Indigo Evolution (Silver Alaska)

Indigo Evolution (Silver Alaska)
Pekan Perayaan (Rensuar Champion)


__ADS_3

...Jangan terlalu cepat membuang hidupmu...


...Tidak peduli seberapa memalukannya, kamu harus terus berjuang untuk menemukan jalan keluar sampai akhir...



_________


.


.


Syena dibuat kagum ketika melihat banyak sekali piala tertata rapi, dalam sebuah kotak kaca. Itu adalah penghargaan yang Rey capai, usai mendengar tentang acara Rensuar Champion, Syena dibuat penasaran akan pemenang tak terkalahkan yang Axcel katakan.


Saat itu Syena dalam barisan, memperhatikan Axcel diangkasa. Leonin kecil itu berdiri diatas sana sambil mengumumkan perayaan Rensuar Champion sesi ketiga.


Para Musketeers tingkat pertama, dikumpulkan di lapangan terbang. Para senior berada diatas mereka mengelilingi mereka dengan Khufra nya. Salah seorang teman berbisik padanya saat ini.


"Kau tau Syena, ada satu Musketeers legenda disini!" Ucapnya pada Syena disampingnya. Rasa penasarannya perlahan mulai tersulut.


"Baron putih legendaris!" Jawab Syena padanya, jawaban itu refleks membuat gadis bernama Aum ini membulatkan mata.


"Bagaimana kau tau hal itu?"


Pertanyaan dari Aum membuatnya bertanya-tanya juga. Namun logikanya mengatakan bahwa Musketeers legenda itu pastilah Rey. Namanya dikenal tangguh oleh para Musketeers disini.


"Aku hanya berasumsi, lantas selain kuat dan berani. Apa yang bisa ia lakukan?"


Aum menepuk keningnya sendiri mendengar itu. Rupanya Syena tak tau, bahwa Rey pemegang juara bertahan selama dua tahun.


"Syena, dialah pemegang juara bertahan disini. Rumor mengatakan, bahwa ketika dirinya masih ada di tingkat satu. Api emas, sebagai tempat pendaftaran lomba ini menerimanya. Saat itu minimalnya, para Musketeers tingkat tiga saja yang boleh mengikutinya. Sebab mana milik mereka memadai."


"Api emas?" Syena mencoba mencari penjelasan atas apa yang Aum ucapkan.


Bagaimana pun Syena baru disini. Seluk beluk Rensuar, Syena belum mengetahuinya. Dari Aum, juga Debora dan rekannya Syena belajar segalanya.


"Kau tak tau api emas?" Tanya Aum tak percaya.


"Tidak, apa itu?" Tanya Syena padanya.


"Syen, itu adalah api dari cawan keramat. Cawan itu terbuat dari emas, melayang di atas tiang hitam. Itu adalah salah ritual, untuk mengetahui apakah kau pantas mengikuti perlombaan ataukah tidak."


"Artinya cawan itu ada adalah pendeteksi!"



Aum mengangguk mendengar itu. Aum menarik pergelangan tangan Syena untuk mengikutinya. Mereka meninggalkan perkumpulan sejenak.


Mereka menyusuri lorong-lorong Rensuar. Lorong-lorong itu terbuat dari batu, tak ada cat disini. Hanya dominan batu abu-abu, seperti sebuah kastil.


Mereka berhenti tepat di sebuah lemari kaca besar. Disana ada banyak piala penghargaan, mulai dari penghargaan Musketeers tercerdas atau Musketeers pemberani, juga Musketeers ahli ramuan berada disana.


Aum menunjuk ke arah beberapa piala bertuliskan The Next Wizard. Syena berdiri disini saat ini menganggumi piala itu dengan mata yang berbinar. Luar biasa, piala itu berwarna biru menyala.

__ADS_1


"Ini keren sekali, Aum!" Puji Syena sembari masih memperhatikannya.


Aum membulatkan matanya melihat keberadaan Seniornya. Senior itu tidak lain adalah Debora, sejak tadi ia memandangi mereka berdua sambil bersandar di salah satu tiang batu bangunan.



"Adik, sepertinya kau sangat menganggumi piala itu?"


Alunan suara familiar itu membuat Syena membalikkan tubuhnya. Benar, itu adalah suara Debora. Gadis berambut putih itu tersenyum ke arahnya sambil bersandar.


"Aku mungkin harus pergi, Syena!" Ucap Aum, sejenak Syena menatap Aum lalu mengangguk.


Perginya Aum dari sana membuat Debora mendekati Syena. Mereka berdua berdiri tepat dihadapan lemari penghargaan.


"Dia mencapai semua itu dengan kemampuannya! Rey selalu memiliki potensi, Syena!" Ucap Debora.


Lagi-lagi tiap kali Debora mengatakan tentang Rey, sambil tersenyum. Syena selalu merasakan kesedihan hatinya.


"Bagaimana cara mendaftarkan diri dalam ajang itu, kakak?"


Debora terhenyak mendengar itu. Syena masih seorang Musketeers tingkat satu. Ajang ini bukan hanya sebuah lomba semata, namun juga sebuah pertandingan keras.


Mungkin saja saat ini Elvas pun juga ikut bertarung disana. Elvas selalu bertemu dengan Rey di babak akhir, dan dia selalu kalah. Tak hanya itu, Elvas dijuluki dengan seorang Musketeers tersadis disini.



