensuar, Rey diasah cukup baik disini. Pemegang Baron miliknya ini, semakin kuat setiap hari, tempaan demi tempaan ia lalui tanpa ada keluh kesah dalam hatinya.
"Sebelum pertarungan ini dimulai, aku ingin mengajukan beberapa pertanyaan padamu?"
Rey berseringai mendengar itu, hari ini kakinya telah sampai di titik paling akhir. Titik pembuktian yang akan membawanya menemui adiknya.
Syuthhhhhh
"Bagaimana jika pertanyaan itu kau jelaskan sambil bertarung? Aku sudah tak sabar rasanya!"
Rey berseringai sambil mengeluarkan Baron miliknya, tangannya mengepal kuat, aliran sihir miliknya mulai Rey alirkan pada pedangnya. Sebuah pertempuran besar akan terjadi didalam sini. Durasi waktu pertandingan telah diaktifkan, keduanya saling berhadapan.
"Jurus lima pedang semesta!"
Harith memanggil sihir pamungkas yang ia gunakan membelah meteor. Sihir itu memunculkan lima pedang dari balik tubuhnya.
"Ameera Amoerra Abyas!"
Aliran mantra Rey alirkan kedalam pedangnya kali ini.
Clashhhhhhhh
Cahaya dan petir saling beradu disana. Gesekan pertemuan pedang mereka menciptakan kilatan petir berulang kali. Tangkisan demi tangkisan Rey berikan, demi melindungi nyawanya dari besi tajam yang hendak memangsanya.
Berbeda dengan Rey yang bersusah payah menangkis serangan itu, Harith jauh disana hanya menggerakan pedang-pedangnya melalui mantra. Leonin itu sama sekali tak bergerak, tubuhnya diam, sedang tangannya lincah memainkan pedang-pedangnya melalui sihir.
Clashhhhhhhh
Rey masih sibuk menangkis tiap serangan yang datang bertubi-tubi ke arahnya. Sedangkan Harith, disana tangan kanannya mulai ia gerakan. Petir bercabang dari dalam tangannya perlahan turun, menyentuh dasar dari Garena.
"Jika kau terus berada dalam posisi itu, musuh akan dengan mudah menyerangmu dari bawah!"
Slattttttttt
"Ughhh!"
Sebuah kilatan petir datang dari dalam tanah, petir itu menjulang ke arah Rey, petir itu tepat menusuk rahangnya membuatnya terpental ke atas, terhempas menabrak langit-langit Garena. Melihat itu, Harith sama sekali tak memberikan jeda, ia kembali mengarahkan lima pedangnya ke arah Rey.
"Dia datang!" Pekik Rey dalam hatinya.
"Terlalu lamban!" Pekik Harith.
Ketika Rey menghindar kesamping, salah satu pedang milik Harith menghilang. Pedang itu seketika muncul tepat dihadapan Rey, menghunus ke arahnya. Terkejut, namun reaksi cepat segera Rey berikan.
"Awenna!"
Rey menurunkan tubuhnya kebawah untuk menghindari itu.
"Kombinasikan Sihirmu Rey, kau bisa menanamkan sihirmu ke dinding-dinding itu."
Rasanya seperti menerima kunci jawaban. Rey mulai merakit strategi penyerangan dalam sekejap, ia yakin serangan miliknya ini akan berhasil.
Sretttttt
Deppp
Deppp
Rey berlari diantara dinding tinggi yang mengelilingi Garena, telapak kakinya mengeluarkan cahaya, sambil berlari Rey meletakan sihirnya diantara dinding. Lima pedang dibelakangnya masih mengejarnya. Rey melompat ke atas Harith sekarang, sebuah sekat cahaya melindungi bagian kepala Harith.
"Ada banyak tanggung jawab diatas punggungku, oleh sebab itu kali ini aku tidak akan gagal!
Sambil berteriak Rey menghempaskan pedangnya tepat ke atas Harith. Sekat penghalang itu, lagi-lagi mengagalkannya. Namun disana Rey tersenyum. Bukan itu tujuannya, ini hanya sebuah pengalihan.
Pranggggg
Rey melempar Baron tepat ke atas Harith saat ini, membiarkan pedang itu melayang disana. Ketika kedua kakinya kembali berpijak diantara dinding, Rey menggerakan tangannya sambil berseringai.
"Kemampuan apa pun pasti memiliki titik lemah."
Syuthhhh
"Autrom!"
Krasssssss
__ADS_1
"Accow Axlinow!"
Sambaran petir dari dalam dinding berlomba-lomba menyerang Harith, secara otomatis sekat itu melindungi bagian tubuh Harith. Sedangkan kepalanya tak tertutup oleh apapun, Baron berada tepat diatasnya kali ini.
Rey memusatkan petir miliknya pada pedangnya, pedang yang saat ini melayang tepat di atas Harith.
Sambaran petir dari Baron, menyambar tepat diatas kepala Harith. Petir dari dalam pedang itu menyerangnya bertubi-tubi menghempaskan tubuh kecil itu jatuh kebawah. Untuk pertama kalinya, Kaisar putih dikalahkan oleh seorang manusia.
Brukkkkkkkk
Srettttttttttt
Harith jatuh ke bawah dihantam kilatan petir berulang kali.
"Pengalaman bukan jaminan untuk menang, karena tiap generasi akan selalu tumbuh lebih baik. Saat ini, waktu sudah membuktikan! Bahwa aku pantas, aku berhasil mengalahkanmu disini, jadi, tepati janjimu!"