"Tidak bisa Syena, tingkatan kelasmu masih ada di angka satu. Untuk mengikutinya, kau harus berada dalam tingkatan tiga." Syena menaikkan satu alisnya.


"Lalu mengapa Rey mampu masuk kesana? Padahal dia adalah seorang Musketeers tingkat satu?"


Jawaban itu membuat Syena berseringai. Salam hatinya ia merasa bahwa api emas akan menerimanya, juga akan menjadikannya peserta.


Lagi pula, dia adalah adik Rey. Adrenalin adalah hal indah baginya. Syena tau betul, Debora hanya sedang mengalihkan dirinya agar tidak terpancing masuk lalu ikut serta perlombaan. Mungkin ia akan meminta bantuan Aum untuk di antar ke arah api emas pendaftaran.


"Baiklah kakak, aku tidak akan bertanya lagi!" Ucap Syena.


Sepertinya menenangkan Debora adalah hal yang tepat dan utama. Mendengar itu Debora mengangguk, ia berbalik menghadap ke arah Syena.


"Baiklah, aku pergi dulu ya! Kau juga masuklah ke dalam kelas. Bukankah di jam ini waktunya pelajaran sejarah sihir?"


Debora berucap sambil mengusap lembut kepala Syena. Syena mengangguk menanggapi itu, ketika Debora pergi meninggalkannya Syena pun kembali masuk kedalam kelasnya.


Ketika Syena masuk kedalam kelasnya, rupanya disana hanya ada beberapa Musketeers junior, termasuk Aum. Gadis itu duduk disamping jendela memperhatikan pemandangan dibawah sana.


Syena tersenyum melihat itu, ia pun berjalan mendekati Aum.



"Aum?" Sapa Syena.


"Ya Syen?" Aum menjawab tanpa melepas pandangannya dari jendela.


"Aum aku akan mendaftar perlombaan, apa kau mau membantuku."

__ADS_1


Deggggg


Aum dibuat serangan jantung rasanya. Refleks tubuhnya berbalik menatap ke arah Syena sambil membulatkan mata.


"Syen, kau gila?" Tanya Aum tak percaya, namun disana raut wajah menyebalkan itu mengangguk sekaan mengatakan, Ya aku memang gila.


"Mengapa tidak? Bukankah kau dengar sendiri hadiahnya?"


"Aku tidak tergiur pada hadiahnya Syen. Lagi pula, masuk kesana juga adalah bunuh diri."


"Aku menyukai itu!"


Jawaban singkat itu semakin membuat Aum murka rasanya. Bagaimana caranya menjelaskan pada manusia ini. Dia cantik, sekalipun cacat pada matanya, namun rupanya Syena adalah manusia yang senang meregang nyawa.


"Ah sudahlah terserahmu, aku muak mendengarnya. Jika aku tau akan jadi seperti ini akhirnya. Aku tidak akan memberitahumu perihal lemari penghargaan itu."


Ucap Aum kesal, ia kembali menatap ke arah jendela. Syena mengerutkan keningnya, sebenarnya ada apa dengan Aum saat ini.


"Bantulah aku Aum!" Ucap Syena memelas.


"Apa yang bisa ku bantu untukmu, Syena?" Kali ini Aum kembali menatapnya.


"Dimana letak cawan itu? Aku sungguh ingin mencobanya."


"Sudahlah lupakan! Jangan bertindak seperti kucing dengan sembilan nyawa. Ditambah kau ini, adalah seorang gadis. Lawanmu disana pemuda-pemuda kekar, berotot, pembunuh, psikopat...."


"Adrium!"


Syena tersenyum ketika melihat Aum tak lagi mampu mengeluarkan suaranya. Sudah cukup bagi Syena mendengar Aum berbicara sekasar itu.


Aum memegangi mulutnya dengan kedua telapak tangannya. Ia sama sekali tak mampu mendengar suaranya. Lisannya tetap berbicara dan Syena mengisyaratkan pada Aum untuk diam.


Aum yang mengerti hal itu pun mengangguk. Saat itu juga, Syena mematahkan sihirnya.


"Baiklah, aku akan mengantarmu!" Ucap Aum pasrah.


Syena tersenyum penuh kemenangan rasanya. Sudah lama bakat miliknya tidak diasah. Bertarung dengan manusia kuat, itu perlu bagi Syena untuk berkembang.


...Saat kamu berpikir untuk menyerah, pikirkan alasan mengapa kamu bertahan begitu lama...


...Dunia tidak sempurna. Tapi, itu ada untuk kita, melakukan yang terbaik yang bisa, itulah yang membuatnya sangat indah...



___________


Ensiklopedia :


Galaksi The Rose Galaksi ini disebut demikian sebab bentuknya seperti bunga mawar dan berada di rasi bintang Andromeda.


Sebenarnya, galaksi The Rose ini terdiri dari 2 galaksi yakni UGC 1810 dan UGC 1813. Pada UGC 1810 ini berukuran besar dan memiliki cakram yang membentuk menyerupai bunga mawar.


Kemudian UGC 1810 yang berada di bawah UGC 1810 ini berbentuk lebih kecil dan bahkan menunjukkan tanda-tanda berbeda dari proses pembentukan bintang aktif pada umumnya.

__ADS_1



__ADS_2