Harith tersenyum bahagia mendengar itu, rasanya ketakutan dari dalam hatinya hanya sekedar ketakutan berlebihan. Rey sudah tumbuh sangat kuat saat ini, bahkan seorang guardian yang sedang berdiri disini dibuat jatuh olehnya.
"Kaisar, Aku tak akan membiarkan sosok seperti itu terus melukai teman-temanku yang berharga. Manusia, berhak mendapatkan kebebasan mereka kembali." Ujar Rey.
"Mata dapat melihat dengan jelas, namun hanya hati yang dapat melihat dengan jujur! Ketulusan dari dalam hatimu, sangat besar Rey!" Ucap Harith.
"Jadi bagaimana?" Tanya Rey kali ini.
Wajah penuh kebahagian itu bertanya pada Harith dibawahnya. Disana Harith mengacungkan jempolnya. Itu pertanda baik artinya, dari atas sana Rey melompat menghampiri Harith yang duduk sambil tersenyum ke arahnya.
"Sebelum pergi besok, aku akan menjelaskan banyak hal padamu disini!"
Obrolan pagi ini cukup panjang sepertinya, dalam Garena sebesar itu mereka berdua duduk. Harith menjelaskan apa saja yang ia ketahui tentang Alaska. Disana Harith juga menceritakan perihal dua Guardian yang sudah dimangsa oleh Iblis seratus juta jiwa.
Harith juga mengatakan perihal Barsh, makhluk itu adalah Iblis tingkatan paling tinggi. Mendengar penjelasan itu hatinya rasanya semakin terbakar, amarahnya semakin tersulut. Tak sabar rasanya ingin segera melesat ke Alaska. Obrolan panjang itu berlangsung, sampai senja datang.
_________
Dilain tempat empat orang manusia sedang berdiri dihadapan pintu gerbang Asrama Elang Putih. Empat orang itu tak lain adalah rekan Rey. Mereka berdiri tepat disana menyambut para calon ksatria, yang datang dengan jalur VIP masuk kemari.
Sejak tadi mereka mempertanyakan keberadaan Rey, pagi tadi ia hanya berpamit mencari kopi namun mengapa sampai senja menjelang pemuda itu masih belum datang.
Dari belakang para calon ksatria terlihat Rey berjalan dengan jubah lusuhnya. Wajahnya penuh luka itu mendekat ke arah mereka, Debora terkejut mendapati Rey yang babak belur disana.
"Hei?"
Sapa Rey, seorang gadis kecil mengalihkan netranya ke arah Rey. Gadis itu pemilik nama yang sama dengan adiknya. Gadis itu bernama Syena.
"Kakak Rey!"
Pekik Syena seraya berlari ke arah Rey, seakan tak percaya mereka akan bertemu kembali.
"Wah kau hebat bisa sampai kemari secepat ini Syena!"
Rey berucap sambil bersimpuh, menyamai tinggi Syena. Syena mengacungkan jempolnya mendengar itu.
"Aku hebat kan Rey!"
Ucapnya sumringah, disana Rey mengangguk seraya tersenyum.
"Katakan padaku, Syena, apa kau lelah?"
Anggukan dari kepala Syena membawanya duduk di atas bahu Rey. Rey menggendongnya, seperti yang dulu sering ia lakukan pada Syena.
"Tunggu apalagi, mari kita masuk!"
Rey mendekati rekannya sambil membawa Syena diatasnya. Mereka berjalan masuk kedalam Asrama bersama-sama. Pintu gerbang besar itu tertutup, lalu menghilang ketika seluruh manusianya sudah berada didalam.
"Kau terluka Rey, kau darimana?"
Pertanyaan itu membuat Rey tertawa, sambil masih bermain dengan Syena di atas bahunya Rey berucap.
"Aku baru saja selesai latihan, kau sudah menerima misi untuk besok bukan?"
"Uh, iya, aku menerimanya!"
Nada bicara lesu itu membuat Rey mengalihkan netranya ke arah Debora.
"Kucing putih, apa kau baik-baik saja?"
"Iya, aku baik."
Memang perlu persiapan mental yang matang untuk menerima misi kali ini. Pasalnya ini ibarat seperti bunuh diri, Alaska adalah sarang mereka. Namun tujuan mereka ada didalam sana, tujuan itu adalah dua pedang Guardian yang masih belum ditemukan. Rey paham apa yang Debora rasakan saat ini, bagaimana pun hatinya sudah terikat pada gadis yang ia sebut kucing putih ini.
"Walau bukan yang terpilih, walau kekuatannya masih belum cukup, ada waktu dimana manusia tidak bisa mundur. Tak ada gunanya terus merenung, kuatkanlah hati dan bangkit. Meskipun aku masih hidup disini, pada akhirnya aku akan tetap mati."
Kali ini Rey mengalihkan netranya tepat ke arah Debora, sambil tersenyum disana Rey berucap.
"Jadi, matilah secara terhormat sebagai seorang Musketeers!"
Alunan kalimat itu selalu mampu menenangkan kegelisahan hatinya. Mata mereka masih bertemu disana, sebagai ucapan terima kasih, Debora tersenyum menanggapi itu. Ia mencoba mengalihkan netranya ke arah lain sekarang, berlama-lama bertatapan dengan Rey tak aman untuk jantungnya sekarang.
...Pelajaran yang kamu butuhkan saat ini, tidak bisa dipelajari oleh kata-kata...
...Hanya oleh tindakan semata...
__ADS_1